Rabu, 02 Juni 2010

Mitos Panji dalam Bingkai Puisi Payung Hitam

S. Jai*)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

EMPAT aktor—seorang diantaranya perempuan—di atas panggung memitoskan sebentuk orang-orangan yang mengenakan sarung dan raut wajah tertutup topeng warna putih. Pada leher sebatang manusia yang digantung di ujung bambu persis di tengah panggung itu juga menjuntai selendang putih bersih.

Empat aktor itu khidmad memuja yang dilanjutkan dengan menyeka kulit tubuhnya sendiri dengan air, lalu menghentakkan kaki pada tanah dan sepanjang pertunjukkan actor-aktor bermain dalam bias cahaya api dari lilin di panggung bagian depan.

Aktor terus bermain dengan keseluruhan gesture dan idiom tubuhnya. Sesekali dua kali muncul tubuh aktor lain berperawakan sangat tinggi, aneh, berkaki palsu, berkepala warna merah, berdahi super besar, berjubah. Ia lebih menyerupai makluk angkasa luar dalam film-film Alien. Begitu aneh jelas itu bukan melukiskan tubuh manusia, mungkin tubuh setan atau sejenisnya yang dimainkan oleh manusia berlaku kekanak-kanakkan.

Itulah pertunjukkan Teater Payung Hitam dari Bandung Puisi Tubuh yang Runtuh yang kurang lebih berdurasi 30 menit, di Gedung Cak Durasim, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Kamis malam, 25 Maret 2010 lalu. Meski demikian Rahman Sabur (53), sang sutradara sengaja menggerakkan pola bermain tidak saja pada tubuh aktor-aktornya, melainkan juga dengan pukau slide bergambar topeng. Selain topeng itu sendiri yang lantas dikenakan oleh keempat aktornya.

Sampai di sini, tampaknya akan memunculkan asumsi ketidakpercayaan sepenuhnya pada tubuh, untuk tidak segera membawa pemahaman dominasi atas tubuh—sesuatu cara berpikir aristotalian yang jelas ditolak dari pilihan estetika pertunjukkan ini. Meski demikian hadirnya banyak elemen di luar tubuh aktor justru disadari karena berangkat dari spirit bahwa bagaimanapun tubuh tidak pernah sendiri. Setidaknya alam menjadi bagian dari tubuh atau tubuh telah menyatu dengan alam. Inilah yang coba ditaklukkan ke dalam semacam gagasan atau konsep estetis Teater Payung Hitam maupun oleh sang sutradara Rahman Sabur.

Kiranya menyebut nama Rahman Sabur ini penting mengingat berkali-kali ditegaskan spirit Puisi Tubuh yang Runtuh bermula dari persoalan yang sangat personal. Dalam arti persoalan pribadi—dan mungkin juga bukan soal ilmu pengetahuan—yakni perjuangan melawan penyakit stroke ketika tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan dan juga tidak bisa berbicara. Pada tingkat ini, pada pribadi sutradara menyakini apa yang dikonsepkan dramawan Suyatna Anirun, bahwa berteater adalah untuk menemukan manusia, berhadapan dengan kenyataan. Rahman Sabur boleh menambah deretan teater sebagai terapi.

Di luar itu semua lebih banyak terkandung misteri atau rahasia teater: mitos, tradisi, identitas, simbol dan sudah barang tentu ideologi atau pengetahuan. Yaitu pengetahuan dalam bahasa sosiologi fenomenologi Peter Berger dan Thomas Luckmann perihal internalisasi maupun eksternalisasi dari sutradara maupun aktor-aktor di panggung atas realitas keseharian. Terus terang pada Puisi Tubuh yang Runtuh misteri ini menjadi hal yang sangat menarik dalam dunia hermeneutic sekaligus confuse, membingungkan karena menutup diri—apabila tak merelakan diri segera kembali menggunakan pola pikir model Aristotelian.

Mempertimbangkan mitos Cerita Panji misalnya akan berhadapan pada resiko membuat teks baru dari spirit Panji secara utuh, dan bukan demi sepenggal semisal menukil ruh dari tokoh Panji ataukah ruh Candra Kirana. Ini yang tampaknya tidak dilakukan oleh Teater Payung Hitam. Mitos adalah suatu dunia, demikian pula Cerita Panji adalah dunia. Sebagaimana puisi juga suatu semesta yang memang tidak sederhana. Apalagi musti ditambah dunia wayang topeng (Cirebon, Malang, Madura) di dalamnya yang memang mengambil inspirasi dari Cerita Panji. Sesuatu dunia bukanlah sebuah dunia. Sesuatu dunia adalah dunia yang tak berbingkai.

Karena itu menikmati pertunjukkan Puisi Tubuh yang Runtuh dengan menyederhanakan semesta-semesta, teks-teks tersebut adalah suatu hal yang memiskinkan sense of aesthetic. Dunia ini sangat rumit dan fatalnya tingkat kerumitan teks pertunjukkan ini justru disokong oleh sebuah cara berpikir penyederhanaan. Berbeda tentu saja, manakala menikmati kerumitan itu oleh karena “spiritulitas” memang segalanya tak mau diam. Bahkan sepotong topeng yang keindahannya menakjubkan justru saat berdiam diri, malah dikacaukan dengan gerakan yang pada akhirnya menghancur-leburkannya.

Satu hal amat menarik diajukan dalam analisis Zoetmulder pada Manunggaling Kawula Gusti. Dikatakan bahwa sebetulnya dalam diri Panji kita berjumpa dengan gambaran mengenai Tuhan yang menampilkan diri di dalam dunia. Ia seolah-olah meninggalkan kedudukannya yang asli selaku Dzat Mutlak lalu mengembara jauh diluar negeri-Nya, terlindung oleh samarannya sehingga hanya mereka yang terpilih dapat mengenal-Nya. Jenggalane nut tan adoh, Jenggala tan katilar (Megatruh Serat Centini). Juga dari teks Asmaradana, wayang topeng dengan kisah pernikahan Panji dan Kirana, Zoetmulder mengulas ada pesan bahwa manusia bisa tersesat oleh apa yang mereka anggap kenyataan. Hyang sukmalah yang menyembunyikan diri dalam badan manusia, sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng.

Dengan kata lain menangkap spirit cerita panji, ruh dari bentuk sebuah mitos jauh lebih subtansial ketimbang menguasai bentuk artistik. Bentuk suatu pencapaian artistik boleh hancur dan tak perlu ditangisi. Agar tak tergelincir pada pengalaman kebimbangan dan sebagai penganut romantisisme yang kerdil dengan berbangga pada masa silam tanpa peradaban. Sebaliknya, mengharu-biru, berdarah-darah hanya dalam mempertahankan bentuk bakal menenggelamkan diri pada sikap narsistis.

Penyederhanaan atau usaha untuk menaklukkan suatu misteri ini tampaknya proses transformasi yang agak mengganggu pada pertunjukkan Teater Payung Hitam kali ini. Hal itu tampak sebagai usaha malu-malu untuk menggeser konsep teater dari titik kulminasi yang dicapainya di bawah baying-bayang proses teater. Utamanya saat beresiko menumbukkan tubuh dengan topeng, tradisi dengan modern, mitos dengan puisi, hitam dengan putih bahkan mungkin sakral dengan profan. Masing-masing punya sejarah dan takdir yang hanya dengan kejujuran, keiklasan dan kebesaran jiwa sanggup untuk bertemu, berdialog agar memperkaya diri berkat puncak-puncak kulminasi identitas teater.

Apa yang tersebut terakhir ini ditemukan pada konsep bermain dalam pengertian yang seutuh-utuhnya, setinggi-tingginya sonder reduksi ideologi berpikir tertentu. Apalagi cara berpikir model Cartesian yang kesohor cogito ergo sum. Sebetulnya hal itu bisa ditangkap dari bangun artistik pertunjukkan, dimana di panggung tergantung berayun lima bambu vertikal yang mengesankan alami namun sakral. Aktor-aktor tersebut bermain di ruang dan dalam kesepakatan permainan mereka sendiri. Kesepakatan bermain inilah meminjam istilah Johan Huizinga, yang menjadi ajang ruang luang untuk bergerak dalam diri maupun tubuh keaktoran—dan di sisi lain penikmat teks permainan dipertemukan dengan waktu dan ruang pertunjukan teater. Permainan adalah suatu perbuatan atau kegiatan sukarela yang dilakukan dalam batas-batas ruang dan waktu tertentu yang sudah ditetapkan, menurut aturan yang telah diterima tapi mengikat sepenuhnya dengan tujuan dalam dirinya sendiri, disertai oleh perasaan tegang dan gembira, dan kesadaran ”lain daripada kehidupan sehari-hari.”

Hanya dengan demikianlah apa yang menjadi credo muasal Teater Payung Hitam dalam “dialektika antara realitas dan idealitas” mampu menempuh lintas ruang waktu. Meskipun ketiganya baik dialektika, realitas maupun idealitas produk dari suatu aliran filsafat barat namun sanggup menembus proses tranformasi menuju kulminasi identitas teater pasca-modern Indonesia atau teater pasca mitos kita. Estetika baru yang pernah dicapai Teater Payung Hitam saat mendekonstruksi teks Kaspar-nya Peter Handke seakan inhern dengan situasi dan kondisi krisis kemanusiaan, ketidakadilan, kekerasan, otoritarianisme, politik pada massanya. Pendeknya, Teater Payung Hitam yang menurut kabar bakal menggelar karya terbaru Rahman Sabur ini pada public festival di Belgrade Serbia di Patosoffiranje International Multimedia Festival di Serbia yang berlangsung 2 Juli hingga 20 Agustus 2010 nanti, bakal melestarikan suatu utopian perihal kesepakatan abadi. Yakni sepakat untuk sejenak tidak menjadi manusia modern. Sejenak untuk menjadi makluk primitif oleh karena bentuk-bentuk permainan paling suci ada pada spirit hidup makluk primitif–sudah barangtentu termasuk di dalamnya dunia binatang.[]

*) Penulis adalah pengarang dan pegiat komunitas teater keluarga, tinggal di pinggiran hutan jati Lamongan selatan.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir