Sabtu, 20 Desember 2008

Zoom dan Zero

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Veronita Agnez telah menulis pertanyaan mewawancarai saya lewat email dalam rangka penulisan skripsi. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya, seperti tidak menyimak wawancara langusng sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu tipikal pertanyaan mahasiswa yang malas, yang menyuruh orang lain menceritakan segalanya. Akhirnya saya minta dia menyimak dulu hasil wawancaranya sendiri sebelumnya serta melihat VCD pertunjukan, lalu beropini dan kemudian baru bertanya sehingga terjadi dialog. Syukurlah dia mengerti maksud saya.

Lalu dia memperbaiki pertanyaannya dan memberikan daftar pertanyaanbaru yang membuat saya gembira. (Vero, sekarang pertanyaannmu sudahbagus. Oke kemajuan pesat.

Kalau menulis skripsi, khususnya tentangsaya, jangan takut berpendapat, karena saya merayakan perbedaan).Banyak kejadian yang saya alami, para mahasiswa sudah dibikin sepertirobot oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpola, khususnya bagiyang ingin cepat-cepat lulus saja (termasuk yang saya lakukan sendiri waktu mahasiswa) – mudah-mudahan di masa mendatang hal tersebut bisakita musnahkan.

Vero:
Bagaimana pola penyutradaraannya Zoom dan Zero? Yang saya perhatikan dalam pertunjukan Zero dan Zoom, pertunjukannya selalu mengunakan layar, gerak, eksplorasi tubuh dan sangat minim sekali dialog yang keluar dari pemain, kalau pun ada hanya bahasa-bahasa simbol yang ingin menyatakan sesuatu. Seperti dalam zero para pemainnya hanya mengeluarkan suara yang mengeram seperti binatang.

Yang saya ingin tanyakan karena mas putu dalam setiap pertunjukantidak pernah memakai konsepsi dramaturgi, bagaimana cara mas putumengatur pemain yang ada di panggung, sehingga para pemain itu bisa menampilkan sebuah pertunjukan yang utuh, dan tidak terlihat sekali adanya kesalahan walaupun mungkin dari para pemain banyak melakukan improvisasi.

Apakah dalam setiap pertunjukan yang mas lakukan, mas Putu membebaskan pemain untuk mengeksplorasi apa saja, tanpa adabatasan?

PW:
Saya memberikan kebebasan pemain saya dengan satu pesan: Jangan merusak Kebebasan, dengan cara mengormati Kebebasan Orang lain. Dalam latihan-latihan saya selalu mengajak pemain menerima, menghargai dan kemudian memanfaatkan kehadiran orang lain, sehingga mereka menjadisebuah komplotan, bagaikan jari-jari yang semula terpisah lalu mengepal dalam tinju, dalam sebuah tim kerja. Kekompakan, kepaduan buat saya penting sekali.

Mandiri kalau sudah di atas panggung tidak hanya main, tetapi mereka melakukan apa saja untuk menyelamatkan pertunjukan. Mereka adalah prajurit sekaligus jendral. Setiap pemainmenjadi sutradara/pemimpin yang harus bisa membuat keputusan dalam keadaan apa pun juga. Saya selalu mengajak mereka melihat pentas sebagai sebuah pertempuran.

Vero:
Dalam pertunjukan Zero dan Zoom, khususnya, saya kurang bisamemahami pola pengadeganan dari pertunjukan mas. Karena waktu sayamenonton Zero di dvd, saya tidak menangkap alur cerita yang pasti,jalinan ceritanya tidak lurus, tapi patah-patah., misalnya habisa dengan perempuan yang sedang menari, ditarik masuk kedalam layar, semua pemain bergumul didalam layar, kemudian tiba-tiba perempuanmengeluarkan kepalanya dan tubuhnya seperti raksasa, diamenjerit-jerit, merintih kesakitan, sperti meminta pertolongan.

Semua apa yang saya lihat membuat saya tercengang, hampir bisa dibilang kaget, karena belum mengerti maksud dari adegan itu., ketika saya jadikembali teringat apa yang mas Putu katakan, bahwa mas selalu melakukan pembelokan-pembelokan, yang seakan-akan ingin mematahkan suatu empatiyang sudah terbangun. Yang saya ingin tanyakan bagaimana alur penceritaan dan pola pengadeganan dari Zero dan Zoom?

PW:
Tidak ada cerita dalam pertunjukan ZOOM dan ZERO. Yang adahanya rasa. Jadi jangan mencari arti dan sambungan, semuanya mengaliruntuk menyentuh rasa. Apa yang kamu rasakan itulah dia.

Pertunjukansaya tidak penting, yang penting adalah apa yang kemudian terjadi didalam dirimu (penonton) sesudah menonton. Teater seperti itu (terormental) , konsepnya sudah lain sekali dengan teater realis (mapan)yang ingin meniru atau menampilkan kehidupan nyata. Kami ingin mengajak penonton masuk ke dalam roh kenyataan kasat mata itu.

Vero:
Kemudian mas Putu sendiri selalu melakukan pengembangan terhadap semua pertunjukan, sehingga dari pertunjukan yang satu danyang lainnya selalu berbeda.

Apakah hal itu tidak menyulitkan mas Putu sebagai sutradara untuk mempertahankan konsep pertunjukan yang sudah jadi, dan juga apakah hal itu tidak menyulitkan pemain, karena dari setiap pertunjukan yang dilakukan semuanya berbeda-beda?

PW:
Kesulitan adalah berkah. Bahaya adalah tantangan. Kegagal;anadalah janji dan kesempatan. Itu bagian dari pelafalan konsepBERTOLAK DARI YANG ADA. Takut? Ya, siapa yang tidak takut.

Tetapi ituberarti manusiawi sekali. Dengan takut dan cemas, kita akan terangsang/termotivikasi/terstimulasi untuk berbuat lebih jauh. Hidup adalah upaya yang tak habis-habisnya menyelamatkan diri dari berbagai ketakutan yang mengejar-ngejar kita. Pertunjukan saya tidak pernah selesai, tumbuh dan memang dibiarkan berkembang terus.

Vero:
Dalam setiap Pertunjukan itu sendiri, kalau yang sayainterpretasikan, mas kemas dalam bentuk teater seni rupa. Saya mengirabahwa layar mempunyai substansi sebagai idiom mas Putu dalamberekspresi.

Layar sendiri dijadikan seperti kanvas dan media visual yang berupa cahaya, slide proyektor, gelombang kain, mas jadikan sebagai media atau alat untuk membuat sebuah lukisan di atas layar,yang akan membuat bentuk, garis, warna, tekstur, dan lain-lain.

Seperti dalam hasil wawancara kemarin mas mangatakan bahwa peranan ligthing, make-up, kostum, properti dan artistik seperti cat dalam lukisan dan seperti peranan sinar dalam lukisan impresionis. Saya mengira bahwa mas ingin melukiskan panggung teater atau sebuah peristiwa teater dengan media tersebut, dan mas Putulah pelukisnya,yang dengan idiom yang mas Putu pakai membuat sebuah lukisan hasildari ekspresi mas, dan maslah sang pemegang kuas, yang mempunyai peranan sangat penting (sutradara) dalam membentuk lukisan tersebutingin dibuat seperti apa. Apakah hal ini sudah menjadi teater yang masinginkan?

PW:
Benar. Pentas adalah kanvas saya. Kadangkala ya memuaskan,kadangkala tidak. Saya memang membuat lukisan dan patung-patung yang bergerak. Jadi teater adalah gabungan antara seni rupa dan seni sastra,tetapi bukan tempelan, sudah meluruh dalam sebuah kesatuan yang hidup.

Bagi saya teater bukan peniruan pada kehidupan, tetapi kehidupan itusendiri. Ia tumbuh, bergerak, liar dan kadangkala tak terkuasai olehbahkan kami para pelakunya.

Kadangkala saya berdialog, berdiskusi dan bantah-bantahan sendiri dengan apa yang sedang tercipta di atas pentas/layar. Jadi seakan-akan pertunjukan itu sendiri berjiwa,berekemaiuan dan mau memilih jalannya sendiri.

Kadang-kadang padasuatu malam, terjadi sesuatu yang sangat berbeda. Kalau kebetulan terlibat di pentas (sejak tahun 2000 saya aktif ikut main) saya bisa langsung mengarahkan.

Kalau tidak, pemain sendiri harus mengambilkeputusan. Tetapi sering berakhir berbeda/di luar dari apa yang sudahdirencanakan (meskipun selamanya bagus). Itu sebabnya saya berani bahwa sutradara/kreator/saya bukan dewa, bukan dictator.

Sutradara/kreator hanya salah satu partisipan. Sutradara hanya sebagaistarternya/pencerusnya, kemudian semuanya mengalir sendiri. Pementasan sering berjalan liar dan bisa tak terkendali lagi.

Namun karena kamisudah terbiasa oleh perilaku itu, semuanya akhirnya selesai denganbaik. Kalau direnungkan dalam, sebenarnya keliaran itu karena tontonan tumbuh.

Khususnya bentuknya berkembang, tetapi nhyawanyatetap datang dari hati kami yang paling dalam. Itu sebabnya sayabilang teater itu adalah peristiwa spiritual. Namun, pendapat lainyang percaya teater itu hiburan, atau apa pun, saya hormati, saya tidak ingin membuat idiologi teater.

Vero:
Mas Putu saya masih bermasalah dengan makna dari penggunaan bandot “boneka besar” yang selalu dipakai dalam setiap pertunjukan? Karena bandot besar itu kadang-kadang menganggu pikiran saya, saya mengira bahwa penggunaan bandot besar itu selain bisa menyimbolkan pada suatu tokoh penguasa yang besar yang bisa menindas rakyat kecil dengan kekuasaannya, bisa juga menjadi monster aneh yang besar, yang mengganggu pikiran dari penonton yang melihatnya, terkadang bisamenjadi sebuah boneka biasa, kadang bisa jadi alien, atau boneka wayang apabila tangannya di beri tongkat… saya jadi binggung mas…

PW:
Bandot itu anggota kelompok kami. Kedudukannya sama dengan anggota Mandiri yang lain. Ia ikut bermain. Ia memainkan salah satuperan. Ia sama dengan Alung atau Wendy. Kadang dapat peranan besar,kadang peranan kecil. Kadang hanya bengong jadi pajangan, tidakkebagian peran.

Ia hanya menjadi set, barang mati, properti yang dipergunakan untuk apa saja. Kadang-kadang hanya untuk komposisi. Bukan hanya bandot. Semua properti saya yang lain juga posisinyaseperti itu.

Ia sudah menjadi keluarga teater Mandiri. Kadang-kadangsaya tidak mau memakainya lagi, tapi ada saja pemain yang membawannya masuk. Dan begitu dia masuk, langusng dilibatkan oleh semua pemian.

Anehnya peristiwa masuknya kembali prop yang sudah lama, selalukemudian ada alasannya di kemudian hari. Hal itu menyebabkan saya bersikap terbuka dalam proses latihan.

Seringkali saya/kamimenggelinding dulu tanpa konsep, belakangan baru kami renungkan lagi,seleksoi dan susun lalu dikembalikan pada konsep pertunjukan/ide pokok pertunjukan sehingga pernik-pernik itu tidak berserakan — itulah peran sutradara. Sutradara bukan saja mencipta, tetapi adakalanya/pada saatnya dia berhenti menumbuhkan dan hanya menajamkan pertunjukan supaya siap menusuk penonton — walhasil mengemas.Pengemasan di dalam berekspresi (baca:teater ) sangat penting.

Vero:
Mas Putu, yang saya lihat dari pertunjukan Zero, adabeberapa adengan yang pemainnya menggunakan topeng, ada juga pada saattopeng itu di simbolkan sebagai wajah yang diapit oleh layar atau kainmenjadi seperti roh atau arwah penasaran yang membuat bulu kuduk saya merinding, kalau yang saya tangkap dari pertunjukan itu arwah ituingin mencari tempat atau keberadaannya, arwah itu seperti inginmembalas dendam.

Lebih-lebih pada saat perempuan yang menari dan dibelakangnya diikuti oleh dua orang yang dibalut dengan kain dan menggunakan topeng, hal itu seperti menunjukan sesuatu, seperti suatu upacara ritual pemanggilan roh….yang saya ingin tanyakan sebenarnya topeng itu bermakna apa ya mas, apakah untuk menandakan wajah-wajah seseorang yang teraniyaya, yang ingin mencari kebenaran, atau sepotong wajah mengawang kemana-mana menjadi roh penasaran…? dan juga kenapa make-up yang digunakan seperti orang yang ingin melakukan pantomim,yaitu hanya flat putih, seperti wajah yang hanya dimake-up dengan pidi putih?

PW:
Properti dan khususnya topeng yang kami pakai, dibuat sendiri olehpara pemain. Ada yang bagus, ada yang jelek. Saya tidak peduli bentuknya, asal itu dibuat oleh mereka sendiri. Jadi kami tidak pernah menyerahkannya kepada art director yang canggih.

Justru kesederhanaannya sering menjadi kelebihan. Penggunaannya juga tidak sama dengan cara penggunaan topeng pada pertunjukan orang lain. Kamitidak membuat topeng itu jadi karakter lalu pemain menghidupkannya.Tidak.

Tetapi topeng itu, didekati secara personal, oleh setiappemain. Setelah lama berkenalan, pemain dan topeng akan bersatu dan menunjukkan kehidupannya sendiri, menurut yang dia yakini, yang diciptakan oleh pemainnya.

Jadi bukan hanya sutradara, pemian jugapencipta dalam Teater Mandiri. Tentu saja sebagai sutradara sayamengarahkan dan menempatkan ciptaan-ciptaan itu agar tidakberseliweran sehingga menjadi satu jurus yang ampuh.

Itu dilakukan langusng di dalam latiahn. Artinya proses latihan menentukan. Ketika sedang berlatih saya dan semua partisipan melakukan penciptaan.Tentang artinya, pada setiap orang bisa beda-beda.

Latar belakangpenonton, akan mewarnai apa yang terlihat. Jadi kalau mau menikmati ZERO, nikmati saja apa yang terjadi dalam dirimu, itulah dia. Tentangkonsep saya, sebagaimana saya ceritakan dalam wawancara langsung anggap sebagai bandingan.

Vero:
Dalam hasil wawancara yang kemarin mas Putu mengatakan bahwadi teater Mandiri hanya mas Kribo dan mas Wendy yang dapat disebut sebagai aktor, sedangakan yang lainnya hanya orang biasa. Kalaupertunjukan Zoom dan Zero, yang saya tonton memang hanya segelintir orang saja yang mendapatkan peran yang cukup besar. Tetapi saya merasa bahwa karakter pemain pemain yang lain jadi tidak jelas bermain sebagai apa, kadang-kadang bisa dikatakan terlihat sebagai crew.

Apalagi pertunjukan Zoom yang banyak memakai banyak pemain. Saya ingin menanyakan bagaimana cara mas Putu menciptakan watak para pemain dalam pertunjukan Zero dan Zoom, dengan kondisi yang seperti itu, apakah penciptakan karakter watak itu hanya merupakan proses kreativitaspemain yang melakukan pencariannya sendiri, atau mas Putu juga turut berperan dalam penciptaan karakter watak tersebut?

PW:
Dalam “tontonan” seperti yang saya lakukan, tidak ada karakter.Yang ada adalah suasana. Kadang-kadang seseorang pemain memainkan sesuatu, tetapi kemudian dia keluar dan memainkan yang lain di saat penonton sedang asyik. Patahan itu bagi penonton teater realis yang snang “empathi” memang akan terasa menyakitkan. Tapi biasanya, kalausudah terbiasa, akan jadi kenikmatan. pertunjukan Mandiri adalah peristiwa, bukan tuturan.

Tidak ada cerita. Yang ada hanya kesan-kesan, imij dll seperti kalau kamu mimpi. Mimpi umumnya tidak bisa diartikan. Kalau mau diartikan boleh saja. Kasrena meloncat-loncat, mimpi lebih kaya bila dinikmati dengan rasa.Interpretasi sangat penting untuk memahmi mimpi.

Dengan teater saya mengajak - ingin mengajak penonton untuk mengembara ke dalam imajinasi dan melakukan penafsiran-penafsiran. Itu akan membawa mereka ke dalam dirinya sendiri. Jadi teater sebenarnya adalah sebuah pertualangan untuk mengenal lebih mendalam diri sendiri.

Karena itulah, di sekolah teater tidak harus diartikan sebagai usaha untyuk mencetak murid jadi pemain drama. Teater membelajarkan manusia untuk mengenal dirinyasendiri, agar lebih sempurna dalam menghadapi orang lain.

Vero:
Dalam setiap pertunjukan saya selalu merasa bahwa ritme pertunjukannya, dan ketukan dari para pemain dan musik sangat cepat,kadang-kadang membuat shock jantung, saya menyimpulkan bahwa inilah yang disebut mas Putu sebagai teror mental.

Menteror setiap orang darimusik dan kecepatan bermain aktor-aktor teater Mandiri. Tetapi apakah mas Putu tidak pernah mencoba menurunkan ritme itu? Agar para penontonbisa menarik nafas dulu…

PW:
Betul. Saya berguru dari tukang copet, tukang obat di pinggirjalan dan tukang sulap. Dalam sulapan, pesulap harus cepat. Kecepatan itulah yang membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Jadi apayang ada dipentaskan bukan tiruan hidup sehari-hari, tetapi adalah pancingan, adalah teror saja, yang membuat orang kembali kepadakehidupan nyata lewat pengaman batinnya.

Itu sebabnya saya tidak takutkalau penonton tidak percaya dengan apa yang terjadi di pentas –hubungkan dengan empathi berarti keterlibatan emosional. Bagi kamipenonton bahkan selalu diingatkan untuk melihat apa yang di pentas ituhanya “fake” bohong . Namun kebohongan itu justru mengajak merekamengintai lebih dekat kebenaran.

Vero:
Mas Putu, Musik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesly, dalam hasil skiripsi Mba Lousy yang saya baca, sudah mengiringi setiap pertunjukan yang mas lakukan, sejak tahun 1980-an.

Saya belum memperhatikan secara detail mengenai musik itu mas, dan saya juga belum tahu nadanya seperti apa. Tapi yang ingin saya tanyakan apakah musik itu juga mengiringi atau digunakan dalam pertunjukan zoom dan Zero?

PW:
Lagu Jangan Menangis Indonesia, seperti Bandot, juga salah seorang anggota Mandiri. Lagu itu salah seorang pemain saya. Kalau Harry ada, lagu itu pasti dimainkan. Saya tidak tahu kenapa kenapa dia katut terus. Saya tidak merasa lengkap kalau tidak memberinya peran.

Waktu Zero main tanpa Harry di Taipeh (2003), lagu itu juga tidak iokut main. Dan setelah 2004 (sesudah pertunjukan ZOOM) dia pergi bersama Harry Roesly.

Vero:
Mas Putu, saya sudah bertemu dengan mba Lousy, di dalam skripsinya, tertulis bahwa dalam pertunjukan JMI, penciptaan naskah JMI terdiri dari beberapa proses, seperti adanya naskah awal, yang hanya berupa konsep-konsep seperti sinopsis, ada naskah proses, dan terakhir naskah utuh sebuah naskah yang ada setelah pertunjukan.

Apakah dalam Zero dan Zoom, juga terdapat pembagian penciptaan skenario atau naskah seperti yang terjadi dalam JMI, ataukah pertunjukan Zero dan Zoom hanya memiliki konsep/fragmen saja, dan tidak memiliki naskah seperti JMI ?

PW:
Sebenarnya hampir sama. Ada proses latihan phisik. Ada proses pencarian. Ada proses pembentukan. Kemudian ada proses pemantapan. Kemudian tinggal pengembangan dan pertumbuhan dalam setiap pementasan.

Tetapi ZERO dan ZOOM tidak memakai dialog seperti JMI jadi tidak ada dokumen tertulisnya. Setiap saat bisa kami mainkan kembali tetapi sudah beda-beda. ZERO yang di TUK lain dengan yang di TIM dan lain dengan yang di GOETHE, lain dengan yang di Taipeh, juga lain dengan yang di CAIRO.

Vero:
Saya melihat dalam pertunjukan Zero lebih banyak bergumul di kain, para pemain lebih banyak mengeksplor gerak-gerak tubuh mereka, sedangkan pada Zoom yang saya tonton dulu, para pemain juga ada yang bergumul di layar besar yang sama persis dengan di Zero.

Kalau diperhatikan secara sepintas pertunjukan Zero dan Zoom hampir sama, misalnya tetap menggunakan layar besar, musik keras, efek-efek pencahayaan yang mendukung situasi pengadeganan dan untuk membangun emosi, ada juga adegan perempuan yang diperkosa, dan disiksa. Hanya pada pertunjukan Zoom lebih banyak dialognya meskipun hanya berupa kata-kata yang diulang-ulang seperti war is war, fredom is fredom.. Yang mau saya tanyakan apa yang membedakan pertunjukan Zero dan Zoom selain dari ide cerita yang ingin disampaikan?

PW:
Layar itu juga salah seorang anggota Teater Mandiri sejak 1991. Jadi ia selalu ikut main. Pada ZOOM layar masih digantung, tetapi dalam ZERO layar turun dan bergerak horisontal ke mana-mana di seluruh pentas – Perbedaan itu konsekuensinya sangat banyak dalam kinerja pemain.

Sdetiap pemain, termasuk pembawa lampu harus belajar bagaimana caranya jkeluar masuk layar. Ukuran layar sangat penting – harus pas dengan jumnlah pemain. Bahan layar juga harus tepat, karena kami pernah terjebak memakai bahan parasut yang menyebabkan pemain di dalam layar bisa semaput karena kurang O2. Dalam ZERO lampu mulai menjadi PEMAIN.

Vero:
Mas Putu, setelah saya membaca beberapa artikel koran yang meliput pertunjukan Zero dan Zoom, saya melihat adanya hubungan yang terkait atau persamaan mengenai tema yang coba diangkat oleh mas Putu. Zoom adalah sebuah esai visual yang mengambarkan mengenai perang dan permusuhan yang terjadi di antara manusia, yang tidak pernah ada habisnya.

Sedangkan Zero adalah sebuah esai visual mengenai gagasan yang coba mas Putu tawarkan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dari kedua karya tersebut, secara tidak langsung, mas Putu ingin mengatakan menolak pada peperangan dan permusuhan, dan kemudian mas Putu mencoba untuk mencari jalan keluar dari pemasalahan tersebut, tanpa membuat suatu permasalahan yang baru. Zoom dan Zero, merupakan karya yang mampu mencerminkan keadaan sosial-politik yang sedang terjadi di dunia sekarang ini.

Dimana Chaos (kekacauan), sedang melanda dunia.Apakah kedua pertunjukan itu benar memiliki hubungan terkait, apa seperti mata rantai pertunjukan yang saling menyambung, Kalau saya bisa dikatakan seperti trilogi, mulai dari War, ke Zero, lalu ke Zoom?

PW:
Kamu betul. Dalam konsep ZOOM DAN ZERO adalah esei tentang perang dan usaha untuk menjawabnya, walaupun saya tahu itu bukan jawaban yang paling tepat bahkan mungkin jawaban yang gagal. Minimal lami sudah berusaha menjawabnya agar ada jawaban lain datang

Vero:
Mas Putu sebenarnya apa yang melatar belakangi sehingga memilih judul Zero dan Zoom, kenapa tidak memilih judul lain yang bisa lebih menarik perhatian masyarakat awam misalnya seperti…. aduh mas saya jadi binggung mau kasih contoh apa, soalnya saya ngga jago bikin judul, ya tapi maksud saya itu ?

PW:
Bagi saya kata yang pendek itu mengandung misteri dan kepadatan arti, sehingga bila dia menjadi judul, maka yang saya lakukan baik dengan tulisan atau pementasan terhadap kata itu adalah membuat disertasi.

ZOOM berarti penggandaan ukuran. Bila kamu melihat kulit kamu dengan mikroskop maka kulit kamu menjadi gambar yang mengerikan, penuh lubang dsbnya. ZERO adalah nol adalah kosong. tetapi dalam tradisi Bali disebutkan bahwa kosong itu penuh dan penuh itu kosong.

Bagi saya itu sebuah gua pertapaan yang akan mengantarkan kita kepada makna yang beragam dan dalam. Judul satu kata buat saya jauh lebih seksi dan menteror dari judul yang puitis yang sudah biasa dipakai orang.

Vero:
Mas Putu, singkat saja pertunjukan Zero dan Zoom pernah dimainkan dimana saja mas, dan siapa saja pemainnya yang terlibat didalamnya selain mas Wendy, mas Kribo, Mr. Chung, mas Bei?

PW:
Pemain (jumlahnya tergantung desa-kala-patra) yang sering terlibat: Chandra, Kardi, Rino, Kleng, kadang-kadang Diyas (sekarang jadi istri bei), Fien (istri Wendy), Agung (pegang proyektor slide) dan Ucok (pegang lampu - dulu anak IKJ). Di Goethe pernah 125 peserta workshop ikut main (2004) .

Vero:
Mas Putu, kalau saya boleh tahu, berapa jam durasi tiap kali mas putu latihan, dan apakah pada saat mas Putu ingin memainkan Zero dan Zoom, mas Putu mempunyai schedule latihan yang pasti, dan latihan untuk itu bertempat dimana ya mas, selain di rumah mas Putu

PW:
Saya berlatih sekitar 3 atau 4 jam. Jam 10 malam atau sebelumnya sudah selesai, sebab kami latihan di dalam kompleks perumahan, di samping itu khawatir anak-anak ketinggalan bus. Kami latihan di Cirendeu di rumah saya sekarang, setiap kali produksi ada uang transport 10 ribu per kepala plus makan sebelum atau sesudah latihan.

Kalau sudah perlu tempat luas, kami menyewa di Jl. Kimia. Sekarang gedung milik departremen Budpar itu sudah terlalu tua, berbahaya dipakai. (Salah satu ruangan latihan yang kami pakai menyiapkan NGEH pada 1998, sempat runtuh, menghancurkan ptroperti kami). Jadi saya latihan di rumah.

Vero:
Mas Putu kalau saya boleh tahu, bagaimana dengan budget produksi dalam pertunjukan Zoom dan Zero, kira-kira berapa dana yang dikeluarkan untuk produksi pertunjukan Zero dan Zoom? dan berapa harga tiket untuk masing-masing pertunjukannya ya mas?

PW:
Dengan konsep Bertolak Dari Yang ADA, produksi saya selalu dimulai dengan melihat berapa uang yang ada. Setelah itu saya pisahkan untuk transport dan pembuatan properti. Sekitar 80 persen untuk honor pemain. Honor pemain Mandiri antara 750 (anak baru) sampai 3 juta (senior). Karcis urusan TIM biasanya 30 dan 50 ribu

Vero:
Mas Putu, saya kalau yang saya perhatikan pemain dari teater Mandiri hanya yang itu-itu saja, dan usia mereka juga sudah cukup tua, padahal sepengetahuan saya teater Mandiri sangat mengutamakan Fisik dari para pemain, dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk dapat melakukan semua hal yang ada di panggung, apalagi setiap teater Mandiri mentas, semua pemainnya kan harus berada dipanggung semua.

Saya saja yang masih muda kadang-kadang kelelahan atau capek kalau melakukan hal yang seperti olah tubuh. Sebenarnya bagaimana dengan energi dari para pemain di Teater Mandiri? Dan bagaimana dengan regenerasi dari pemain teater Mandiri. Apakah tidak terjadi regenerasi pemain dalam teater Mandiri, apa alasannya ya mas?

PW:
Pertanyaanmu pernah ditanyakan okleh seorang professor di Taipeh setelah melihat pertunjukan ZERO. Saya jawab memang mengherankan, pada kami usia tidak menjadi ukuran. Kribo misalnya yang ikut Mandiri sejak tahun 1974, sampai sekarang tetap bisa melakukan apa yang saya minta.

Bahkan dia jauh lebih kuat sekarang dibandingkan dengan 34 tahun yang lalu. Pengalaman dan kematangannya membuat ia tetap kuat. Sedangkan anak-anak muda jarang yang mau bergabung, jadi saya tidak bisa memaksa,. Dalam Mandiri sekarang ada generasi KRIBO sejak tahun 1974, ada generasi WENDY dan UCOK, sejak tahun 1980 dan generasi Chandra 1991, lalu generasi Bei (1995) Kemudian generasi Agung, Kleng dan Diyas (2004). Pada Mandiri regenerasi itu tidak bisa dibuat/dipacu, mereka melahirkan dirinya sendiri.

Vero:
Mas Putu, hanya untuk menambah informasi saya saja, dalam setahun mas Putu bisa menghasilkan berapa karya, baik dalam drama, teater, maupun novel?

PW:
Minimal satu atau dua untuk masing-masing jenis. Tapi saya menulis setiap hari. Saya punya kolom setiap minggu di berbagai penerbitan yang merupakan gabungan esei dan cerpen. Menulis buat saya sudah pekerjaan.

Vero:
Mas Putu, apakah pertunjukan Zero yang mas Putu lakukan di GBB sama dengan apa yang dilakukan di TUK? Karena menurut informasi yang saya dapatkan dari mba Lousy pertunjukan yang di GBB menggunakan bandot, menunjukan gambar-gambar dari beberapa tokoh politik yang teraniyaya seperti Munir dan Marsinah, sedangkan apa yang saya tonton dari hasil dokumentasi yang di TUK, sangat berbeda sekali, meskipun dalam segi penceritaan dan makna yang diusung hampir sama.

Apakah mas Putu punya dokumentasi pertunjukan Zero yang di GBB. Kalau ada saya mau minta dicopykan untuk bahan perbandingan saya dalam menulis nanti. Kemudian saya juga belum mendapatkan hasil pertunjukan Zoom.

PW:
Beda. Pementasan itu tumbuh. ZERO yang di GBB itu hanya demo untuk membuka Festival Teater 2006, dokumentasinya ada di DKJ dibuat oleh ZOEL.

Vero:
Mas Putu bolehkan saya meminjam Booklet pertunjukan Zero dan zoom, dan beberapa foto-foto latihan teater mandiri, yang memuat tentang pertunjukan Zoom dan zero, sebagai referensi saya….

PW:
Dalam dokumentasi kami brengsek. Coba lihat di DVD yang saya berikan.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir