Kamis, 13 November 2008

Tokoh Khayalan Kakak

Edi Warsidi
http://www.lampungpost.com/

PEMINTA-MINTA itu--seorang pria uzur--masih tergolek di atas jembatan penyeberangan. Ia meringkuk persis di atas tangga sebelah barat. Sejak kemarin ia berada di sana tanpa niat beranjak ke tempat lain. Bukan karena di situ rezeki mudah terjaring. Bukan pula lantaran cemas tempatnya akan dihuni peminta-minta lain. Tetapi, semata-mata lantaran satu penyakit yang makin hari mengikis tenanganya.

Sudah tiga hari lalu ia demam. Suhu badannya panas meninggi disertai gigil jika angin atau rasa dingin menyentuh kulit. Kepalanya agak pusing dan rasa mual tiada henti merongrong perutnya. Nafsu makannya patah tiba-tiba. Lidahnya tiada lagi terangsang oleh lotek atau sate, menu makan yang sedari dulu digemari sekaligus tak lagi mampir di lidahnya. Penyakit yang tidak dikehendakinya terasa kian merajalela, memaksanya ambruk tanpa sempat berusaha minum obat.

Ubun-ubunnya disengat matahari panas kota Bandung. Tetapi, panasnya tak sanggup membuat keringatnya keluar. Tubuhnya yang kerempeng hanya terbungkus kaus oblong pemberian salah satu partai politik dan celana kusam bukan main. Ia terpejam dengan napas yang luruh satu-satu, pelan, dan lambat. Rasa lemah yang sangat membuatnya hampir-hampir tak mampu bergerak lagi. Sekawanan lalat leluasa hinggap pada tubuh, apalagi pada borok di kaki, tanpa terhalau olehnya.

Tidak jauh dari tubuhnya, tergeletak kaleng rombeng tempat menadah rezeki dari orang yang melewati jembatan penyeberangan. Yang menaruh rasa iba, mengisi kaleng itu dengan Rp5.000 ribu. Sisanya uang receh. Namun, kelihatannya--karena penyakit yang diderita cukup parah--ia kehilangan gairah melihat kaleng berisi uang itu.

Pada batinnya yang bergejolak hanya ada satu keinginan; berjumpa adik perempuan satu-satunya, untuk terakhir kalinya. Ajal serasa makin akrab pada dirinya.

Peminta-minta itu dikenal bernama Juhara. Ia memang dahulu pernah serumah dengan sang adik. Sepuluh tahun silam ia bekerja di sebuah toko. Tapi kemudian bangkrut. Istrinya meninggal lantaran tifus. Ia tidak memiliki keturunan. Adik perempuan satu-satunya tinggal bersama mereka. Semua pekerjaan pernah ia coba. Jadi kuli angkut di perusahaan pasir pernah dicobanya, dan kemudian berhenti karena tenaganya mulai loyo. Pengumul barang bekas juag pernah dicoba, tetapi bekerja di situ cukup membuatnya repot. Ia keliling kampung, tempat sampah, selokan, bahkan sungai-sungai kering yang kaya dengan sampah.

Juhara mulai malas bekerja. Sehari berangkat kerja, sehari diam di rumah bedengnya. Dalam kondisi teramat sengsara, ia mulai cekcok dengan Sopiah, adik satu-satunya itu. Sopiah nekat jadi penjaja seks di pinggiran rel. Ia menyatakan tak sudi lagi hidup melarat. Juhara marah-marah dan menyemburkan caci-maki, bagai racun terdengar di telinga sang adik.

"Sopiah, kamu ini adik saya satu-satunya. Kalau kamu tidak mau mendengar nasihat saya, baiklah kita berpisah saja! Walau melarat, luluhur kita tidak ada yang jadi pelacur. Saya tidak sudi kamu lakukan pekerjaan nista itu."

"Aku pilih pekerjaan itu lantaran ingin hidup mapan. Juga ingin agar Kakak tidak jadi pemulung," jawab Sopiah. Pendengaran Juhara seolah-olah meledak.

"Tapi ingat, Sopiah! Saya tak sudi makan uang hasil kerjamu!"

Omongan itu memang dijalankan Juhara. Ketika memang benar-benar Sopiah jadi penjaja seks di pinggir rel, tidak sekali-kali Juhara mau menerima pemberian uang adiknya. Bahkan, kalau Sopiah datang ke rumah bedengnya di permukiman liar, ia tak sudi walau sekadar menemui.

Alhasil, Sopiah tak pernah sudi pula muncul lagi di rumah sang kakak. Dua tahun lalu, ketika Juhara sudah jadi peminta-minta, sang adik menjadi penghuni resmi rumah prostitusi dan dengar-dengar hidupnya mulai mapan. Walau hati kecil Juhara merasa rindu, toh tidak berusaha mau bertemu sang adik. Namun kini, ada perasaan rindu yang hebat. Ia kerap kali merindukan adik perempuan satu-satunya.

***

PADA sebuah jembatan penyeberangan di pusat kota Bandung, orang ramai kesana-kemari. Keluar-masuk mal dengan belanjaan macam-macam. Klakson mobil dan knalpot sepeda motor meraung-raung, silih berganti. Perlahan-lahan mata Juhara terbuka. Ia masih ingin menghirup hawa dunia meski untuk terakhir kalinya. Namun, betapa terkejutnya ia. Di hadapannya, berdiri seorang lelaki berpakaian necis. Rambutnya tertata rapi. Kelihatan sekali lelaki ia bukanlah pengemis. Wajahnya sangat teduh.

"Saudara ini bernama Juhara, betul?" tanya lelaki itu dengan ramah.

Pertanyaan orang tak dikenal itu secara tiba-tiba membangkitkan energi baru bagi Juhara. Dengan mudah, mulutnya berucap, "Betul. Saya ini Juhara. Memang ada apa, Pak?"

"Jika tidak keberatan, saya ingin mengajak Pak Juhara pindah dari sini," tambah lelaki necis dengan sopan.

"Pindah ke mana?"

"Ke rumah saya. Bukankah Pak Juhara ingin berjumpa dengan Sopiah? Ia sekarang ada di tempat saya."

"Tapi, saya tak sanggup berjalan..."

Belum sempat Juhara melanjutkan kata-katanya, lelaki itu mengangkat tubuh kurus Juhara. Tubuh Juhara benar-benar ringan bagi lelaki itu. Ototnya kekar dan kuat, sehingga tidak seberapa lama Juhara sudah berada di bawah jembatan penyeberangan. Di bawah jembatan, sebuah mobil mewah warna hitam sudah menunggu. Juhara dibawa pergi .

Tidak seberapa lama, mereka sampai di rumah mewah. Sesaat Juhara terkesima. Baru kali ini memasuki rumah mewah nan sejuk. Lelaki tadi membimbing Juhara menuju sebuah kamar, yang tentu saja serbamewah. Kedua kaki yang borok dan pakaiannya yang kumal terasa kaku memasuki kamar yang wangi.

"Ini rumah saya, Pak Juhara. Saya harap Pak Juhara merasa nyaman di sini. Anggap saja rumah sendiri," kata orang itu.

Juhara tambah terngangga. Bahkan, saat dipersilakan duduk di atas sofa mewah yang hampir menelan tubuhnya, ia masih termanggu antara percaya dan tidak.

"Pak Juhara sebaiknya mandi dahulu biar segar. O ya, di kamar mandi tersedia air hangat dan dingin. Juga sudah tersedia baju ganti untuk Pak Juhara. Pak Juhara santai saja. Nanti selesai mandi, akan ada dokter spesialis yang akan memeriksa kesehatan Pak Juhara. Semua fasilitas tersedia khusus untuk Pak Juhara."

Seolah-olah Pak Juhara bersirobok dengan malaikat yang sengaja diturunkan Tuhan untuk menolong dirinya. Di dalam kamar mandi yang serbaluks itu, Pak Juhara kaget sebab tidak tersedia air. Yang terlihat hanya kran-kran mengilat dan sebuah bak mandi mewah. Ia hanya mengangga, asing dengan benda kamar mandi itu. Ia melirik ke sebuah rak, tampak pakaian terlipat rapi dan wangi.

Pak Juhara berteriak, keluar dari kamar mandi. Lelaki tadi menghampirinya dan membimbing Pak Juhara sambil memijit kran-kran mewah itu sehingga bathtub yang kering itu seketika penuh dengan air hangat.

Selesai mandi, Pak Juhara diajak ke ruang makan. Di sana sudah tersedia segala makanan lezat dan mewah. Tentu saja kesukaan Pak Juhara juga tersedia. Nafsu makannya terdongkrak. Dengan lahap, ia memakan semua hidangan. Baru kali ini dalam hidupnya ia menyantap makanan mewah.

"Bapak tadi bilang akan mempertemukan saya dengan Sopiah," ucap Juhara sambil sendawa.

"Oh, jangan khawatir Pak Juhara," jawab pria kekar itu sambil menggandeng Juhara menuju ruang tamu.

Di ruang tamu yang wangi dan berpenyejuk udara itu, Juhara melihat Sopiah duduk di atas kursi dan meletakkan kaki kiri di atas kaki kanannya. Wajahnya sangat bersih dan tampak lebih cantik.

"Sopiah!" teriak Juhara spontan.

Perempuan itu justru menatap Juhara dengan pandangan aneh. Alisnya mengeryit dan keningnya jadi berkerut.

"Kamu sudah lupa sama kakakmu, Sopiah?" tanya Juhara.

"Kakak? Siapa kamu?" tanya perempuan itu.

Juhara tampak ragu. Ia pandangi sosok perempuan itu. Jangan-jangan ia salah lihat. Tetapi, ia tetap yakin kalau orang ini adalah Sopiah, adik satu-satunya.

"Ya, saya tidak ragu lagi. Kamu ini pasti Sopiah, adik saya. Mengapa kamu melupakan kakakmu?" kata Juhara sambil mendekat.

"Eit, stop! Jangan mendekat! Jangan ngawur, ya!" Aku tak punya kakak sepertimu," tegas perempuan itu sambil berdiri. Dengan wajah ditekuk, perempuan tadi melangkah keluar rumah tanpa hirau Juhara.

Juhara tertuju pada lelaki yang membawanya ke rumah itu. Sorot mata Juhara menandakan kebingungan. Pria misterius itu malah tersenyum.

"Yang tadi itu memang adik Pak Juhara, Sopiah. Tapi, jangan sesalkan jika sekarang ia meresa terhina memiliki kakak seperti Pak Juhara. Itu tak aneh. Di kota besar ini semuanya serbamungkin, Pak Juhara," kata pria misterius.

Juhara tertunduk lemah. Semangat hidupnya yang tadi menyala, kini padam. Lama ia merenung. Juhara merasa terhina dicampakkan sang adik seperti itu. Akan tetapi, ia kemudian teringat dirinya sendiri yang dahulu memtusukan hubungan. Diam-diam Juhara menyesali perkataan dan sikap kasarnya pada Sopiah dahulu.

"Dahulu Sopiah memang pernah saya maki-maki. Bahkan, saya mengusirnya ketika ia hendak melacurkan diri. Mungkin ia kini merasa sakit hati dan membalas dendam. Namun, apakah saya keliru menolak jalan hidupnya yang sesat itu?" ujar Juhara yang seolah-olah perkataannya diarahkan pada dirinya sendiri.

"Baiklah, jangan jadi pikiran, Pak Juhara! Lupakan saja peristiwa tadi. Yang penting, Pak Juhara sudah menemukan tempat baru. Pak Juhara dapat tinggal nyaman di sini bersama kawan-kawan Pak Juhara..."

"Kawan-kawan saya?" Juhara kaget.

"Siapa mereka itu?" lanjutnya.

"Mereka yang dahulu peminta-minta. Sengaja saya kumpulkan di sini. Kalau tidak ingin sekadar berpangku tangan, Pak Juhara boleh mengerjakan hal ringan apa saja. Pak Juhara juga boleh berdoa, meminta kepada Yang Mahakuasa agar Sopiah kembali menemukan kemanusiaannya yang hilang. Doakan pula para peminta-minta; semoga mereka dapat diajak hidup dengan semangat dan paradigma baru. Inilah tugas dan pekerjaan saya setiap hari; mengumpulkan para peminta-minta dan gelandangan."

Aneh! Juhara menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba kini ia merasa terdampar ke suatu dunia yang asing dan aneh. Ia benar-benar tidak paham apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

"Oh, maaf, Pak. Kalau saya boleh tahu, siapakah Bapak ini sebenarnya?" tanya Juhara, dengan harapan tidak menyinggung perasaan lelaki misterius itu.

"Ya, ya, saya lupa mengenalkan diri saya. Nama saya Tarwo. Apakah Pak Juhara betul-betul tak kenal saya?"

"Sumpah mati, saya tidak mengenal Pak Tarwo," jawab Juhara.

Pria misterius yang mengaku Tarwo itu tersenyum. Dengan sorot mata bersahabat, ia pandangi wajah Juhara.

"Sangat keterlaluan kalau Pak Juhara tidak mengenal saya," tegas Tarwo sambil menambahkan, "Bukankah Pak Juhara sendiri yang menghadirkan saya?"

"Saya makin pusing," jawab Juhara.

"Pak Juhara sendiri yang menghadirkan saya. Tanpa Bapak, saya tak mungkin ada. Begitu pun rumah ini. Pun semua yang Pak Juhara alami sekarang ini. Saya ini adalah tokoh khayalan Pak Juhara..."

Juhara tersadar. Ia kemudian bertanya pada diri sendiri: Benarkah orang sebaik Pak Tarwo itu hanya ada dalam khayalan?

Sengatan matahari Kota Bandung kembali mematuki pori-pori kulitnya. Sadar ia masih bernapas. Tidak lama, sekawanan lalat mengerubungi borok pada kakiknya makin banyak. Juhara tergelatak kaku di sebuah jembatan penyeberangan di pusat Kota Bandung. Orang ramai kesana-kemari. Keluar-masuk mal dengan belanjaan macam-macam. Klakson mobil dan knalpot sepeda motor meraung-raung, silih berganti.

Jatinangor, 2008

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir