Sabtu, 31 Januari 2009

Realitas Psikologis dalam Air Mata Bulan

Musa Ismail
http://www.riaupos.com/

Karya sastra berkait dengan berbagai subdisiplin ilmu lain. Selain sosiologi dan antropologi, kajian terhadap produk sastra juga tidak bisa lepas dari aspek psikologis.

Hal ini dikarenakan medium sastra, yaitu bahasa, merupakan cerminan ekspresi kejiwaan pengarang. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang terlahir dalam karya sastra, seperti novel, akan memancarkan aspek-aspek psikis dalam interaksi kehidupan dunia sastra.

Endraswara mengatakan, bahasa dalam sastra adalah simbol psikologis. Bahasa sastra adalah bingkisan makna psikis yang dalam (2008:4)). Bagi Freud, aspek psikologi adalah alam bawah sadar, yang disadari secara samar-samar oleh individu yang bersangkutan. Ketaksadaran justru merupakan bagian yang paling besar dan paling aktif dalam diri setiap orang (lihat Endraswara, 2008:4).

Kehidupan nyata manusia tidak terpisah dari kondisi kejiwaannya. Karakter manusia dalam kehidupan nyata bisa saja memiliki kesamaan (baik kebetulan ataupun tidak) terhadap karakter manusia dalam produk sastra. Ungkapan-ungkapan kejiwaan yang dijalin dalam karya sastra memberikan suatu ruang tersendiri. Apalagi jika ruang-ruang itu kita lakukan suatu perbandingan dengan realitas sehari-hari.

Karena itu, kehidupan manusia (tokoh-tokoh) dalam karya sastra tak bisa dibantah. Wujud karakter yang dijalin pengarang akan memberikan kesan unik kepada para pembaca. Mempelajari dan memahami aspek psikologis tokoh-tokoh dalam karya sastra membabitkan diri kita untuk mempelajari dan memahami kehidupan nyata.

Pada dasarnya, kita adalah tokoh-tokoh yang berperanan masing-masing dalam kehidupan dunia. Kita berjiwa. Kejiwaan yang kita miliki bermuatan khas, aneh, unik, dan berwarna-warni. Karena itu, mempelajari manusia nyata (kita) dan manusia imajinatif (dalam karya sastra) menjadi sangat menarik. Bahkan, Aminuddin (1990:108) menilai kedua tipe manusia ini memiliki kedudukan sama penting.

Mencermati aspek kejiwaan sangat menarik dan menelan perhatian. Alasannya karena kejiwaaan itu terus merecup, tumbuh, berubah, melaju, bahkan bisa berbalik ke awal. Kondisi kejiwaan semacam ini, selain dalam kehidupan sehari-hari, sudah tentu menjelma pula dalam setiap karya sastra. Karena itu, menurut saya, karya sastra bisa juga dikatakan sebagai dokumen-dokumen kejiwaan.

Air Mata Bulan yang dilahirkan Olyrinson merupakan salah satu karya pilihan Ganti Award 2008. Secara psikologis, judul yang disuguhkan memiliki daya ajuk yang tinggi terhadap pembaca. Dalam judul Air Mata Bulan, terdapat beberapa interpretasi. Pertama, adanya emosi yang tertekan oleh sesuatu yang menyakitkan (penuh penderitaan).

Kedua, adanya segelintir harapan yang diimpikan untuk menggapai kebahagiaan atau keindahan dalam kehidupan. Ketiga, menggambarkan perjuangan gigih yang memerlukan suatu pengorbanan. Secara utuh, judul novel ini melukiskan tentang kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, dan segala macam yang bisa dikaitkan dengan ’’air mata’’ sebagai tafsiran perlambangan dramatik yang lebih merefleksikan aspek psikologis.

Dari judulnya juga, dapat saya simpulkan mengandung dua aspek dalam struktur kejiwaan, yaitu konasi dan kognisi. Menurut Endraswara, konasi adalah aspek kehendak dalam struktur jiwa manusia. Kehendak akan meluap ketika menginginkan sesuatu. Dalam sastra pun akan terjadi hal senada. Ketika pengarang atau tokoh menginginkan apa saja, konasi yang berperan. Konasi kadang-kadang mematahkan emosi dan akal (kognisi). Kognisi adalah akal sehati dalam jiwa. Kognisi merupakan cermin pemikiran jernih yang berdampingan dengan konasi.

Novel ini mengambil latar sentral di Sumatera Utara. Latar fokusnya di jermal. Tokohnya sebagian besar adalah para remaja antara 16 hingga 20 tahun. Secara psikologi, usia tersebut merupakan masa-masa gejolak pubertas (adolesen). Tokoh utama novel ini adalah Toro (16 tahun), seorang remaja yang terpaksa bertanggung jawab, menjadi tulang punggung keluarga. Awalnya, Toro terpaksa bekerja sebagai pembantu Haji Jamil di perkebunan kelapa sawit karena ayahnya didera penyakit. Hidup di tengah keluarga miskin, Toro yang jago berenang mengambil upah menyelam untuk mengambil bibit sawit yang ditenggelamkan banjir.

Selain Toro, ada Papui, saudara angkatnya. Papui sebaya dengan Toro, tetapi berbadan tegap. Pikirannya agak lemah. Hanya kekuatan yang dapat diandalkan darinya. Karena kemiskinan yang mendera kehidupan mereka, Toro dan Papui terpaksa menjadi pekerja di jermal. Mereka tak ubahnya kuli kontrak yang sudah dibayar. Selama dalam perjalanan dengan truk, mereka sudah mendapat tekanan dari kaki tangan pemilik jermal. Kaki tangan pemilik jermal itu menghardik dan memaksa agar tidak berbuat sesuatu yang bertentangan.

Ketertekanan batin mereka tidak hanya sampai di situ. Ketika sudah tiba di jermal, perlakuan yang mereka terima lebih menyayat hati. Di jermal, sudah menunggu Udin, sebagai pengawas jermal, dan beberapa temannya. Udin yang berbadan tegap, liat, dan bertato berkuasa atas segalanya di jermal itu. Dia bisa memaki, menghardik, memukul, bahkan lebih daripada itu. Di jermal inilah, malapetaka terjadi.

Paling tidak, ada tiga tokoh yang menarik dibahas secara psikologis dalam novel ini. Pertama, Toro dan Papui. Awalnya, Toro adalah anak yang bertindak apa adanya. Dia tak pernah melakukan hal-hal negatif, apalagi melakukan perlawanan terhadap orang lain. Tingkatan kejiwaannya berupa perasaan dan akal (niveau human). Meskipun selama di jermal Toro masih mengandalkan niveau human-nya, tetapi kejiwaannya sedikit melecut untuk melakukan pemberontakan terhadap sesuatu yang tidak disenanginya.

Selain itu, di dalam jiwa Toro pun muncul jiwa religious (niveau religious). Peloncatan kejiwaan Toro ini muncul sebagai akibat dari renungan moral, batin, sikap, dan pertimbangan akal sehat (kognisi). Perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi dari Udin telah mengubah karakternya untuk melawan, baik batiniah maupun jasmaniah.

’’Namaku Toro, dan ini temanku Papui. Aku bukan perempuan dan dia bukan kerbau. Kami datang ke sini untuk bekerja bukan untuk dihina seperti ini.’’ (hlm.38).
Darah Toro mendidih. ’’Namaku bukan Yanti!’’ teriaknya.(hlm.39).

Kejiwaan Toro terus terusik. Jermal itu, baginya, sama dengan penjara dengan para sipir kejam. Setiap hari, ada marah dan dendam dalam dirinya terhadap Udin yang memperlakukan mereka seperti binatang. Terlebih lagi ketika dia tahu bahwa Udin menyodomi Daru untuk melampiaskan nafsu biologisnya. Kondisi di jermal inilah yang ikut serta mengubah dan mempengaruhi keperibadian Toro untuk menjadi pelawan demi kebaikan. Secara psikologis, faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan kematangan kejiwaan manusia.

Keberadaan tokoh Papui dalam novel ini cukup penting. Tokoh ini merupakan tokoh yang karakternya tak bisa berdiri sendiri. Mungkin karena keterbatasannya sebagai remaja kurang normal. Dia tak pernah marah dan tak pernah melawan. Tetapi, dia akan berubah ganas jika Toro menyuruhnya untuk menyerang siapa saja yang menyakiti mereka. Secara psikologi, Papui merupakan manusia yang bisa bekerja dengan cara perintah. Dia seperti robot atau komputer yang akan bekerja apabila diperintah terlebih dahulu. Namun, keadaan bisa memutar kejiwaan dan aksi seseorang. Perubahan psikologis Papui dapat kita simak dalam kutipan berikut.

’’Dan pada saat itu, seseorang menendang pintu, dan melemparkan mayat yang menghitam itu ke dalam gubuk! ’’Papui!!! Seisi gubuk berteriak. Papui berdiri dengan badan basah kuyup. Matanya merah karena menangis. ’’Aku memang bodoh, tapi tidak buta!’’ teriaknya. ’’Mereka ingin membunuh aku di laut, Toro,’’ kata Papui kepada Toro. ’’Jadi aku melawan dan memaksa tukang perahu itu membawaku ke mari. Dia sudah kuikat dengan tali kapalnya sendiri.’’ (hlm. 142).

Kedua, tokoh Daru. Kalau Udin memanggil Toro dengan sebutan Yanti, maka Daru disapanya dengan nama Diana. Di jermal celaka itu, Daru lebih lama menderita. Sebelum Toro tiba, Daru sudah dijadikan sebagai tumbal pelampiasan nafsu oleh Udin.

Setiap selesai disodomi Udin, Daru duduk bersimpuh di luar sambil menangis dan memandang bulan ngapapekon. Dadanya dipenuhi penyesalan, kepedihan, merasa dilumuri kotoran, dan tak berguna. Kejiwaan Daru semata-mata dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran negatif atau pesimis dari dalam dirinya sendiri. Perlakuan sekehendak hati oleh Udin terhadap dirinya telah menghapus berbagai kemungkinan untuk menata masa depan yang didambakan. Karena itu, aksinya laksana pungguk merindukan bulan. Daru mendambakan kebahagiaan, tetapi dia merasakan tak mungkin menggapainya.

Ketiga, tokoh Udin (20 tahun). Secara psikologi, tokoh ini mengalami deviasi dan delinkuensi. Berbagai bentuk penyimpangan dilakukannya terhadap remaja di bawah usianya. Kekuasaan yang ada padanya digunakan untuk menindas, menjajah, menjarah, dan melecehkan orang lain, baik secara psikis maupun fisik.

Dalam novel ini, Udin tergolong penderita psikopat antisosial, antimoral, asusila, bahkan seperti tak memiliki jiwa kemanusiaan. Tokoh ini lebih mengandalkan tingkat jiwa binatang (niveau animal). Semua aksi yang muncul dari jiwanya, tak ada yang menyenangkan hati perut orang lain. Dia menyodomi, menjarah upah, mencela, memukul, menghardik, berkata kasar, dan berbagai perilaku deviasi dan delinkuensi lainnya.

Sebagai tokoh antagonis yang muncul di pertengahan plot, tidak terlihat adanya hubungan perilaku Udin dengan faktor hereditas (keturunan). Saya berkesimpulan, kekacauan jiwa tokoh Udin ini seratus persen dipengaruhi oleh lingkungan tempat kerjanya (jermal). Dapat diinterpretasi bahwa semulanya diawali dengan keisengan, kebosanan, dan pengaruh kekuasaan. Akibat muncul rasa bahwa dirinya tertinggi di suatu keadaan, peristiwa, atau jabatan (jermal), lantas lahir hasrat konasi yang tak bisa dikendalikan sehingga mengarah kepada hal-hal negatif.

Di luar ketiga tokoh penting di atas dalam novel tersebut, ada terdapat tokoh sampingan yang mengalami deviasi dan delinkuensi dalam hal seks. Tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh bayangan yang memperkuat eksistensi tokoh Udin. Beberapa remaja yang menyebelahi Udin, justru terjangkiti penyakit Udin dalam kelainan seks. Lebih parah lagi, mereka melakukan sodomi terhadap ikan (pari) sehingga berakibat pada kematian salah seorang temannya.

Dengan novelnya ini, Olyrinson ingin menyuguhkan suatu realita psikologis yang pahit, berdarah, dan menyakitkan. Rekaman-rekaman dalam novel ini masih mengingatkan kita pada para pelaku sodomi yang sempat menghebohkan dan meresahkan orang tua. Realitas sosial dan realitas psikologis dalam novel ini tak bisa kita bantah. Semua realitas psikologis yang disuguhkan Olyrinson, akan memberikan kesan psikologis tersendiri pula bagi pembaca. Deviasi-deviasi seksual melalui tokoh Udin dan beberapa temannya merupakan gambaran betapa pengaruh lingkungan sangat berbahaya.

Gagasan-gagasan yang dituang dalam Air Mata Bulan merupakan ide-ide sederhana. Namun, ide-ide sederhana ini mampu diramu pengarangnya sehingga menimbulkan kesan psikologis yang mendalam. Aspek moral, religius, akal pikiran (kognisi), kehendak (konasi), dan norma-norma kehidupan dapat kita tarik dengan mendalam.

Novel ini mengajak untuk merenungkan betapa dekatnya berbagai kebejatan dan kejahatan dengan diri kita. Juga begitu akrabnya kehidupan kita dengan aspek-aspek psikis yang menyimpang, termasuklah penyimpangan orang tua yang memaksa/terpaksa mempekerjakan anaknya yang masih di bawah umur. Inilah sisi gelap bangsa kita: keadaan kejiwaan yang rusak!***

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir