Sabtu, 09 Maret 2019

Menerabas Konsentris, Menyemai Jejaring

(diselaraskan dari narasi pengiring pameran Konak-Konek, Solo-Jakarta-Jogja, berlangsung 22-25 Februari 2019 Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta)
Adhi Pandoyo

bagai aur dengan tebing

Memetakan kehidupan, lebih-lebih kebudayaan, tidaklah sesederhana mengaktifkan lokasi akun gadget kita dalam google map, agar segala riwayat perjalanan kita terlacak. Adanya perkembangan pemetaan selama berabad-abad sejak lembaran-lembaran arsip navigasi hingga citra potret satelit paling canggih dan akurat sekalipun, tak sanggup menjelaskan saling-silang kebudayaan. Tak heran dalam membaca kebudayaan, denah geografis mesti membutuhkan penjelasan Ilmu-ilmu sosial dan humaniora; Semata-mata agar keterbatasan visualnya teratasi.

Dari situ semisal lahirlah penambahan imbuhan kata: kultural, sehingga muncul istilah geografi-kultural. Geografi-kultural kemudian mewadahi tarik-ulur antara teritori visual -berbasis apa yang tampak dalam peta- dan teritori budaya -berbasis pengetahuan atas segala aspek kinerja kebudayaan-. 

Ketika teritori visual mendikte geografi ke dalam patok-patok perbatasan dan garis-garis kaku demarkasi antar wilayah hingga negara. Maka visual alam disandera ke dalam politik kepentingan manusia. Dari sini, teritori visual tak ubahnya beralih nama menjadi teritori politik, sebagaimana dilegitimasi dalam pemetaan internasional. Sedangkan saat teritorial budaya dijajaki, maka batas-batas antar budaya diudar melalui ingatan-ingatan perjumpaan dan sejarah pertukaran antar suku-bangsa. Dari sinilah teritori budaya menjelma tubuh kebudayaan.

Singkatnya, teritori visual cum politik kerap menggerus kinerja teritori budaya. Sementara kinerja teritori budaya dijalin dengan melunakkan batasan-batasan ambisius dalam teritori politik. Saling bantah antar kekuasaan dalam teritori politik itulah yang menindas fleksibilitas teritori budaya. Walhasil luka-luka peradaban teruslah dipanen hingga hari ini, dengan barisan korban manusia. Taruhlah sejak jaman peperangan kerajaan-kerajaan kuno hingga perang-perang kontemporer di berbagai perbatasan di seantero negara-negara, semisal agresi Israel atas Palestina.

Seandainya teritorial visual memaksimalkan potensi teritorial budaya, boleh jadi wajah pemetaan kehilangan garis-garis perbatasan yang saklek. Artinya suatu produk budaya seperti bahasa hingga kesenian, akan memandu batas-batasnya sendiri, maupun kekayaan keberagamannya secara perlahan namun tanpa saling mengintimidasi. Batas-batas yang dinamis dan terus berubah, sejauh laju konektivitas kebudayaan.

Disitulah akan memicu terciptanya peta peradaban yang lebih manusiawi. Ketersambungan atau interkoneksi antar budaya inilah yang mestinya membentuk hubungan intim antar ruang-ruang yang ada di dalamnya, termasuk kesenian, untuk saling memberi daya hidup. Saling silang yang mencita-citakan daya hidup inilah yang barangkali memotifasi proyek ambisius pameran “Konak-Konek” tiga kota kali ini. Lantas, ada apa dengan SurakartaYogyakarta dan Jakarta?

Nyatanya sejarah seni rupa kita memang kadung mencatat adanya ketegangan kubu-kubu dan blok seniman-perupa, berikut seabreg pertarungan kepentingannya. Artinya sejarah seni rupa kita terus menerus ditafsirkan dan dipopulerkan para “politisi seni”. Tak heran teritori politik dalam seni rupa mencaplok kemungkinan positif dan produktif dari pemahaman teritori budaya yang lentur lagi cair. Kondisi ini menyebabkan suburnya sebuah medan seni rupa yang berwatak politis dan bergantung pada kubu-kubu maupun “institusi seni” yang dikanonkan maupun dilegitimasi rezim beserta agen-agen intelektualnya.

Ujung-ujungnya seni rupa kita berlidah ular, dengan satu cabang sibuk meramu seni rupa moderen khas Indonesia, dan cabang satunya berjibaku dalam hegemoni pasar yang masih menjadi buntut dari warisan kolonialisme dan perkembangan kapitalisme global. Tak heran hal ini secara bawah sadar direproduksi terus menerus dan menghasilkan ukiran sejarah seni rupa moderen Indonesia, yang sulit diurai dan dilepaskan dari belenggu pikiran minder kaum terjajah dan warisan cara berpikir penjajah. Belum lagi sengkarut kolonial-kolonial anyaran berwajah proyek-proyek seni.

Setelahnya, kita pun sibuk mengais figur yang nasionalistik namun tak kehilangan modern-kebaratannya. Belum lagi kebanalan para sejarawan seni, yang sibuk menempelkan arsip kolonial guna mencari jati diri. Hal ini alih-alih menemukan ramuan identitas yang ces pleng, malah kian terperosok dalam aturan main wacana kolonial yang kadung hegemonik. Tak heran narasi sejarawan seni kita seperti panik dan serba latah memberi klaim atas seni rupa kita, katakanlah berkutat mengajak para seniman untuk sekedar biner memilih sanad, Raden Saleh atau Sudjojono?

Memang telah jelas, sejarah pengkubuan memicu teritori visual yang bernuansa politik dalam pemetaan seni rupa, dan darinya teritori budaya gagal dipahami penuh sebagai ruang produktif interkoneksi kebudayaan. Realitas hari ini ketika kubu-kubu seni rupa tak lagi sanggup disederhanakan ke dalam Yogyakarta, Bandung dan Bali; Maka konak-konek adalah kemendesakkan yang menjalin kembali teritori kebudayaan, demi menyuburkan daya hidup kesenian. Dahulu memang perupa muncul dari kalangan para trah bangsawan-priyayi dan kelas menegah-elite tertentu, kini dan sudah lama mereka lahir dari beragam pergumulan subjek dan kelas.

Konak-konek tiga kota, tentu tidak sesederhana keterhubungan sejarah semata. Jakarta misalnya bukanlah layaknya ruang Sunda Kelapa sebagaimana dirancang Panglima Fatahillah. Sebab sebagai konsentris ibukota Batavia warisan VOC-nya Jan Peter Zoen Coen, dan koloni Hindia-Belanda, Jakarta mengarungi perubahan yang luar biasa pasca kemerdekaan dan hingga kini di masa yang katanya melampaui reformasi. Begitupun Yogyakarta dan Surakarta yang kemudian membangun konsentris-konsentris berikut ruang publik dan kotanya. Baik Surakarta dan Yogyakarta, dahulu tak lain adalah produk negosiasi Mataram Islam dengan Kolonialisme VOC hingga masa Hindia-Belanda. Namun kini generasi mesti menghadapi tantangan melampaui perlawanan simbolik terhadap rezim kolonial ala Pakubuwono X maupun strategi cerdik Hamengkubuwono IX yang mengawinkan kerajaan dengan republik dalam revolusi kemerdekaan.

Ketiga ruang kebudayaan ini kemudian memiliki perubahan sosialnya masing-masing, terlebih dalam hal pendidikan seni. Pusat-pusat kampus seni dari ketiga kota itu terus mencetak kultur kesenimanannya. Surakarta, Yogyakarta dan Jakarta menjelma ruang-ruang akademik pendidikan formal kesenian, hingga yang informal dalam kantung-kantung sanggar maupun kolektif seni. Hal tersebut menyemai konsentris-konsentris baru dalam dunia seniman, di balik ruang besar teritori konsentris kota, dalam bebayang teritori visual. Kendati ketiga konsentris kota tersebut memiliki beban masing-masing dalam hal sejarah hingga ekonomi-politik; namun dari situlah geografi-kultural seni terbentuk dan terbentang. Agaknya di situlah kinerja etno-histori kesenian menjalin pemetaan kebudayaan.

Gagasan dasar pameran ini barangkali bukan yang pertama. Akan tetapi kehadiran proyek tiga kota pameran ini menjadi pengulangan yang mempertegas interkoneksi guna memetakan teritori budaya dalam kesenian. Baik dari lalu lintas medium yang digunakan para seniman di dalamnya, hingga corak karya yang sibuk dengan mimesis atas apa yang ditemukan; maupun pergulatan eksistensi masing-masing perupanya; Kesemuanya hendak menjawab kebutuhan menyemai jejaring ruang. Sebuah konak konek generasi seniman muda yang meraba identitas dirinya dalam laju generasi milenial di era hyper-cybernetik pasca revolusi industri 4.0; Terlebih di tengah carut marut seniman-seniman seniornya menghadapi kejumudan medan seni, di tengah mitos-mitos kurasi. Konspirasi trans nasional yang melecut teka-teki dalam “permainan para politikus seni” mencipta pasar dan infrastruktur yang tentu saja sarat kong kalikong.

Pameran”Konak-Konek” tiga kota ini mesti diakui sebagai sebuah bukti bahwa kita tidak pernah selesai dengan pergumulan identitas, dan dialog generasi. “Konak konek” para seniman muda adalah sebentuk upaya reposisi subjek atas rezim kemapanan kesenian yang ada. Segala tehnik telah selesai digali. Segala gaya seolah telah ternamai. Tinggal bagaimana terus menerus menerabas tempurung konsentris. Memacu “konak konek” dalam merawat “keberpihakan” ideologi, menyemai jejaring teritori kesenian bin kebudayaan. (Tentunya bukan recehan kemanusiaan, gubahan proyekan institusi/lembaga serigala berbulu domba, boneka NGO atau hibah founding berpamrih, Oh Semoga). Tabik!

Kebun Makna, Sosromenduran, seusai purnama Februari 2019, Yoyakarta.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir