Kamis, 07 Oktober 2010

Siapa Peduli Panji?

Ingki Rinaldi
http://umum.kompasiana.com/

Penari asal Jepang bernama Jasmin itu sudah bergairah sejak pagi-pagi sekali. Sebelum pukul sembilan Jasmin telah berada di depan kolam ikan yang jadi bagian Candi Jolotundo Udayana, di Trawas, Mojokerto.

Sambil berjinjit ke bagian kolam pemandian yang dikucuri aliran mata air jernih di bagian atas candi, Jasmin berbisik.

“Saya mau mandi dulu.”

Maka ia pun menaiki sejumlah undakan batu menuju salah satu kolam yang dikelilingi pepohonan besar. Tak lama Jasmin kembali lagi ke tempat awal sembari mesam mesem.
Tentu saja, keinginan itu tidak bisa kesampaian.

Hari itu, Jasmin yang punya nama lengkap Jasmin Akubo dan sudah beberapa waktu terakhir tergabung dalam sebuah kelompok kesenian dari Bali mau ikut berpentas. Pentas itu adalah salah satu penutup pertemuan dan pementasan bertajuk Pasamuan Budaya Panji Internasional ke-2 yang diadakan di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Pasti saja berpasang-pasang mata sudah menanti pementasan yang diberi tajuk “Panji Remeng” itu. Sudah jelas, pagi itu Jasmin tidak bisa mandi di situ.

Kata penggiat Budaya Panji dan pengelola Padepokan Seni Mangun Darma, Tumpang, Malang, Ki Soleh Adi Pramono, Budaya Panji adalah satu-satunya budaya Nusantara yang menyebar hingga ke wilayah Asia. Budaya Panji dimulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Malang, di abad ke-8 dengan hasil kesenian berupa Topeng Panji Malang.

Kemudian berkembang pada tahun 1277 di Singosari, Malang di zaman Kameswara I pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara, lantas menyebar ke semenanjung Melayu, Malaysia. Setelah diteruskan ke zaman Majapahit, penyebarannya ke seluruh Nusantara dan beberapa negara Asia oleh Mahapatih Gadjah Mada tidak terbendung lagi.

Termasuk tari topeng ala Betawi, ya mula-mula dari kisah Budaya Panji.

Selain topeng, Budaya Panji di antaranya diawali dengan adanya epos Panji yang muncul dalam sastra kuno Jawa Timur pada abad ke-12 hingga abad ke-13. Inti cerita Panji adalah tentang kehidupan tokoh Raden Panji atau Panji Asmorobangun dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candra Kirana atau Dewi Sekartaji dari Kerajaan Daha atau Kediri.

Raden Panji dan Dewi Sekartaji yang sudah ditunangkan sempat terpisah sekalipun akhirnya mereka dipertemukan.

Bisik Ketua Program Dewan Kesenian Jatim Heri “Lentho” Prasetyo kepada saya, salah seorang pakar seni Jawa kuno asal Cologne, Jerman, Lydia Kieven, beranggapan epos Panji adalah karya sastra yang termasuk paling unik di dunia. Lynda melakukan penelitian selama tidak kurang 15 tahun soal Budaya Panji.

Kata Lentho, epos Panji dianggap karya yang setara kejeniusannya dengan Mahabharata atau Ramayana.

Raden Panji dianggap titisan Dewa Wisnu sedangkan Dewi Sekartaji dianggap titisan Dewi Sri yang dihormati sebagai dewi kesuburan lahan atau tanah. Penyatuan Raden Panji dan Dewi Sekartaji dianggap mewakili pula simbol kesuburan pertanian.

Karena itulah, Budaya Panji juga berkait erat dengan detail ilmu pertanian. Selain berbagai sistem hidup lain seperti filsafat, teknik arsitektur, seni tari, teater, wayang beber, wayang gedhog, dan beragam motif batik.

Seorang seniman asal Klaten, Agus Bimo, yang juga sudang nongkrong di perhelatan itu sejak beberapa hari sebelumnya menyebutkan konsep pertanian dalam Budaya Panji adalah soal tantra atau kesuburan.

”Jadi bagaimana memperlakukan tanah (lahan) seperti menyayangi istri dan ini hubungannya dengan konservasi alam. Budaya Panji tidak berhenti pada aspek romantika asmara,” ujarnya.

Agus menambahkan, pada zaman dahulu konsep pertanian organik berdasarkan kearifan Budaya Panji disebarluaskan dengan mudah lewat dongeng yang diwariskan lewat bahasa tutur. Peran dongeng pada masyarakat pertanian itu terbukti sangat bagus karena memperkenalkan cara-cara mulai dari memilih benih, mengolah lahan, hingga produksi pangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip organik.

Menurut Agus, pengenalan kembali konsep pertanian organik yang kini mulai hilang bisa dimulai dengan berbagai cara. Salah satu yang paling radikal adalah yang dilakukannya sendiri dengan menerapkan prinsip pertanian organik pada lahan sekitar 800 meter persegi yang disewanya.

Agus mengaku sempat dianggap gila oleh masyarakat sekitar karena keputusannya itu. “Saya membakar dupa dan kemenyan untuk mengusir hama dikira sedang sesaji, begitu juga ketika saya menaruh makanan di pojok-pojok sawah yang tujuan sebetulnya agar hama tikus langsung mendapatkan makanan begitu keluar dari lubangnya,” kekeh Agus.

Agus yang tetap setia dengan rambut panjangnya menambahkan bahwa petani juga harus ke ladangnya setiap malam untuk melihat hewan-hewan apa saja yang sedang bercengkrama dengan tanamannya.

Pada ujung yang lain ada Lynda Bransbury yang sedang belajar ilmu pedalangan dan seni murni di Institut Seni Indonesia Surakarta lewat fasilitas beasiswa. Lynda yang asal Inggris adalah lulusan jurusan seni dan sejarah, dan sekarang berkarya juga pada program pengurangan kemiskinan di Eropa.

”Saya datang kesini karena khawatir sekali apakah Budaya Panji ini bisa selamat. Karena saya saksikan banyak generasi muda di Indonesia bahkan tidak tahu apa itu wayang kulit atau karawitan. Sedangkan di Inggris, generasi muda kami saat ini sedang gemar mempelajari gamelan,” ujar Lynda Bransbury.

Bersama Lynda, datang pula Adar Treger. Adar adalah praktisi teknik komputer asal Perancis yang gemar memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar teknik gerak untuk meditasi.

“Ini kedatangan saya pertama kalinya ke Indonesia,” kata Adar.

Pada hari itu, Lynda dan Adar larut dalam pementasan “Panji Remeng” yang dilakukan di Candi Jolotundo, Udayana, Trawas, Mojokerto. Adar meliuk-liukan tangan dan badannya sembari memejam dan meniti bebatuan candi sebelum masuk ke dalam kolam ikan. Lynda yang semula hanya menabur-naburkan kembang rupa-rupa warna dari pinggir kolam, akhirnya ikut menceburkan diri.

Pementasan tersebut dibuka dengan ritual persembahan yang dilakukan oleh lima orang pedanda asal Bali. Mereka merapal mantra sekitar lima belas menit sebelum dua buah kerang ukuran besar dibunyikan sebagai penanda bagi para penari untuk masuk.

Tarian persembahan yang dimulai dengan masuknya masing-masing dua orang bertopeng di sisi kiri dan sisi kanan Candi Jolotundo Udayana itu lantas diikuti dengan sejumlah penari lain yang masuk ke dalam kolam ikan di depannya. Makin lama, jumlah penari yang terlibat dan masuk ke dalam kolam untuk mengekspresikan rasa kesenian mereka semakin banyak.

Tokoh “Panji Remeng” yang menyimbolkan ketidakjelasan didampingi oleh dua orang pembantunya menyimbolkan sifat-sifat jelek yang ada dalam manusia. Setelah bergerak-gerak dalam koreografi dinamis di atas candi, tokoh Panji Remeng lantas turun ke dalam kolam dan kemudian naik ke atas candi mengampiri pedanda.

Pada akhir cerita, segala sesuatunya kemudian menjadi senyap. Ini adalah simbol dari perasaan saling mencintai dan sama-sama menjaga perasaan untuk mencapai harmoni.
Ini adalah puncak ekstase hubungan antara manusia yang disimbolkan punya beragam sifat oleh para seniman dengan alamnya.

”Hubungan antara seniman dan lingkungan memang erat karena seni adalah apa yang mereka (seniman) cermati pada lingkungan. Karena itu seniman memang seperti peneliti karena mereka melakukan riset dulu sebelum berkarya,” kata Guru Besar Institut Seni Indonesia Surakarta, Profesor Dr. Waridi M. Hum.

Namun ia menyebutkan, seniman dan budayawan yang mereflesikan dengan baik lingkungan di sekitarnya terkadang hasil berkeseniannya tidak biasa diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia memberikan contoh hikayat anak bangsa dari Makassar, Sulawesi Selatan, I La Galigo, yang justru masyhur di luar negeri namun tak banyak masyarakat di Indonesia yang mengapresiasinya.

Pada gilirannya, tujuan hasil karya seni yang sebagian untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang sesungguhnya kepada pihak penguasa juga menjadi tidak tersampaikan. ”Kalau saya melihat bukan pada adanya mata rantai yang putus, namun mengapresiasi seni ini butuh bekal sejak kecil. Harus ada pendidikan budaya sejak dini,” ujar Waridi.

Direktur PPLH Seloliman, Sisyantoko, yang telah dua tahun terakhir mengorganisasi acara tersebut dan sudah selama itu pula gondok karena merasakan nihilnya peranan pemerintah. Padahal, beragam aspek Budaya Panji bisa dikelola dengan baik dan menjadi aset sejarah yang sangat menguntungkan bagi Indonesia.

“Bahkan ada (pejabat) yang bertanya kepada saya. Budaya Panji ini mau kamu bawa kemana,” timpal Heri “Lentho” Prasetyo.

Saya lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba menangkap sosok Jasmin. Ah, kiranya ia sudah mencebur ke dalam kolam sedari tadi.

Meliuk-liukan tubuhnya dalam tata koreografi bernuansa sakral. Didapuk dan digendong sembari mempermainkan selembar selendang putih.

Sambil mengenakan topeng, jadi juga si Jasmin mandi.

*) Lahir di Jakarta, Februari 1981. Bergabung sebagai jurnalis di Harian Kompas, Oktober 2003. Kecelakaan tragis yang nyaris merenggut nyawa dalam tugas jurnalistik di Lamongan, Jatim, Agustus 2004, membuatnya makin memaknai hidup ini. Mengalami banyak sekali keajaiban, termasuk kelahiran anak pertama, Juni 2006. Hingga saat ini telah melakukan kesalahan dan kebodohan yang tak terhingga. Sampai saat ini terus berupaya memperbaiki kesalahan dan kebodohan itu dalam kelipatan yang tak terhitung.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir