Senin, 22 November 2010

Awal Uzhara, Menjaga Seni Indonesia di Rusia

Subhan SD
http://www.kompas.com/

Penderitaan panjang pasca-tragedi politik tahun 1965 tak membuat semangat hidup Awal Uzhara padam. Walaupun 32 tahun hidup tanpa status kewarganegaraan (stateless), sineas yang dikirim belajar ke Moskwa di zaman Soekarno ini tetap menyalakan api kesenian Indonesia di Rusia.

Saya ingin kesenian Indonesia terus dikenal oleh masyarakat Rusia, kata lelaki yang kini mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Negara-negara Asia dan Afrika (ISAA), Universitas Moskwa (MGU), ini saat ditemui di Moskwa beberapa waktu lalu. Kini dunia telah berubah. Konflik ideologi yang memunculkan Perang Dingin dan membelah dunia menjadi Blok Barat dan Blok Timur tinggal catatan sejarah.

Namun, pergolakan politik dan pertarungan ideologi pada dekade 1960-an itu telah membuat pria kelahiran Kayutanam, Sumatera Barat, 77 tahun silam itu sadar bahwa mimpinya menjadi sutradara besar Indonesia terpaksa dikubur dalam-dalam. Walaupun gagal menorehkan sejarah perfilman nasional seperti rekannya, Syumandjaya, Awal Uzhara tak lantas kehilangan semangat untuk terus memperkenalkan kesenian Tanah Air-nya.

Usia boleh senja, tetapi Awal tetap setia mengajari anak-anak muda Rusia dengan berbagai seni tradisi Indonesia, tanah kelahiran yang pernah menolaknya berpuluh- puluh tahun silam. Ia terus mengajari kawula muda Rusia dengan sastra Indonesia, tari-tarian tradisional, gamelan, hingga seni bela diri macam pencak silat.

Bahkan, pria yang setiap bepergian selalu ditemani tongkat ini masih energik membaca sajak di berbagai kesempatan, termasuk di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskwa, sebagaimana dilakukannya pada peringatan Hari Proklamasi, bulan Agustus lalu. Di satu sisi, ia tak ingin kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Di sisi lain, ia menginginkan nama Indonesia terus akrab di benak orang Rusia.

”Yang paling penting adalah menanamkan rasa cinta (mahasiswa Rusia) terhadap Indonesia. Soal nantinya setelah tamat mau menekuni atau tidak, itu terserah mereka. Oleh karena itu, saya juga mengajak mahasiswa Rusia untuk datang ke KBRI (untuk lebih mengenal Indonesia),” kata Awal, yang berpuluh-puluh tahun ditolak datang ke KBRI Moskwa di Jalan Novokuznetskaya Ulitsa itu.

Walaupun sebagai orang Indonesia tak mendapatkan tempat yang layak di masa lampau, Awal tetap membawa bendera Indonesia dalam kegiatan berkeseniannya. Nyaris setiap tahun bisa dipastikan ia terlibat dalam acara-acara seperti malam bahasa dan budaya Indonesia di Moskwa atau kota-kota lain di Rusia. Ia mengarahkan para mahasiswa Rusia yang belajar tentang Indonesia agar mampu memahami sekaligus melakoni kesenian Indonesia.

Sejak era 1970-an saat ia dilanda kesulitan hidup terbuang di negeri orang, ia masih bisa berkarya. Beberapa drama pernah dipentaskannya dalam acara-acara seperti malam budaya, antara lain lakon Kopral Tohir karya Trisnoyuwono, sendratari Bebasari karya Rustam Effendi, sandiwara Mangir Wanabaya dan Putri Pembayun berdasarkan naskah Pramoedya Ananta Toer. ”Semuanya (pemain) yang tampil adalah orang Rusia. Dengan kesenian seperti drama atau sajak, orang Rusia justru lebih mudah untuk menangkap bahasa dan mengenal Indonesia,” kata lulusan INS Kayutanam itu.

Beasiswa di Moskwa

Awal Uzhara tak pernah membayangkan, sejarah kelam Indonesia berarti sejarah kelam hidupnya. Pertarungan politik dan ideologi yang membuncah pada tahun 1965, menjadi penanda perputaran jarum hidupnya sejauh 180 derajat. Harapannya untuk menjadi sutradara besar jebolan Moskwa sirna dalam sekejap. Peristiwa politik itu tak hanya membuatnya gagal membangun kehidupan di Tanah Air, tetapi juga merupakan awal kehidupannya yang getir.

Impiannya menjadi bagian dari perfilman Indonesia sesungguhnya terbuka lebar. Pada tahun 1958—di zaman Soekarno berjaya—tiga sineas muda anggota Parfi mendapat beasiswa dari Pemerintah Uni Soviet sebagai mahasiswa ikatan dinas untuk belajar film dan penyutradaraan di Moskwa.

Mereka adalah Syumandjaya, Awal Uzhara, dan Zoebair L Syuman, dan Awal belajar di Institut Sinematografi se-Uni Soviet (Bagian Penyutradaraan) di Institut VGIK, yang merupakan salah satu sekolah film tertua di dunia (Didirikan tahun 1919 oleh sutradara Vladimir Gardin). Adapun Zoebair belajar di Akademi Seni Teater Rusia (GITIS) yang juga merupakan sekolah teater terbesar dan tertua di Rusia (dibangun tahun 1878).

Mereka rata-rata adalah sineas muda berbakat. Awal sendiri adalah asisten sutradara dan telah melahirkan sejumlah film pendek. Filmnya yang cukup populer adalah Hari Libur (1957) yang dibintangi Bing Slamet. Akan tetapi, peristiwa tahun 1965 membuyarkan impiannya menjadi sineas Indonesia masa depan. Awal—lulus 1965—tak seberuntung Syuman yang pulang tahun 1964, sebelum peristiwa itu meletus.

Tahun 1966, di saat ketegangan mulai memuncak, Awal kembali ke Indonesia. ”Saya tidak takut pulang karena merasa tidak bersalah,” kata pria kelahiran 17 November 1931 itu. Dia mengaku bukan bagian Lekra yang onderbouw PKI. Barangkali satu-satunya yang membuat cap negatif terhadap dirinya adalah ikut menandatangani sokongan kepada Presiden Soekarno sesaat setelah peristiwa 1965 meletus. Tak ayal, begitu mendarat di Tanah Air, ia harus menjalani interogasi dan lapor diri yang melelahkan.

Dalam situasi gejolak kala itu, ia ingin mempraktikkan ilmu yang diperolehnya di Moskwa. Dia mendatangi Sumandjaya yang kala itu menjabat Kepala Direktorat Perfilman Kementerian Penerangan RI, tetapi ia harus menerima kenyataan karena di tempat itu tak ada lowongan. Begitu juga saat ia melamar ke Pusat Produksi Film Negara (PPFN), ia pun pasrah. ”Waktu itu barangkali memang tidak ada lowongan,” katanya mencoba melihat dengan kacamata positif.

Ingin mudik

Tahun 1967, ia kembali Moskwa karena anaknya hasil pernikahannya dengan perempuan Rusia pada tahun 1964 sakit keras. Seperti di Jakarta, hidup di Moskwa hanyalah memindahkan problem hidupnya di lain tempat. Begitu tiba di Moskwa, paspornya dicabut. Sejak itu Awal—sebagaimana orang-orang senasib dengannya—hidup tanpa kewarganegaraan (stateless) selama 32 tahun.

Dalam kondisi seperti itu, ia berupaya bertahan. Ia kembali ke kampusnya menekuni film dokumenter sekaligus terus menyalakan api berkeseniannya. Untunglah, berbagai kemudahan di kampus membuat dirinya larut dalam pekerjaan. Tatkala ada acara kesenian rakyat Indonesia di Museum Kesenian Rakyat Timur tahun 1972, Awal ikut ambil bagian. Ia menyertakan film-film pendek yang bertutur tentang sisi kebaikan dan kejahatan hidup manusia.

”Kisahnya saya susun sendiri, filmnya saya edit sendiri, lalu juga saya isi musik sendiri dengan musik Bali,” kenang Awal. Ia juga sempat membuat film Tapol saat solidaritas tapol sedunia digelar di Moskwa tahun 1975. Film itu kemudian diputar pada Festival Film Moskwa tahun 1977. Tak hanya di Rusia, beberapa film pendeknya juga diputar di Jerman.

Ketika Uni Soviet bubar akhir 1980-an itu, Awal mulai merasakan perubahan. Status stateless-nya akhirnya berakhir. Pada 1999, Pemerintah Rusia memberikan kewarganegaraan kepadanya. Maka, ketika pulang ke Tanah Air pada tahun 2001, ia menggenggam paspor Federasi Rusia.

Namun, itu tak lantas membuatnya tenang. Bagi orang Minang ini, pulang dari perantauan adalah impian besar: rindu kampung, keluarga, sanak saudara, adat tradisi, lagu- lagu Indonesia. Persoalannya, jika pulang kampung, hak pensiunnya hilang. Pilihannya bak makan buah simalakama. Untunglah, Duta Besar RI untuk Rusia Hamid Awaluddin memberikan garansi agar orang-orang seperti Awal Uzhara bisa pulang kampung sekaligus tak kehilangan pensiun.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir