Rabu, 11 Februari 2009

Lidah Gatal Sang Presiden

Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet Kartaredjasa, kumpulan kolom
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta, 2008, 286 halaman
Editor: Agus Noor
Peresensi: Yusi Avianto Pareanom
http://www.ruangbaca.com/

Butet ndobos tentang segala hal. Bahasanya lumayan segar, tetapi polanya repetitif.

Sewaktu menjadi mahasiswa di Yogyakarta pada 1980-an, ada ritual hari Selasa yang saya jalani bersama kawan-kawan kuliah. Begitu pelajaran pertama selesai, kami turun ke lantai bawah untuk bergantian membaca koran Kedaulatan Rakyat yang dipajang di panel kaca. Hari itu adalah harinya Umar Kayam alias Pak Ageng. Kolomnya nyaris tidak pernah tidak segar. Oleh sebab itu, jika karena satu dan lain sebab Pak Ageng absen, biasanya karena sakit, hari Selasa jadi kurang menghibur. Bisa dibayangkan rasa kehilangan pembaca kolom itu ketika Pak Ageng akhirnya pamit untuk selamanya pada 2002.

Lima tahun kemudian, kerinduan lama itu lumayan terpupus dengan hadirnya kolom Butet Kartaredjasa di koran Suara Merdeka. Kolom-kolom itu kini terbit dalam buku Presiden Guyonan. Penyebutan Umar Kayam di atas tak terelakkan karena Pak Agengisme menjelujur di tulisan Butet. Gaya penulisan, pemilihan bahasa compar-campur yang segar, maupun ”dramaturginya” sangat ”kekayam-kayaman”. Bisa jadi pola ini disengaja Butet, bisa juga tidak. Yang pasti, kemiripan ini tak mengagetkan mengingat kedekatan Butet dengan Pak Ageng dan hampir semua seniman Yogyakarta memang anak rohani Umar Kayam.

Bila Umar Kayam menggunakan adegan Pak Ageng dan Mister Rigen, kepala staf rumah tangganya, sebagai sarana untuk ngrasani berbagai hal, Butet menggunakan gerejegan Mas Celathu versus Mbakyu Celathu untuk mengomentari, seringnya dengan nada mencela, aktor-aktor peristiwa aktual. Pokoknya, yang sedang ”bermain di bibir” di pekan itulah yang ditulis Butet. Maka, Mas Celathu pun ndobos tanpa batas: dari jaksa yang suka ”memajak dengan paksa”, kegilaan pada anthurium, budaya kekerasan, sampai raja yang kebelet jadi presiden.

Beberapa kolom sangat tajam. Semisal ”Tiga Shio” yang menceritakan diskriminasi ras. Ceritanya, Mas Celathu main-main ke negara tetangga. Di tempat itu ia menjumpai seorang wanita yang mengemis bersama bayinya. Rupanya, si peminta-minta itu pendatang dari Jawa. Memelasnya gaya mengemis si wanita tak menyusahkan hati Mas Celathu, malah ia geli sendiri ketika nada permohonan itu makin lama makin melodius. Ia baru kemropok begitu orang-orang yang diminta derma itu menunjuk si bayi dan berujar, ”Kasihan, kecil-kecil sudah jadi orang Jawa.” Telak, karena sikap ini sering kita tunjukkan kepada saudara sebangsa.

Secara umum, Butet lebih berhasil --lebih lucu --ketika ia bercerita tentang hal-hal yang ia alami langsung. Semisal ketika anak ragil Mas Celathu, Jeng Genit, yang tak pernah mencicipi kegayengan Orde Baru, menyesalkan keputusan Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan sehingga sekarang akibatnya listrik sering byar pet. ” Oallahhh nduk...kowe ora ngerti, Menteri Penerangan dulu itu malah bikin semua gelap gulita,” ujar Mas Celathu (”Menteri Penggelapan”).

Namun, format yang menempatkan Mas Celathu sebagai komentator sosial menghadirkan persoalan: Butet jadi ”bebas terpenjara”. Di satu sisi, ia bebas ngoceh apa saja --salah satu kemewahan yang tak dimiliki Umar Kayam sewaktu itu --tetapi setiap minggunya ia ”dipaksa” harus berkomentar dan mencari atau mencantelkan makna, yang tak jarang tak optimal, sehingga kurang segar. (Malah, saking bersemangat menjelas-jelaskan, buku Presiden ini menampilkan pemancing satu alinea sebelum tulisan utama, ditambah lagi dengan pembesaran font di kalimat-kalimat yang diangap penting.) Padahal, tidak usah begitu ya tidak apa-apa. Umar Kayam, misalnya, bisa nyaman-nyaman saja cerita tentang nasi goreng yang kebanyakan garam atau penjual ayam panggang dari Klaten dengan teriakan khasnya ” penggeeeng...eyem!” Kadang-kadang dimaknai, seringkali tidak.

”Baju” Mas Celathu itulah yang memberatkan Butet. Terutama di kolom-kolom awal ketika Mas Celathu ini diceritakan sebagai orang lain (ada adegan Butet bertemu dengan Mas Celathu). Pada kolom-kolom yang lebih belakangan, ketika Mas Celathu tak lain adalah Butet sendiri, tulisan lebih personal dan lancar.

Satu hal lagi yang cukup mengganggu dari buku yang dicetak sangat bagus ini adalah penyuntingan yang kurang rapi. Aturan penulisan kata-kata yang dicetak miring tidak konsisten. Terdapat pula kesalahan penulisan seperti event-orgenizer, costumer, dan frustasi yang semestinya ditulis event organizer, customer, dan frustrasi.

Bagi saya, Butet lebih lunyu --bukan sekadar licin, melainkan juga berdaya bujuk --ketika ia menulis tanpa beban pitutur. Tulisannya tentang tongseng mercon (http://kabarbanana.multiply.com/photos/albu /12/Tongseng_Mercon_Prajurit_Kraton_Butet_Kartaredjasa_), sate klatak, bungkus rokok, bahkan obituari Ateng sekalipun, terasa gurih. Dan, Butet punya persediaan segudang cerita beginian (Kalau suatu saat ketemu dia, minta ia bercerita tentang pengusaha Jakarta yang kaget dengan harga ”aduhai” gudeg di Patangpuluhan.) Secara keseluruhan, perndobosan Mas Celathu sangat layak dikeploki. Membawakan humor di panggung itu sulit, menuangkan humor di tulisan lebih sulit lagi.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir