Minggu, 10 Agustus 2008

Refleksi Superrealis

Jamban
Mashuri

Kini, di saat hiperrealitas demikian sengkarut, saya hanya merindukan sebuah jamban. Jamban bagi saya adalah ruang pribadi yang unik, yang bisa mengatasi ruang dan waktu. Saya bisa merasakan kehadiran saya seakan-akan penuh, baik dalam alam kesadaran dan ketaksadaran.

Panggilan-panggilan kerinduan itu datang, ketika segala hal yang berada di luar diri, dipenuhi dengan rekayasa-rekayasa. Apalagi, aroma kapitalisme semakin mengglobal dan menelan segala hal yang bersifat pribadi. Tak jarang, sisi kemanusiaan saya terseret dalam sebuah titik nadir. Saya sampai terengah-engah untuk menemukan sesuatu yang ‘pure’ diri saya sendiri.

Mungkin Adam Smith, Karl Marx, Max Weber atau Daniell Bell juga mengendus adanya kemungkinan itu, kemungkinan rekayasa yang mencengkeram kehidupan manusia. Tetapi saya lebih memaknai dan menyikapinya dengan merengkuh kembali apa yang pernah saya alami, dalam sebuah kurun waktu, untuk mengukur kedirian yang semakin nisbi, bermain dalam simulakra-simulakra yang tiada berkesudahan.

Di jamban, saya bisa mengenali sesuatu yang harus disingkirkan dari tubuh secara detail. Bila jamban itu jamban yang dibangun dari anyaman bambu, yang memiliki celah untuk mengintip, maka dengan agak malu-malu, saya akan menengok jauh ke dalam sana, melihat belatung-belatung merubung tahi dengan semangat berapi-api. Jika jamban itu dari ubin, saya akan melihat kotoran saya lewat selangkangan.

Anehnya, ruap bau busuk yang menusuk tidak mengendorkan semangat untuk mengembarakan imajinasi, yang paling liar sekalipun. Di sinilah, letak kelebihan jamban: meski bau busuk, tetapi orang yang sudah duduk di atasnya akan kerasan untuk berlama-lama. Kiranya, hal itu seperti watak dasar kekuasaan (politis).

Di sinilah, dalam kekuasaaan diri saya, saya merasa terlepas dari rekayasa. Saya selalu menganggap dunia kini dipenuhi rekayasa. Bagaimana tidak, dalam segala hal, dalam masalah yang paling intim sekalipun, tak lepas dari upaya rekayasa, seperti pada masalah gambaran alat kelamin ideal dan cara yang ‘baik’ dan ‘benar’ dalam bersenggama. Kumparan tehnologi virtual dan multimedia telah menjejalkan citraan-citraan itu bertubi-tubi ke setiap kepala. Bahkan batas yang real dan tiruan atau turunan nyaris tanpa penghalang.

Mungkin, ketakutan saya pada kehilangan sisi manusia dari diri demikian besar dan menghantui. Saya hanya tahu, bahwa arus global dan hiperreal mengalir demikian deras dan bagaimanapun harus dihadapi. Saya hanya berusaha mengembalikan segala apa yang saya miliki, termasuk ingatan-ingatan, mimpi, imajinasi dan kehendak tentang pembebasan menjadi hakiki: milik saya pribadi. Mungkin saya, akan menenggelamkan diri dalam arus dan pusaran besar mesin waktu yang datang bergulung-gulung dan siap menelan segala hal, tidak juga alam bawah sadar saya.

Dan sambil menyedot rokok, di atas jamban, saya akan mengenali bau terbusuk dari tubuh saya dengan gairah seorang pemberontak: melayangkan seribu kunang-kunang di kepala, pada palung kegelapan dari lamunan, dalam kembara-kembara yang jauh. Untuk mengundang gairah yang terpendam, yang lebih purba, yang mengatasi sekaligus membongkar realitas-realitas yang berlimpahan. Juga untuk menembus batas ruang dan waktu, yang kadang sudah tidak terasa lagi jaraksnya. Meskipun, pada hakekatnya ‘realitas-realitas’ itu hanya maya dan pura-pura.

Sambil jongkok dan ngeden, saya akan mencipta mesin waktu sendiri dalam kurun parsial-parsial yang sangat subyektif, mengenali ide-ide yang terentang, ide-ide yang masih murni. Jika mampu menyelami ke gelap jiwa, saya bisa mengintip kembali hati nurani, yang kini nyaris tergilas, karena segala hal lebih menghamba pada materi dalam jagat kapitalisme nan duniawi.

Mungkin, di jamban, saya bisa menemukan tuhan dalam diri saya sendiri dan membunuh atau menyingkirkan (untuk sementara) tuhan-tuhan lain. Maka, ketika Nieatzcshe mengatakan, tuhan telah mati. Saya pun mengamininya. Tuhan-tuhan yang berada di luar lingkar diri dan melakukan penetrasi pada segala kehendak memang harus disingkirkan.
Masih mengikuti filsuf yang berfilsafat dengan palu itu, setelah meneriakan kematian tuhan, Nieatzcshe pun berkata: “Zarathustra, lihatlah aku”. Lihatlah manusia, yang terbebas dari tuhan. Lihatlah saya yang terbebas dari tuhan-tuhan baru yang bisa membelenggu manusia. Tuhan-tuhan yang diciptakan manusia sendiri. Meskipun, harus ditebus dengan kegilaan! Tetapi bukankah kegilaan itu kreatif?

Di jamban, saya melakukan dekonstruksi dari segala tuhan yang dijejalkan dalam pikiran, perasaan dan kesadaran saya. Saya bisa berlama-lama, sambil menghela nafas panjang untuk sebuah arus yang telah memenangkan pertempuran ‘diam-diam’ dan besar dengan sosialisme. Di jamban saya melakukan teror pada kesadaran saya yang hampir terenggut oleh pertunjukan maha besar dan spektakuler akhir dari sejarah.

Di wilayah pinggiran, dengan buang air besar, saya berusaha merebut diri saya. Hiperreal silahkan berjalan, kapitalisme global silahkan berjalan, terorisme global silahkan melangkah. Tapi di jamban, saya telah menemukan ruang dan waktu untuk lepas dari segala hal yang menyetir kehendak dan meracuni pikiran waras saya.

Surabaya, 2004

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir