Sabtu, 13 Februari 2010

Robohnya Negeri 1001 Malam

Moh Samsul Arifin*
http://www.jawapos.com/

Inilah buku yang memotret sebuah perang paling berdarah –sekaligus menyita perhatian manusia di kolong langit– di ufuk milenium baru. Dua jurnalis MBM Tempo, Rommy Fibri dan Ahmad Taufik memburu segepok peristiwa yang mengiringi kejatuhan Rezim Saddam Husein dan luluh lantaknya tanah Irak selepas diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua jurnalis itu membuat reportase basah, di mana detail peristiwa dirawat bak menimang bayi dan jalinan peristiwa diudar dengan perspektif kuat bertopang sejarah.

Saking basahnya, pembaca terkadang seperti melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang diceritakan dalam buku ini. Dibuka dengan reportase ihwal robohnya patung Saddam dan dipungkasi prosesi serta kronologi eksekusi terhadap Saddam, buku ini menyingkap nyaris utuh potret konflik Irak sekaligus kehidupan sosial di negeri yang dikoyak desing peluru tersebut.

Perang Irak atau lebih tepatnya penaklukkan Irak dapat dikatakan sebagai kemenangan absurditas yang mendompleng pada kecintaan pada martabat kemanusiaan. Dengan alasan absurd, hingga kini belum terbukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah masal, AS jumawa menerjunkan bala tentara untuk membungkam kekuasaan Saddam yang tak tergoyahkan selama hampir 2,5 dekade. Rezim otoriter yang berdiri di jantung Arab itu memang limbung, tapi bukan tertib yang didekap. Negeri seribu satu malam ini justru terbenam pada konflik internal yang menghadap-hadapkan kelompok Sunni dan Syiah untuk mengangkat senjata!

Momen yang paling liris, tatkala Rommy Fibri menceritakan kejatuhan Irak yang disimbolisasi dengan robohnya patung Saddam Hussein di perempatan Firdaws, Bagdad, 9 April 2003. Saat itu pasukan AS merangsek ke Bagdad dari segala penjuru. Sore hari pasukan AS sudah menguasai kota, tepatnya di Firdaws Square, jantung Bagdad. Puluhan mujahidin (milisi), pertahanan terakhir setelah Garda Republik, sudah menanggalkan senjata, tanda menyerah.

Tentara Amerika masuk Bagdad seperti pahlawan. Penduduk mengelu-elukannya serasa menghirup kebebasan. Patung Saddam di tengah kota hendak dirobohkan, tapi tangan kosong jelas tak mampu. Terpaksa, hanya untuk merobohkan patung Saddam, tentara Amerika harus turun tangan. Dengan sebuah tali yang diikatkan pada leher dan ditarik dengan kendaraan lapis baja armored personal carrier (APC), patung itu roboh. Ironis!

Dan, dengan masygul, Rommy –jurnalis Indonesia yang pertama masuk Irak pada 2003– menulis: Saya tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, karena saya yakin ”bulan madu” ini hanya berusia sementara. Kelak, penduduk Bagdad akan menyadari apa artinya ”diduduki Amerika”, meski saat ini mereka tengah merasa ”terbebas dari Saddam” (hlm. 7).

Kemasygulan yang terbukti belakangan. Bahkan, hingga kini Amerika masih betah dan berencana memarkir pasukannya di Irak hingga 2011. Rencana yang memicu puluhan ribu penduduk Bagdad –sebagian besar pendukung ulama Muqtada Sadr– berdemo (18/10/2008) meminta Amerika hengkang dari Irak.

Di negeri Muslim seperti Indonesia, Saddam menonjol sebagai ikon perlawanan terhadap Barat, wabil khusus Amerika Serikat. Namun, dua jurnalis yang berpengalaman meliput di daerah konflik ini tak hendak menajamkan pandangan yang melupakan sosok utuh dari seorang Saddam, termasuk sisi gelapnya yang kurang digali. Maka, Rommy Fibri pergi ke Irak Utara hingga menyentuh Halabja. Di sinilah, monumen keberingasan rezim Saddam dapat disaksikan. Semasa berkuasa, rezim Saddam menumpas orang Kurdi menggunakan senjata kimia seperti bom napalm. Ini karena rezim Saddam yang ditopang Partai Baath kehilangan akal melawan para gerilyawan Kurdi yang militan.

Selidik punya selidik, ternyata militansi suku Kurdi itu tak lepas dari hasil tempaan alam yang keras. Maklum, tanah yang mereka diami membentang dari jajaran Pegunungan Zagros, Taurus, Pontus, hingga Amanus. Dikejar-kejar terus oleh penguasa politik di Bagdad, orang Kurdi tumbuh menjadi nomaden yang tangguh dan sanggup bertahan di daerah-daerah sulit (hlm. 97-98). Bayangkan saja, seorang Kurdi bernama Shinroe Damarkhan di usia 70 tahun masih bisa naik turun gunung dikawani 20-an ekor biri-biri seharian dengan hanya makan daun-daunan. Dari posisi selalu dikejar-kejar, kini suku Kurdi menapak ke pucuk kekuasaan Irak tatkala Jalal Talabani terpilih sebagai Presiden Irak pada awal 2005.

Reportase ini dilakukan Rommy dengan mengumpulkan keping demi keping fakta dari sumber primer, meskipun tak melupakan warga biasa secara selektif. Alhasil, kita bisa mendapatkan laporan yang kaya perspektif dan hidup. Dan, ini dia lakukan pula ketika berkunjung ke Najaf, Kufah, dan Karbala –sebuah lokasi yang selalu mengingatkan orang Syiah ihwal tragedi berdarah 1.300 tahun silam. Syiah yang digencet habis-habisan di masa Saddam, sekarang muncul sebagai salah satu kekuatan utama dalam politik Irak.

Sedangkan Ahmad Taufik mengudar Irak yang tengah menggelarpemilu –proses politik yang menentukan Irak saat ini. Dari perhelatan ini, bisa disaksikan bahwa warga Irak tergolong antusias menyalurkan hak politiknya, terbukti pada pemilu pertama pasca-Saddam ini, 72 persen warga mengikuti pemungutan suara. Dan, sontak bandul politik Irak beralih ke partai beraliran Syiah di bawah pengaruh ulama kharismatik, Ayatullah Ali al-Sistani. Kurdi pun menjulang, melampaui Partai Sunni. Sebuah reposisi yang kelewat biasa, tatkala penguasa lama tumbang, maka partai penerusnya atau sehaluan kerap diacuhkan oleh rakyat. Dalam kacamata positif, pemilu ini menyumbang bagi tumbuhnya tradisi baru akan medan perebutan kekuasaan yang lebih terkelola, rutin, dan nirkekerasan.

Di bagian akhir, diungkapkan perjalanan Saddam Hussein dari pengadilan hingga eksekusi mati. Inilah kisah yang paling memilukan dari seorang pria Tikrit berhati singa. Saddam yang begitu super sejak muda, harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan pada 30 Desember 2006. Sejumlah versi menyatakan, Saddam menjemput ajalnya dengan gagah berani. Setidaknya itu kesan yang tertangkap kala jaringan televisi CNN dan BBC menyiarkan, sebelum tewas di tiang gantungan, Saddam mengatakan, ”Inilah akhir hidupku. Aku mengawali hidupku sebagai pejuang, karena itu kematian tak menakutkanku” (hlm. 178).

Buku ini akan menambah perbendaharaan kita untuk memahami sepotong sejarah Irak antara 2003-2005. Tapi, ada dua kekurangan buku ini. Pertama, kedua jurnalis itu tampak tidak terlalu bernafsu untuk menguliti dampak perang terhadap kehidupan warga sipil –mereka yang selalu menjadi pihak pertama yang dikalahkan oleh sebuah pergolakan politik dan peperangan. Memang ada dua bab, yakni ”Serangan dan Korban” serta ”Kesaksian dari Hotel Palestine” yang berupaya menceritakan runyamnya warga sipil, termasuk jurnalis yang terhimpit di medan perang. Namun, dua bab ini tak sanggup meyakinkan saya ihwal kengerian dan dampak merusak dari sebuah peperangan yang menewaskan jutaan warga sipil Irak.

Kedua, buku ini diterbitkan 3-5 tahun setelah peristiwa atau reportase dilakukan. Akan sangat orisinil jika buku ini diterbitkan tak terlalu jauh dari saat reportase, sehingga seluruh fakta yang diungkap dan analisis tidak jatuh menjadi justifikasi. Kemasygulan Rommy Fibri, misalnya, ketika menyindir perilaku penduduk Bagdad saat merobohkan patung Saddam (2003) akan lebih mengena ketika dituliskan pada tahun itu juga. Namun, tak apalah, karena pembaca terpuaskan dengan ragam cerita yang menopang buku ini.(*)

*)Anggota Klub Buku dan Film SCTV
Judul Buku: Detik-Detik Terakhir Saddam
Penulis: Rommy Fibri dan Ahmad Taufik
Penerbit: Pusat Data dan Analisa TEMPO, Jakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii + 191 Halaman

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir