Senin, 01 September 2008

SASTRA PERLAWANAN TERHADAP LUPA

Kajian atas DAZEDLOVE karya Rodli TL.
Haris del Hakim*

Pengantar
Saya tidak mungkin menjelaskan atau menafsirkan bagaimana isi novel Dazedlove secara keseluruhan. Saya tidak ingin menciptakan satu asumsi tertentu sebelum pembaca membaca novel ini. Karena itu, saya hanya memberikan catatan-catatan yang saya anggap perlu dan menarik bagi saya. Anda pasti memiliki rasa tertarik yang berbeda dari saya dan tidak mungkin saya memaksakan ketertarikan saya kepada Anda, kecuali saya hanya merekomendasikan novel ini sangat penting yang mana nilai pentingnya akan saya jelaskan kemudian.

Belajar Logika
Novel dikenal sebagai salah satu dari karya fiksi di samping puisi, cerpen, naskah drama, dan karya seni lain. Karya fiksi dianggap berlawanan dengan non-fiksi yang diartikan sebagai fakta atau realitas, di antaranya matematika, fisika, biologi, dll. Kedua istilah tersebut beserta pengertiannya masih perlu dipertanyakan, karena dalam perkembangannya kemudian pengetahuan non-fiksi ternyata tidak benar dalam menjelaskan realitas, dalam artian hanya kesimpulan (dalam bidang fiksi biasa disebut sebagai anggapan) sementara. Sebagai contoh, pada zaman dahulu bumi dianggap datar seperti talam, tetapi zaman kemudian merevisinya menjadi bulat. Karena itu, definisi pengkotakan antara fiksi dan non-fiksi sangat kabur. Kedua istilah itu dapat muncul dari seseorang yang kemudian dibenarkan oleh orang-orang setelahnya dan tentu sangat naif apabila kita juga mengamininya.

Sebagai alternatif kita mengakui keduanya sama-sama sebagai penafsir dari realitas yang tidak enggan mengakui kekeliruan dan kebenaran yang datang kemudian. Sebab, akibat dari pengkotakan itu adalah klaim kebenaran dari salah satu pihak.

Seorang ahli fisika dianggap lebih cerdas, bermasa depan cerah, dan selalu berkata benar, padahal tidak menolak kemungkinan di kemudian hari seorang yang pintar fisika harus mangkrak sekolahnya karena tidak ada biaya dan terjerembab sebagai kuli tambak saja. Logika lurus yang terbangun di benak kita adalah bidang non-fiksi lebih mapan, seperti runtutan angka-angka beserta perhitungannya. Dalam logika matematika menyebutkan rangkaian angka 1-2-3-4-5-6-7-8-9, dst, atau a-b-c-d-e-f-g-h-i-j dst, atau 2x2=4, 2x1=2, dst. Ditilik dari sejarah, angka dan abjad itu tidak lain hasil simpulan orang-orang terdahulu untuk memahami sesuatu yang kemudian dikuatkan dengan argumentasi dan pendapat orang-orang setelahnya. Secara tidak langsung, secara turun temurun manusia mendukung satu kesepakatan tertentu. Bukankah bila orang dahulu mengatakan 3-2-1-9-8-7-4-5-6, atau 2x2=6 dan 2+1=5, kemudian orang-orang menguatkannya, pasti terjadi rangkaian alfabetis dan angka yang berbeda dengan yang kita ketahui sekarang?

Sementara itu, seorang yang menggeluti dunia fiksi dianggap semrawut dan tidak beraturan. Logika yang dibangun pun tidak sistematis dan ngawur. Pertama kali yang muncul dalam benak kita ketika disebutkan kata seniman adalah sosok yang awut-awutan dan tidak terawat. Mereka sangat tidak mapan.

Dalam novel Dazedlove hal ini dijelaskan dalam narasi sebagai berikut:
“Kamu orang Lamongan dan aku orang Probolinggo. Tentunya tahu nama kereta api Logawa jurusan Surabaya-Jember. Begini soalnya; Kereta Logawa berangkat dari stasiun Jember jam 05.00 WIB. Kebetulan di pagi itu hanya membawa 25 penumpang. Kereta api berangkat tooot jek jek jek jek. Itulah suaranya, dan sampai pada stasiun Rambipuji kereta api berhenti. 13 penumpang telah siap dengan karcis dan langsung naik ke gerbong kereta api. Ingat-ingat Hima, dan analisa dengan cermat. Kereta api berangkat jam 05.20 jek jek jek jek……tooooooot jek jek jek….tepat pukul 06.00 sampai stasiun Klaka. Di stasiun Klaka penumpang turun 3 dan naik 11. Berangkat lagi jek jek jek…. toooot jek berhenti di stasiun Probolinggo penumpang turun 10 dan naik 7. Berhenti sekitar 15 menit karena menunggu kereta executive lewat. Jek jek jek……berangkat dengan berjalan agak lamban karena jalan menuju stasiun Bangil agak naik. Di stasiun Bangil tidak ada penumpang yang naik dan yang turun sebanyak 5 penumpang. Akan tetapi kelompok pengamen yang berjumlah 5 orang naik dengan membawa beberapa alat musik, diantaranya 2 guitar, 1 ketimpung, 1 bungo, 1 harmonika dan satu kecrek. jek… jek.. tooooot jek… berangkat dengan kecepatan bertambah. 17 menit sudah sampai stasiun Sidoarjo. Penumpang tidak ada yang turun dan tidak ada yang naik. Kereta langsung berangkat dan tepat pukul 09.00 sudah sampai stasiun Gubeng.”
“Sudah aku perkirakan pertanyannya. Yang akan kamu tanyakan adalah berapa jumlah jek jek jek..yang kamu bilang, betul kan?”
“Tentu tidak. Salah weeee…! Pertanyaanya adalah berapa penjual salak di stasiun Klaka yang naik dan berapa kali mereka bilang “laaaak sallaak manieees! laak sallaaak, salaknya maniees lek!” Ayo berapa jumlahnya, bisa menjawab? Pasti tidak bisa. Jadi kesimpulannya benar bahwa kamu tidak pandai dalam ilmu matematika.

Dari sini kita dapat memahami logika seorang fisika adalah berapa jarak yang mereka tempuh, tetapi ternyata pertanyaannya jauh dari itu. Bahkan, usulan yang nyeleneh,
“Sudah aku perkirakan pertanyannya. Yang akan kamu tanyakan adalah berapa jumlah jek jek jek..yang kamu bilang, betul kan?”
pun tidak tepat. Penjual salak yang tidak disebutkan justru menjadi fokus pertanyaan. Ternyata, masing-masing orang mempunyai logika sendiri-sendiri yang tidak cukup tepat bila dipaksakan dalam dua kotak fiksi dan non-fiksi.

Tentang Dazedlove
Novel Dazedlove karya M.Rodli merupakan sepenggal kisah seorang Ibrahima yang lahir dan besar di Lamongan kemudian menjalani masa perkembangan dan kematangan inteletualnya di Jember. Hampir 90% novel ini mengangkat pengalaman dan pergulatan seorang mahasiswi mulai masa perkenalan kampus hingga menjelang semester akhir.

Setting waktu menempati tahun 1998 di mana pada saat itu adalah puncak reformasi. Secara rinci penulis mengungkapkan bagaimana peristiwa reformasi berlangsung di salah satu kawasan yang mungkin tidak terekspos oleh media massa nasional, karena sibuk meliput peristiwa Semanggi dan aksi demonstrasi di ibukota-ibukota provinsi, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dll. Ibrahima yang digambarkan sebagai gadis cantik itu pun tidak lepas dari realitas itu, bahkan dia terlibat langsung dalam aksi-aksi yang mendebarkan. Trik dan intrik dijalaninya hingga kemudian “Sang Musuh” bersama lengser yang menandai kemenangan reformasi.

Tentu saja, bumbu-bumbu cinta ikut mewarnai novel ini. Akan tetapi, perannya tidak signifikan sehingga kita tidak perlu kecewa bila tidak menemukan bagaimana ending kisah cinta Ibrahima. Siapa pasangan mahasiswi cantik yang memikat itu tidaklah penting untuk dijawab, meskipun tidak menolak adanya tebakan siapa yang mendampingi wisudanya.

Secara bahasa kita diajak untuk lebih dekat dengan bahasa ala Jawa. Novel ini mungkin dimasukkan dalam novel teenlit atau seventeen literatur yang berbau gue-gue banget. Tetapi, gaya bahasa teenlit yang dikuasai oleh orang-orang Jakarta itu tidak berlaku dan berubah menjadi Jawa. Bahkan, tidak kalah keren sebab kita temui beberapa paragraf bahasa Inggris yang biasanya dibanggakan oleh orang-orang pusat kompeni Belanda tempo dulu itu. Penulis lokal dan jauh dari pusat kekuasaan secara geografis tidak kalah dengan orang-orang yang hidup di kawasan pusat (baca: Jakarta).

Momentum kehadiran Dazedlove pada sewindu reformasi merupakan catatan tersendiri. Dunia buku setelah lahirnya reformasi dipenuhi dengan buku yang mengutuk kebobrokan Orde-Baru dan Soeharto sebagai ikon tunggalnya. Penguasa yang dipuja selama tigapuluh tahun itu benar-benar habis dan harus berkali-kali masuk rumah sakit untuk menghindar dari besarnya gelombang reformasi. Hampir semua buku yang mengisi kejayaan Orde Baru masuk dalam loakan berganti dengan sanjungan pada Bung Karno sebagai ikon kemerdekaan bangsa. Akan tetapi, sewindu kemudian arah dunia buku mulai berubah. Pada saat ini mulai bermunculan kembali buku-buku yang hendak mengkultuskan Soeharto beserta keluarganya. Buku-buku yang mengulas kehidupan mereka termasuk buku best-seller.

Fenomena dunia perbukuan tersebut tidak bisa kita anggap keliru. Reformasi yang digembor-gemborkan dapat mencutat bangsa Indonesia dari krisis ternyata nol dan kehidupan semakin sulit saja, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang, sehingga romantisme masa senang yang semu di masa Orde Baru dicari-cari untuk diangkat sebagai dewa kembali. Kita tidak perlu terjebak untuk membahas mengapa pasca-reformasi menjadi seperti ini yang ujung-ujungnya menyalahkan reformasi itu sendiri.

Dazedlove seakan melontarkan kita kembali ke masa-masa lahirnya reformasi. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang berani melawan kebijakan Soeharto yang didukung oleh segenap perangkat hingga ke desa-desa disertai dengan aparat-aparat yang menyelundup ke mana-mana. Para pegawai negara merasa bingung harus berpihak pada Orde Baru yang menghidupinya atau reformasi yang semakin menetas di seluruh nusantara itu. Aparat yang diwakili dengan tentara tentu saja dibawa komando Orde Baru yang masih berkuasa dan bertindak brutal terhadap segala aksi pendukung reformasi. Kebrutalan itu tidak hanya secara fisikal, tetapi juga mental terhadap aktor-aktor pembela rakyat. Karena itu, pada saat itu tidak ada yang paling dibenci oleh bangsa Indonesia selain tentara dan pegawai negeri. Bahkan, di beberapa tempat dikabarkan tentang masyarakat yang berbaris di pinggir jalan setiap pagi agar dapat melemparkan telur busuk kepada pegawai negeri yang berangkat ke kantor. Dazedlove menggambarkan peristiwa reformasi secara apik.

Karena itu, terbitnya Dazedlove adalah pengingat bagi kita agar tidak melupakan sedetik peristiwa yang pernah dialami oleh bangsa yang tidak henti dirundung bencana ini. Kita tidak gampang melupakan dan berubah menjadi pendukung tanpa koreksi pada pihak-pihak yang pernah menghalangi kita untuk menghancurkan kelaliman Orde Baru. Ibaratnya, novel ini seperti rem di atas jalan yang menurun dan mulus. Kita harus mempunyai catatan tentang reformasi sebelum bangsa Indonesia berbalik memuja kembali Orde Baru yang menindas secara sistematis itu. Kita harus jujur tentang kondisi ketika reformasi sebelum reformasi dikutuk dan tidak menemukan pembela, agar kita tidak ikut-ikutan menjadi bebek yang dungu terhadap sejarah kita sendiri.

Penutup
Catatan ini mungkin tidak memuaskan, tetapi saya telah berupaya untuk memotret Dazedlove sebagai novel di tengah arus perbukuan dan kondisi bangsa. Pembacaan yang lebih intens dan matang baru bisa terjadi bila kita sama-sama telah membacanya.

Surabaya, 11 september 2006
*)Dewan redaksi Jurnal Kebudayaan The Sandour

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir