Rabu, 22 Oktober 2008

Polemik Sastra: Memaknai Ulang Sastra Surat Kabar

Liza Wahyuninto*)

Bukan kali yang pertama mempolemikkan sastra surat kabar atau lebih akrab dengan sebutan sastra koran yang kehadirannya telah menjadi genre sastra tersendiri. Sastra surat kabar setidaknya telah diakui sebagai sastra baru dengan segala keunikannya dan penulisnyapun dibaiat mendapat predikat sastrawan oleh pembacanya. Tapi tulisan ini tentu tidak menarik jika hanya mendebat para sastrawan surat kabar saja tanpa menguraikan karya yang dihasilkannya.

Ada baiknya memang di setiap media cetak menyediakan laman budaya yang memuat kolom essai, cerita pendek (cerpen), dan puisi. Di samping menambah sumber bacaan baru bagi pembaca di tengah hiruk pikuk berita yang menyajikan informasi mengenai politik, ekonomi, pendidikan, life style, dan sebagainya, laman budaya juga menjadi lahan baru bagi para penulis pemula untuk mencari peruntungan dengan mengirimkan karyanya.

Akan tetapi, seringkali tugas yang kedua ini belum terpenuhi. Laman budaya seringkali menjadi semacam ajang sapa bagi para penulis kenamaan, tempat mempolemikkan karya teman seangkatan agar bukunya dibeli oleh masyarakat, dan kadang tidak memberi ruang bagi para penulis pemula yang kelak akan menggantikan mereka.

Kualitas Sastra Surat Kabar
Pada awal tahun 2008 kita patut “angkat topi” pada Pena Kencana yang mengangkat sastra surat kabar dengan memberikan Anugerah Pena Kencana pada 100 puisi dan 20 cerita pendek terbaik yang pernah di muat di media massa. Meskipun Anugerah Pena Kencana juga masih menyisakan polemik, tapi ada satu hal yang bisa diambil sebagai kesimpulan bahwa sastra surat kabar sudah diperhitungkan.

Nah, setelah bermunculan nama-nama sastrawan lama dan baru disurat kabar, tugas yang kedua adalah menemukan kualitas karya mereka. Karena diakui atau tidak, saat ini surat kabar memiliki peran besar dalam mengangkat nama seorang sastrawan. Bahkan, menurut Sawali Tuhusetya dalam “Sastra Koran vs Sastra Cyber”, “Kompas kini dianggap menjadi “barometer” perkembangan sastra mutakhir. Tak heran jika ada yang bilang, jangan mengaku dirinya sebagai seorang pengarang apabila karyanya belum dimuat di koran nasional itu.”. hal inilah yang kemdian bagi sebagian penerbit, sastra surat kabar menjadi tolok ukur sendiri untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbitkan sebagai buku.

Menjadi tugas berat editorlah untuk menemukan kualitas tersebut. Tentu saja yang pernah dimuat di surat kabar adalah yang berkualitas bagi editor surat kabar tersebut. Tapi perlu ada pengawasan dari para akademisi sastra yang dalam hal ini kritikus sastra untuk memberikan penilaian terhadap karya yang pernah dimuat. Sayangnya, kolom bagi kritikus sastra sangat terbatas bahkan dapat dikatakan tidak ada di surat kabar. Akhirnya, kualitas sastra surat kabar tergantung selera dari editornya masing-masing.

Padahal, peran dari kritikus sastra sangatlah penting. Kita seharusnya tidak melulu memuat banyak karya tapi tidak berkualitas. Sedikit mengurai perjalanan perkembangan sastra Indonesia, peran kritikus hanya dinikmati semasa H. B. Jassin saja. Setelah itu, hampir tidak ditemukan kembali kritikus sastra yang kapabel di Indonesia. Hal ini mungkin karena tidak ditopang dengan menyediakan kolom kritik sastra di laman budaya pada surat kabar.

Dus, mengukur kemajuan sastra Indonesia seharusnya dengan barometer banyaknya sastrawan beserta kualitas karya yang dihasilkan didukung dengan adanya kawalan dari kritikus sastra yang bertugas sebagai “polisi sastra” dan peletak genre sastra Indonesia. Jadi diharapkan laman budaya pada surat kabar tidak hanya berhasil menemukan Chairil Anwar yang baru tetapi juga menemukan ribuan “Paus Sastra” macam H. B. Jassin yang anyar pula.

Sastra Cyber dan Masa Depan Sastra Surat Kabar
Banyak ulasan baik di koran maupun internet berbicara mengenai masa depan sastra surat kabar dengan membenturkannya dengan sastra cyber. Sastra koran dinilai oleh sebagian kalangan tidak relevan lagi dengan zamannya. Sebenarnya bukan tidak relevan lagi, tapi sulit untuk ditembus dan akhirnya banyak para penulis mengalihkan karya mereka dengan membuat blog sendiri atau mengirimkan ke blog sastra ternama. Dan posisi ini kemudian dimanfaatkan bagi pengelola blog untuk bersaing baik dengan sesama blog sastra bahkan dengan media cetak/koran.

Ada beberapa alasan tentunya mengapa banyak penulis mengalihkan karya mereka dari koran menuju cyber/blog. Pertama, surat kabar enggan untuk memasukkan karya penulis baru. Kedua, sastra blogger dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja, berbeda dengan koran yang hnaya dapat dibaca oleh kalangan tertentu dan tempat tertentu. Ketiga, di blog, para penulis dapat bertegur sapa bahkan mengelompokkan diri dengan membentuk komunitas-komunitas baru.

Tentunya dalam kualitas, sastra surat kabar lebih diakui kualitasnya meskipun terkadang di sastra cyber banyak pula ditemukan karya-karya yang berkualitas. Namun, karena sastra cyber tidak ada proses editing oleh editor sehingga sastra cyber lebih terlihat serampangan. Tidak salah kemudian muncul pernyataan bahwa sastra cyber tidak dapat dimasukkan ke dalam genre sastra karena bukanlah karya sastra.

Akan tetapi, mengutip pernyataan dari Redaksi Newsletter Hawe Pos Edisi Cultural Studies 21/Maret/VI/2007 “terlepas dari perdebatan soal kualitas dari karya sastra cyber, kehadiran situs-situs online atau blog dapat menjadi alternatif bagi para penulis untuk mengekspresikan karyanya secara lebih leluasa tanpa harus terikat kepada bentuk baku yang ada di media mainstrem. Pada gilirannya nanti, kehadiran sastra cyber ini dapat mewarnai perkembangan dunia sastra Indonesia yang masih stagnan. Setidaknya langkah ini sudah dimulai, dan tak mustahil dominasi sastra yang selama ini dikendalikan oleh media cetak akan segera berakhir digantikan oleh sastra cyber”.

Demi terwujudnya kualitas sastra Indonesia, kiranya baik editor sastra surat kabar dan pengelola sastra cyber dapat memikirkan ulang mengenai karya-karya yang akan dikonsumsi oleh pembacanya. Sastra Indonesia baru satu kali masuk finalis penghargaan nobel sastra dunia lewat Pramoedya Ananta Toer, dan jika kita terus menjaga kualitasnya tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun mendatang nobel sastra akan diraih oleh sastrawan Indonesia. Semoga.

*) Liza Wahyuninto, Penikmat dan Peneliti Sastra pada Institute of Studies Researches, and Development for Student (ISRDS) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir