Minggu, 04 Juli 2010

Melakoni Teater

Fahrudin Nasrulloh
http://www.jawapos.co.id/

MEMASUKI ruang itu, rasa temaram hadir lalu meruang. Degup jantung masih tertahan dan gemerisik penonton satu per satu mengisi kursi yang kosong. Hening.

Pementasan monolog Shimpony Patet Pat pun dibuka Studiklub Teater Bandung (STB). Aktor Ayi Kurnia Iskandar tampil. Dia memerankan seorang aktor tua yang merasa nelangsa sendiri dalam hidup karena memilih melakoni hidup sebagai pemain teater.

Dia mabuk berat, menceracau ihwal dirinya kenapa kini tiba-tiba ada rasa tenggelam di lubang celaka, lubang panggung sandiwara. Cinta memang pernah hadir dalam hidupnya, tapi menolak sehidup-semati bersamanya.

Panggung yang berlubang, ada gelap, ada cahaya, namun terkadang terjerembap atas renungnya sendiri bahwa dirinya tak lebih hanya sebatang daging, seonggok sisa yang setengah membusuk. ”Aku hanya seorang tua yang tersirap oleh debu panggung,” katanya. Kurang lebih sejam, pentas pun berakhir.

Naskah itu merupakan adaptasi dari karya panggung Anton Chekov dari Rusia yang berjudul Lebedinaya Pesna atau Nyanyian Angsa. Lakon tersebut dipentaskan pada malam 26 Oktober 2009 di Taman Budaya Surakarta. Pergelaran bertajuk Mimbar Teater Indonesia (25-30 Oktober 2009) itu tentunya layak disambut gembira.

Berbagai gagasan dan diskusi digelar di sela-sela pementasan. Misalnya, diskusi bertema Melakoni Teater yang beranjak dari buku Melakoni Teater: Sepilihan Tulisan Tentang Teater (Studiklub Tetaer Bandung, 2009) yang disunting IGN Arya Sanjaya. Diskusi tersebut menghadirkan penyaji Halim H.D. dari Forum Pinilih Solo dan Pak Yoyo dari STB Bandung.

Gelaran Mimbar Teater Indonesia digagas sebagai ajang forum teater oleh teater untuk masyarakat teater dan masyarakat umum sebagai hasil kerja sama Forum Komunikasi Teater Surakarta dan Taman Budaya Jawa Tengah. Pertemuan itu, sebagaimana yang diancangkan panitia, diharapkan memantik gairah dan usaha untuk menemukan jalan lain yang solutif, yang mungkin tidak seketika. Tapi, percikan dan pernik-pernik masalah dalam dunia teater di Indonesia selama ini dapat diurai serinci-rincinya sebagai bagian dari pemetaan mozaik masalah teater dalam ruang lingkupnya yang terkait.

Buku Melakoni Teater tersebut juga menjadi penanda keberjalanan STB selama 50 tahun. Perkembangan teater bersifat sporadis, berjalan tanpa pola, sebagaimana yang diungkapkan Prof Dr Soetardjo Wiramihardja, menjadi wacana yang menarik di kemudian waktu untuk melihat kembali keberadaan teater di Indonesia.

Seperti apakah seniman teater kita memaknai diri dan kerja seninya tersebut dalam ruang dan waktu, dalam korelasinya dengan masyarakat, dalam resepsi mereka, dalam mengapresiasi warisan tradisinya, sehingga segala apa yang diterima dari warisan Barat (baca: teater) tersebut dijadikan sebagai kesadaran ”berterima” dalam konteks kebudayaan yang bersifat universal.

Keyakinan untuk tetap memilih jalan berteater tentunya merupakan hak setiap seniman. Hak untuk bersama dalam suatu pemaknaan berkesenian yang pasti tidak bermakna tunggal dan meniscayakan keberterimaan atas keberagaman kreativitas yang dieksplorasi masing-masing seniman.

Keyakinan berkesenian teater ini diungkapkan oleh sutradara gaek STB Suyatna Anirun yang mengatakan, ”Bekerja untuk teater adalah pilihan saya. Suatu kerja yang memberikan kebahagiaan. Dari situ saya belajar mengenal diri sendiri dan mengenal orang lain. Saya tak kan pernah menyesalinya. Saya selalu memperoleh kedamaian darinya.”

Tapi, mungkin tidak bagi sutradara Budi S. Otong yang berhenti berteater lantaran soal ”dapur”-nya tak bisa mengepul.

Sebagaimana di dunia sastra, apakah sebuah puisi terasing dari masyarakat? Apakah masyarakat kita menghargai buku-buku dan apa pun bentuk kesenian yang ada atau hampir punah di ruang lingkupnya? Apa pandangan masyarakat tentang teater? Seperti apakah orang-orang teater yang sekilas tampak sok ”nyeniman” dan nyentrik di mata khalayak?

Mungkin kaum awam masih mengenali tradisi yang telah lama ada di sekitarnya seperti ketoprak, ludruk, jaipong, reog, atau jaran kepang. Tapi, teater? Entahlah. Barangkali teater hanya diapresiasi oleh orang berkelas intelek tertentu dan oleh orang-orang teater sendiri.

Tentunya, banyak hal yang sedikit demi sedikit persoalan-persoalan teater terudar dalam sejumlah diskusi ataupun apresiasi di setiap pementasan teater dalam Mimbar Teater Indonesia tersebut. Misalnya, bagaimana apresiasi kita terhadap pementasan Teater Kampung Seni Banyuning dari Bali dengan lakon Cupak Tanah (26 Oktober 2009) yang disutradarai Putu Satria Kusuma.

Tradisi Bali yang unik digarap di sini. Meski terkesan menjejalkan semata pesan tentang eksistensi tradisi Bali yang mulai terdegradasi, pergulatan kreativitas Putu yang polos tersebut menjadi spirit tersendiri karena bentuk itulah yang dia pilih dan lakoni.

Yang lebih saskartis namun eksistensialis adalah pertarungan gagasan sutadara Nandang Aradea dari Banten dalam garapannya yang berumbul Perempuan Gerabah (28 Oktober 2009). Sedangkan diskusi dalam upaya penggalian teater rakyat bertajuk Opera Batak sangatlah menarik dan membukakan perspektif baru bahwa sebenarnya ”manusia teater” Indonesia perlu merenungi kembali kepada tradisi yang telah ada.

Hal itu telah dibuktikan oleh Thompson H.S. dari Medan yang membeber inspirasi baru dalam upayanya merevitalisasi Opera Batak sebagai teater rakyat yang kini kembali eksis dalam masyarakat.

Ada delapan grup teater tanah air yang diundang dalam acara itu. Selain yang telah saya sebutkan, teater lainnya adalah Teater Eks Surakarta dengan lakon Hampir Manusia (25 Oktober 2009), sutradara Nusa Cahyadi; Masyarakat Batu menghadirkan Ritus Plastik Kota Batu (27 Oktober 2009) yang disutradarai Zulkifly Pagessa dari Palu; Ladang Perminus (28 Oktober 2009) dari Main Teater Bandung yang disutradarai Wawan Sofwan; Teater Payung Hitam dengan Puisi Tubuh Yang Runtuh (29 Oktober 2009), sutradara Rahman Sabur; dan Kelompok Kerja Teater Surakarta yang menampilkan lakon Ronggo… (30 Oktober 2009) dengan disutradarai Gigok Anurogo. Pilihan pengurasian semua grup akan menjadi catatan penting untuk pergelaran Mimbar Teater Indonesia selanjutnya.

Pentingnya pemetaan dan pencatatan secara personal maupun kolektif akan keberjalanan setiap grup teater dapat dijadikan pijakan bagaimana kita melihat kembali dan terus melacak kembali apa yang selama ini diyakini bahwa berteater bagi seniman adalah jalan hidup.

Kenapa berteater diyakini sebagai jalan hidup? Juga pilihan-pilihan estetika dalam menggarap pementasan teater? Tidaklah gampang menjawab hal itu.

Tulisan Halim H.D. bertajuk Lalu Batu, Lalu Waktu, Lalu Angin: Debu (wawancara imajiner dengan Suyatna Anirun) dalam Melakoni Teater seperti menyaran lirih kenapa berteater masih saja disetiai sebagai keyakinan. Suyatna Anirun menjawab, ”Anda tahu air laut itu asin; dan bagaimana Anda bisa mengetahuinya jika Anda tidak mencobanya, dan bagaimana Anda bisa mencobanya jika Anda tidak memasuki dunia rasa asin itu; keyakinan adalah tindakan, how to act; dan ketika kita merasa yakin kepada sesuatu sesungguhnya bukan bagaimana kita menerimanya; tapi bagaimana kita melacak dan mempertanyakan, menggugat, merasakan, dan melakukannya dengan sepenuh diri. Jika tidak, teater hanya fiksi dari kaum pelamun; tak ada bau dan rasa keringat; dan itulah kenapa keringat asin, karena ia ada dengan dan di dalam laut dalam diri kita; gelora dan gemuruh serta keheningan dari kedalaman yang kita wujudkan dalam pertemuan dan penjadian itu.” (*)

*) Peminat teater dan bergiat di Komunitas Lembah Pring, Jombang.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir