Kamis, 20 Desember 2012

Membalas Tulisan dengan Tulisan

Husnun N Djuraid
Padang Ekspres 18/12/2012

BANYAK hal yang membuat hu­bu­ngan Indonesia dan Malaysia mudah me­manas, mulai dari hal yang kecil sampai yang besar dan sensitif. Ma­salah terbaru yang sempat membuat hubungan kedua ne­gara itu memanas adalah tulisan man­tan menteri pe­nerangan Malaysia Zai­nudin Maidin yang dianggap meng­hina mantan presiden Indonesia BJ Habibie. Da­lam tajuk rencana di harian Utu­san Ma­laysia dan di laman www.utu­san.com.my, Zai­nudin menulis tentang Ha­bibie yang disebutnya sebagai peng­hianat bangsa Indonesia, karena dalam masa jabatan yang singkat membuat In­do­nesia terpuruk. Dalam opini itu dise­bu­t­­kan persamaan antara Habibie de­ngan mantan wakil perdana menteri Malay­sia Anwar Ibrahim. Di akhir tulisan, Zai­nudin menulis : Pada hakikatnya me­reka berdua tak lebih daripada ”The Dog Of Imperialism’’.

Seperti biasa, rakyat Indonesia lang­sung bereaksi keras terhadap tulisan yang di­anggap menghina bang­sa Indonesia. DPR sudah me­nyam­pai­kan melalui surat ke­beratan yang di­kirim kepada peme­rin­tah Malaysia. Pe­merintah melalui ke­men­trian luar negeri juga sudah me­nyam­paikan keberatan. Ikatan Ce­n­dekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang didirikan oleh Habibie bahkan minta Presiden SBY men­unda kunjungan ke Malaysia sebagai ben­tuk protes. Keberatan terhadap tu­lisan itu memang baru sebatas per­nyataan, tapi tidak menutup kemung­kinan – seperti kasus-kasus lain dengan Ma­laysia – akan disertai unjuk rasa mas­yarakat dalam jumlah yang lebih be­sar. Demo antimalaysia dengan tagline Ga­nyang Malaysia bisa jadi akan dila­kukan untuk memrotes tulisan tersebut.

Sebuah pertanyaan layak dike­muka­kan di sini, tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk melawan tulisan itu? Me­ngapa tulisan tidak dibalas dengan tu­lisan? Dalam kasus perseteruan de­ngan ne­­gara jiran itu akan muncul tu­kang kom­por untuk mengajak masya­rakat ra­mai-ramai melakukan unjuk rasa m­e­nentang Malaysia. Dengan dalih na­sionalisme dan cinta tanah air, diko­barkanlah se­mangat kebencian kepada negara lain sambil membakar simbol-simbol. Tidak lupa caci maki dan sumpah serapah penuh ku­tu­kan mereka lon­tarkan.

Kasus Zainudin Maidin ini berbeda de­ngan sebelumnya. Meskipun kali ini ka­darnya sama – menista kehormatan bangsa – tapi media yang digunakan ber­beda. Tulisan mantan menteri penera­ngan itu dimuat di media yang cukup berpengaruh di negeri tersebut, apalagi ke­mudian disebarluaskan melalui inte­r­net. Produk jurnalistik seperti tajuk ter­se­but adalah karya intelektual dari pe­nu­lisnya. Kalau muncul keberatan ter­hadap se­buah tulisan di media, maka harus di­sam­pai­kan di media pula. Tulisan yang baik bukan hanya membuat orang senang membacanya, tapi menginsipirasi orang untuk ikut menulis.

Bagi kita bangsa Indonesia, per­nya­taan Zainudin itu tidak sepenuhnya be­nar, karena ditulis dengan penuh emosi akibat kebencian politik. Habibie da­tang ke Malaysia atas undangan man­tan wakil per­dana menteri Anwar Ibra­him yang se­karang memimpin par­tai oposisi. Se­ba­liknya, Zainudin ber­asal dari partai UMNO, yang sudah ber­kuasa di Malaysia puluhan tahun. Pada pe­milu di Malay­sia, ia kalah dari Datuk Jo­hari Abdul dari Parti Keadilan Rakyat pim­pinan Anwar Ibrahim saat memp­e­rebutkan kursi untuk wilayah Sungai Pe­tani. Sebelum menjadi menteri pene­rangan, Zainudin adalah pemimpin redaksi sebuah harian milik pemerintah Malaysia.

Pernyataanya yang dimuat di media itu merupakan bagian dari kebe­ba­san berekspresi yang dijamin oleh un­dang-undang di negaranya. Sama seperti kita di sini, menghujat dan memaki bangsa Ma­l­aysia lewat ber­bagai media yang ada, ti­dak ada ma­salah. Yang membedakan ada­lah, pe­nulis tajuk itu adalah seorang man­tan men­teri dan petinggi partai yang ber­k­uasa. Bagi kita, tentu tidak pantas se­orang pembesar menyampaikan kata-kata seperti itu. Menanggapi tulisan itu, kita tidak perlu gusar dan marah. Kalau ada penulis atau warta­wan Indonesia yang bisa mengirimkan artikel ke koran Utu­­san Malaysia untuk menangkis tuli­san Zainudin, itu sangat bagus. Apalagi kalau disertai dengan data dan fakta yang bisa mementahkan pendapat penulis Malaysia itu. Perang opini melalui tulisan akan menjadi tontonan intelektual yang men­cerah­kan. Kalau tidak bisa di koran Malaysia tersebut, tidak masalah kalau dimuat di koran Indonesia.

Orang-orang yang marah karena peng­hinaan tersebut, seharusnya mem­­ba­las dengan tulisan yang se­ban­ding, pa­ling tidak untuk mementahkan tulisan pe­jabat Malaysia itu. Tentu saja kita harus ber­kaca kepada Zainudin, bukan untuk me­nirunya – yang me­nulis dengan kata-kata yang kasar – tapi justru membalas­nya dengan cara yang lebih halus dan beradab. Akan lebih bagus kalau Habibie sen­diri yang menjawab tudingan terse­but, tapi apakah mantan presiden itu punya waktu untuk menulis sebuah artikel. Apalagi Habibie tidak terlalu me­mer­masalahkan tulisan tersebut, hanya sebagian masyarakatlah yang marah atas perlakuan buruk tersebut.

Kejelekan tidak perlu dibalas de­ngan kejelekan. Zainudin tengah me­nyim­pan ama­rah yang dipendamnya sejak berta­hun-tahun. Begitu ada kesempatan, ke­marahan itu ditum­pah­kan dalam tu­lisan, yang bagi orang Ma­laysia mung­kin tidak ma­salah, tapi tidak bagi bangsa Indonesia. Tul­isan­nya itu tidak perlu dibalas de­ngan tu­lisan senada, apalagi dengan tin­dakan yang lebih keras lagi. Kalau tulisan itu dibalas dengan tulisan yang dilandasi pikiran yang jernih dan sema­ngat saling mengingatkan kepada kebai­kan, tentu akan menghasilkan kebaikan pula. De­ngan demikian mas­yarakat bisa meni­lai dari saling berbalas tulisan itu, siapa yang baik dan tidak baik.

Tidak ada salahnya Zainudin di­ingat­kan untuk lebih sopan dalam me­nulis, ti­dak mengumbar kesumat, dengan dalih k­e­bebasan berekspresi yang dijamin un­dang-undang. Apalagi tulisan itu bisa meng­hasut rakyat Indonesia yang bisa mem­­bawa kepada kondisi mem­buruk­nya hubungan dua negara serum­pun. Tapi, siapa yang mau membalas tulisan itu dengan tulisan. Inilah pertanyaan yang men­da­sar. Sebagian besar masyarakat kita lebih mengutamakan bahasa lisan di­ban­ding bahasa tulis, karena menulis di­ang­gap lebih sulit. Zainudin sudah me­nga­wali perang opini dengan tuli­san, siapa mau menanggapi ?

*) Jurnalis, anggota tim penguji Uji Kompetensi Wartawan Jawa Pos Grup.
Dijumput dari: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2771

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir