Senin, 03 Oktober 2011

Ahasveros

Dody Kristianto
Bangka Pos, 20 Mar 2011

ADIK, kau tahu jika langkah kakiku ini kian berat. Terasa ada bandul yang mengikat dan memberatinya. Pandanganku juga semakin buram, menatap kota-kota yang kulalui. Kota-kota itu adik, terus membuatku merasa serupa orang yang mengejar halusinasi. Ya, halusinasi. Aku benar merasa sendiri di tengah kota ramai itu. Adik, jika kau mendengarnya, aku meminta kau segera menanggalkan sayapmu itu.

Sepasang sayapmu itu adik, membuatku merana sekian tahun ini. Aku bagai menahan suatu kutukan yang harus kutanggung selama hidupku, sisa hidupku. Dan dalam sisa hidupku ini adik, aku harus mencarimu yang telah pergi entah ke mana. Dengan sepasang sayapmu itu. Aku sungguh benci pada sepasang sayap yang telah tumbuh di punggungmu. Adik, percayalah, jika aku dan anak kita selalu menunggu kau kembali. Bagaimana si kecil terus merengek, menanyakan di mana kau pergi.

Aku tak tahu, aku bingung, harus aku jawab seperti apa pertanyaan anak itu. Dia sudah mulai pintar. Bila dulu aku bisa mengatakan jika kau sedang berada di sebuah kota nun jauh. Kau mencari mainan dan segala baju-baju indah untuknya. Aku selalu mengatakan hal itu padanya. Dan sungguh, aku hanya bisa menunjukkan setumpukan kartu pos bergambar yang pernah kau berikan untukku agar perhatiannya teralihkan. Aku mengatakan padanya, kau berada di salah satu tempat pada kartu pos bergambar itu kini. Sejenak ia terdiam, melupakan tangisnya, lalu ia teringat dan terus mencecarku dengan pelbagai pertanyaan, mengapa kau mesti berada di situ.

Aku harus memutar otakku untuk menjawab pertanyaannya. Kadang ia juga menemukan dan memandangi sebuah kartu pos bergambar yang selalu kusembunyikan dari tatapannya, kartu pos bergambar kota yang rusuh. Di mana-mana kekacauan terjadi. Ada asap yang menyelimuti kota. Kota dengan penduduk yang bermata menyala, seperti api. Apakah mungkin kau berada di situ, tanyanya padaku.

Aku sungguh terkaget-kaget. Dari mana ia menemukan kartu pos bergambar itu. Aku terdiam, lidahku kelu. Ia terus mendesakku. Aku pun menjawab mungkin kau berada di atas kota itu, sedang terbang di antara kepungan asap yang mengerumuni kota. Bagiku kau tak mungkin berada di tempat semacam itu.

Atau mungkinkah justru kau kini tengah terkepung pada kota yang tengah menyimpan dendam di setiap jendela rumahnya? Aku sungguh berharap hal itu tidak terjadi. Aku takut adik, aku takut bila hal itu terjadi. Kau dan sayap mungilmu pasti direnggut oleh asap hitam jahat yang membuat semua orang menjadi nanar.

Ah, jika ia bertanya kembali, lekas-lekas aku sembunyikan kartu pos bergambar yang satu itu dan kualihkan pandangannya pada kartu pos bergambar lain. Kartu pos dengan gambar yang lebih indah. Perihal semua kartu pos bergambar itu, aku pernah teringat pada saat kita berdua memandangi gambar-gambar yang kau berikan itu. Terkadang kau bercerita padaku tentang harapanmu untuk tinggal pada salah satu gambar itu.

Setumpukan kartu pos bergambar itu mungkin saja bergambar tempat dari mana kau berasal, seperti pernah kau bercerita padaku. Adik, mungkinkah, kau sedang berada pada salah satu tempat dalam setumpukan kartu pos bergambar itu? Ya, kartu pos bergambar yang masih kusimpan. Kau mengatakan jika kartu pos bergambar itu adalah pemberian ayahmu. Ternyata kau selalu meyakini jika ayahmu kini tengah tinggal pada salah satu tempat dalam setumpukan kartu pos bergambar itu.

Kau paling berharap dan bermimpi jika ayahmu tinggal pada salah satu tepian pantai, tempat senja kerap muncul. Senja yang benar-benar kau idamkan selama ini. Kau bercerita jika kau memang terlahir ketika senja menjelang dan yang selalu kau ingat, kau ingin menyatu dengan senja itu. Dan perjumpaan pertama kita, perjumpaan ketika senja tiba. Tentu saja ketika itu kau mengatakan semua itu hanya kebetulan saja.

Kulupakan sejenak tentang setumpukan kartu pos bergambar adik. Aku menyesali dan mengutuk mengapa sepasang sayap itu tumbuh di punggungmu. Kau benar-benar menjelma lain ternyata. Aku sebenarnya tak pernah yakin pada ceritamu. Kau meyakini jika kelak sepasang dapat tumbuh di punggungmu. Akhirnya, sepasang sayap itu memang tumbuh di punggungmu, melebihi apa yang aku percayai dan yakini. Adik, mengapa harus kusangkal semua yang kau ceritakan perihal sepasang sayap tumbuh di punggungmu.

Terkutuklah aku kini.
Jika aku dapat mengulang waktu, aku tentu ingin sekali memotong sepasang sayap yang tumbuh di punggungmu itu. Aku ingin memotongnya ketika malam tiba, ketika kau tengah terlelap dan sepasang sayap itu tengah menguncup. Aku mau merenggut sayapmu itu diam-diam. Diam-diam pula aku merasa ingin memilikinya. Aku ingin memindah sepasang sayap di punggungmu ke punggungku.

Ah, mengapa tiba-tiba harus terbersit keinginan demikian? Kau tahu adik, aku sangat ingin terbang dari satu kota ke kota lain. Aku benar-benar bosan terpenjara dalam rumah kecil ini. Aku juga ingin bepergian ke tempat dalam setumpukan kartu pos yang kau tunjukkan padaku. Aku sungguh iri padamu. Kenapa harus kau yang memiliki sepasang sayap di punggungmu itu. Adik, dalam waktu semalam saja, dengan sepasang sayap di punggungku, aku akan berkeliling mencari tempat-tempat yang ada dalam setumpukan kartu pos itu. Hanya dalam semalam saja adik.

Akan tetapi, ternyata kau mendahuluiku. Aku memang berkelana dari satu kota ke kota lain, namun kuperlukan waktu yang entah untuk berapa lama. Adik, setiap malam aku juga menyaksikan kota-kota yang ajaib. Kota-kota penuh dengan sorot cahaya lampu yang menyilaukan mataku. Kota yang dipenuhi tempat-tempat bercahaya yang bernama diskotek, kafe, atau hipermarket.

Aku harus selalu memendam kecewa akhirnya. Ternyata kau memang tak berada di kota itu. Aku sangat yakin dan percaya kalau cahaya silau itu menyembunyikan tubuhmu. Mungkin kini aku bisa membenarkan, mengapa dulu kau sangat mencintai keremangan.

Kau tak pernah membiarkan rumah kita bermandi cahaya. Cukuplah satu dua lampu saja sebagai penerang. Asal tidak gelap menyelimuti rumah mungil ini. Keremangan akan selalu melindungi kita dari kelelahan. Sesudah seharian kita dihinggapi penat. Keremangan ini akan membuat kita terlahir kembali. Aku juga akan kata-katamu, keremangan akan mengingatkan kita pada saat-saat di dalam rahim. Saat-saat paling hangat dalam kehidupan kita. Sungguh aku tercengang ketika mendengar penjelasanmu itu. Ada sedikit cahaya dalam rahim ibu kita. Itulah mengapa kita dapat bertahan hidup di dalam sana.

Adik, kota-kota silau cahaya ini makin mengurungku. Tubuhku tidak tahan lagi. Aku menyaksikan banyak perempuan dengan wajah yang dipoles sedemikian rupa. Wajah mereka serupa boneka dengan baju yang sedikit terbuka. Aku ngeri menyaksikan itu. Baru sekali ini aku menyaksikan manusia-manusia semacam itu. Adik, semoga kau tidak berada di antara mereka. Aku sangat berharap jika kau segera di depanku malam ini. Aku sungguh ingin terbang meninggalkan kota mengerikan ini bersamamu.

Malam terus saja memanjang. Aku masih setia dengan pencarian ini. Aku kini tak tahu batas antara tidur dan sadar. Kurasakan dalam tidur aku berjalan, begitu juga sebaliknya. Aku sungguh tak pernah menghitung seberapa jauh aku telah berjalan. Hanya kau yang ada dalam pikiranku. Aku abai meski setiap orang menganggap aku sebagai mahluk asing. Mereka selalu menertawakanku setiap aku bertanya mengenai dirimu. Mana ada perempuan bersayap di kota ini, jangan-jangan aku sedang bermimpi, seru mereka. Adik, benarkah semua orang memang seperti itu. Apabila demikian, aku akan sangat damai berada di sisimu.

Ah adik, apakah kau akan mengirimiku setumpukan kartu pos lagi? Aku kini juga tak tahu bagaimana keadaan anak kita. Kutinggalkan ia di rumah. Semoga ia tidak seperti aku yang terus mengikutimu. Adik, aku khawatir jika dia menjadi pejalan jauh seperti aku. Jika di sayapmu tumbuh sepasang punggung, mungkin kakiku ini sudah melebihi sayap dan aku terbang tanpa sayap untuk mencarimu. Aku merayap dari kota ke kota. Kadang dalam kesepianku, aku menulis surat untukmu. Kutitipkan ia bersama angin atau kularung ia jauh, ke sungai, ke laut. Semoga surat itu sampai padamu.

Sepasang sayapmu adik, apakah kau memang bukan manusia seperti kami? Entah mengapa aku jadi berpikir seperti itu. Entah, aku mulai terpengaruh oleh orang-orang yang kujumpai selama perjalanan. Sepanjang perjalanan, aku selalu melihat patung perempuan bersayap. Mereka menamainya sebagai bidadari. Apakah kau mungkin mahluk langit yang diciptakan untuk turun ke bumi.

Terkutuklah aku karena telah mendekati mahluk langit yang suci. Oh adik, maafkan aku. Akan tetapi aku tetap akan mencarimu. Aku tak peduli jika harus ke langit untuk mencarimu. Aku tak takut kalau para dewa harus menghukumku. Aku berpikir jika perjalanan ini memang ditakdirkan padaku. Aku harus mencarimu ribuan mil, ribuan tahun.

Adik, sekarang aku tidak tahu, apakah aku sedang tertidur. Sementara keriuhan kota-kota terus menenggelamkanku. Aku terjebak oleh lanskap kota penuh cahaya ini. Suatu waktu, aku terkepung oleh asap kota. Ya, kota dalam kartu pos. Kota yang dipenuhi kekacauan, persis gambar yang selalu kusembunyikan dari si kecil. Kota yang penuh kekacauan adik. Aku menyaksikan lebih dahsyat dari gambar dalam kartu pos itu. Sepanjang hari adik, orang-orang berlari dengan tatap nanar. Tatapan yang menakutkan. Bangkai-bangkai tergeletak di jalanan. Bau kota jadi amis.

Adik, jika kau mendengarkanku, selamatkan aku. Bukannya aku takut, tapi aku tak tahan dengan bau anyir ini. Bau yang tak pernah kujumpai di rumah kita. Adik, perjalanan di kota kacau ini sungguh memilukan. Jerit tangis mereka yang dicekam ketakutan amat menyayat-nyayat hatiku. Tumpukan bangkai terus bertambah di depan mataku. Aku tak dapat berbuat sesuatu. Yang dapat kulakukan adik, hanyalah mencarimu.

Aku sangat berharap perjalanan di kota kacau ini akan segera berakhir. Aku berdoa semoga ini hanya mimpi buruk. Adik, aku sangat ingin kau kini berada di depanku dan segera membawaku pergi dari kekacauan ini. Adik di tengah kota yang porak-poranda ini, aku rentangkan dua tanganku. Aku pejamkan mata. Aku sudah benar-benar memasrahkan tubuh ini. Lamat-lamat di tengah kekacauan, aku bayangkan suaramu lembut terdengar. Aku merasakan kau menyambut tanganku.

Benar, sentuhan lembut ini memang tanganmu. Aku sangat ingin membuka mataku, tapi aku tak ingin menyaksikan kota yang perlahan hancur ini. Adik, izinkanlah aku membuka mataku. Aku ingin memandang kembali wajahmu. Aku ingin segera mengakhiri perjalanan panjang ini.

Adik, kubuka mataku untuk kali pertama sepanjang perjalanan ini. Aku merasakan terbebas, akan tetapi tetap tak kujumpai di mana dirimu. Padahal, sentuhan tanganmu masih lembut kurasakan. Kota di sekitarku masih sibuk dengan kekacauannya. Puing-puing bangunan mulai terlihat di mana-mana. Aku tak menangkap kehadiranmu, hanya saja bebauan anyir itu kini tak lagi tercium.

Hanya bau wangi kehadiranmu, seperti saat kali awal kita berjumpa.
Adik di mana dirimu. Mengapa setelah perjalanan jauh ini tak dapat melihatmu? Aku tak merasakan apa-apa selain menyaksikan kekacauan di bawah sana. Aku tak menyaksikan dirimu ada di sini, meski perlahan aku merasa kau tengah membimbingku terbang dengan sepasang sayap di punggungmu. Semua kini begitu kosong. Aku menyaksikan tubuhku tengah pulas tertidur di bawah.

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/04/ahasveros.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir