Senin, 05 Desember 2011

Llosa, Sastra, Politik, dan Nobel

Pradewi Tri Chatami
Pikiran Rakyat, 14 Nov 2010

“FIKSI itu sama pentingnya dengan realitas. Imajinasi dan fantasi membantu manusia memahami hidupnya. Tanpa yang fiksi, hidup manusia akan membosankan, monoton, dan kelabu.” Begitulah pendapat Mario Vargas Llosa, penerima Nobel di bidang sastra tahun ini.

Lahir di Arequipa, Peru pada 28 Maret 1936, ia dikenal sebagai salah seorang dari generasi “Latin American Booming”, bersama sahabat yang — setelah tengkar yang berujung pukulan dan foto mata lebam — kemudian menjadi seterunya, Gabriel Garcia Marquez.

Sejak kecil, ia sudah terpikat kepada sastra, salah satu bacaannya adalah Jules Verne. Ia pun mulai menulis puisi. Karena ayahnya menganggap menulis puisi adalah kesibukan yang kurang lelaki, ia mengirim Mario remaja ke Akademi Militer Leoncio Prado, tempat yang ia sebut sebagai neraka. “Itu adalah pengalaman traumatis yang dalam banyak hal menandai berakhirnya masa kecilku,” katanya. “Penemuan kembali negeriku sebagai lingkungan yang keras, penuh dengan kepahitan, membuat faksi sosial, budaya, dan rasial selalu berada dalam posisi saling bertentangan dan terkadang menyulut perkelahian sengit. Kukira pengalaman itu memberi satu pengaruh besar padaku; satu hal yang pasti itu memberiku kebutuhan mendesak untuk berkreasi, untuk menciptakan sesuatu.”

Sesuatu itu, kelak ia sebut sebagai “hasrat obsesif untuk menulis”. Maka, menulislah ia sebagai jurnalis untuk La Industria, sebagai co-editor jurnal sastra Cuadernos de Conversación, Literatura, juga jurnalis untuk radio Pan Americana dan La Crónica. Pada 1955, Mario menikahi saudara ipar pamannya, Julia Urquidi. Ketika itu usianya masih sembilan belas tahun dan sang tante (istrinya) tiga belas tahun lebih tua darinya. Pernikahan ini berumur sembilan tahun, yang seluruh kenangannya terungkap dalam novel Aunt Julia and The Scriptwriter (1973). Novel ini pernah diadaptasi dalam film Hollywood, “Tune in Tomorrow”. Setahun setelah bercerai dari Julia, ia menikahi sepupunya, Patricia Llosa, yang memberinya dua putra dan seorang putri.

**

Pada 1958, Mario Vargas Llosa mendapat gelar Ph.D. dari Complutense University of Madrid Spanyol. Ia pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi, tetapi ternyata permohonan beasiswanya ditolak. Ia tetap memutuskan untuk tinggal di Prancis dan bekerja sebagai guru bahasa Spanyol, penyiar radio, dan menulis secara profesional. Mario tak kembali ke Peru karena meski pada 1960-an terjadi Latin American Booming, tetapi penerbit-penerbit di Peru tidak memungkinkan para penulis untuk memperoleh penghasilan yang cukup.

Debutnya dimulai saat Llosa “meminjamkan” pengalaman pahitnya di Leoncio Prado pada novel pertamanya, The Time of The Hero (1963). Di Spanyol, Mario mendapat penghargaan Premio de la Crítica Española karena teknik penulisan dan pendalamannya. Akan tetapi ironisnya, di tanah airnya, Peru, seribu kopi novel itu dibakar di lapangan upacara oleh perwira militer sambil menuding Mario dibayar oleh Ekuador untuk menjatuhkan militer Peru.

Meski menerima hujan hujatan dari militer Peru, novel itu mengenalkan nama Mario Vargas Llosa ke publik sastra dunia — khususnya pada pemakai bahasa Spanyol — sebagai novelis muda yang genial. Posisinya makin mantap setelah ia menulis novel The Green House (1966), yang mengisahkan perjalanan seorang gadis biara menjadi pelacur paling ternama, dan Conversation in The Cathedral (1969) yang merupakan salah satu karya terbaiknya.

Llosa terus bereksperimen, termasuk membuat parodi atas karyanya sendiri, The Green House, dalam Captain Pantoja and The Special Service, yang diilhami saat ia menemukan pelacur-pelacur sewaan untuk tentara yang berdinas di hutan. Ia kembali disambut tepuk tangan meriah saat menulis The War of the End of the World — yang ia sebut karya favoritnya — novel mengambil latar pemberontakan di Brasil pada abad ke-19 oleh gerakan mesianik. Llosa juga mengangkat Alejandro Mayta dalam The Real Life of Alejandro Mayta. Seorang revolusioner Trotskyis, potret dari seorang pemegang teguh ideologi kiri revolusioner di Amerika Latin. Seorang romantik, pemuja Tuhan dan Marx dengan kadar ketaatan yang setara. Si revolusioner yang memanipulasi kamerad muda dan idealis yang jatuh karena didorong oleh utopia dan faksionalisme.

Sementara Feast of the Goat (2000), merupakan novel yang mengangkat kejatuhan diktator Republik Dominika, Rafael Trujillo. Pada karyanya yang lain, The Way to Paradise (2002) Llosa menyoroti seorang feminis-sosialis, Flora Tristan dan cucunya pelukis Paul Gauguin, dan mendapat sambutan beragam. Sebagian menganggapnya sebagai novel yang menarik, sebagian berpendapat novel itu gagal menangkap spirit dari Flora dan Paul. Setidaknya, novel itu tidak secerlang karya Llosa terdahulu.

Pada 2006, Llosa menulis ulang karya Gustave Flaubert, Madame Bovary dalam The Bad Girl. Secara keseluruhan, kiranya klaim dari Komite Nobel bahwa ia memiliki “kemampuan untuk memetakan struktur kekuasaan dan mata yang tajam dalam memotret perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan manusia” tidaklah berlebihan.

Dari tiga puluh karyanya, Llosa juga menulis esai, naskah drama, dan kritik sastra. Ia menulis The Perpetual Orgy yang membahas keterkaitan antara dirinya dan Gustave Flaubert, juga La Utopia Arcaica ihwal perkembangan sastra di Peru. Disertasi doktoralnya tentang Gabriel Garcia Marquez dibukukan dan pada 2007, Llosa mengizinkan bagian dari buku itu sebagai bagian dari edisi khusus 40 tahun One Hundred Years of Solitude. Konon, itu menandai rekonsiliasi, tetapi beberapa sastrawan Amerika Latin berpendapat, mereka tak akan pernah kembali rujuk seperti dahulu, sebesar apa pun harapan melihat itu terjadi.

Sebagaimana halnya penulis lain di Amerika Latin, Mario Vargas Llosa menceburkan dirinya dalam kegiatan politik. “Sastra adalah ekspresi kehidupan, dan Anda tak bisa mengenyahkan politik dari kehidupan.” Itulah yang ia yakini. Namun, berlainan dengan kawan-kawan Amerika Latin, ia mengalami perubahan-perubahan ekstrem dalam perjalanan politiknya. Bermula dari kiri yang berapi-api, dan ia segera kecewa pada Fidel Castro setelah presiden Kuba itu memenjarakan penyair Herberto Padilla. Sejak itu, secara bertahap ia beranjak ke kanan, memercayai liberalisme dan pasar bebas.

Karier politiknya sempat goyah saat ia ditunjuk sebagai bagian dari Investigatory Commision pada 1983, komisi yang dibentuk pemerintah untuk menginvestigasi kematian delapan jurnalis di Uchuraccay. Hasil investigasi yang menyebut bahwa penduduk aslilah yang bertanggung jawab atas insiden itu segera dijawab dengan kecaman oleh media massa dan para antropolog. Media massa menyebut komisi itu menyembunyikan operasi militer yang dijalankan pemerintah, dan antropolog menuduh Mario Vargas Llosa memakai kacamata Barat-modern untuk mengamati pribumi desa itu. Mario menangkis semua tuduhan dan balik menyerang mereka dengan mengatakan mereka semua berpaling dari kenyataan bahwa banyak penduduk yang meninggal dunia di tangan gerilya. Pada 1993, satu novel yang terinspirasi dari insiden ini lahir, Death in the Andes.

Puncak gerakan politiknya adalah saat ia, mewakili partai Fredemo, maju dalam pencalonan Presiden Peru. Proposal ekonominya yang neolib tentu saja tak populer untuk rakyat Peru, dan ia kalah telak dari Alberto Fujimori. “Aku dulu sangat dungu. Dengan naif aku percaya bahwa aku bisa membawa Peru ke arah yang lebih baik,” katanya dalam wawancara tentang keputusan politiknya kala itu. Ia menuangkan pengalamannya selama pencalonan presiden itu dalam memoar, Fish in the Water (2002).

Llosa tetap aktif menyuarakan pendapat politiknya, seperti yang ia lakukan saat diundang bicara di televisi Meksiko oleh Octavio Paz. Ia melontarkan satu kalimat yang nantinya menjadi adagium, “Meksiko adalah kediktatoran yang sempurna,” karena tersamar dan seolah-olah demokratis. Pada 1993, ia menerima kewarganegaraan Spanyol sebagai bentuk kekecewaan pada pemerintahan Fujimori yang membekukan kongres pada 1992. Di Spanyol, Llosa kemudian berganti haluan dari tengah-kanan menjadi tengah-kiri. Ia mengambil jalan tengah dan mengutarakan penentangannya terhadap ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri. “Aku menentang pemerintahan yang otoriter, baik itu kiri maupun kanan,” katanya.

Selain menjadi sastrawan dan politisi, ia juga intelektual. Sejak akhir 1960-an, ia telah memberi kuliah di berbagai universitas ternama. Kamis pagi, saat panitia Nobel menelefon apartemennya di Manhattan, ia sedang mempersiapkan materi kuliah, dan hendak berjalan-jalan dengan istrinya. Kini, ia masih mengajar di Princeton, kajian Amerika Latin dengan fokus pada Jorge Luis Borges.***

Pradewi Tri Chatami, penyair, belajar antropologi di Unpad.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/llosa-sastra-politik-dan-nobel.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir