Minggu, 26 Oktober 2008

MAOS-PATI

Nurel Javissyarqi*

Cerita ini terjadi tahun 2000 kalau tidak keliru. Saat itu saya mengajak cerpenis Satmoko Budi Santosa (asli Yogya) dan penyair Marhalim Zaini (asli Riau) ke rumah saya di Lamongan. Tanggal, bulan saat itu seakan terlupakan, sebab masa-masa tersebut, diri tengah menjalani sebuah lelampahan ganjil, lelaku tak logis bagi faham pelajar atau mahasiswa, tapi sangat riel di mata keseimbangan bathin.

Saya mengajak keduanya; SBS & MZ berangkat ke Lamongan, tengah malam berangkat dari kota kami diami sebagai tanah sumber, sumur bagi menimbah keilmuan, Yogyakarta. Keinginannya agar sesampai di ruang tujuan mencapai pepintu fajar pencerahan, hari baru kemungkinan anyar, kesempatan terang serba gemilang bagi mata bening keoptimisan.

Di tengah perjalanan itu, diri berbicara banyak mengenai keelokan daerah saya, yang penuh pengunungan, pohon-pohon pinusnya sebelah utara dekat jalan Pantura, di sana ada dusun Dadapan, penyimpan legenda Yuyu Kangkang dan mbok rondo, Joko Tingkir di desa Pringgoboyo. Di selatannya, gunung Pegat bersegala panorama mistis serta perjuangan anak-anak bangsa atas kegiatan Romusa, Rodi, bukannya Roro Mendut, hehe. Sebelah timur dan utaranya Lamongan sebelum mendekati bengawan Solo, berjajar tambak atas keringat petani padi dari ladang pesawahan awalnya.

Kota tua Babat sebelah baratnya Lamongan, bagi saksi perdagangan masa-masa lalu hingga kini, pasar tradisional yang kalau di Yogyakarta seperti pasar Ngasem, namun sayang, orang-orang Jawa Timur kurang ngurus bangunaan peninggalan sejarah. Tengoklah itu, masak Jembatan Merah Surabaya, penuh nilai perjuangan menjadi kalah dengan JMP, inikan sangat pembodohan, tidak menciptakan kilatan kritis fikiran bagi anak-anak terhormat selanjutnya nanti. Kebanyakan orang Indonesia itu lucu (lupa cucu), tengok itu budaya korupsi, penebangan pohon seperti tak perlu tabungan hari tua.

Juga tak lupa saya ceritakan keindahan Tanjung Kodok, Goa Maharani serta mitosnya di samping sejarah berdirinya Lamongan atas persetujuan para Wali dititahkan kepada Mbah Lamong. Dari beberapa keelokan itulah, saya sesekali bercanda, menyombongkan diri pada kedua teman tersebut, bahwa menjadi pantas di sebuah daerah cantik, lahir seorang penyair, wilayah penuh atmosfir penciptaan serta pergulatan bathinniah kalau memang diniatkan sangat, tak leha-leha lalu distempel jadi seorang gawat, nanti malah bisa darurat, hehe.

Bus kami tumpangi terus melaju ke timur, membelah pesawahan Jawa malam itu, pulau Jawa memang bertanah bencah matang atas pengolahan ribuan tahun silam, subur bagi rumput pepadian mekatak, mbobot menjelma nasi jika ditanak, kalau kelamaan jadi bubur ajur. Malam itu bus melewati jalan raya beraspal klamis, pohon-pohon di pinggiran jalan kami lalui, seakan mendengar kelebatan suara kami yang renya bak kerupuk baru dari penggorengan. Tak lama kemudian memasuki kota Solo, yang terkenal para gadisnya bersebutan putri Solo. Sebagaimana mistis, kecantikan itu daya dorong memasuki keindahan lebih hakiki, rana kelembutan jiwa bagi memijaki rerumputan perasaan kala pencarian jati diri.

Tidak terasa, obrolan terus bergulir seputar saling membesar-besarkan kedaerahan kami masing-masing, masuklah bus menyibak hutan Ngawi, berlika-liku bagai perempuan genit menggoda hati dan malam semakin mantabkan kehitamannya dengan cemerlangkan gemintang di angkasa. Hawa meningkat dingin, sesekali kami terkantuk kelelahan berkisah.

Sebenarnya saya berkeputusan turun di terminal Ngawi, namun karena rasa kantuk tambah memberat dan tersadarkan kala telinga mendengar suara, “Maospati-Maospati,” diri saya tersentrak, berarti kami kebablasaan. Untung kondektur tak meminta uang tambahan sebagai jawaban keteledoran kami. Mungkin juga macam rasa maaf kondektur yang tak membangunkan kami di terminal Ngawi. Lalu diri putuskan berhenti di terminal Maospati. Karena saya senantiasa membaca gerak-gerik, tanda-tanda perjalanan, menyelidiklah diri ke kedalaman hati; kenapa kami harus kebablasan di Maospati? Ada apakah gerangan? Jangan-jangan ini petanda akan hal kematian? Atau, apa yang terjadi?

Kami turun di terminal Maospati, terus mencari warung kopi. Minum kopi itu hal biasa bagi seorang lelaki Jawa Timur dan bagi orang-orang senang begadang. Tapi ini lain ceritanya di Yogyakarta, atau khususnya Gunung Kidul, minuman paling legit dan menjanjikan aroma bukanlah kopi, namun teh bergula batu. Di kota GK, tiap malam warung-warung menyuguhkan wedang teh bergula batu ditambah gorengan. Kalau anda ingin ngincipi suasana berbeda, cakrawala layaknya lukisan-lukisannya H. Harjiman (almarhum) yang kebanyakan berobyek keadaan alam Gunung Kidul, saya sarankan ke sana, biar tidak sekedar minum kopi saja. Kan kalau kebanyakan duduk sambil minum kopi dan terus-terus ngerokok, bisa kembung perutnya, hehe.

Di terminal Maospati, saya bertemu orang aneh; ia seorang pengemudi becak. Anehnya ia seakan bisa membaca apa yang sedang saya kerjakan dan akan diri lakukan. Kalau tidak keliru, bernama Slamet. Nama itu seakan menolong diri dari pengertian Maospati di atas. Ia ibaratkan saya seperti dirinya; ada keterikatan dengan sebangsa burung, macam pralambang perjalanannya kembara. Ia terus berkisah lewat hal-hal berbau mistis dan seakan ngelantur di telinga Satmoko juga Marhalim, sebab kedua teman itu kurang begitu yakin dengan hal bernada ganjil atau jangan-jangan kedua teman itu iri sebab hanya saya yang diramal. Yang menjadi keheranan saya lainnya; ia sering gonti-ganti bahasa daerah; bahasa Madura, Jawa Kuno, Jawa blakraan juga terkadang terkesan seperti resih memberi wejangan ke muridnya. Karena sering berfariasi bahasa dalam runtutan permasalahan, mau tidak mau kalau ingin mengetahui, saya sering kerutkan dahi, menterjemah bahasa-bahasa asing itu bersegala dimensi dan gelombang spiritualitasnya dengan keterbatasan diri saya.

Pak Slamet juga bercerita, rumahnya di lereng gunung, maaf saya lupa, tapi gunung itu salah satu gunung bernama di Jawa; apakah Lawu, Merbabu, Semeru atau apa? Penulis seakan dikaburkan saat ulas balik ini kisah. Ada satu permintaan pak Selamet pada saya malam itu; saya disuruh duduk di atas batu putih di sebrang jalan depan terminal Maospati. Namun diri ragu, olehnya tidak terlaksanakan sebab diri percaya, keraguan itu tentu memiliki alasan, tapi sayang, bantahan tersebut setelah diri selidik beratasdasar malu kepada kedua teman saya, kalau hendak menuruti pak tua ganjil tersebut.

Di hati paling dalam, diri tengah duduk di atas batu yang ditunjuk pak Slamet itu, hingga saya tidak merasa bersalah kepadanya, juga tak malu pada kedua temanku. Waktu menunjukkan jam tigaan, saya naik angkutan pedesaan, bersama kedua teman tersebut menuju balik terminal Ngawi, sebab kebablasan bertemu berkah atas pengajaran-pengajaran pak Slamet. Ada kata-katanya yang sering terngiang begini; Kamu masih enak le, berjalan masih bawa sepatu, waktu itu saya jawab; Ngak pak sama-sama, sepatu saya pakai ini pun sepatu bekas, lalu ia tak meneruskan perkataan.

Ketika saya berpisah darinya, ia memberi misteri senantiasa pada saya dan moga juga diri memberi misteri kepada pak Slamet, itulah bahasa hati di kala itu. Saya jarang sekali menemui seorang yang saya anggap aneh, lalu ingin mendatanginya lagi, saya malah tidak ingin bertemu, sebab kebertemuan kedua, kalau terencana, malah biasanya tidak dapatkan apa, atau sebab diri juga berkeinginan membangun keganjilan lewat hilangkan jejak, meski saya juga terkadang merasa kehilangan dari kehadirannya.

Selepas turun di terminal Ngawi, kami ngimbal naik bus jurusan Bojonegoro, dan keanehan-keanehan pak Slamet terus menghantui saya, dan mungkin perkataan saya, yang terkadang ceplas-ceplos dapat mengingatkan ia atas kepemudaannya yang lain. Diri terus menyelidik atas tanda apa? Kenapa kebablasan di Maospati, sebab ngantuk dan bertemu pak Slamet? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelinding, membesar mencari permasalahan, berkebulatan pengertian.

Lalu mulailah saya otak-atik apa itu Maspati. Saya penggal nama itu jadi Maos dan Pati. Kalau tak keliru bahasa Jawa-nya membaca (maos), dan pati (berari ketiadaan atau mati). Terus diri teringat perjalanan di masa-masa lalu. Dalam hati tertanam; Apakah saat ini, diri sudah berada di ambang membaca ketiadaan? Menyinaui sesuatu tidak tertandakan atas kebertemuan materi? Apakah aku disuruh Sang Asih memyimak angin, memadatkan menjelma suatu pengertian inti? Apakah saya disuruh merangkum hawa semesta dalam diri masih belia ini? Apakah kesemestaan itu senyata-nyatanya maujud? Atau sekadar bayang-bayang kertas terbang atas kesalahan koreksi kehidupan?

Maos dan Pati, ya, membaca ketiadaan disekitar, saya kudu makin jeli menyingkap tabir perbendaharaan kata-kata serta warna pelangi hayat. Diri harus berusaha membuka hijab kemungkinan bagi kebaikan alam atau Sastra Jendra Ayuningrat, istilah R.Ng. Ronggowarsito. Namun apakah itu mungkin? Saya terus berjalan, entah sampai kapan? Apakah langklah ini sampai maut menjemput? Atau kata-kata yang pernah saya guratkan ini dan nanti, menggeliat dalam sanubari saudara? Atau segera menguap bersama embun pagi surya? Hanya kehendakNya kuasa atas kebertemaun serta perpisahan. Dan insan yang tangguh sanggup ikhlas, meski itu pahit sepahit wedang kopi kehabisan gula. Atau setawar ampas wedang kopi ditambah air panas kembali.

*)Pengelana, 3 Desembar 2005.

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir