Rabu, 09 Mei 2012

Teuntra Atom, Anak Haram Konflik Aceh

Thayeb Loh Angen
http://blog.harian-aceh.com/
 

Novel Teuntra Atom telah beredar di Aceh, Medan dan Jakarta, segera dilaunchingkan pada 14 Februari 2010 di International Boarding School Fajar Hidayah, Blang Bintang Aceh Besar. Acara launching dan bedah novel tersebut bertajuk “14 Februari Hari Bahasa untuk Perdamaian,” yang acara utamanya workshop menulis untuk remaja.

Novel ini sedang disiapkan untuk cetakan kedua dan penerjemahan ke dalam bahasa Inggris yang sebelumnya dipresentasikan dalam Festifal Sastra Galle di Sri Lanka pada 28 Januari – 1 Februari 2010.

Tidak ada ukuran pasti baik dan buruk tentang sebuah karya, namun novel Teuntra Atom memang memenuhi standar sastra, walau masih menyisa ruang untuk dikritisi bahkan dihujat habis-habisan. Novel Teuntra Atom, terbitan CAJP (Center for Aceh Justice and Peace), cetakan pertama pada Agustus 2009, tebal: 362 halaman, bisa dipahami dari beberapa sisi, tergantung cara pandang dan pembacanya.

Dalam resensinya tentang novel Teuntra Atom di Tabloid Nasional Gatra, 22-28 Oktober 2009, berjudul “Konflik Aceh dalam Fiksi-Sejarah,” Teuku Kemal Fasya menulis “Meski tidak sama, metode Thayeb mengingatkan saya pada Pramoedya Ananta Toer; novelis sejarah Indonesia yang paling berpengaruh di dunia. Pram mampu memberi energi tempat dan mengumpulkannya menjadi sentral penceritaan. Secara faktual Paloh Dayah hanya desa miskin biasa di pinggiran Kota Lhokseumawe. Akan tetapi dalam novel ini ia menjadi Blora-nya Ananta Toer.

Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.”

Selain di Taboid nasional Gatra yang ditulis Teuku Kemal Fasya, seorang kritikus sosial politik yang sering menulis di media nasional, resensi novel ini pun telah diulas oleh Boy Nasruddin Agus di Harian Aceh dan oleh Masriadi Sambo di Tabloid Kontras.

Cerita dalam novel ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe. Namun kali ini kita tidak mengulas tentang Paloh Dayah, yang tadinya bahkan tidak dikenal di Kecamatan Muara Satu sendiri, tapi setelah jadi latar utama novel ini dan disebut sebagai Kawasan Budaya, maka telah dikenal.

Sastrawan Malaysia, Profesor Siti Zainon Ismail, Jauhari Samalanga, Dr Wildan, Dr Rajab, D Kemalawati, Arafat Nur, Musmarwan Abdullah, Said Jaya, telah mengunjungi kampung yang berpenduduk seribu jiwa ini.

Memahami Novel Teuntra Atom

Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.

Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”

Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.

Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.

Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.

Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.

Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.

Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.

Thayeb Loh Angen, Wartawan Harian Aceh, Inisiator Lembaga Budaya Saman. /16 January 2010

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damsh√§user Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir