Kamis, 12 Januari 2012

Prabu Siliwangi: Sejarah atau Mitos?

Ajip Rosidi
Pikiran Rakyat, 7 April 2011

sejarah, tetapi para ahli sejarah belum menemukan buktinya. Ada yang mempersalahkan metode ilmu sejarah yang katanya berasal dari Barat, sehingga harus berdasarkan bukti secara fisik atau secara tertulis. KARENA dalam pidato penerimaan gelar Dr. (H. C.) di Unpad pada 31 Januari 2011, saya menyebutkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu hanya tokoh sastra, atau mitos, bukan tokoh sejarah, ternyata banyak orang Sunda yang kebakaranjenggot (walaupun tidak memelihara jenggot sekali pun) padahal hal itu bukan tema pokok pidato saya.
Ada yang berkeras mengatakan bahwa dia yakin Prabu Siliwangi itu ada secara terus. Terang, saya bukan ahli sejarah dan tidak juga berpretensi sebagai ahli sejarah, ketika menyusun pidato tersebut. Pendapat-pendapat tentang sejarah dalam pidato itu, saya kutip dari ahli sejarah seperti tercantum dalam catatan kaki. Seharusnya sebelum membantah pendapat orang, baca dulu dengan cermat teks yang hendak dibantahnya, termasuk juga sumber referensi yang dirujuknya.

“naskah-naskah kuno yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno itu bagi orang yang bukan filolog bisa salah dalam menafsirkan. Oleh karena itu, saya tidak berminat meladeni tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang merasa yakin tanpa syarat bahwa Prabu Siliwangi itu ada meskipun tidak (mau) meneliti dengan cermat semua tulisan yang berkenaan dengan itu. Akan tetapi dalam Pikiran Rakyat, 26 Maret 2011, Undang A Darsa mengatakan, Prabu Siliwangi ada (secara sejarah). Karena Undang ahli naskah Sunda Kuno yang sebentar lagi menempuh ujian S-3 dalam bidang filologi, maka pernyataannya niscaya didukung bukti ilmiah. Apalagi menurut dia,tafsir yang benar hanyalah dari filolog seperti dirinya saja. Artinya,

perpustakaan Oxford University, Inggris menyebutkan soal Siliwangi. Demikian pula naskah Sanghyang Kandang Karesian, naskah lontar abad XVI Masehi kropak 421 yang menyebutkan silsilah Siliwangi. Terakhir, Siliwangijuga disebut dalam naskah Wangsakerta yang berada di Museum Sri Baduga Kota Bandung.” Undang menyebut naskah-naskah yang menjadi sumber, yaitu “naskah Carita Parahyangan episode 16 yang berada di Perpustakaan Nasional, menjelaskan seorang anak raja yang harum namanya, yaitu Niskala Wastukancana. Lalu naskah Bujangga Manik yang disirnpan di

oleh Undang Darsa itu. Akan tetapi, saya tahu mengenai naskah-naskah itu dan juga isinya berdasarkan garapan para ahli yang sudah membaca, menerjemahkan, dan membahas isi naskah-naskah itu seperti yang dilakukan oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw, Atja, Saleh Danasasmita, Dr. Edi Ekadjati, Dr. Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Darsa sendiri. tidak pernah tertarik untuk membaca naskah-naskah yang ditulis dengan aksara kuno, saya tidak pernah membaca naskah-naskah yang disebutSebagai bukan filolog dan

Menurut keterangan para ahli yang sudah membaca dan membahas naskah-naskah itu, tidak ada uraian tentang Prabu Siliwangi sebagai tokoh sejarah. Naskah Carita Parahyangan memang menyebut nama-nama raja kerajaan (Sunda) yang beribu kota di Pakuan Pajajaran, tetapi tak ada nama Prabu Siliwangi disebut. Yang disebut adalah “Prabu Wangi”, seperti yang dikutip oleh Saleh Danasasmita, “Aya na seuweu, Prebu Wangi ngaranna, inyana Prebu Niskala Wastu Kancana nu surup di Nusalarang ring giri Wanakusumah” (lib. Saleh Danasasmita, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, Bandung, Kiblat, 2003, halaman 33).

“Setibanya ke ujung perbatasan Sunda/tiba ke Arega Jati/sampailah ke Jalatunda/situs peninggalan Silih Wangi”. Undang menerjemahkan “sakakala” dengan “situs”. Padahal, Saleh Danasasmita dalam bukunya menerangkan, “sakakala” adalah semacam peringatan yang dibuat untuk menghormati raja yang sudah meninggal. Naskah Bujangga Manik yang dibahas oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw dalam Tiga Pesona Sunda Kuna (Jakarta, Pustaka Jaya, 2009) menyebut dua kali nama Siliwangi atau lebih tepat “Silih Wangi”. Pertama untuk menggambarkan ketampanan seseorang “Latara teuing ku kasep/Kasep manan Banyak Catra/leuioih manan Silih Wangi”, yang oleh Undang Darsa yang menerjemahkan teks Sunda Kuno dalam ketiga naskah yang diteliti oleh Dr. Noorduyn dan Dr. A. Teeuw itu ke dalam bahasa Indonesia artinya, “Dia itu teramat tampan/Tampan melebihi Banyak Catra/lebih daripada Silih Wangi”. Tak ubahnya dengan orang menggambarkan ketampanan seseorang dengan “sepertiArjuna”, bukan berarti Arjuna itu tokoh sejarah. Arjuna tokoh wayang, Siliwangi tokoh carita pantun. Yang kedua “Silih Wangi” disebut dalam “Sadatang ka tungtung Su(n)da/nepika Arega Jati, sacu(n)duk ka Jalatunda/sakakala Silih Wangi”, yang diterjemahkan oleh Undang Darsa menjadiSampai sekarang belum ada ahli yang menemukan jangankan meneliti “sakakala” di Jalatunda.

Naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berasal dari tahun 1518 sudah digarap oleh tim yang terdiri dari Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Tien Wartini, dan Undang Darsa dimuat dalam buku Sewaka Darma, Sanghiang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung, transkripsi dan terjemahan (Bandung, Proyek Sundanologi, 1987), Dalam naskah itu nama “Siliwangi” disebut sekali, tetapi sebagai judul carita pantun. Lengkapnya berbunyi “Hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, prepantun tanya” yang terjemahannya “Bila ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, tanyalah juru pantun.

naskah-naskah itu sebagai Prabu Siliwangi historis, padahal hanya judul cerita pantun. Benar apa yang dikatakan Undang Darsa bahwa “naskah-naskah kuno yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno itu bagi orang yang bukan filolog bisa salah dalam menafsirkan.” Jangankan yang bukan ahli, bahkan filolog seperti Undang Darsa ternyata menafsirkan kata “Siliwangi” dalam

juga dalam naskah-naskah wawacan, babad, atau dongeng. Memang para ahli banyak yang merasa penasaran, karena nama Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran tidak tercantum dalam prasasti atau naskah-naskah kuno. Padahal, tokoh Siliwangi itu sangat populer dan dipercaya sebagai raja Kerajaan Pajajaran yang agung. Bukan hanya dalam cerita pantun Siliwangi sering ditokohkan sebagai raja yang agung binantara, melainkan

Meskipun nama kerajaan Pajajaran juga tidak terdapat dalam sumber-sumber sejarah, tetapi karena dalam berbagai sumber sejarah disebut bahwa nama keraton atau ibu kota negara Sunda itu Pakuan Pajajaran, maka dapat diterima bahwa nama ibu kota atau keraton secara populer menjadi nama kerajaannya.

yang tidak bersifat sejarah. tokoh Prabu Siliwangi yang termasyhur dalam sastra (carita pantun, babad, wawacan, dongeng). Yang pertama melakukan penelitian untuk mengidentifikasikan Prabu Siliwangi adalah Moh. Amir Sutaarga. Dalam bukunya, Prabu Siliwangi (Bandung, Duta Rakjat, 1966, vet. II, Jakarta, Pustaka Jaya, 1984), setelah meneliti berbagai sumber sejarah dan karya sastra berupa wawacan dan babad seperti prasasti Batutulis, Carita Parahyangan, Sanghiang Siksa Kanclang Karesian, Babad Pajajaran, Babad Siliwangi, Babad Galuh, Cerita Prabu Anggalarang, dan lain-lain, ia sampai pada kesirnpulan Prabu Siliwangi dalam babad dan wawacan itu adalah raja Kerajaan Sunda Sri Baduga Maharaja (1474-1513). Identifikasi Amir itu kemudian disokong oleh Saleh Danasasmita, meskipun ia tidak setuju dengan alasan-alasan yang dikemukakan oleh Amirmencoba mengidentifikasikanPrabu Siliwangi, sehingga ada ahli merasa penasaran, danTidak demikian dengan tokoh

tebak-tebakan saja. Dengan disokong oleh Saleh Danasasmita bukan berarti bahwa Prabu Siliwangi yang sangat tersohor dalam sastra clan mitologi itu, lantas menjadi tokoh sejarah. Namun, itu hanyalah usaha mengidentifikasikan saja. Bukan berarti bahwa Sri Baduga Maharaja itulah yang disebut Prabu Siliwangi karena dalam sumber-sumber sejarah, hal itu tidak pernah tercantum. Artinya, usaha Amir itu hanyalah usaha

Hal itu terbukti dengan munculnya ahli lain, yaitu Ayatrohaedi, yang menolak tebakan Moh. Amir Sutaarga, dengan alasan bahwa dalam naskah Sanghiang Siksa Kandang Karesian yang berasaldari 1518, tokoh Prabu Siliwangi sudah disebut sebagai judul carita pantun, padahal Sri Baduga Maharaja memerintah tahun 1474-1513. Menurut Ayatrohaedi, orang yang baru meninggal beberapa tahun mustahil sudah menjadi tokoh carita pantun (lih. Ayatrohaedi Niskala Wastu Kancana (1348-1475) Raja Sunda Terbesar dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Jakarta,1986). Menurut pendapatnya, Prabu Niskala Wastu Kancana, kakek Sri Baduga Maharaja lebih cocok untuk diidentifikasi sebagai Prabu Siliwangi.

Maka tidak mustahil akan muncul ahli lain yang dengan teori dan alasan lain akan sampai pada kesirnpulan, Prabu Siliwangi itu adalah orang lain lagi.

Kesirnpulannya, Prabu Siliwangi memang ada, sebagai tokoh sastradan mitologi. Pendapat Unclang Darsayang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada, karena tercantum dalam naskah-naskah, hanya membuktikan bahwa membaca naskah Sunda Kuno itu tidak mudah, bahkan filolog yang ahli naskah Sunda Kuno seperti dia pun salah dalam menafsirkan isinya.***

Penulis, sastrawan.

Tidak ada komentar:

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir