Jumat, 28 November 2008

Berkaca pada Bayang-Bayang Hipokrasi

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

Demsay, novelis tua Bangladesh yang mengutip Plato perihal Orang dalam Goa dan Bayang-Bayang, agaknya percaya betul tentang etik kekuasaan.

Kekuasaan, secara etika dilihat Demsay (1989) sebagai saran menterjemahkan hidup. Meski tidak terhimbas ahimsa-nya Ghandi, tapi Demsay terus mendorong etika pada setiap kekuasaan.

Dalam novelnya, Singgasana, ia mendeskripsikan manusia (elite politik), berada dalam goa, dan di goa tersebut terdapat bayang-bayang diri mereka dan sejumlah bayang-bayang problem rakyatnya.

Ada jarak atau jurang yang terlalu dalam yang ditengok Demsay. Novel bergaya fiksi politik itu, lebih banyak merefleksikan genggaman kekuasaan dalam nuansa rakyat jelata. Pada galibnya novel politik, memang bahasanya kaku, naratifnya lebih banyak karena kepandaian penulisnya menggatuk-gatukkan data dan fakta.

Walhasil, novel Demsay, mampu mengungkap kaum papa di seantero negara Asia, terutama negara Asia Selatan. Inilah yang kemudian, dilihatnya si papa hanya bayang-bayang dari elite politik. Dengan demikian, tegas Demsay, tak ada satu pun penguasa di negara Asia mengurusi rakyatnya..!! Dus mereka hanya menciptakan kemelaratan baru yang sistemik.

Dari sudut kebudayaan, kecenderungan dan tradisi masyarakat muslim dunia pun dirundung malang terus-menerus, tidak ada reaksi atas aksi yang dilakukan oleh siapa saja yang memimpin di negara-negara asia. Kita menyaksikan bangsa-bangsa asia menjadi kuli di mana-mana.

Gambaran umum tentang prostitusi di seluruh lini, realitas kerja industri yang terganjal, defisit neraca anggaran, wilayah konflik dan rawan pangan yang semakin meluas, menambah sederet kemiskinan lainnya di luar sandang, pangan, dan papan, kita memasuki kemiskinan moral yang bersamaan dengan kemiskinan struktural serta kultural.

Dalam annual report (laporan tahunan) WHO terbaru, menunjukkan dalam satu menit 500 ribu, ibu meninggal dunia melahirkan, dan setengah lebih karena gizi buruk. Sebagai bangsa, kita yang berada di Asia umumnya, khususnya Asia Tenggara, kini menaati tetesan gerak hidup revolusi hijau, meski ini tak kunjung datang.

Setiap kali kita berkaca pada hidup, yang terlihat pada wajah kita adalah hipokrisi, menjual etika, dan berimpitan dengan bayang-bayang. Inilah ruas yang tak dapat diukur, meski memakai buluh perindu sekalipun. Kita semata hanya degradasi dari konvergensi teknologi.

Dalam buku terbarunya The Streaming Wave, kenyataannya, Robert Insdat, tidak mampu menjangkau sistem apa yang patut diimplementasikan di dunia ketiga. Bahkan, menurutnya, General Election (pemilu) lebih banyak menjadi pilihan menarik elite-elite di negara yang selalu berada di titik nadir di berbagai aspek ini.

Barangkali, itulah sebabnya kita mulai me-return semangat-semangat lama. Secara kultural, apa arti nasion? apa arti ideologi? apa arti jati diri kita yang berada di jamrud khatulistiwa ini? Pertanyaan-pertanyaan yang kerap kita anggap klise, mesti tidak pernah bisa terjawab.

Wilayah yang kita masuki semuanya rawan, karena kita tidak pernah pandai merawat, industrialisasi, kita sikapi dengan mental budak dengan memainkan birokrasi. Partai-partai memungut sampah untuk dijadikan pemimpin. Impian tentang sistematika dan mekanisme yang berjalan tak pernah mengusung baju baru untuk suatu upaya memerlentekan rakyat.

Kalau globalisasi menuntut satu kata kunci kompetisi, kita hanya membangun ruang lain sebagai komunitas kerakusan. Cuci otak sebagai suatu kemestian, hanya berlatar pada seremoni dan proyek elite. Sementara itu, ruang publik kita, kita ambilkan ruang sumpek melalui nilai kognitif yang ngegolek-golek. Maka, apabila kecelakaan besar itu terjadi karena siklusnya berubah-ubah, selain liberalisme elite politik yang setengah mampus melawan globalisasi di seluruh aspek, juga hampir-hampir kita tidak berperan apa-apa pada cagar kehidupan apa saja, apakah informasi komunikasi, teknoindustri, psikokultural, dan beragam lagi yang menjadi keharusan, kita abaikan.

Dewasa ini, kita sedang mengikuti musim pilkada, tidak ubahnya seperti musim-musim yang lain. Riuh rendahnya, ya, bisalah dikatakan menguntungkan rakyat secara temporer. Namun, pilkada bukanlah suatu wahana, apalagi wadah untuk demokrasi yang selalu kita tempel-tempelkan di belakang keinginan kita untuk berkuasa.

Tetapi, pilkada bertasbih pada resultante dari keinginan kehausan. Kehausan elite untuk dan mempertahankan kekuasaan, dan di pihak lain, rakyat hanya ingin mendapatkan secuil nasi, secuil kehidupan, dan bukan harapan. Konkretnya, pilkada bukan dasar untuk membentuk suatu sistem politik demi daulat rakyat, tetapi ia hanya musiman. Dan, rakyat hanya ingin secuil kebutuhan mereka terpenuhi.

Manakala kebutuhan itu terpenuhi, meski sedikit, sekali lagi sedikit, sekurangnya telah lahir suatu harapan, suatu ekspektasi yang Insya Allah tidak tergerus oleh gesekan elite politik yang lagi-lagi hanya karena kehausan elite politik. Dan, kita pun berada pada titik yang dahaga pula. Semoga sebagai rakyat, ada wilayah yang menentukan bagi keberlangsungan rakyat, dengan sedikit menggeser kehausan elite politik. Wah, lagi-lagi karena elite politik.

---------
*) Peneliti madya pada InSCiSS, tinggal di Bandar Lampung

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir