Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

KILAS BALIK SERAT KALATIDA KARYA RONGGOWARSITO

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Sebenarnya perjalanan kehidupan dalam alam fisik ini bersifat stagnan. Mulai dulu sampai sekarang, bahkan nanti akan bersifat sama alurnya. Sama dalam tataran peristiwa problematikanya. Yang berbeda hanyalah fenomena tempat, fasilitas, pelaku orangnya, budaya, dan peradabannya. Ini terlihat sebagai suatu siklus rotasi yang pada saatnya nanti akan teruluang kembali. Seperti suatu nasib; kadang di atas, kadang di bawah. Suatu saat akan berjaya, di saat yang lain akan terjatuh juga.

Peristiwa-peristiwa masa lalu akan terulang kembali pada masa sekarang. Begitu juga dengan sekarang, pada hari esok akan terulang pula. Namun tidak sama persis. Yang sama hanyalah suasana batiniah peristiwa itu. Seperti itulah fenomena yang seolah-olah tampak dari karya Ronggowarsito. Kita kenal bahwa Ronggowarsito adalah seorang pujangga yang konon ceritanya memiliki ketajaman batin yang khusus dan tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Dalam karya-karyanya sering te…

Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Bazar buku, tren pustaka, munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, sampai diangkatnya sejumlah buku (yang diklaim sebagai karya sastra) ke layar lebar. Akan tetapi jika jujur, kesemarakkan itu baru sebatas perayaan atas buku-buku yang dianggap laku, how to, minus buku-buku yang mencerdaskan seperti sastra dan humaniora.

Padahal, sebenarnya buku sastra sangat responsif dan terlibat aktif dalam “perayaan” itu. Bahkan boleh dikatakan b…

SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar.

Sederet kisah lain tentang kemiskinan dan kelaparan, kini telah menjadi berita yang tak lagi mengejutkan. Bagaimana mungkin, kemiskinan dan kelaparan bisa terjadi di Jakarta dan kota di sekitarnya. Jakarta, kota yang bergelimang uang dan kemewahan itu, justru menyimpan kisah kemiskinan dan kelaparan. Itulah realitas paradoksal. Dan ketika tragedi kemanusiaan itu diangkat menjadi berit…

Robohnya Negeri 1001 Malam

Moh Samsul Arifin*
http://www.jawapos.com/

Inilah buku yang memotret sebuah perang paling berdarah –sekaligus menyita perhatian manusia di kolong langit– di ufuk milenium baru. Dua jurnalis MBM Tempo, Rommy Fibri dan Ahmad Taufik memburu segepok peristiwa yang mengiringi kejatuhan Rezim Saddam Husein dan luluh lantaknya tanah Irak selepas diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua jurnalis itu membuat reportase basah, di mana detail peristiwa dirawat bak menimang bayi dan jalinan peristiwa diudar dengan perspektif kuat bertopang sejarah.

Saking basahnya, pembaca terkadang seperti melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang diceritakan dalam buku ini. Dibuka dengan reportase ihwal robohnya patung Saddam dan dipungkasi prosesi serta kronologi eksekusi terhadap Saddam, buku ini menyingkap nyaris utuh potret konflik Irak sekaligus kehidupan sosial di negeri yang dikoyak desing peluru tersebut.

Perang Irak atau lebih tepatnya penaklukkan Irak dapat dikatakan sebagai kemenangan absurdi…

Tan Malaka dan Buku-Buku Penjebol Wacana

Mohammad Afifuddin*
http://www.jawapos.com/

SEBAGAIMANA diutarakan Goenawan Mohamad, pada hari-hari dalam bulan Agustus 1945, yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik. Hindia Belanda sudah tidak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikan juga baru saja kalah. Yang ambruk adalah sebuah wacana.

Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi, yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan dan sebaliknya, membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ”kami, bangsa Indonesia” -apalagi sebuah ”kami” yang bisa ”menyatakan kemerdekaan” (Tempo, 8/09).

Ya, Agustus adalah puncak gelora revolusi. Jika kemudian sebuah revolusi dimaknai sebagai ”menjebol dan membangun”, yang dijebol adalah wacana kolonial, sedangkan yang dibangun adalah wacana kebangsaan, keindonesiaan: kami adalah bangsa…

Robert Desnos (1900-1945)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

SAJAK TERAKHIR
Robert Desnos

Begitu keras kau kumimpikan
Begitu banyak aku berjalan, begitu rupa bicara
Begitu kucinta bayang-bayangmu
Hingga bagiku dirimu tiada lagi tersisa
Tinggallah bagiku jadi bayang-bayang di antara bayang-bayang
Jadi seratus kali lebih bayang-bayang dari bayang-bayang
Jadi bayang-bayang yang datang dan datang berulang-ulang
Dalam hidupmu yang bersinarkan matahari.

{dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, cetakan II, 1975}

Robert Desnos (4 Juli 1900 - 8 Juni 1945), penyair Prancis berperan penting pergerakan surealistik di jamannya. Lahir di Paris putra pemilik kafe, kolumnis sastra surat kabar Paris soir.
Puisinya pertama muncul di media tahun 1917 di La Tribune des Jeunes, 1919 di avant-garde review dan Le Ciri d’serikat. Pada 1922 terbit buku pertamanya, koleksi surealistik aforisme berjudul Rrose Selavy.

1919 bertemu Benjamin Péret yang memperkenalkan kelompok Dada Paris dan An…

Hadiah bagi Gerilyawan Sastra

Anwar Siswadi
http://www.tempointeraktif.com/

Penerbitan buku-buku sastra berbahasa daerah jumlahnya mengalami pasang-surut, paling tidak dalam 10 tahun terakhir. Tapi, Hadiah Sastra Rancage terus bergulir. Tak terasa, 22 tahun sudah penghargaan khusus itu diberikan bagi para penulis, pembuat lagu, juga budayawan daerah.

Inilah bentuk penghormatan dari sastrawan untuk sesama rekannya tatkala pemerintah tak melirik upaya gerilya mereka dalam mempertahankan pemakaian bahasa ibu.

Rancage, dari bahasa Sunda yang berarti kreatif, dirintis oleh sastrawan Ajip Rosidi, 72 tahun, pada 1989. Semula, penghargaan karya sastra modern berbahasa daerah itu hanya diberikan untuk buku-buku berbahasa Sunda. Sejak 1994, hadiah itu juga diberikan untuk sastrawan Jawa, Bali, mulai 1998, dan Lampung pada 2008. Sampai hari ini, penghargaan karya sastra itu masih diberikan untuk empat daerah tersebut. "Daerah lain tidak ada yang menerbitkan buku baru," kata Ajip kepada Tempo akhir pekan lalu.

Selama li…

Mencari Rumah Sastra Indonesia Di Bangka Belitung

Rakhmat Giryadi
http://www.surabayapost.co.id/

Jika ke huma membawa pepah
Pepah bertiti berpagar duri.
Alamnya indah rakyatnya ramah
Inilah Negeri Laskar Pelangi

PANTUN di atas diucapkan Gubernur Bangka Belitung H Eko Maulana Ali pada awal sambutan. Sontak ruang Mahligai Serumpun Sebalai riuh rendah oleh tepuk tangan hadirin, para sastrawan seluruh Indonesia.

Sang gubernur pun melanjutkan pantunnya, ”Andai tumbuh bunga di laman, Semat pinang mari menari. Wahai tuan para sastrawan, Selamat datang di negeri kami.” Pantun ini juga disambut tepuk tangan.

Ruang Mahligai Serumpun Sebalai merupakan bagian dari Gedung Badan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Air Itam. Letaknya di Jl Pulau Mendanau, sekitar 1 km dari Kota Pangkalpinang. Di tempat itulah, ’’Temu Sastrawan Indonesia II 2009’’ dibuka Kamis (30/7 malam dan berakhir Minggu (2/8) besok.

”Di tangan para sastrawan perkembangan peradaban bangsa dapat ditentukan. Sastrawan punya tanggungjawab besar untuk membantu …

Monginsidi, Chairil, Kartini

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Shot? so quick, so clean an ending?
Oh that was right, lad, that was brave
Yours was not an ill for mending,
’Twas best to take it to the grave
— A.E. Housman (1859-1936).

Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar, tanggal 5 September 1949.

Ada yang mencatat bahwa beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu memberikan maaf kepada regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Mungkin saat itu ia menukil Injil Lukas yang merekam apa yang dikatakan Yesus pada saat-saat penyaliban. Tapi mungkin juga ia—yang tak mau meminta grasi kepada pemerintah kolonial—sudah lama menerima apa yang datang bersama zamannya.

Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi—sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya—ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya ”sebagai bunga yang sedang hendak meka…

Aktivis Kamar yang Kreatif

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Sangatlah sulit mencari manusia kreatif. Tak segampang sekadar pengakuan diri: sayalah yang kreatif. Kreatifitas adalah praktik atau amal yang sangat menyehari.

Menjadi manusia kreatif niscaya dibutuhkan dalam hal penyelesaian masalah. Tiap sesuatu bila selesai secara kreatif akan tampak beda dibanding dengan penyelesaian masalah sebelumnya.

Mula-mula membaca rubrik Humaniora-Dedaktika, Susah Menjadi Guru Kreatif (Kompas, 20/04), saya tersadar sehabis membacanya. Kreatifitas tak melulu berguna bagi insan pers, artistik, iklan, entertain, dll, yang semua ini tergolong pekerja kreatif. Tapi kreatifitas pula menyelusup di tiap-tiap aras edukasi. Misalnya, agar siswa kreatif, maka itu tak luput dari sejauh mana kreatifitas gurunya.

Mencapai derajat kreatif, guru dituntut menanggalkan otoritas linearnya di kelas dalam mendidik siswa. Guru tak lagi bersikap laiknya instruktur kepada murid hingga ia leluasa dan memiliki kuasa memerintah. Jika gu…

Patriot Sastra dan Nilai Estetika

Binhad Nurrohmat
http://www.pikiran-rakyat.com/

Para pemburu pesan kadang pula cenderung alergi tema tertentu, seksualitas misalnya, lantaran tema ini dianggap kotor, tak senonoh, atau berselera rendah.

KARYA kesusastraan memang telah sejak lama dipandang sebagai tradisi kesenian luhur yang gigih menyuarakan ambruknya martabat kemanusiaan, memijarkan cahaya agung pencerahan di tengah kebangkrutan moral masyarakat, dan membela rakyat yang tertindas kezaliman, sehingga lantaran kuatnya pandangan ini, karya kesusastraan kerap terlupakan hakikatnya: nilai estetika, yaitu capaian pengucapan atau ekspresi bahasanya dan perspektifnya memandang kenyataan dunia.

Salah seorang tokoh awal kesusastraan modern Indonesia terkemuka Sutan Takdir Alisyahbana hingga akhir hayatnya teguh kukuh menggelorakan gerakan kesusastraan yang berjuang dan bertanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat. Paham kesenian untuk kesenian dianggap apatisme artistik yang memunggungi keluhuran, pesimistis, dan dekaden. Bah…

Yang Silam, Yang Tersembunyi, Yang Menjelang

Wahyudin*
http://www.jawapos.com/

YOGYAKARTA Biennale X-2009 bertajuk Jogja Jamming: Art Archives Movement akan dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 11 Desember di gedung Pameran Taman Budaya Jogjakarta.

Di luar dan dalam gedung yang dibangun pada 1996 itu, khalayak bisa menyaksikan puspa ragam karya seni rupa mutakhir milik 32 perupa kiwari Jogjakarta. Di antaranya, Budi Kustarto, Dadang Christanto, Eddie Hara, Eko Nugroho, Heri Dono, Ivan Sagita, Nyoman Masriadi, Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya, Wedhar Riyadi, dan Yunizar.

Dari situlah Yogyakarta Biennale X bakal memulai pertemuan kreatif dan komunikasi intrapersonal lintas generasi perupa Jogjakarta sebagai ikhtiar untuk menyurat yang silam, menyingkap yang tersembunyi, dan menggurat yang menjelang dalam sejarah, tradisi, dan kehidupan berseni rupa di Jogjakarta.

Seperti kita tahu, seni rupa modern di Jogjakarta lahir bersamaan dengan hijrahnya pemerintah Republik Indonesia dari Jakarta ke Jogjak…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]