Senin, 24 November 2008

Mengenang Sastrawan Pramoedya Ananta Toer

Andri Cahyadi
http://www.kabarindonesia.com/

Akhiri saja saya, bakar saya sekarang!-Jakarta 30 April 2006

KabarIndonesia - Entah sejak kapan saya mulai mengenal Pram. Sudah tak ingat lagi. Tapi rasa-rasanya berawal ketika mulai mengakrabi karyanya. Membuat saya seperti mulai mengenal beliau. Di bawah rindang pohon-pohon karet yang berdesakan rantingnya, dipagi hari ketika kabut masih singgah malas pergi dan bau hutan yang bercampur wangi tanah merah Depok, di sana saya menemukan dan membaca Tetralogi-Buru. Hutan Sastra yang direbut oleh para kaki lima, jalan setapak yang dalam sekejap menjadi lebar dan berubah fungsi menjadi pasar kaget.

Biasanya selepas penat kuliah, sering saya habiskan waktu untuk berdiskusi, tukar cerita dan ngobrol ngalor-ngidul dengan si penjual buku kaki lima hutan Sastra. Mereka adalah dua orang pemuda. Usia setengah baya. Cara berpakaiannya seperti abg 80an yang seorang lagi bahkan mungkin lebih tua-angkatan 70an. Dengan rambut panjang, keduanya persis seperti para kebanyakan pengagum musik heavy metal, lengkap dengan jeans ketat, kaos oblong, cuek seperti tak peduli perkembangan mode. Salah satu dari mereka adalah pria berparfum. Tipe cowok wangi. Dari kedua penjual buku ini kemudian saya terlibat jauh, perkenalan singkat saya dengan sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer.

Waktu saya kecil tak banyak buku bacaan bermutu untuk dibaca. Paling-paling hanya surat kabar, dan ketika kakak saya belajar mengeja, dimana saya belum bersekolah, yang sering dibaca bukan buku tapi Pos Kota, yang juga akhirnya mengawali saya mengenal siapa tokoh Harmoko.

Karena bapak saya cuma warga biasa saja seperti kebayakan penduduk kampung, kami tak punya akses tentang buku. Cuma Pos Kota dan harian Sentana yang kami pinjam dari tetangga sebelah rumah, setelah Ia selesai sibuk menebak-nebak kode buntut dan melihat angka Porkas. Karya Pram praktis tak pernah muncul diusia kanak-kanak saya, bisa jadi pada waktu itu, Tetralogi Buru-juga belum tuntas ditulis. Pram masih kesulitan untuk mencari cara mempublikasikan karyanya. Yang pada akhirnya berhasil dia titipkan kepada seorang aktifis agawan. Karya Pram pun mulai bergerak di khalayak umum.

Tidak seperti Aidit tokoh tersohor PKI, atau pandawa lima CC-PKI. Pram secara pribadi jarang disingung-singung dalam ruang sekolah Inpres di Bekasi tempat saya bersekolah. Pram tidak seperti sebagai orang PKI. Orang PKI yang harus dingat oleh anak-anak kecil seperti kami. Yang harus dihujat, yang kami dapati melalui pelajaran Sejarah dan PSPB dari guru-guru kami. PKI bagi kami murid-murid kelas lima SD sungguh bagai Iblis jahanam, seram dan maha menakutkan, setan-setan PKI yang pernah memporakporandakan Indonesia dan membunuhi para Jendral-Jendral. Proses itu juga saya terima pada setiap tanggal 30 September. Saya bersama orang sekampung juga melakukan ritual yang sama-yaitu memperingati pemberontakan PKI setiap tahun dengan cara menonton filem pemberontakan maha sadis-serentak dan Nasional. Pramoedya Ananta Toer (PAT) tak pernah disinggung-singgung sebagai PKI tidak seperti Aidit dan Kolonel Untung, dua karakter anatagonis G 30 S/PKI dalam sejarah versi Orde Baru yang abadi tersimpan dalam memori kami.

Sebagai anak kecil yang dibesarkan di kota Bekasi pada era tahun 80an budaya membaca jarang diantara penduduk kampung. Seusai sekolah anak-anak sebaya bermain bola ditanah lapang bercampur kawanan kambing dan domba atau menghabiskan sore di Kali Bekasi yang masih bening airnya, mengalir deras, di tengah dan celah batu-batu. Dan saya merasa beruntung. Di rumah kayu yang bertiang bambu itu--yang harus dibayar bapak setiap bulan, ada beberapa beberapa buku-buku populer yang diterbitkan oleh Gramedia. Dari mulai lima sekawan, Trio detektif, Bobo, hingga karya stensil-pornografi yang memperlancar masa puberitas. Saya lahap. Selebihnya hanya buku-buku pelajaran sekolah yang membosankan, Sastra tak beredar di kampung, apalagi tetralogi Pram. Sejak dilarang Jaksa Agung, makin sulit saja mendapakannya.

Di hutan Sastra, Depok, dimulailah perkenalan serius dengan karya-karya Pram (Tetralogi-Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca). Masih ingat betul, melalui Bopak dan Mujib si penjual buku kaki lima, yang selalu bisa saya temui di kantin IKJ-TIM, Cikini, Dari mereka saya kadang mendapat buku-buku Pram dan membacanya dengan gratis. Mujib yang memperkenalkan saya lebih jauh kemudian, beberapa kali kami juga sempat bolak-balik ke Bojong Gede. Bahkan hingga terlibat dalam proyek besar memasarkan sastra untuk melawan ingatan-Communistphobia-dengan cara usaha penerbitan kembali karya-karya Pram. Walaupun hingga selesai saya membaca karya-karya Pram lainya, saya pribadi tak bisa menemukan Komunisme dalam karya Pram, saya menilai karya Pram lebih kepada seorang individu yang amat mencintai bangsanya, cinta pada kemerdekaan individu serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bagi sesama.

Hingga akhirnya hubungan kami pun berlanjut, saya dipercaya lebih oleh Mujib untuk menunggui lapak bukunya, di hutan Sastra, ketika Ia berhalangan. Sejak itu saya mulai bersentuhan dan terlibat penuh baik dalam dunia jual-beli buku, bajak membajak-buku, memotong jalur distribusi penerbit raksasa, hingga gerilya buku membuka lapak buku di Kampus Trisakti yang dikelola oleh Adik saya dan temannya.

Kami menjajakan karya Pram dikalangan kelas menengah, terpelajar, yang punya uang saku lebih tapi tak pernah kenal siapa PAT. Gerilya dengan membuka kaki lima buku pun mulai bercabang. Bahkan kami berencana untuk membuka lapak-lapak buku dengan diskon 30% disekolah-sekolah SMU se Jabotabek. Namun rencana tersebut tak pernah terlaksana. Biasanya saya dan dua orang teman membuka lapak sejak pukul 10.00 pagi hingga 6 sore di Hutan Sastra. Setiap pagi juga paling tidak dua kilo jarak saya tempuh dengan berjalan kaki. Melalui gang-gang dan kos-kos mahasiswa yang masih dibalut kabut, kota Depok yang bersuhu dingin dibandingkan Bekasi, berjalan kaki untuk menjual buku-buku.

Lebih dari 100 judul buku yang saya jajakan setiap hari. Rata-rata dari penerbit alternatif (Jogya, Bandung, dan Jakarta)-kata alternatif dipakai untuk memperhalus demi menjunjung etika bisnis penerbitan buku-para pembajak buku pada waktu itu. Hingga kini saya pun tak kunjung paham, apa yang membedakan buku itu hingga bisa disebut buku bajakan. Kualitas kertas yang jelek?. Ataukah lantaran buku-buku ini tidak diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar semisal Gramedia, Balai Pustaka dan kelompok IKAPI atau bahkan karena tak memiliki nomer ISBN yang malas mengurusnya lantaran berbelit-belit dan birokratis, entahlah, bagi saya pada waktu itu menerbitkan buku karya Pram lebih berarti daripada mengurusi masalah legalitas dan etika koorporasi penerbitan buku. Apalagi kondisi objektif pada waktu itu lebih mengutamakan penyebaran buku kritis dan Sastra sebagai wacana perjuangan untuk mengubah paradigama Orde baru yang telah ditanam sejak saya kecil, persoalannya sesederhana itu, tak lebih.

Sejalan dengan mandeknya Reformasi dan perasaan trauma akibat sering ditembaki, serta marah karena kalah, membuat saya dan beberapa kawan yang telah berhasil merampungkan kuliah kebingungan, perasaan malas tak mau beranjak, takut melangkah kedepan mencari pekerjaan, sebagai kebutuhan dan alat pertanahan hidup, realita datang tanpa bisa ditolak. Saya dan beberapa kawan kehilangan semangat, terlalu sering berada dalam kondisi amoek-mengalami gangguan mental. Hingga pada suatu hari dengan terpaksa dan rasa putus asa saya memutuskan untuk menggunakan uang setoran buku untuk membayar kos bagi kami yang berjumlah sekitar lima orang-yang terlantar tak ada ujung pangkalnya. Uang buku yang semestinya harus saya serahkan kepada Mujib untuk hasil selama dua pekan lenyap, dan membuat perilaku Istrinya terhadap saya berubah total, negatif. Waktu itu Mujib harus sering pergi ke Jogjakarta untuk mengurus penerbitan karya Tetralogi Pram. Ada rencana Tetralogi akan terbit dengan sampul baru, yang dikerjakan oleh Bowo dan Si Ong.

Sejak saat itu Mujib kurang percaya kepada saya. Tapi kerja memasarkan dan memperluas karya Pram tak boleh berhenti. Saya dan Mujib makin sering mendatangi kota Jogyakarta dan Bandung. Mujib menjalin hubungan dengan distributor yang cukup besar, Adipura-Jogyakarta, untuk mencapai target pemasaran yang luas bagi karya Pram. Meskipun diwaktu mendatang hubungan tersebut akhirnya bubar juga lantaran ‘orang Adipura' mencetak buku Pram dalam jumlah berlebih, tidak sesuai dengan kontrak dan mengambil keuntungan. Hal itu terjadi ditengah-tengah gemuruh gerilya Communistphobia--melalui karya Pram semakin sukses dan membesar.

Saya masih ingat malam itu di Galeri Cipta II, Pram menggunakan batik lurik coklat. Tak ketinggalan sebatang Jarum super menghimpit jari-jarinya. Sambil berjalan tertatih-tatih, dengan senyum lebarnya, untuk menerima Tetralogi yang sudah berganti wajah, lebih apik, kini sampul buku Pram-nyambung sebagai seni dan karya sastra daripada kesan sebelumnya karya seorang tokoh Lekra yang ditakuti dan terlarang. Malam itu 8 April 2001, masyarakat Jakarta sejak malam itu secara ‘legal'mulai bisa membeli dan membaca karya Pram dengan bebas dibawah bayang larangan Jaksa Agung yang belum dicabut. Saya dan Mujib beserta kawan-kawan merampungkan peluncuran buku Pram malam itu juga. Seusainya kami bermalam menginap di motel milik kepolisian- kalau tidak salah, terletak di Gondangdia, setelah sebelumnya kami rayakan di sebuah Pub-Reggae di Selatan Jakarta, yang kini tak ada lagi. Kami merasa upaya pemasaran karya Pram semakin lebar saja, ditengah konflik diantara saya dan Mujib, kami tetap bersiteguh, demi sang pujangga dan Sastra, serta misi kemausiaan dan perjuangan kelas yang diwariskan.

Hampir empat tahun sudah saya tak lagi berhubungan dengan Mujib. Saya juga berhenti dari gerilya Sastra karya-karya Pram. Tak ingat lagi apa yang membuat saya dan Mujib tak lagi bekerja bersama. Saya lihat upaya itu memang sudah selesai. Gerilya sudah menang. Kini tak perlu lagi sembunyi dan membuat lapak buku kaki lima di kampus-kampus maupun sekolah. Hampir setiap akhir pekan juga saya mengunjungi Gramedia Matraman. Hampir setiap itu pula saya melihat Tetralogi Buru, Arus Balik, Gadis Pantai, Cerita dari Blora, Si Midah bergigi Emas, Bukan Pasar Malam, Jalan Raya Pos, hingga Terbakar Amarah sendiri yang paling akhir sebelum Pram pergi, memenuhi rak-rak buku Gramedia, Gunung Agung, Aksara -Kemang , bahkan QB yang elit sekalipun. Karya Pram telah bebas dari kutukan Komunis. Karya Sastra itu telah pulang kerumahnya. Menjadi wacana dan alat perubahan, Sastra yang membebaskan dalam hati dan ruhani setiap Insan yang membacanya. Sejak itu pula saya meperhatikan para abg, anak gaul, anak-anak kelas menengah dan anak-anak kampung kumuh Jakarta-yang biasanya hanya suka membaca karya-karya sampah gaya hidup kapitalis Jakarta, mulai melirik rak-rak tempat buku Pram berada. Dari sekedar hanya melihat sampul, yang makin eksklusif saja. Hingga membaca bagian belakang buku, yang di tulis oleh Muhidin M Dahlan (Gus Muh) -yang juga mulai berkarya--membuat orang tertarik dan membelinya, kemudian karena gaya bahasanya yang kuat.

Hari Minggu, kini, sudah menjadi rutinitas saya dan anak-anak untuk lari pagi. Tak mudah mengajak anak-anak yang gede di jalan dan salah asuh untuk lari dan memacu jantung mereka ditengah pagi buta. Jarak yang harus ditempuh lumayan jauh. Rumah yang terletak di Rawasari di Belakang Rutan Salemba hingga taman Suropati di Menteng sudah menjadi perjanjian menjadi jarak tempuh lari pagi.

Saya biasanya membujuk mereka dengan semangkuk bubur ayam Cirebon untuk lari pagi. Yang kami lahap bersama setelah menyelesaikan rute Percetakan Negara hingga taman Suropati dan mampir ditaman Lembang. Lumayan membuat pangkal paha terasa pegal dan betis menjadi tambah besar. Hari itu 30 April 2006. Saya, Don (seekor anjing, yang mati dengan naas diduga dibunuh kelompok garis keras) dan lima orang anak telah merampungkan lari pagi. Muka anak-anak mulai terlihat kesal dan bosan karena tak terbiasa lari pagi. Saya mencoba menyemangatinya dengan terus mengingatkan bahwasannya bubur Ciroebon sudah di depan mata kami, karena sekarang kami sudah di depan rumah sakit St. Carolus. Bubur ayam Cirebon terletak di gedung Kampus BSI Salemba, yang hanya berjarak setengah kilo lagi.

Setelah merampungkan satu mangkuk dan menunggu angkot telepon genggam berbunyi. Di layar telepon, muncul nomer orang Bekasi. Ternyata bapak. Jarang sekali kami berhubungan. Entah kenapa tiba-tiba Ia menelpon saya. Bapak menanyakan kabar saya seperti biasanya. Saya jawab baik, baru saja rampung lari pagi berama Don dan anak-anak jawab saya lagi. Kemudian dialog pun berlanjut, apakah saya tahu kalau Pram meninggal hari ini. Bapak melihatnya melalui Televisi. Pram akan dibumikan hari ini setelah Ashar di TPU Karet. Pembicaraan kami akhiri.

Segera saya mengirim SMS kepada Mujib dan sebagain kawan lainnya untuk kofirmasi. Saya terdiam. Dalam hati saya berbicara sendiri. Ah.. selesai juga akhirnya hidupnya Pram. Sudah waktunya ya. Tapi bagaimana nanti?. Bukankah dengan kematiannya, juga berarti matinya sebagian kebenaran. Pram adalah saksi sekaligus saksi sejarah pada jamannya dan kini dia pergi yang berarti lagi sebagian informasi juga turut menghilang kan. Entahlah, saya khawatir akan hal itu-sampai kapan bangsa ini bisa belajar dari sejarahnya dan berprilaku jujur.

Dengan menumpang Taksi saya, Indra dan Wawan tiba di TPU Karet. Rupanya kami tiba lebih awal. Atau mungkin rombongan pengatar jenazah yang terhambat lalulintas. Perut yang hanya terisi dengan Bubur Cirebon tadi pagi menagih untuk di isi kembali. Kami pun bergegas berjalan menuju gerobak tukang Bakso yang mengepulkan asap dan menarik selera. Lima belas menit kemudian rombongan Jenasah dan Ambulan datang.

Saya tak melihat Bopak hanya ada Mujib dan beberapa muka ‘orang gerakan' yang hanya mukanya saya kenal tanpa tahu nama mereka. Saya berjalan mengikuti rombongan keranda menuju lokasi peristirahaan terakhir Pram. Saya hanya melempar senyum kepada Mujib setelah lama kami tak bertemu. Kami tak berbicara satu sama lain. Tapi dengan sadar kami ingin mengantar dan melepas kepergian Pram.

Setelah Adik Pram selesai berpidato, Mbak Titi dan Ibu Maemunah menebar bunga dan Doa, serentak itu pula lagu Internasionale dan Darah Juang melepas Pram. Saya hanya melihat Gunawan Muhammad (GM) dan Romo Mudji bercengkrama tanpa bermaksud ikut bernyanyi atau memang tak pernah tahu bait kedua lagu tersebut. Pram sudah di dalam tanah. Banyak rangkaian bunga, salah satunya dari keluarga besar Jusuf Kalla, hanya bunga dan pesan tanpa ada kehadiran.

Taksi melaju kembali ke Percetakan Negara. Di jembatan Manggarai sang sopir sempat terganggu akibat tiupan angin yang mengangkat sampah disekitarnya dan diatas langit pun mendung dan terlihat lesu. Entah benar atau tidak. Kata Ibu hujan adalah pertanda baik dari Alam. Hari itu sekembalinya dari TPU Karet, tiba di Percetakan Negara, hujan pun turun. Alam seakan-akan ikut bersedih, menangis melalui titik-titik hujan, melepas Pram yang pergi dan hilang selama-lamanya.

Beberapa bulan setelah Pram meninggal saya sempat membaca liputan surat kabar. Yang memuat detik-detik cerita perjuangan Pram melawan maut. Lengkap disertai wawancara dengan Mujib. "Akhiri saja saya, bakar saya sekarang" begitu sepenggal pesan sastrawan Pramoedya Ananta Toer menjelang ajalnya.[]

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir