Senin, 07 Oktober 2013

ZIARAH SASTRA DI BALIK PENGANUGERAHAN SANG HYANG KAMAHAYANIKAN AWARD UNTUK S.H. MINTARJA

Zhaenal Fanani *
kiainyentrik.blogspot.com

Borobudur Writers & Cultural Festival, 29 – 31 Oktober 2012, telah usai. Perhelatan agung para penulis cerita silat dan sejarah nusantara itu berlangsung gayeng, melo dramatis dan sesekali galau. Dan terlepas dari apresiasi yang harus dialamatkan kepada pihak penyelenggara, penggagas dan para kreator di balik acara tersebut, sebagai sebuah acara tentu ada beberapa hal yang ‘ketlingsut’.
Sastra merupakan alenia dari sebuah wilayah yang tidak mudah dipahami, dinalar bahkan diantisipasi. Di dalamnya bergulir media nurani, namun terkadang berkeliaran altar hipokrisi. Maka sang satrawan adalah sang kreator sekaligus sang diktator otoriter. Tidak ada hukum atau undang-undang yang memberikan rambu-rambu, palang pintu dan tembok pembatas.

Sastrawan tak ubahnya malaikat sekaligus setan. Mereka berkesanggupan masuk dengan leluasa sebagai manusia jenius, sebagai ustdaz, ulama, seorang NU, Muhammadiyah, Syiah, pendeta, Romo, Guru Buddha dan seterusnya. Mereka punya kemampuan berkelana di kawah-kawah para koruptor, provokator, perampok, pencopet bahkan sebagai ‘wong gendeng’ dengan mendramatisasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di abad-abad sebelumnya. Maka sebuah keniscayaan jika timbul ‘perdebatan’ ketika seorang sastrawan dipertemukan dengan sejarawan, arkeolog, intelektual atau intuisi lain, bahkan dengan para sastrawan sendiri.

Dan Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 merupakan area para sastrawan yang merasa perlu mendeteksi dirinya sendiri. Kalau terjadi perdebatan, sama sekali bukan intrik, namun sebuah ‘romantisme keluguan’ cara pandang dan perspektif. Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada 85% di Indonesia, maka dimungkinkan muncul 80% sekte. Mereka diberi ‘kesempatan’ untuk menafsirkan, berijtihad, atau berimprovisasi. Tanggung jawab mereka kelak hanya dihadapan Tuhan.

Para sastrawan adalah ‘tuhan-tuhan’ kecil dan para penguasa. Tapi apa yang hendak diperjuangkan para sastrawan? Mereka bukan wakil rakyat. Mereka hanya mewakili diri sendiri yang mereka yakini sebagai kebenaran dalam wilayah abstrak. Bagi mereka, kebenaran ialah titik yang tak mudah dikonotasikan. Dan, disanalah mereka bermain. Mereka memainkannya dalam bentuk : novel, cerpen, puisi dan esai.

Merebaknya konflik pendapat tentang sebuah novel bergenre sejarah harus dalam koridor sejarah atau dipersilahkan membuat improvisasi tanpa rambu koridor sejarah, dimungkinkan terciptanya proses cultur ajusment – penyesuaian budaya. Tapi sekali lagi dunia sastra selalu melegalkan domain tak masuk akal. Adanya batasan justru belenggu. Dan itu ‘diharamkan’ di dunia sastra.

Dari domain tak masuk akal, acara Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 di sesi pagi hingga sore hari, sangat ‘kurang afdhol’ jika disetting dalam bentuk mirip seminar. Selain sedikit membosankan, terbetik halunisasi adanya konsep ‘menggurui’, hingga suasana menjadi monoton. Untungnya sesi acara di malam hari di pendopo Rumah Buku Dunia Tera mereduksi kekurang afdholan musyawarah agung ini.

Eksplorasi ‘catatan’ Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Agus Sunyoto dan pembicara lain barangkali akan makin ‘gila’ jika dikemas seperti di Rumah Buku Dunia Tera. Terasa ada jalinan yang tak dibatasi – bukankah dunia mereka semesta tak terbatas? Mungkin acara di Rumah Buku Dunia Tera lebih mengena dan bisa dijadikan konsep penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural Festival selanjutnya.

‘Ketlingsut’ yang belum tergarap dalam event ini ialah belum dilibatkannya penerbit. Dalam satu sisi, para novelis sejarah disarankan bersinergi dengan arkeolog. Tapi tidak hanya itu. Terlepas dari sikap idealis, para novelis sangat terkait dengan penerbit. Novelis dan penerbit dua sisi mata uang, saling membutuhkan. Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Agus Sunyoto dan S.H. Mintarja tidak akan menjulang seperti sekarang tanpa campur tangan penerbit. Sebaliknya penerbit tidak akan meraih financial tanpa keberadaan mereka.

Dan, pemberian Sang Hyang Kamahayanikan Award untuk almarhum Singgih Hadi Mintarja patut diacungi jempol. Anugerah itu bukan saja bentuk apresiasi atas karya S.H. Mintarja sebagai ‘Resi’ cerita-cerita silat, namun sebagai simbol bagaimana menjadi seorang penulis yang baik. Almarhum adalah contoh kongkrit seorang penulis yang harus dijadikan acuan oleh para penulis nusantara. Almarhum tidak hanya menuangkan gagasan, melibatkan budaya, mentransfer tradisi dan menulis sejarah. Tapi sekaligus memaparkan sikap kerendahan hati. Barangkali latar belakang kehidupannya yang berangkat dari kondisi ‘kepepet’ banyak mewarnai sikap-sikapnya. Tapi ketika namanya sudah mendarahdaging di kalangan pembacanya, almarhum tetap tampil sebagai sosok yang sama. Almarhum sanggup mengejawantahkan kultur malaikat dan setan dalam dirinya.

Kita semua – siapapun : para pelaku seni – perlu berterima kasih atas terselenggaranya Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 : Musyawarah Agung Para Penulis Cerita Silat Dan Sejarah Nusantara, serta perlu melakukan ziarah sastra kepada almarhum Singgih Hadi Mintarja.

*) Peserta Borobudur Writers & Cultural Festival 2012
Dijumput dari: http://kiainyentrik.blogspot.com/2013/02/ziarah-sastra.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir