Jumat, 09 Januari 2009

Sastra dan Perubahan Sosial

Andaru Ratnasari
http://www.surabayapost.co.id/

26 November 2008 lalu, HU Mardi Luhung, penyair Gresik, di hadapan mahasiswa Sastra Indonesia Unesa dalam mata kuliah Proses Kreatif mengaku terheran sendiri dengan puisi yang diciptakan. Salah satu puisinya menggambarkan Bawean. Setelah dimuat di koran nasional barulah dia berjalan-jalan ke Bawean. Maka ia seperti melihat puisi yang ditulisnya. Padahal, Henry (Panggilan Mardi Luhung) belum pernah menginjak kakinya di Bawean.

Sementara itu, dalam seminar Festival Surabaya 2006 lalu, seorang hadirin bertanya, “Apa manfaat membaca karya sastra? Saya tidak merasakan manfaatnya.” Pertanyaan ini juga muncul di seminar proses kreatif, dan tentunya banyak pihak lain mempunyai pertanyaan sama.

Berangkat dari dua peristiwa seminar itu, sebenarnya permasalahan itu adalah suatu rangkaian yang tidak terpisahkan. Dalam kesempatan itu, Nirwan Dewanto berusaha menjawab sendiri bahwa belajar sastra tidak akan ada manfaatnya apabila seseorang hanya menghafal, letterlijk, sebagaimana sering terjadi di sekolah-sekolah.

Bagi Dewanto yang terpenting adalah membaca. Dengan membaca, seseorang dapat mencapai apa yang dinamakan “Human Literacy”. Dengan mencapai Human Literacy, seseorang menjadi berbudaya, mampu berpikir abstrak, dan “cultured.”

Kalau ingin contoh, lihatlah, misalnya, perkembangan awal sastra Indonesia modern diawali oleh Angkatan Balai Pustaka dan dilanjutkan Angkatan Pujangga Baru. Para pengarang kedua angkatan itu, antara lain Marah Rusli, Abdul Muis, dan Sutan Takdir Alisjahbana melalui karya sastra mereka masing-masing telah berhasil membuka mata kesadaran para pemuda pada waktu itu mengenai pentingnya modernisasi, emansipasi, dan hasrat untuk mencapai kemajuan. Langsung atau tidak, mereka juga telah berhasil membangkitkan kesadaran akan pentingnya berbangsa dan bernegara.

Hal ini juga berlaku bagi bangkitnya Perang Saudara di Amerika. Pemicunya, Harriet Beecher Stowe, pengarang Uncle Tom’s Cabin. Karya Stowe telah mendorong berkembangnya kesadaran sistem perbudakan kulit hitam di Amerika Serikat. Kesadaran ini, langsung atau tidak, telah berhasil memicu Perang Saudara di Amerika.

Begitu pun wawasan sastra penyair negro, Aimee Cesaire, melahirkan gagasan negritude. Kebanggaan kenegroan mereka kemudian berkembang menjadi semboyan Black is Beautiful—kini telah berakar kuat di kalangan negro, baik bekas penjajahan Prancis, maupun yang merasa tertindas di Amerika Serikat. Temannya, Leopold Senghor, mantan Presiden Republik Senegal, juga memperkuat wawasan sastra negritude ini. Poema del Cid, sebuah karya sastra lama Spanyol, telah memberi inspirasi pada rakyat Castilla untuk merebut tanah air mereka dari kekuasaan orang Arab. Behind the Mast, melukiskan nasib malang para pelaut Amerika di masa kapal besar mengarungi samudera dunia, berhasil mendorong pemerintah mengadakan penyelidikan dan mengeluarkan peraturan-peraturan untuk lebih melindungi para pelaut.

Tak mudah untuk disangkal, cerita Animal Farm dan 1984 karya George Orwell mencemooh dengan pedas riwayat sebuah revolusi. Khususnya, revolusi sosialis sebagaimana terbukti di Uni Soviet tahun 1917. Sindiran tajam pada kediktatoran pengontrolan segala sikap tingkah laku, perbuatan, perkataan, gerak-gerik, dan pikiran masyarakatnya merupakan sebagai peringatan kuat terhadap kebangkitan kekuasaan-kekuasaan totaliter.

Begitu pula Oliver Twist karya Charles Dickens. Terceritalah, Oliver, anak yatim piatu, harus keluar dari asrama piatu karena makanannya kurang. Sesampainya di London, ia malah jatuh di tangan penjahat dan dijadikan pencopet kecil. Karena Oliver Twist-lah, kaum politikus di parlemen mengadakan penyelidikan sosial masyarakat bawahan Inggris pada abad ke-19 dan melahirkan undang-undang sosial penting—golongan tertentu, terutama anak-anak yatim piatu di asrama-asrama kurang terurus, pekerja anak-anak tak terurus keselamatannya.

Lihat pula Alexander Solzhenitsin, Nobelis 1970, dalam karyanya One Day in The Life of Ivan Denisovich (1962). Karya ini telah berhasil secara jitu menggambarkan penderitaan bangsanya, lewat penderitaan dalam penjara. Novel ini berkisah tentang diri pesakitan Shukhov di penjara Rusia sejak pagi buta sampai matahari tenggelam. Penjara Solzhenitsin sebenarnya juga penjara Rusia dalam arti besar, pemerintahan Stalin. Kekuasaan kaku, keras dan dingin jauh dari rasa kemanusiaan serta kekurangan makanan terekam dalam miniaturnya, penjara. Shukhov adalah simbol Rusia dan penjara adalah simbol pemerintahannya.

Turgenev, Chekov, Dostoyevsky, dan Solzynitzin berdiri dalam waktu dan sejarah, menulis tidak hanya tentang manusia Rusia tetapi juga tentang nasib Rusia sendiri. Peranan pengarang-pengarang Rusia ini mendorong Gorbachev melontarkan ide glasnost ‘keterbukaan’ dan perestroika ‘mengubah struktur’.

Kekuatan apa dalam diri pengarang hingga menggerakkan perubahan sosial? Bagi H.B Jassin, kesusastraan satu urusan serius. Dalam keseriusan itulah seorang sastrawan menjadi sastrawan; bukan sekadar bekerja sebagai sastrawan.

Awal Juni 1943 Penyair Chairil Anwar berpidato di Angkatan Baru Pusat Kebudayaan di Jakarta. Ia menyebut bahwa seni cipta adalah soal hidup dan mati. Chairil menegaskan bahwa kesusastraan—biarpun sepotong sajak—bukanlah sekadar ilham atau dorongan tiba-tiba. Kesusastraan adalah hasil proses berjerih payah malah tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu bahwa ini bukan sekadar soal keterampilan teknik melainkan proses keterkurasan pengerahan batin terbaik dari diri seseorang. William Faulkner, Nobelis 1949, mengatakan pengarang yang baik: “99% bakat, 99% disiplin, 99% kerja! Seutuhnya, semua itu mendorong sastrawan menulis dan menyatakan kebenarannya.

Sementara itu, tengoklah sastrawan Praha, Vaclav Havel, dipenjarakan 1979—1983. Dosanya: ia menulis kepada Husak, Presiden Cekoslowakia, mengingatkan bahwa pada akhirnya rakyat yang tertekan akan menuntut harga bagi “tindakan secara permanen merendahkan martabat manusia.”

Ia dianggap subversif. Tapi 12 tahun kemudian terbukti. Rakyat merontokkan pemerintah yang membungkam mulut-hati-pikiran manusia itu. Husak tumbang. Orang berteriak seru Vaclav Havel sebagai pengganti presiden.

Demikian juga kebrutalan orang-orang Serbia, kasus Bosni Herzegovina tahun 80-an. Hal demikian sudah tampak pada kecerdikan dan kelicikan orang-orang Serbia dalam tokoh Bluntschli, serdadu bayaran, orang Serbia dalam drama karya George Bernard Shaw (1856-1950, Irlandia), Arms and The Man tahun 1894.

Tidak terlalu gegabah jika dikatakan dalam kreativitas sastrawan, ditemukan perseptif, perspektif dan prediksi, tentang mana terpenting dan bermakna demi kehidupan manusia di hari ini dan esok; masa sekarang dan masa mendatang. Goenawan Mohamad juga mengatakan, “Mengetahui masa depan memang sesuatu dasyat. Mengira-ngiranya saja telah membuat permukaan bumi berubah.”

Maka tidak salah jika iklan koran nasional memilih gambar sastrawan Chairil Anwar dan Soe Hok Gie. Kata Budi Darma, dengan melihat ikon sastrawan-sastrawan tertentu, kita tahu bobot koran itu. Mengapa ikon dari sastrawan? Tidak lain, dan tidak bukan sasta bisa menggerakan pemikiran dan peradaban manusia.*

*) Pemerhati sastra, (pengajar LB Unesa dan STKIP Bangkalan, menetap di Surabaya).

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir