Kamis, 20 Desember 2012

Karya Senirupa Topeng

Dantje S Moeis
Riau Pos, 16 Des 2012

MEMBACA tulisan ‘’Dari Pementasan Makyong Mahal dan Eksklusif’’ (Fedli Azis, Riau Pos Ahad, 9 Desember 2012), mengingatkan saya pada peristiwa yang benar-benar saya alami tahun 1997 lalu.

Kalau diikutkan kata hati, memang apa yang didengar pada saat itu bisa sangat menjengkelkan. Bagaimana tidak, pada Pameran Topeng Nusantara, bersempena pekan Temu Budaya 1997 di Taman Budaya Yogyakarta. Saya dipercaya oleh Tengku Muslim (Alm) yang menjabat sebagai kepala Taman Budaya Provinsi Riau saat itu, menyiapkan dan membawa materi pameran dari Riau (sebelum pemekaran Propinsi), berupa seperangkat topeng tradisional Makyong yang merupakan salah satu perangkat berunsur senirupa, penunjang seni-pertunjukan yang pernah ada dan masih bertahan sampai kini di Kepri (Kepulauan Riau).
Di sela pameran, di mana saya selalu berada di dekat karya topeng-topeng yang perlu saya jelaskan kepada pengunjung apa dan bagaimana topeng Makyong tersebut, ada tiga orang pengunjung yang kesemuanya perempuan, nyeletuk.

‘’Ah Riau, bertopeng orang, bertopeng pula awak. Di sana mana pula ada topeng tradisional. Mengapa tidak topeng kura-kura ninja saja yang mereka pamerkan? Tak sekali dua saya mengunjungi pameran seperti ini, baru kali inilah tiba tiba saja muncul topeng dari Riau,’’ yang dilanjutkan gelak tawa tekial-kial dari mereka.

Walau hati panas, Alhamdulillah saya masih bisa menahan diri dan berlaku laiknya sebagai juru penerang.

Dengan perasaan dongkol yang tertahan, saya jelaskan kepada mereka bahwa topeng Makyong Riau itu ada, tidak mengada-ada dan keberadaannya masih bisa di lihat sampai saat ini, terutama di daerah Kepulauan Riau tepatnya di daerah Pulau Mantang Arang Kecamatan Bintan Timur dan di daerah Pulau Buluh Kecamatan Batam.

Melongo, yang saya tangkap sebagai pertanda antusiasme mereka mendengar penjelasan saya yang berbuih-buih karena panas hati. Dan inilah kesempatan, pikir hati saya untuk mengatakan; ‘’Tak Melayu Hilang di Bumi’’.

Mengutip penjelasan paper Almarhum BM Syamsudin dan Amin Hasan pada Festival Desember 1975, juga penjelasan dari paper Mukshin Khalidi pada Festival yang sama yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tentang Makyong, saya menjelaskan kepada mereka bertiga bawa topeng-topeng yang saya pamerkan ini adalah topeng-topeng penunjang pertunjukan tradisional dari daerah tersebut di atas, baik itu pertunjukan teater menurut BM Syamsudin dan Amin Hasan yang diperkuat oleh bacaan saya dari penjelasan Walter William Skeat dalam bukunya (Walter William Skeat, Malay Magic Dover 1967, Theatrical Exhibitions; 518), atau pertunjukan tari menurut Mukshin Khalidi. Tapi bagi saya itu tidaklah terlalu penting, karena setelah berkali-kali menyaksikan pertunjukan tersebut pendapat dua kelompok ini menurut saya sama-sama benar, karena pertunjukan kesenian tradisional ini dominan menonjolkan kedua unsur percabangan seni tersebut, teater dan tari yang kemudian disusul oleh beberapa unsur percabangan seni lainnya, seperti senirupa, musik dan kemudian dikemas menjadi satu kesatuan ‘’Seni Pertunjukan’’ yang sangat menarik.

Seperti juga penggunaan topeng pada pertunjukan kesenian tradisional di mana saja dan pada ensiklopedi umum yang menjelaskan bahwa penggunaan topeng pada pertunjukan kesenian masa lalu yang menyajikan cerita-cerita purba dan kisah kisah perlambang yang telah dikenal pada permulaan abad ke tujuh belas di Inggris.

Di Indonesia diartikan sebagai satu pergelaran tari atau teater tradisional di mana para pemainnya memakai topeng sebagai penutup muka. Kemudian topeng yang dihasilkan dari senirupa (ukir dan pewarnaan), lazimnya terbuat dari kayu berwujud tokoh-tokoh, umumnya berbentuk karikaturistik (pendistorsian bentuk) untuk memperoleh citra/karakter yang mengesankan.

Pada pertunjukan Makyong di Riau, topeng sangat berfungsi sebagai perkuatan karakter tokoh yang diperankan. Ada beberapa peran dalam pertunjukan Makyong yang mustahak tak boleh tidak harus menggunakan topeng. Seperti peran Awang, peran Betara Guru, peran Pembatak, peran Inang, peran Harimau, peran Hantu rimba, peran Gajah, peran Kijang dan lain sebagainya.

Dari percakapan kami ini ada yang membesarkan hati, di mana mereka jujur menyimak hal-hal yang dianggap perlu dari penjelasan saya dan ada hal yang positif menurut saya, di mana mereka mefungsikan pameran ini betul betul sebagai penambah wawasan dan tidak dengan begitu saja percaya dengan apa-apa yang disuguhkan menyangkut hal yang betul-betul asing bagi mereka.

Begitu antusiasnya sampai-sampai mereka mengajak saya untuk pindah duduk ke warung tenda ayam goreng ala Amerika, di depan gedung pameran.

Sambil menggogok juice mangga dan mengunyah ayam goreng dan potato chips yang juga digoreng, saya melanjutkan penjelasan tentang topeng Makyong kepada mereka.

Menjelaskan tentang topeng Makyong tentu tidak bisa dilepaskan dari seni pertunjukan yang menggunakan topeng itu sendiri, dalam hal ini seni pertunjukan Makyong serta asal muasal keberadaannya. Pada awalnya saya sependapat dengan BM Syamsudin, Amin Hasan atau Mukhsin Khalidi yang menjelaskan bahwa tidak ada sumber yang pasti tentang asal usul pertunjukan Makyong ini, tetapi kemudian berdasarkan studi kepustakaan, pendapat saya berobah, karena secara gamblang Walter William Skeat memuat penelitiannya dalam bidang anthropology memastikan bahwa Makyong berasal dari Siam. Perobahan pendapat saya ini, bukan berarti saya setuju seratus persen dengan apa yang dikatakan Skeat. Karena orientasi penelitiannya tidak mencakup daerah-daerah di kawasan kepulauan Riau pada saat itu, nah mungkin-mungkin saja Makyong yang di Siam sana berasal dari Pulau Buluh atau Mantang Arang (kalau ini dapat dibuktikan tentu dengan sombong kita dapat berteriak lantang kepada dunia, inilah local genius budak Melayu Riau masa lalu) dan ini tentu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dari penelitian Walter William Skeat ini, banyak kesamaan yang dapat dilihat antara Makyong Riau dengan yang ada di Siam sana. Baik dari segi cerita yang dipakai dalam pertunjukan ini, juga properti dan bentuk topeng yang melakonkan tokoh.

Bahkan sampai saat ini berdasarkan gambar photo yang tertera dalam buku hasil penelitian Walter William Skeat, bentuk topeng dengan karakter yang sama sekali jauh dari perbedaan, seperti yang kita lihat pada pergelaran teater/tari Makyong di Riau saat ini.

Namun terlepas dari segala hal remeh-temeh (yang terkadang perlu), keberadaan topeng Makyong yang benar-benar ada dan agar diketahui secara luas tentang keberadaannya tentu tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kita bersama, dalam hal ini baik pihak para praktisi kesenian itu sendiri dan tentu yang lebih berkompeten lagi adalah institusi penyangga budaya yang punya cukup dana dan tenaga, agar tidak lagi hanya sekedar melamun atau tersenyum puas menikmati hasil jerih payah orang lain, kemudian menjadi terbata-bata dan ‘’kampungan’’ dalam forum yang semestinya dia yang jadi ‘penguasanya’.

Akhirnya setelah kejadian itu, di hotel tempat menginap, sebelum tidur saya membuat kesimpulan, entah suatu kemunduran atau suatu kemajuan dari masa lalu, yang jelas tidak dikenalnya topeng Makyong secara luas pada masa kini, disebabkan jarangnya pertunjukan itu muncul di tengah masyarakat dan sangat mungkin disebabkan maraknya berbagai hiburan modern yang menjelajah dan menguasai lini hiburan sampai kepelosok pedesaan, yang berakibat mempercepat jatuhnya gengsi seni pertunjukan Makyong dan berbagai bentuk seni tradisional lainnya.

Ada dua faktor menurut saya yang menyebabkan kekalahan seni seni tradisional melawan arus datangnya seni modern, dalam ajang pertandingan menarik minat. Pertama faktor yang datangnya dari dalam, yang menyangkut nilai nilai tradisi yang tidak mau atau sulit beradaptasi dengan perkembangan, sehingga semakin tertinggal dengan peradaban yang terus berubah. Kedua, faktor yang datangnya dari luar yang bersangkutan dengan tatanan kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dari kehidupan tradisional menuju ke dalam kehidupan modern, dalam tatanan baru yang menuntut segala sesuatunya serba praktis, ekonomis dan serba cepat, yang merupakan akibat dari modernisasi dan globalisasi yang harus terjadi.

Yang jelas agar tidak terjadi hal-hal yang seperti saya ceritakan di atas yang notabene merugikan kebudayaan secara moral, mulailah berfikir agar kita tidak dipandang sebelah mata dan berani membusungkan dada serta lantang berbicara bahwa kita punya andil dan menjadi bahagian dari pilar penyangga kebudayaan dunia. n

Dantje S Moeis, Lahir di Rengat Indragiri Hulu Riau, adalah seniman, redaktur majalah budaya Sagang, dosen Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/12/karya-senirupa-topeng.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir