Sabtu, 13 Februari 2010

KILAS BALIK SERAT KALATIDA KARYA RONGGOWARSITO

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Sebenarnya perjalanan kehidupan dalam alam fisik ini bersifat stagnan. Mulai dulu sampai sekarang, bahkan nanti akan bersifat sama alurnya. Sama dalam tataran peristiwa problematikanya. Yang berbeda hanyalah fenomena tempat, fasilitas, pelaku orangnya, budaya, dan peradabannya. Ini terlihat sebagai suatu siklus rotasi yang pada saatnya nanti akan teruluang kembali. Seperti suatu nasib; kadang di atas, kadang di bawah. Suatu saat akan berjaya, di saat yang lain akan terjatuh juga.

Peristiwa-peristiwa masa lalu akan terulang kembali pada masa sekarang. Begitu juga dengan sekarang, pada hari esok akan terulang pula. Namun tidak sama persis. Yang sama hanyalah suasana batiniah peristiwa itu. Seperti itulah fenomena yang seolah-olah tampak dari karya Ronggowarsito. Kita kenal bahwa Ronggowarsito adalah seorang pujangga yang konon ceritanya memiliki ketajaman batin yang khusus dan tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Dalam karya-karyanya sering terungkap prediksi-prediksi suatu kejadian masa datang. Bahkan lebih dari itu, ia juga mengetahui ajalnya sendiri.

Sebenarnya Ronggowarsito bukanlah nama asli, melainkan suatu gelar kebangsawanan di keraton Surakarta. Gelar Rongowarsito ini diberikan kepada seorang juru tulis kerajaan. Nama asli Ronggowarsito yang kita kenal saat ini adalah Bagus Burham yang lahir tanggal 15 Maret 1802. Orang yang pertama kali menerima gelar Ronggowarsito ini adalah Yosodipuro II yang tidak lain adalah kakek Bagus Burham. Ronggowarsito II bernama Panjangswara dan dia adalah ayah dari Bagus Burham. Bagus Burham inilah yang yang kemudian menggantikan ayahnya dengan gelar Ronggowarsito III setelah perang Diponegoro usai; yaitu sekitar tahun 1830. Dan Bagus Burham inilah yang sampai dewasa ini akrab kita kenal dengan nama Ronggowarsito. Yang karya-karyanya sampai di tangan kita.

Dalam karyanya, Ronggowarsito pernah menyinggung datangnya bencana yang merupakan sebagian dari kutukan Tuhan. Berdasarkan penglihatan ruhaniahnya, hari itu suatu saat akan datang. Semua ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Sebelum datangnya hari itu, pasti ada sebabnya terlebih dahulu. Sebab utama yang melatarbelakangi munculnya kutukan Tuhan tidak lain adalah dipicu oleh kelalaian manusia sendiri. Ia lalai dengan jati dirinya sehingga lalai pula dengan tugas kemanusiaannya di dunia. Misi kekhalifahan terabaikan. Mengobarkan api kerusakan dalam kesemestaan alam. Angkara murka bangkit di mana-mana. Bahaya, susah, dan derita meraja lela. Ilustrasi itu terungkap dalam Serat Kalatida yang diungkapkan dalam bentuk tembang Sinom. Serat tersebut berbunyi:

I
Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaruri
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun Kala Tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda.

II
Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Parandene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angreribedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

III
Katetangi tangsisira
Sira kang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Kataman ing reh wirangi
Demimg upaya sandi
Sumaruna anerawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka.

IV
Dasar korban pawarta
Bebaratan ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yen pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu kali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

V
Ujaring Panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhak angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna.

VI
Keni kinarya darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-puluh anglakoni kaelokan.

VII
Amenangi jaman edan
Ewth aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada.

VIII
Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

IX
Beda lan kang wus santosa
Kinarilan ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ichtiyar.

X
Sakadare linakonan
Mung tumindah mara ati
Angger kang dadi prakara
Karana wirayat muni
Ichtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kang kaesthi antuka parmaning suksma.

XI
Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan.

XII
Sagede sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruhara
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat asih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendhana
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya.

Ronggowarsito dalam karyanya di atas mengisahkan bahwa martabat negara hancur berantakan. Aturan, hukum, dan undang-undangnya tidak diindahkan dan diinjak-injak. Contoh-contoh yang luhur tidak ada lagi. Orang-orang terpelajar terbawa arus dalam kepincangan zaman. Suasananya mencekam, sebab hidup penuh dengan kerepotan. Ibarat yang salah jadi benar, dan yang benar menjadi salah. Yang halal menjadi haram, dan yang haram memnjadi halal.

Pada dasarnya kepincangan-kepincangan itu tidaklah bersumber dari pemerintahan, tetapi semuanya mengalir dari jiwa-jiwa masyarakat dan manusianya. Pemimpin pemerintahan termasuk orang yang baik. Patihnya juga cerdik. Semua anak buah hatinya baik. Pemuka-pemuka masyarakat juga baik. Tetapi semuanya itu tidak membawa kebaikan. Justru malah sebaliknya. Hal itu disebabkan oleh kutukan zaman. Bahkan keusahpayahan semakin menjadi-jadi. Lantaran perbedaan persepsi, pandangan, pikiran, serta tujuan manusiannya masing-masing. Semuanya saling membenarkan diri-sendiri. Walau sudah jelas dirinya bersalah.

Saat itulah hukum menjadi barang dagangan yang tengah diobral murah. Pemerintah tak berdaya. Yang berharta jadi penguasa. Berhak menentukan jalan hidupnya. Tak peduli benar-salah dan halal-haramnya cara yang ditempuhnya. Yang penting tujuan tercapai, segalanya digilasnya.

Melihat fenomena semacam itu, Ronggowarsito menangis sedih. Ia merasa malu dan terhina. Realitas yang ada penuh dengan fitnah dan intrik. Segalanya seolah-olah tampak menghibur dan menggembirakan. Di depan seseorang bersifat manis dan memuji-muji, tetapi jika seseorang itu tidak ada, maka ia justru balik menikamnya

Berbagai macam gosip dan rumor datang tak menentu pada zaman itu. Di mana-mana selalu ada gosip, bahkan hampir diseluruh penjuru dipenuhi dengan gosip. Bukan gosip yang positif, melainkan hanya sekedar mengumbar aib. Orang-orang banyak yang berebut kedudukan. Setiap kepala ingin duduk memerintah. Oleh sebab itu, janji-janji berhamburan demi menggapai tujuan. Tapi pada akhirnya itu hanya sekedar bualan. Kata-kata yang telah diucapkan justru malah tidak diperhatikan sama sekali. Sibuk dengan perutnya sendiri. Sebenarnya, kalau benar-benar direnungkan, menjadi pemimpin itu tidak ada guna-faedahnya. Justru malah menumpuk kesalahan-kesalahan saja. Bahkan jika lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kesusahpayahan yang berujung pada bencana.

Berdasarkan buku Paniti Sastra, sebenarnya sudah ada wawancang terlebih dahulu akan peristiwa ini. Saat zaman dipenuhi kesusahpayahan, kebatilan, serta musibah, orang baik akan tidak terpakai. Ia malah dikucilkan. Hendaknya hal ini menjadi catatan penting. Kata-kata yang tak bermakna dan gosip-gosip hanya akan menyiksa hati. Ini tidak patut untuk didengarkan. Lebih baik mendengar cerita masa lalu dan dongeng-dongeng. Itu dapat dijadikan teladan dan cermin diri yang baik guna membandingkan dan mempertimbangkan antara perbuatan yang baik dan buruk. Antara kebaikan dan kejahatan. Antara yang benar dan salah. Sebenarnya cukup banyak contoh dari kisah-kisah terdahulu yang mampu membuat hati penikmatnya tenang dan damai, bersikap ikhlas menerima yang berujung pada kepasrahan dan keridhaan terhadap segala takdir Tuhan.

Ronggowarsito mengisyaratkan bahwa hidup di zaman edan ini memanglah sangat repot. Susang menentukan sikap. Ingin mengikuti arus zaman, kita tidak sampai hati, tetapi jika tidak mengikuti, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Yang kita dapat hanyalah kelaparan. Walaupun begitu, ini sudah jadi kehendak Tuhan. Di zaman ini, seuntung apapun orang yang lupadaratan, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat kepada yang hidup dan yang mati. Ingat pada jati dirinya sendiri. Waspada terhadap kutukan tuhan yang pasti.

Ibarat pepatah. Orang yang hidup di zaman edan ini seolah-olah tampak menolak segala realitas kepincangan yang ada, namun pada dasarnya ia berminat menerima kenyataannya. Benar kata orang, dalam hati fenomena ini memang repot juga. Dari pada memikirkan arus zaman itu, Ronggowarsito lebih baik memimikirkan hal yang lain. Lebih baik ia menginstropeksi diri. Ia menyadari bahwa usianya semakin tua. Apa pula yang hendak dicari dalam dunia yang seperti ini. Lebih baik berkhalwat agar mendapat ampunan Tuhan yang sejati.

Berbeda lagi dengan mereka yang sudah kuat, yang telah menggenggam kesejatian hidup, ia pasti telah berlimpahkan rahmat tuhan. Bagaimanpun fenomena zamannya, ia selalu bernasib mujur. Tuhan selalu memberi pertolongan padanya. Ia tidak perlu bersusah payah, dengan tiba-tiba ia akan mendapatkan anugrah. Walaupun begitu, ia masih butuh ikhtiar juga.

Orang yang seperti itu, selalu menjalani realitas hidup dan kehidupan dengan bersikap sederhana dan sewajarnya. Urep sakmadyane. Ia berjalan berdasarkan tuntunan hati yang jernih. Memberikan kebahagiaan dan tak menimbulkan permasalahan. Seperti pepatah, manusia itu wajib berikhtiar dalam memilih jalan yang benar. Bersamaan dengan hal itu, ia harus senantiasa ingat dan waspada agar mendapat rahmat Tuhan yang Esa.

Setelah menginstropeksi diri, dengan segala kesadarannya, Ronggowarsito berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berwasilah kepada Rasulnya. Dengan kasih sayang-Nya, Ronggowarsito berharap agar mendapatkan pertolongan di saat ajal telah menjelang. Baik saat di dunia maupun saat di akhirat nanti. Ia sadar betul bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi. Khusnul khotimah ataukah su’ul khotimakah akhir perjalanannya nanti? Yang jelas, hanya Tuhan-lah yang kuasa memberi pertolongan padanya. Semoga ia dikaruniai kesabaran dan kekuatan ketika menjalani mati dalam kehidupan (mati sajroning ngaurip). Jauh dari bencana serta terhindar dari keangkaramurkaan. Dengan segenap jiwa Ronggowarsito merenungkan, menyucikan lahir, batin, dan pikiran sembari menyongsong berakhirnya kutukan zaman. Ia pasrah menanti datangnya putusan (takdir) Tuhan.

Apabila serat itu kita tarik benang merah dengan realitas sekarang, maka akan terasa relevansi yang begitu kuat. Fenomena yang digambarkan Ronggowarsito dalam zamannya seolah muncul kembali pada saat ini. Ini diperkuat dengan isyu “kiamat” pada akhir tahun 2012. Konon diceritakan bahwa kiamat itu adalah hari kehancuran alam. Tanda-tandanya adalah rusaknya moral manusia. Bumi digoncang-gancingkan dengan guncangan (problematika hidup dan kehidupan) yang sangat dahsyat. Manusia bingung dengan sendirinya. Bagaikan makan buah simalakama.

Jika kita berpandangan lebih arif terhadap isyu tersebut, kita akan menemukan titik temu antara realitas sekarang dengan ujaran Ronggowarsito dan Maya Calender. Tahun 2012 berdasarkan Maya Calender merupakan titik kulminasi dari peristiwa “kiamat”. Kiamat di sini tidak sekedar kita pahami sebagai totalitas kehancuran alam semesta, melainkan bisa jadi kehancuran yang bersifat minimum. Sebab kita kenal istilah kiamat sughroh dan kiamat kubroh. Begitu juga dengan pijakan kita tentang kehancuran alam. Alam yang bagaimanakah yang hancur! Alam fisik? Alam ruhani? Alam hati? Alam pikiran? Atau bahkan alam tubuh manusia (kematian personal)? Lantas kita juga harus berpandangan pada letak titik sentrum yang paling kuat dalam kehancuran alam tersebut?

Realitas alam ruhaniah manusia sekarang ini memang benar-benar hancur. Esensi keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya kerap tergadaikan. Manusia banyak yang lari dari Tuhan dan berganti arah-mendekat pada nafsiahnya. Hawa nahsunya yang kerap ditonjolkan. Hal itulah yang menyebabkan hancurnya alam hati dan pikiran mereka. Alam hati tak tenang, tergoncang-gancingkan, dibayang-bayangi dengan ketakutan-ketakutan akan kemelaratan di dunia sehingga ia kerap mengejar harta dan tahta. Jika telah terjadi demikian, alam pikiran akan hancur. Pikiran-pikran yang baik dan positif akan tergantikan dengan kecurangan-kecurangan dan keculasan. Sehingga dalam setiap detik, ia akan dihantui dengan pikiran dan rasa bersalah, takut terbongkar kucurangan dan keculasannya. Wal hasil, benih penyakit yang aneh-aneh pun muncul dalam diri manusia sebab terlalu besar memendam beban rasa. Dan akhirnya, tubuh dilanda sakit. Hanya mengeluh yang ia bisa. Menyesal tiada guna. Lantas meninggal dunia. Inilah kronologis “kiamat” dalam tataran kecil-kecilan.

Fenomena di atas merujuk pada personal manusia. Namun jika hal itu terjadi dalam skala yang lebih besar, kita perlu melihat titik sentrumnya. Wilayah manakah yang masyarakatnya paling dominan melakukan hal tersebut. Dari sinilah konsep penghancuran umat akan berlaku. Seperti kisah kaum Nuh AS yang dihancurkan dengan banjir besar dan kaum-kaum lain sebelum kita. Dan hanya merekalah yang mau berikhtiar mendekatkan diri pada orang-orang yang benar, pada para kekasih tuhanlah yang saat itu berlimpahkan anugrah dan keselamatan.

Kenyataan saat ini; individu, masyarakat, dan pemerintah banyak yang bertindak korup. Lahan-perlahan bencana kerap melanda. Kematian masal meraja lela, baik di darat, laut, maupun udara. Tidakkah ini merupakan sebagian kecil dari kiamat? Apakah ini kutukan Kalatida? Ataukah ini kepastian Kalender Maya? Benarkah potret “kiamat” itu akan terjadi kembali dalam realitas masyarakat kita sekarang ini? Dan memang pantas-siapkah masyarakat kita menerima kepastian seperti itu? Jawabannya hanya ada dalam diri kita masing-masing, dalam ruang waktu yang masih terasing.

Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Bazar buku, tren pustaka, munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, sampai diangkatnya sejumlah buku (yang diklaim sebagai karya sastra) ke layar lebar. Akan tetapi jika jujur, kesemarakkan itu baru sebatas perayaan atas buku-buku yang dianggap laku, how to, minus buku-buku yang mencerdaskan seperti sastra dan humaniora.

Padahal, sebenarnya buku sastra sangat responsif dan terlibat aktif dalam “perayaan” itu. Bahkan boleh dikatakan buku sastra beserta para pelakunya termasuk perintis dalam menggairahkan perbukuan nasional. Pameran, launching dan diskusi acap bermula dari buku sastra. Munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, umumnya dimotori oleh pelaku dan peminat sastra. Hanya, buku sastra lebih banyak bergerak pada tataran estetik dan idealisme. Sebaliknya, buku-buku how to dan “tema-tema semusim” lebih berorientasi kepada pasar. Antara pasar dan idealisme, di sinilah taruhannya.

Dari Depan: Menerka Sejarah
Sebelum melihat pertarungan pasar dan idealisme, mungkin cukup menarik jika terlebih dulu dilihat pergulatan penerbitan buku sastra kita. Secara historis, penerbitan buku sastra sudah dirintis jauh-jauh hari oleh penerbit Balai Pustaka (1917). BP boleh dikatakan penerbit resmi yang juga secara “resmi” menerbitkan buku sastra Tanah Air. Mungkin kata “Tanah Air” kurang tepat, sebab pada dekade 20-an itu “Tanah Air” belum mendapatkan rumusannya. Buku-buku yang diterbitkan pun lebih tepat dikatakan disensor atau “disortir” ketimbang disunting/dieditori. Itulah sebabnya tema seputar kawin paksa lebih banyak mengemuka ketimbang persoalan kolonialisasi.

Ini “tragedi” pertama penerbitan karya sastra modern kita. Penulis yang terpilih diterbitkan adalah yang tunduk pada ideologi dan kanon tertentu sehingga banyak penulis lain yang tidak terakomodasi. Menurut Maman S. Mahayana bersamaan dengan dekade Balai Pustaka, sebenarnya bermunculan para penulis berbahasa Melayu-pasar. Media yang memuat karya sastra pun beragam seperti Sahabat Baik (Betawi, 1890), atau Bok-Tok (Surabaya, 1913).

Akan tetapi nama-nama di situ luput dari kesejarahan alih-alih untuk diterbitkan. Namun, bagaimanapun, buku-buku era Balai Pustaka tetap menjadi “harta karun” yang tak ternilai, misal untuk kajian sastra pascakolonial.

Penerbit Pustaka Jaya pimpinan Ajip Rosidi kemudian muncul menggairahkan dunia perbukuan. Cover bukunya sangat nyeni, dan penerjemahan sastra asing gencar dilakukan. Buku-buku terbitan Pustaka Jaya menjadi representasi pergulatan buku sastra di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia (YOI) yang dirintis Mochtar Lubis, setali tiga uang, meski YOI melebarkan sayap ke penerbitan buku-buku sosial-humaniora. Begitu pula penerbit Djambatan. Setelah semua itu melemah, muncul penerbit Bentang Budaya di Yogyakarta. Digawangi Buldanul Khuri, kebangkitan Bentang ditandai terbitan seri pujangga Gibran Khalil Gibran dan rancang cover yang mengambil ruh Pustaka Jaya.

Hal paling menarik dari penerbit perintis tersebut bukan sekadar capaian artistik (desain) dan terjemahan karya penting dunia, tapi lebih esensial, yakni misi gerakan yang mengakar. Pustaka Jaya misalnya, lahir dari keprihatinan Ajip Rosidi atas langkanya buku sastra bermutu. Atas pengaduannya kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jaya waktu itu, dikucurkanlah dana untuk memulai usaha penerbitan sastra.

Meski kata dikucurkan di sini tidak terlalu tepat, sebab dana yang dipinjamkan kepada Ajip Rosidi oleh Pemda DKI tidak besar. Namun penerbit ini meraih capaian besar, bukan untung-laba, melainkan gairah muncul-bersambutnya buku-buku sastra bermutu di tengah publik Indonesia. Mochtar Lubis, meski mengandalkan funding asing, tetapi ia mampu mengolah bantuan itu dalam bentuk kerja sama yang setara. Alhasil YOI memunculkan buku-buku yang sangat ditunggu publik. Penerbit Djambatan menggenapkan kebergairahan sektor perbukuan nasional.

Masih banyak penerbit lain yang menjalani peran serupa, seperti Nusa Indah (Ende, NTT), Nusantara (Bukittinggi) dan Grafiti (Jakarta). Mereka bertarung di tengah pembaca yang tak kunjung apresiatif dan keras kepala untuk tak menyerah. Atau, jika akhirnya menyerah, tapi menoreh jejak keberpihakkan terhadap sastra/humaniora.

Ke Belakang: Karena Pasar dan Perayaan
Dalam perkembangannya kemudian buku sastra memang diminati penerbit, diterima distributor dan dipajang di toko buku. Tapi jika diselidiki lebih lanjut, sebenarnya baru sebatas pragmatis dan kalkulasi bisnis. Kenapa? Cobalah cermati sejumlah kenyataan berikut.

Pertama, banyak penerbit, termasuk penerbit besar Ibu Kota, hanya latah ketika menerbitkan buku sastra. Diterbitkan ketika laku, tapi begitu respons pasar menyurut, mereka pun surut langkah tanpa mau susah-payah mencari terobosan. Sebagai contoh, pernah cerpen dalam negeri sangat diminati, terutama setelah gencarnya gerakan pemasyarakatan cerpen oleh pelaku sastra.

Saat itulah, hampir semua penerbit meresponsnya dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen. Mereka jemput bola mendatangi para penulis di daerah, menerbitkannya dalam kemasan yang selama ini tak mungkin dilakukan, dipromosikan dengan launching dan masuk jaringan pasar secara luas. Banyaklah penerbit membuat devisi sastra/cerpen, meski selama ini ia lebih dikenal menerbitkan buku-buku pelajaran misalnya. Muncullah eforia penulis, kurang selektif, surplus buku cerpen, dan kejenuhan pada pasar.

Ketika pasar benar-benar jenuh, tanpa tanggung jawab, penerbit-penerbit tadi meninggalkan gelanggang sambil melempar sisa buku cerpen ke tukang loak, dan dijual “murah-meriah” di pameran-pemaran buku. Sementara sastra dan penulisnya terpuruk, deretan penerbit tinggal beralih melirik lagi apa yang laku dijual dari sastra setelah sebelumnya mereka sukses melirik cheeklit/teenlit dan akhirnya kini beralih ke novel sejarah.

Lalu, novel dalam negeri pun booming. Celakanya, itu tidak lebih dari novel pop/konvensional dengan tema-tema dangkal percintaan. Lebih celaka lagi, justru itu yang diklaim sebagai pencapaian luar biasa dari novel Indonesia! Ketika novel dalam negeri merosot pamornya, datang segudang novel terjemahan. Kini, jika detik ini puisi diminati pasar, maka saya berani bertaruh para penyair tak bakal kesepian! Begitu pula naskah drama atau skenario film. Pendek kata, di mana ada pasar, di situ ada perayaan–dan inilah sebagian besar “ideologi” perbukuan sekarang.

Kenyataan kedua, di luar buku-buku yang laris, buku sastra “serius” tetap saja ditempatkan di rak belakang perpustakaan dan toko buku. Buku yang diminati pasar semacam novel bestseller atau ceeklit/teenlit, memang ditempatkan di etalase yang gampang diakses. Apakah logikanya tidak terbalik? Bukankah buku yang sedang diburu tidak soal ditempatkan di mana pun? Bukankah buku-buku yang belum terlalu dikenal, atau buku sastra yang dianggap “berat” justru lebih memerlukan promosi dan aksesibilitas?

Singkat kata, perangkat perbukuan seperti mekanisme pasar, distribusi, toko buku dan perpustakaan belum berpihak kepada buku sastra dan humaniora. Banyak sudah pengalaman miris yang ditemui. Sebagai contoh, dalam kapasitas sebagai kreator sastra, saya pernah menngecek buku puisi saya ke sebuah toko. Di komputer ada tertera judul dan posisi raknya. Pusing mencari tetap tidak ketemu. Setelah ditanya, ternyata buku itu, bersama buku-buku sastra lainnya, ditumpuk di balik cheeklit/teenlit! Padahal itu di tempat yang mengklaim dirinya sebagai toko buku alternatif.

Di lain waktu, dalam kapasitas sebagai pengelola penerbitan sastra, saya mengecek buku terbitan kami ke sebuah toko buku besar. Setelah buku yang tertera dalam komputer itu tak ketemu, penjaganya kemudian mengambilkan ke gudang!

Belum lagi perangai distributor yang selalu minta kami menerbitkan buku-buku yang laku, dan itu artinya buku-buku how to, tinggal download dari internet. Rangkai jadi buku kiat praktis apa saja yang Anda mau, apakah tentang kecantikan, keuangan, bisnis atau kiat seks paling dahsyat sejagad. Murah diongkos, dan laporan penjualan per bulan dari distributor dijamin di atas puluhan juta. Bandingkan dengan laporan buku sastra, hanya ratusan ribu rupiah! Tapi, apakah kami harus menyerah dan ikut latah? Setiap kali kami menolak, setiap itu pula buku yang di-return tambah besar, dan akhirnya tersingkir dari distributor!

Perpustakaan setali tiga uang. Belum lama berselang, saya ditelepon seorang kawan dari Lubuklinggau, bahwa ia baru saja menyaksikan buku sastra bergelimpangan di gudang belakang perpustakaan kotanya. Tak terkecuali buku-buku Pramoedya, Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan bundelan majalah sastra Horison! Sementara atas nama otonomi, pengelola perpustakaan di daerah dan sekolah, kini tambah leluasa membeli buku-buku “kiat praktis”, dan meluputkan sastra dari katalog perpustakaan mereka! Sebuah penerbit pernah ikut proyek pengadaan buku di Jawa Timur dengan mengirimkan katalog buku kepada panitia. Judulnya beragam, dan sastra tak ketinggalan. Ketika proyek itu gol, buku yang di-acc adalah buku-buku how to, tidak satu pun buku sastra masuk pesanan! Sungguh miris.

Apa yang salah sesungguhnya? Apakah karena buku sastra yang tidak memihak pasar, atau sebaliknya, pasar yang tidak memihak buku sastra? Tidak satu jalan ke Roma. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi menurut saya adalah kurangnya keberpihakan semua unsur perbukuan terhadap buku sastra/humaniora. Penyebabnya antara lain laporan penjualan buku sastra tidak sekencang laporan buku-buku praktis. Peminatnya pun terbatas pada orang atau kalangan tertentu. Padahal, sungguh sangat tidak tepat membandingkan keduanya.

Seharusnya kita berpikir subsidi silang, sambil berdagang buku-buku laris ala etalase, distributor/toko buku seyogianya memberi ruang pada buku-buku yang penjualannya “alon-alon asal kelakon” tapi memberi oase. Begitu pula perpustakaan, tidak persoalan menyediakan bacaan-bacaan ringan, termasuk komik hiburan yang memang ramai peminat itu, tapi bukan berarti menggusur “bacaan mulia” ala buku sastra. Wallahualam.

*) Pengelola penerbit sastra AKAR Indonesia.

SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar.

Sederet kisah lain tentang kemiskinan dan kelaparan, kini telah menjadi berita yang tak lagi mengejutkan. Bagaimana mungkin, kemiskinan dan kelaparan bisa terjadi di Jakarta dan kota di sekitarnya. Jakarta, kota yang bergelimang uang dan kemewahan itu, justru menyimpan kisah kemiskinan dan kelaparan. Itulah realitas paradoksal. Dan ketika tragedi kemanusiaan itu diangkat menjadi berita, masyarakat seolah-olah disadarkan, bahwa kepedulian kita terhadap masyarakat sekeliling, telah pudar, rasa kemanusiaan makin tersisih oleh berbagai kesibukan mengejar uang, reputasi, dan entah apa lagi. Jangan harap bantuan pemerintah. Lupakan pula Dewan Perwakilan Rakyat, karena mereka pun sudah lupa pada nasib rakyatnya sendiri. Bagaimana mungkin kenyataan itu terjadi di Indonesia, negeri yang konon kaya-raya, gemah ripah loh jinawi, dengan gotong-royong sebagai sokogurunya?

Kalangan pers bisa mengangkat peristiwa itu menjadi berita. Itulah salah satu wujud tanggung jawab sosialnya: mengangkat sisi kemanusiaan untuk menyentuh sisi kemanusiaan yang lain. Sastrawan, dengan caranya sendiri, tentu juga punya komitmen yang sama ketika ia dihadapkan pada problem sosial yang mengenaskan. Ia juga bermaksud memotret realitas sosial ketika realitas itu menggelisahkannya. Dalam sejarah sastra Indonesia, kita bisa menemukan berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat kita: tentang kemiskinan dan kelaparan, tentang penganiayaan dan pemerasan terhadap nasib rakyat kecil. Di situlah sastra menempati fungsinya sebagai potret sosial zamannya. Sastra memang bukan berita pers, tetapi fungsinya sama saja ketika sastra bermaksud menyentuh rasa kemanusiaan.

Sekadar menyebut beberapa nama, periksa saja cerpen-cerpen Muhammad Ali, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, atau Joni Ariadinata. Mereka banyak mengangkat kehidupan wong cilik dengan berbagai problemnya. Mereka mengangkat sisi gelap kaum yang tersisih, meski sesungguhnya kehidupan kaum yang tersisih itu berada di sekeliling kita. Hidup di antara kita. Dan kita kerap lalai, bahwa kita ikut bertanggung jawab atas nasib mereka.
***

Kini, dari pojok yang jauh, dari tanah Melayu, satu nama muncul dengan mengusung problem sosial masyarakat di sekitarnya yang miskin, lapar, dan teraniaya. Cara bertuturnya meyakinkan. Olyrinson, sebuah nama yang aneh dan terasa asing. Apakah ia juga mengangkat kehidupan gembel dan kaum gelandangan sebagaimana yang dilakukan Muhammad Ali dan Joni Ariadinata? Atau petani miskin dan kehidupan wong cilik seperti yang banyak kita jumpai dalam cerpen-cerpen Ahmad Tohari?

Olyrinson yang datang sebagai salah seorang warga puak Melayu coba mengangkat sisi gelap dan kegetiran warganya. Nurani kita, pembaca seperti diguncang. Ia laksana menuntut pentingnya rasa kemanusiaan ditumbuhkan. Kenyataan pahit masyarakat di sekitar adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan kita. Olyrinson coba memotret kehidupan warga Melayu yang kere dan tersisih oleh tipu daya atau serangkaian teror penguasa. Mereka berkutat mempertahankan hidup yang terus- menerus dilindas tangan raksasa kekuasaan yang justru menguras kekayaan alamnya. Mereka terpaksa mencampakkan harga diri dan hukum yang berlaku, hanya lantaran tak ada pilihan untuk bertahan hidup. Maut di tenggorokan atau masuk penjara, pada hakikatnya sama saja ketika ia menyadari bahwa hidup tak punya pilihan lain. Mereka selalu dihimpit ketidakberdayaan lantaran tanah garapan, lahan penghidupan, habis dilindas roda industri. Mereka kerap tak dapat membedakan batas tipis antara kelaparan dan merenggang nyawa. Keduanya sama saja. Maka, tak ada lagi penderitaan buat mereka jika penderitaan itu sendiri telah lama lengket menempel dan menyatu dalam kehidupan keseharian mereka. Jika kemiskinan dan kelaparan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka, lalu di manakah tempatnya penderitaan?

Berbagai persoalan itulah yang secara realis diangkat Olyrinson dalam hampir semua cerpennya. Sungguh, kita dibawa memasuki kehidupan masyarakat Melayu yang paradoksal. Di satu pihak, Melayu penuh dengan mitos sejarah kebesaran masa lalu, kekayaan alamnya—hutan dan minyak bumi—yang kaya dan berlimpah. Tetapi, di pihak lain, warga Melayu tetap sekadar penonton yang dengan segala tangis-getirnya, melihat semua kekayaannya diangkuti, dibawa ke mana dan entah oleh siapa, dan tiba-tiba saja tampaklah di hadapan mereka, nyawa anak-istri sebentar lagi lepas. Tak ada lagi sesuatu yang dapat dimakan untuk hari itu dan hari esok. Mereka sadar, ketika perut tak dapat lagi diajak kompromi, maut menunggu di depan mata. Itulah salah satu kekhasan cerpen-cerpen Olyrinson. Mengajak kita ke dunia yang di dalamnya, kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan seperti sudah menyatu sedemikian rupa.

Keseluruhan cerpen yang terhimpun dalam buku ini, tak pelak lagi merepresentasikan kegelisahan Olyrinson atas kegetiran nasib warga puaknya. Di sana, ada Emak yang teraniaya, Abah yang terpenjara atau mati tersengat aliran listrik, ibu yang tak pulang-pulang sementara adik mati dalam gendongan, atau serangkaian kisah tragis lainnya yang terasa asing dan jauh, namun tokh tetap mengganggu kenyamanan hati nurani kita. Terkadang kita merasakan, empatinya berubah menjadi tangis memilukan, terkadang pula berubah jadi kemarahan yang tak tersalurkan. Ia seperti marah pada sesuatu yang ia sendiri tak dapat melawannya. Tetapi justru dengan begitu, nurani kita dipertanyakan. Bukankah warga puak Melayu itu pun masih saudara kita juga yang menuntut tanggung jawab kita sebagai warga bangsa?
***

Sebagai cerpenis sesudah generasi BM Syamsuddin atau Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunas MA Jabbar, Olyrinson tergolong pendatang baru, meskipun ia kerap memenangkan tempat terhormat dalam beberapa lomba penulisan cerpen. Gaya bertuturnya yang jernih, penuh empati, dan terkadang seperti menggugat rasa kemanusiaan kita, memberi keyakinan, bahwa sosok Olyrinson masuk kategori cerpenis yang menjanjikan. Mencermati tema-tema yang diangkatnya dan keberpihakannya pada nasib wong cilik, saya teringat pada apa yang pernah dilakukan Ahmad Tohari. Tetapi, dalam soal kemiskinan yang coba disuguhkannya, bayangan saya melayang jauh pada nasib yang sama yang dialami warga India, sebagaimana yang pernah ditulis Mulk Raj Anand atau Romen Basu.
***

Sesungguhnya banyak hal menarik yang menjadi kekuatan dan kekhasan antologi cerpen ini. Secara tematis, tentu saja antologi ini –harus diakui—telah ikut memperkaya tema cerpen Indonesia kontemporer. Mengingat gayanya yang realis, Olyrinson seperti berjalan sendiri di antara deretan cerpenis seangkatannya yang cenderung mengabaikan gaya itu. Dengan demikian, antologi cerpen ini, terasa seperti asing dan aneh sendiri.

Saya gembira membaca antologi cerpen ini, meskipun kadangkala dibuat jengkel oleh tema-temanya yang seperti menohok dan menggugat rasa kemanusiaan saya.

Bojonggede, 15 Juni 2006

Robohnya Negeri 1001 Malam

Moh Samsul Arifin*
http://www.jawapos.com/

Inilah buku yang memotret sebuah perang paling berdarah –sekaligus menyita perhatian manusia di kolong langit– di ufuk milenium baru. Dua jurnalis MBM Tempo, Rommy Fibri dan Ahmad Taufik memburu segepok peristiwa yang mengiringi kejatuhan Rezim Saddam Husein dan luluh lantaknya tanah Irak selepas diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua jurnalis itu membuat reportase basah, di mana detail peristiwa dirawat bak menimang bayi dan jalinan peristiwa diudar dengan perspektif kuat bertopang sejarah.

Saking basahnya, pembaca terkadang seperti melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang diceritakan dalam buku ini. Dibuka dengan reportase ihwal robohnya patung Saddam dan dipungkasi prosesi serta kronologi eksekusi terhadap Saddam, buku ini menyingkap nyaris utuh potret konflik Irak sekaligus kehidupan sosial di negeri yang dikoyak desing peluru tersebut.

Perang Irak atau lebih tepatnya penaklukkan Irak dapat dikatakan sebagai kemenangan absurditas yang mendompleng pada kecintaan pada martabat kemanusiaan. Dengan alasan absurd, hingga kini belum terbukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah masal, AS jumawa menerjunkan bala tentara untuk membungkam kekuasaan Saddam yang tak tergoyahkan selama hampir 2,5 dekade. Rezim otoriter yang berdiri di jantung Arab itu memang limbung, tapi bukan tertib yang didekap. Negeri seribu satu malam ini justru terbenam pada konflik internal yang menghadap-hadapkan kelompok Sunni dan Syiah untuk mengangkat senjata!

Momen yang paling liris, tatkala Rommy Fibri menceritakan kejatuhan Irak yang disimbolisasi dengan robohnya patung Saddam Hussein di perempatan Firdaws, Bagdad, 9 April 2003. Saat itu pasukan AS merangsek ke Bagdad dari segala penjuru. Sore hari pasukan AS sudah menguasai kota, tepatnya di Firdaws Square, jantung Bagdad. Puluhan mujahidin (milisi), pertahanan terakhir setelah Garda Republik, sudah menanggalkan senjata, tanda menyerah.

Tentara Amerika masuk Bagdad seperti pahlawan. Penduduk mengelu-elukannya serasa menghirup kebebasan. Patung Saddam di tengah kota hendak dirobohkan, tapi tangan kosong jelas tak mampu. Terpaksa, hanya untuk merobohkan patung Saddam, tentara Amerika harus turun tangan. Dengan sebuah tali yang diikatkan pada leher dan ditarik dengan kendaraan lapis baja armored personal carrier (APC), patung itu roboh. Ironis!

Dan, dengan masygul, Rommy –jurnalis Indonesia yang pertama masuk Irak pada 2003– menulis: Saya tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, karena saya yakin ”bulan madu” ini hanya berusia sementara. Kelak, penduduk Bagdad akan menyadari apa artinya ”diduduki Amerika”, meski saat ini mereka tengah merasa ”terbebas dari Saddam” (hlm. 7).

Kemasygulan yang terbukti belakangan. Bahkan, hingga kini Amerika masih betah dan berencana memarkir pasukannya di Irak hingga 2011. Rencana yang memicu puluhan ribu penduduk Bagdad –sebagian besar pendukung ulama Muqtada Sadr– berdemo (18/10/2008) meminta Amerika hengkang dari Irak.

Di negeri Muslim seperti Indonesia, Saddam menonjol sebagai ikon perlawanan terhadap Barat, wabil khusus Amerika Serikat. Namun, dua jurnalis yang berpengalaman meliput di daerah konflik ini tak hendak menajamkan pandangan yang melupakan sosok utuh dari seorang Saddam, termasuk sisi gelapnya yang kurang digali. Maka, Rommy Fibri pergi ke Irak Utara hingga menyentuh Halabja. Di sinilah, monumen keberingasan rezim Saddam dapat disaksikan. Semasa berkuasa, rezim Saddam menumpas orang Kurdi menggunakan senjata kimia seperti bom napalm. Ini karena rezim Saddam yang ditopang Partai Baath kehilangan akal melawan para gerilyawan Kurdi yang militan.

Selidik punya selidik, ternyata militansi suku Kurdi itu tak lepas dari hasil tempaan alam yang keras. Maklum, tanah yang mereka diami membentang dari jajaran Pegunungan Zagros, Taurus, Pontus, hingga Amanus. Dikejar-kejar terus oleh penguasa politik di Bagdad, orang Kurdi tumbuh menjadi nomaden yang tangguh dan sanggup bertahan di daerah-daerah sulit (hlm. 97-98). Bayangkan saja, seorang Kurdi bernama Shinroe Damarkhan di usia 70 tahun masih bisa naik turun gunung dikawani 20-an ekor biri-biri seharian dengan hanya makan daun-daunan. Dari posisi selalu dikejar-kejar, kini suku Kurdi menapak ke pucuk kekuasaan Irak tatkala Jalal Talabani terpilih sebagai Presiden Irak pada awal 2005.

Reportase ini dilakukan Rommy dengan mengumpulkan keping demi keping fakta dari sumber primer, meskipun tak melupakan warga biasa secara selektif. Alhasil, kita bisa mendapatkan laporan yang kaya perspektif dan hidup. Dan, ini dia lakukan pula ketika berkunjung ke Najaf, Kufah, dan Karbala –sebuah lokasi yang selalu mengingatkan orang Syiah ihwal tragedi berdarah 1.300 tahun silam. Syiah yang digencet habis-habisan di masa Saddam, sekarang muncul sebagai salah satu kekuatan utama dalam politik Irak.

Sedangkan Ahmad Taufik mengudar Irak yang tengah menggelarpemilu –proses politik yang menentukan Irak saat ini. Dari perhelatan ini, bisa disaksikan bahwa warga Irak tergolong antusias menyalurkan hak politiknya, terbukti pada pemilu pertama pasca-Saddam ini, 72 persen warga mengikuti pemungutan suara. Dan, sontak bandul politik Irak beralih ke partai beraliran Syiah di bawah pengaruh ulama kharismatik, Ayatullah Ali al-Sistani. Kurdi pun menjulang, melampaui Partai Sunni. Sebuah reposisi yang kelewat biasa, tatkala penguasa lama tumbang, maka partai penerusnya atau sehaluan kerap diacuhkan oleh rakyat. Dalam kacamata positif, pemilu ini menyumbang bagi tumbuhnya tradisi baru akan medan perebutan kekuasaan yang lebih terkelola, rutin, dan nirkekerasan.

Di bagian akhir, diungkapkan perjalanan Saddam Hussein dari pengadilan hingga eksekusi mati. Inilah kisah yang paling memilukan dari seorang pria Tikrit berhati singa. Saddam yang begitu super sejak muda, harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan pada 30 Desember 2006. Sejumlah versi menyatakan, Saddam menjemput ajalnya dengan gagah berani. Setidaknya itu kesan yang tertangkap kala jaringan televisi CNN dan BBC menyiarkan, sebelum tewas di tiang gantungan, Saddam mengatakan, ”Inilah akhir hidupku. Aku mengawali hidupku sebagai pejuang, karena itu kematian tak menakutkanku” (hlm. 178).

Buku ini akan menambah perbendaharaan kita untuk memahami sepotong sejarah Irak antara 2003-2005. Tapi, ada dua kekurangan buku ini. Pertama, kedua jurnalis itu tampak tidak terlalu bernafsu untuk menguliti dampak perang terhadap kehidupan warga sipil –mereka yang selalu menjadi pihak pertama yang dikalahkan oleh sebuah pergolakan politik dan peperangan. Memang ada dua bab, yakni ”Serangan dan Korban” serta ”Kesaksian dari Hotel Palestine” yang berupaya menceritakan runyamnya warga sipil, termasuk jurnalis yang terhimpit di medan perang. Namun, dua bab ini tak sanggup meyakinkan saya ihwal kengerian dan dampak merusak dari sebuah peperangan yang menewaskan jutaan warga sipil Irak.

Kedua, buku ini diterbitkan 3-5 tahun setelah peristiwa atau reportase dilakukan. Akan sangat orisinil jika buku ini diterbitkan tak terlalu jauh dari saat reportase, sehingga seluruh fakta yang diungkap dan analisis tidak jatuh menjadi justifikasi. Kemasygulan Rommy Fibri, misalnya, ketika menyindir perilaku penduduk Bagdad saat merobohkan patung Saddam (2003) akan lebih mengena ketika dituliskan pada tahun itu juga. Namun, tak apalah, karena pembaca terpuaskan dengan ragam cerita yang menopang buku ini.(*)

*)Anggota Klub Buku dan Film SCTV
Judul Buku: Detik-Detik Terakhir Saddam
Penulis: Rommy Fibri dan Ahmad Taufik
Penerbit: Pusat Data dan Analisa TEMPO, Jakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii + 191 Halaman

Tan Malaka dan Buku-Buku Penjebol Wacana

Mohammad Afifuddin*
http://www.jawapos.com/

SEBAGAIMANA diutarakan Goenawan Mohamad, pada hari-hari dalam bulan Agustus 1945, yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik. Hindia Belanda sudah tidak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikan juga baru saja kalah. Yang ambruk adalah sebuah wacana.

Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi, yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan dan sebaliknya, membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ”kami, bangsa Indonesia” -apalagi sebuah ”kami” yang bisa ”menyatakan kemerdekaan” (Tempo, 8/09).

Ya, Agustus adalah puncak gelora revolusi. Jika kemudian sebuah revolusi dimaknai sebagai ”menjebol dan membangun”, yang dijebol adalah wacana kolonial, sedangkan yang dibangun adalah wacana kebangsaan, keindonesiaan: kami adalah bangsa Indonesia.

Terkait hal itu, ungkapan ”pengetahuan adalah kekuasaan” dari Francis Bacon, tampaknya, benar-benar diresapi oleh Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Moh. Yamin, Sukarni, Chairul Shaleh, dan para tokoh pergerakan lainnya.

Misalnya, Sjahrir yang tekun membaca Immanuel Kant, Karl Marx, John Stuart Mill, hingga Ortega Y. Gasset membawanya pada kesimpulan, ”Timur makin memerlukan ilmu pengetahuan dan rasionalisme Barat. Timur tidak lagi memerlukan mistisme dan kepasrahan yang membuatnya menderita.”

Kemudian, Mohammad Hatta suatu saat menulis esai Hindiana! Esai itu berkisah tentang seorang janda kaya bernama Hindiana. Dia menyesal menikah dengan Wollandia karena suami barunya itu mengeruk habis harta Hindiana. Alegori dalam esai Hatta tersebut membuat pemerintah kolonial gelisah dan tak mengira seorang pribumi muda mampu menulis sarkasme seperti itu.

Di antara para tokoh tersebut, yang paling fenomenal sekaligus paling dilupakan adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lewat tulisan yang berjudul Naar de Republiek (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, Tan Malaka adalah orang pertama yang menggulirkan pemikiran secara tertulis tentang konsep berdirinya negara-bangsa bernama Republik Indonesia. Gagasan itu jauh lebih dulu daripada pemikiran serupa yang dituliskan Hatta dalam Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka): pleidoi Hatta di depan Pengadilan Belanda di Den Haag pada 1928 maupun Menuju Indonesia Merdeka yang ditulis Soekarno pada 1933.

Tan Malaka juga merupakan prototipe pejuang kemerdekaan yang militan dan punya kemampuan lengkap: cerdas dan kreatif di level gagasan, tapi juga cekatan dan ulet dalam mengorganisasi massa rakyat. Tan membuktikannya dengan menulis buku-buku revolusioner, inspiratif, sekaligus membangkitkan semangat anti kolonialisme. Di antaranya, Massa Actie, Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan Gerpolek.

Khusus untuk buku Massa Actie (terbit 1926), diakui terus terang oleh tokoh pergerakan dan bapak bangsa lain menjadi inspirasi utama bagi mereka untuk meneguhkan idealismenya dalam mengusir penjajahan dari bumi Indonesia. Bahkan, bagi Soekarno, buku itu merupakan ilham sekaligus bahan kutipan untuk menyusun Indonesia Menggugat: pleidoinya yang akhirnya sangat tersohor itu. Tak ketinggalan, frasa ”Indonesia tanah tumpah darahku” dalam lagu Indonesia Raya diakui oleh W.R. Supratman diambil dari bagian akhir buku Massa Actie.

Selama 51 tahun hidupnya, Tan menjelajahi tak kurang dari 21 tempat dan 11 negara dengan kondisi sakit-sakitan serta pengawasan ketat agen-agen Interpol. Mulai Minangkabau (tanah kelahirannya) hingga melanglang buana ke Belanda, Jerman, Inggris, Moskow, Filipina, Burma, Beijing, Thailand, dan kembali lagi ke Indonesia untuk bergerilya ke Banten, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Jogjakarta, hingga tewas ”dibunuh” di Kediri pada 21 Februari 1949. Semua petualangan dan pengorbanan itu dilalui demi satu hal: kemerdekaan Indonesia.

Dalam proses tersebut, Tan juga menghasilkan 23 karya tulis yang turut menerangi obor revolusi. Di antaranya, Parlemen atau Soviet (1920), Si Semarang dan Onderwijs (1921), Naar de Republiek Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Manifesto Bangkok (1927), Aslia Bergabung (1928), Madilog (1943), Muslihat (1945), Thesis (1946), Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), dan Gerpolek (1948).

Sebagaimana diwartakan majalah Tempo (17 Agustus 2008), semua fakta perjalanan hidup Tan Malaka tersebut diungkap oleh sejarawan Belanda Harry Albert Poeze dalam buku setebal 2.200 halaman yang berjudul Vurguisd en Vergeten, Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie (Tan Malaka, Dihujat, dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia).

Bak pedang bermata ganda. Di satu sisi, buku itu adalah ensiklopedia lengkap tentang Tan Malaka yang akan memudahkan kita mempelajari sepak terjang Tan Malaka dalam merintis berdirinya republik ini. Di sisi lain, buku tersebut juga menampakkan ironi pemerintah Indonesia: alangkah malunya bangsa kita ketika mengetahui bahwa justru seorang sejarawan Belanda yang proaktif mengungkap sisi-sisi kepahlawanan Tan Malaka. Sedangkan pemerintah Indonesia tidak peduli sama sekali, bahkan seolah ingin menghapus nama Tan Malaka dari sejarah Indonesia. (*)

*) Bergiat di Lingkar Studi Filsafat Sense of Aufklarung Community PMII Jember.

Robert Desnos (1900-1945)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

SAJAK TERAKHIR
Robert Desnos

Begitu keras kau kumimpikan
Begitu banyak aku berjalan, begitu rupa bicara
Begitu kucinta bayang-bayangmu
Hingga bagiku dirimu tiada lagi tersisa
Tinggallah bagiku jadi bayang-bayang di antara bayang-bayang
Jadi seratus kali lebih bayang-bayang dari bayang-bayang
Jadi bayang-bayang yang datang dan datang berulang-ulang
Dalam hidupmu yang bersinarkan matahari.

{dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, cetakan II, 1975}

Robert Desnos (4 Juli 1900 - 8 Juni 1945), penyair Prancis berperan penting pergerakan surealistik di jamannya. Lahir di Paris putra pemilik kafe, kolumnis sastra surat kabar Paris soir.
Puisinya pertama muncul di media tahun 1917 di La Tribune des Jeunes, 1919 di avant-garde review dan Le Ciri d’serikat. Pada 1922 terbit buku pertamanya, koleksi surealistik aforisme berjudul Rrose Selavy.

1919 bertemu Benjamin Péret yang memperkenalkan kelompok Dada Paris dan André Breton. Bersama Louis Aragon, Paul Éluard membentuk barisan depan sastra surealisme.

1926 menulis The Night of Loveless Nights; puisi liris dalam kuatrain klasik. Jatuh cinta dengan penyanyi Yvonne George, mempersembahkan beberapa puisi baginya serta novel surealis La liberté ou l’amour!

Menulis artikel Perumpamaan Modern, Avant-garde Cinema (1929), Pygmalion, Sphinx (1930). Kariernya di radio tahun 1932, acara yang didedikasikan Fantomas. Selama itu berjumpa Picasso, Hemingway, Artaud, John Dos Passos.

Menulis di majalah Litterature, La Révolution surréaliste dan Variétés. Menerbitkan tiga novel, Deuil pour deuil (1924), La Liberté ou l’amour! (1927), Le vin est ban (1943); drama La Place De La ‘Etoile, (1928; direvisi 1944) skrip film, L’ Etoile de mer (1928) disutradarai Man Ray.

Dalam Perang Dunia II, anggota aktif Perlawanan Perancis dengan berbagai nama samaran, ditahan Gestapo 22 Feb 1944. Pertama dideportasi ke kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz Polandia, Buchenwald, Flossenburg Jerman, akhirnya Terezín, wilayah pendudukan Cekoslowakia 1945, di mana Desnos meninggal (dalam “Malá pevnost” tahanan politik).

Menikahi Youki Desnos, sebelumnya Lucie Badoud, dijuluki Youki artinya salju oleh kekasihnya Tsuguharu Foujita, sebelum meninggalkan suaminya demi Desnos. Menggurat beberapa puisi baginya, yang terkenal Surat untuk Youki, ditulis setelah penangkapan. Dimakamkan di Montparnasse Paris. {ringkasan terjemahan dari //en.wikipedia.org/).
***

Desnos dijebloskan ke kamp konsentrasi Nazi atas corak tulisannya membahaya, dan bergonta-ganti nama serupa bayang dipengaruhi cahaya perlawanan.

Atau dengan bayang-bayang dirinya ingin lepas dari ikatan kesadaran yang berkecamuk dalam peperangan.

Dapat dibilang nalar surealis mampu bertahan sedari keriuhan intrik politik, fitnah kebencian antara sesama.

Nalarnya mencipta dalam kondisi kemerah menelisik bagai bara tidak tertangkap, namun menentukan suhu udara sekitarnya.

Yang bertumpuk sengkarut diluruskan dengan tekukan mengagumkan perasaan pun menggugah fikiran tegak antara terpaan badai hayat melantakkan kemanusiaan.

Aliran surealis angkat kenyataan ke panggung tak terpecah oleh keterkejutan datangnya mimpi tidak tersangka.

Dalam tidur atau setengah, dialognya mengguna alat indrawi pun non indrawi, dibuhul ke sebuah karya menembus kelanggengan yang masih diselimuti kabut kehidupan.

Bukan mengada-ada tampilan berangkat dari dasar terdalam bersatunya nalar-hati akal-perasaan, wataknya selalu mewarnai perubahan bergolak menggelinding setiap jaman.

I
Kini kumulai tafsirkan puisi Desnos dua baris dua baris, semoga berkenan: kerasnya hidup dipenuhi keganjilan nyata, yang bersulaman benang sulit ditangkap secara cermat.

Hanya perkiraan menggapai realitas, meski sampai tetap bersimpan anomali. Betapa keras perjuangan menuju impian di ujungnya lelah istirah membuyar, menggayuh usaha mendapati kehadiran.

Rasa nikmat pengertian masih dihantui perasaan lain mencari, betapa jalanan dilalui naik-turun menikung-mendaki, kaki-kaki membatu tetap tergoda angan jauh.

Mengejar suara berpantulan ke tebing-tebing jurang tiada tertangkap jasad. Begitulah mengada, memetik hayat satu persatu dengan rupa selagi bicara tetapi masih tertutupi kebodohan, kepicikan pula kesilapan.

Desnos berusaha mengangkat batu tinggi-tinggi mengharap jawaban tubuh juga orang lewat. Di kedalaman dirinya memanggul daya yang kadang sirna lantas kemuncul.

Kesadaran dan angan jauh ke batas diimpian, bimbang menelusup pelahan, keraguan suatu saat jadi musuh bebuyutan bagi tak tega memenggal pahit perpisahan.

II
Meski bersahabat Picasso telisiknya tetap surealis, bukan bentukan kubisme di mana sajak menjelma pahatan kata tentukan irama makna.

Ruh ruhaniah puitika dikejarnya, warna mengambang sebayangan awan ikuti gairah kesemangatan gagasan.

Kecintaan pada sosok wanita kesetiaan jalan pencarian pribadi, leburkan diri tak tersisa. Bukan kesungguhan lagi tapi kepasrahan bergelayut prosesi persembahan.

Bayang-bayang hasil kebendaan ditimpa cahaya dan tetap hidup meski tiada perhatikan, getar lembutnya atas tiupan bayu. Maka selain cahya, hasrat tentukan membayang atau menyuntuki ketenangan.

Tempat lain bayang-bayang berarti angan dikehendaki, kedekatan kasih memungkinkan berpadu seirama yang diharap mendekat sendiri, dalam pergumulan mesra jiwa-jiwa mengeja demi terejawantah.

Umpama pertemuan awal keberuntungan tengah terjadi. Desnos menukar tubuh dengan bayangan pengertian dan pemahaman jadi mengetahui yang digayuh melestarikan nilai.

III
Desnos menjelma pergerakan, ketentuan sikap perjelas faham dijalur sesak pandangan kawan maupun lawan. Sedesas-desus menanjak sekasuistik tebarkan polemik.

Hidup sebayang-bayang nilai antara nilai, buku-buku tertata rapi di perpustakaan nalar manusia bergerilya fikirannya dalam kancah perubahan.

Membiak kesatuan pergerakan surealis, memberontak nalar profan menghapus jejak mental korup bersegala jiwa sepaduan warna senja pun fajar kemerah.

Mungkin sajak tersebut selepas penangkapan, dijebloskan di penjara dikurung masa tak tentu bebasnya.

Tubuh terkucil pengaruhi bayang keabadian sederajat nalar mendidih sebara api revolusi terombang-ambing angin realitas serta impian jauh.

Perjuangan kehendak total segairah bathin menentukan nilai tetap ada, seperti bayang mewangi atas kehadiran malam bersedekap hangat.

Dan pengertian ribuan kali perjuangan digasak realitas kian nanar, menghujam pedas menghuni keyakinan.

IV
Kehadirannya menyerupai bayang-bayang niscaya, tatkala masih menggunakan indra perasa pun mata.

Wujudnya mengikuti benda atau niatan kuat mandek menstupa, sedari segugus pemahaman silih berganti atas empunya, bisa juga keduanya berpengaruh.

Jikalau diambil garis pintas, Desnos leburkan diri dalam kuasa matahari, keseluruhannya menghidupi bayangan di bumi.

Inilah makna balik kesungguhan mendekap bayang berkehendak menjelma bayangan terus menghidupi makna kehadiran cahaya.

Demikian kutafsir, andai ada yang lewar (keluar) kuharap bukan kekenesan, tapi usaha merangkul pengertian guna tiada luput pengamatan, syukur bila dapat memberi kesegaran dalam menggumuli hayat.

Hadiah bagi Gerilyawan Sastra

Anwar Siswadi
http://www.tempointeraktif.com/

Penerbitan buku-buku sastra berbahasa daerah jumlahnya mengalami pasang-surut, paling tidak dalam 10 tahun terakhir. Tapi, Hadiah Sastra Rancage terus bergulir. Tak terasa, 22 tahun sudah penghargaan khusus itu diberikan bagi para penulis, pembuat lagu, juga budayawan daerah.

Inilah bentuk penghormatan dari sastrawan untuk sesama rekannya tatkala pemerintah tak melirik upaya gerilya mereka dalam mempertahankan pemakaian bahasa ibu.

Rancage, dari bahasa Sunda yang berarti kreatif, dirintis oleh sastrawan Ajip Rosidi, 72 tahun, pada 1989. Semula, penghargaan karya sastra modern berbahasa daerah itu hanya diberikan untuk buku-buku berbahasa Sunda. Sejak 1994, hadiah itu juga diberikan untuk sastrawan Jawa, Bali, mulai 1998, dan Lampung pada 2008. Sampai hari ini, penghargaan karya sastra itu masih diberikan untuk empat daerah tersebut. "Daerah lain tidak ada yang menerbitkan buku baru," kata Ajip kepada Tempo akhir pekan lalu.

Selama lima tahun awal, uang hadiah senilai Rp 1 juta kepada setiap pemenang dirogoh dari kocek Ajip sendiri. Uang hadiah semakin besar sejak Yayasan Budaya Rancage berdiri dan donatur bertambah. Kini, Hadiah Sastra Rancage 2010 berupa piagam penghargaan dan uang hadiah masing-masing Rp 5 juta akan diberikan kepada tujuh pemenang. Upacara itu akan dilakukan pada Mei mendatang di Universitas Negeri Yogyakarta.

Tiga juri, yang terdiri atas Ajip Rosidi, Sri Widati Pradopo, dan I Made Darma Putra, memilih pemenang berdasarkan buku sastra berbahasa daerah yang terbit sepanjang 2009. Buku cetak ulang tak masuk hitungan. "Tujuannya untuk mendorong pengarang yang masih hidup untuk terus berkarya," kata Ajip.
Dari 13 buku baru yang terbit di Jawa Barat, juri memilih kumpulan cerita pendek Sanggeus Umur Tunggang Gunung (Setelah Usia Lanjut) karya Usep Romli sebagai karya sastra Sunda terbaik tahun ini. Terbitan Kiblat Buku Utama itu berisi sembilan cerita yang melukiskan beragam masalah pembangunan yang dihadapi orang Sunda di perkampungan.

Tokoh-tokohnya membandingkan keadaan alam, lingkungan, hingga pikiran dan kehidupan sekarang dengan kondisi ketika mereka masih kecil. Tema seperti itu sebenarnya hampir mirip dengan karya-karya Usep sebelumnya. "Tetapi (kini) lebih matang dan inovatif," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Budaya Rancage itu.

Misalnya, pada cerita Neangan Pajaratan (Mencari Makam), yang kisahnya disampaikan oleh orang pertama, Usep tak memakai kata "kuring" (saya). Ajip menilai Usep memaksimalkan sifat bahasa Sunda yang dapat membentuk kalimat tanpa subyek. Juri juga menilai seluruh ceritanya mengalir lancar dan wajar. "Sehingga terciptalah dunia imajinasi yang khas sebagai sastra," ujarnya.

Di ranah sastra Jawa, dominasi sastrawan Jawa Timur masih muncul seperti beberapa tahun terakhir. Menurut juri Sri Widati Pradopo, ada 12 buku sastra baru yang terbit. Isinya berupa guritan (sajak), kumpulan cerita pendek, dan roman. Menariknya, penulis bahasa Jawa itu tak hanya berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi juga ada yang tinggal di Jakarta dan Depok. Hadiah Sastra Jawa akhirnya jatuh ke tangan Sumono Sandi Asmoro.

Penyair dalam buku Layang Panantang terbitan Balai Bahasa Surabaya itu, kata Sri, menunjukkan keberanian memilih dan merambah pengalaman berbagai jiwa dengan teknik ekspresi yang tepat. "Semuanya dengan kesadaran bahwa keindahan harus selaras dengan bobot pikirannya," kata periset di Balai Bahasa Yogyakarta itu.

Sedangkan sastra Bali, walau hanya ada sembilan buku baru, keistimewaannya lebih riuh. Kumpulan puisi Gerip Maurip Ngridip Mekedip karya I Nyoman Manda, misalnya, terdiri atas 3.500 halaman! "Dalam bahasa Bali modern maupun dalam bahasa Indonesia, tidak pernah ada kumpulan sajak seorang penyair yang setebal itu," ujar juri I Made Darma Putra.

Manda selama ini dikenal sebagai pengarang produktif yang menghasilkan sajak, roman, cerita pendek, dan naskah drama. Redaktur dua majalah berbahasa Bali, yaitu Canangsari dan Satua, itu dalam bab III khusus memuat terjemahan karya para penyair Indonesia, mulai Sanusi Pane, Amir Hamzah, hingga Afrizal Malna dan Oka Rukmini ke dalam bahasa Bali.

Peraih hadiah Rancage pada 1998, 2003, dan 2008 itu juga menerjemahkan beberapa karya penyair Jerman, Australia, Afrika Selatan, dan Malaysia. Adapun karya Manda, lebih dari 2.000 sajak, dicetak di Bab I-II. Temanya beragam dari kenyataan sehari-hari dan hangat di koran, mulai komersialisasi budaya akibat industri pariwisata, korupsi, kampanye pemilu, sinetron, kasus Tukul Arwana, Prita Mulyasari, sampai peristiwa luar negeri.

Namun, juri menilai kualitas puisinya tidak merata. "Ada yang kuat penuh renungan dan sinisme yang tajam, tapi banyak yang mirip catatan pojok koran," kata Made Darma. Baginya, cerita pendek Leak Pemoroan karya I Wayan Sandha dalam kumpulan tujuh cerita pendek berbagai pengarang lebih menonjol. Juri pun memilihnya sebagai penerima hadiah Rancage 2010.

Leak Pemoroan berkisah tentang ketabahan pencari belut menghadapi gangguan setan di malam hari. Dia tidak takut menghadapi manusia jadi-jadian dan menyerangnya sampai mati. Lukisan suasana malam dan perang melawan setan, kata Made Darma, ditulis dengan deskripsi yang kuat. Bahasa yang digunakannya nyeleneh, tapi mampu menggali masalah dan menggambarkan watak tokoh cerita. Sandha dinilai menulis 41 ceritanya dengan narasi dan konflik yang kuat.

Kritik pedas dalam 41 cerita di dalamnya pun terlontar dengan bahasa yang jernih. Dalam cerita Wisian Bank Dunia, ujar Made, pengarang mengkritik pola multi-level marketing sambil menyentil, "Ah, gara-gara Bank Dunia iraga nepukin soroh jelema dot sugih kuala tusing bani ngetélang peluh." (Ah, gara-gara Bank Dunia aku menemukan kelompok manusia yang ingin kaya tapi tidak berani meneteskan peluh). "Pemakaian perumpamaan atau kiasan juga tepat sehingga membuat sketsa kehidupan ini memiliki aroma sastra yang kental," kata Made Darma.

Kumpulan cerita pendek pula yang mengantar sastrawan Lampung Asarpin Aslami untuk meraih Hadiah Sastra Rancage 2010. Karyanya dalam Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong itu menyisihkan pesaing tunggalnya, yaitu buku kumpulan 57 sajak bertajuk Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya. Juri menilai seluruh sajak mahasiswa jurusan fisika di Universitas Lampung itu masih mentah. Peristiwa sehari-hari yang dituangkan lewat kata-kata sederhana dinilai tak mampu merangsang pembaca untuk merasakan hal yang sebenarnya.

Cerita-cerita dari Bandar Negeri Semuong, yang memuat 17 cerita pendek, menuturkan berbagai kebiasaan, tata cara, adat istiadat, perilaku, dan polah masyarakat di Bandar Negeri Semuong, sebuah kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Lulusan Institut Agama Islam Negeri Raden Intan ini dianggap mampu menggambarkan budaya tradisional, seperti kebiasaan ibu-ibu mengumpulkan kayu bakar di kampung dan siahan atau kebiasaan pemuda yang berbisik di balik dinding rumah gadis pujaannya. Juri sepakat, buku Asarpin ini merupakan kumpulan cerita pendek modern pertama dalam bahasa Lampung yang banyak mengandung nilai-nilai tradisional dan modern.

Hadiah Sastra Rancage kali ini juga diberikan bagi orang-orang yang berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan bahasa daerah. Mereka adalah Karno Kartadibrata (bahasa Sunda), Bonari Nabobenar (Jawa), dan Agung Wiyat S. Ardhi (Bali).

Karno Kartadibrata dinilai berjasa besar memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan sosial politik. Tulisan Wakil Pemimpin Redaksi Mangle--majalah mingguan berbahasa Sunda--itu rutin hadir sejak 1977. Sorotan lelaki kelahiran Garut, 10 Februari 1945 tersebut menghubungkan situasi masyarakat di sekelilingnya dengan keadaan masa lampau atau masyarakat selain Sunda. Meskipun kadang-kadang tulisannya berulang atau seperti kehilangan arah, juri menilai pekerjaan menulis selama lebih dari 30 tahun itu adalah prestasi tersendiri. Bahasa Sunda pun tak hanya terpakai untuk sajak, puisi, atau cerita pendek saja.

Selain menulis di koran, bekas wartawan surat kabar Harapan Rakyat dan Harian Kami itu pernah menerbitkan sajak berjudul Lipstick (1981) dan Parfum (1997).
Sedangkan orang yang dinilai berjasa dalam kesusastraan Jawa modern tahun ini disandang Bonari Nabobenar. Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya itu dinilai aktif di Sanggar Triwida dan mengikuti berbagai diskusi sastra Jawa dan Indonesia semasa kuliah. Lulusan jurusan bahasa dan sastra indonesia IKIP Surabaya--sekarang Universitas Negeri Surabaya--itu kemudian mengembangkan sastra Jawa di tempat kelahirannya, Trenggalek, Jawa Timur.

Redaktur tabloid X-File kelahiran 1 Januari 1964 itu dan beberapa orang kawannya pernah melakukan gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman. Selain menulis guritan (sajak), cerita pendek, dan esai, mantan guru SMP tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi fasilitator penulisan kreatif tenaga kerja wanita Indonesia di Hong Kong.

Jasa Agung Wiyat S. Ardhi dalam melestarikan sastra Bali di antaranya lewat kegiatan menulis puisi, cerita pendek, juga naskah drama sejak 1976. Sastrawan kelahiran Gianyar, Bali, 3 Februari 1946 itu juga aktif dalam pembinaan bahasa, aksara, dan sastra Bali sejak 2000. Sasarannya adalah kelompok guru, pelajar, dan ibu-ibu PKK. Adapun di lingkup sastra Bali tradisional, Agung Wiyat banyak menyalin dan menguraikan arti bagian-bagian epos Mahabharata dan Ramayana.
Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, kata Ajip, tahun ini urung diberikan.

Dari empat judul buku karangan Aan Merdeka Permana, semuanya berisi dongeng sasakala atau legenda tentang Cadas Pangeran, Candi Cangkuang, Kerajaan Arcamanik, dan Padjadjaran. Dalam dongeng itu, penulis di antaranya mencantumkan tahun kejadian yang tak jelas sumbernya sehingga dikhawatirkan menimbulkan salah pemahaman di kalangan pembaca anak-anak.

Hadiah Sastra Rancage lahir dari keprihatinan karena pemerintah kurang memperhatikan sastra dan bahasa daerah. Padahal, sesuai dengan amanat konstitusi, kata Ajip, pemerintah bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian identitas nasional itu. "Sampai sekarang pemerintah belum pernah membeli karya-karya pemenang Rancage," katanya. Walau begitu, Ketua Dewan Pengurus Rancage Erry Riyana Hardjapamekas mengaku tak ambil pusing. "Asalkan pemerintah enggak ngerecokin aja, itu sudah bagus," ujarnya.

Mencari Rumah Sastra Indonesia Di Bangka Belitung

Rakhmat Giryadi
http://www.surabayapost.co.id/

Jika ke huma membawa pepah
Pepah bertiti berpagar duri.
Alamnya indah rakyatnya ramah
Inilah Negeri Laskar Pelangi

PANTUN di atas diucapkan Gubernur Bangka Belitung H Eko Maulana Ali pada awal sambutan. Sontak ruang Mahligai Serumpun Sebalai riuh rendah oleh tepuk tangan hadirin, para sastrawan seluruh Indonesia.

Sang gubernur pun melanjutkan pantunnya, ”Andai tumbuh bunga di laman, Semat pinang mari menari. Wahai tuan para sastrawan, Selamat datang di negeri kami.” Pantun ini juga disambut tepuk tangan.

Ruang Mahligai Serumpun Sebalai merupakan bagian dari Gedung Badan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Air Itam. Letaknya di Jl Pulau Mendanau, sekitar 1 km dari Kota Pangkalpinang. Di tempat itulah, ’’Temu Sastrawan Indonesia II 2009’’ dibuka Kamis (30/7 malam dan berakhir Minggu (2/8) besok.

”Di tangan para sastrawan perkembangan peradaban bangsa dapat ditentukan. Sastrawan punya tanggungjawab besar untuk membantu proses pembangunan bangsa,” tutur Gubernur Eko Maulana Ali dalam kesempatan ramah tamah.

Malam itu, Gubernur Eko Maulana Ali menyambut para sastrawan dengan kekhasannya sebagai orang Melayu. Gubernur menyatakan, kehadiran sastrawan di Babel akan menjadi agent of change yang berperan membangun Bumi Serumpun Sebalai, Negeri Laskar Pelangi.

Selain musik gambus berirama Melayu, duet pantun Saad Toyid dan Karyo Kurawa menghibur para sastrawan. Keduanya dikenal duet pemantun yang sudah cukup dikenal di ranah Melayu. Kedua pemantun ini sempat meraih prestasi pemantun terbaik se-Asia Tenggara. Kehebatannya dalam berpantun ditunjukkan saat berbalas pantun dengan cerpenis Hamsad Rangkuti. Hamsad pun ’’knock out’’ di tengah jalan, karena kehabisan kata-kata untuk merangkai pantun.

Tidak kalah menariknya pembacaan puisi bahasa daerah Bangka oleh Wahar Saxsono. Meski sulit dicerna, pembacaan Wahar mendapat sambutan dari para sastrawan, karena penampilannya yang ekspresif.

Inilah yang kemudian dikatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Babel, Yan Megawandi, bahwa sastra lokal mempunyai andil besar dalam perkembangan sastra kontemporer Indonesia. Eksistensi sastra lokal, kata Yan Megawandi, harus dipertahankan sebagai bagian dari khazanah dan peta sastra Indonesia kini.

Usai perang pantun dan sambutan dari Yan Megawandi, para sastrawan disuguhi makanan khas Bangka. Kemplang (kerupuk), pantiaw, model, empek-empek, panekuk, otak-otak, dan tekwan yang disajikan secara prasmanan, ludes dilahap undangan.

Sebenarnya, nuansa Melayu sudah ditawarkan sejak menyambut sastrawan datang di Bandara Pangkalpinang, Depati Amir. Dengan pakaian adat khas Bangka Belitung, penjemput membentangkan karton bertuliskan ”Temu Sastrawan Indonesia 2.” Di lobi penjemputan bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II dan baru dibuka tahun 2007 lalu itu, dipasang bener bertuliskan Visit Bangka Belitung Archiphelago 2010.

Meski hanya memiliki satu trak, bandara Depati Amir tergolong sibuk. Dalam sehari, terdapat sepuluh kedatangan pesawat dari Jakarta. Sriwijaya air saja misalnya, Jakarta-Pangkalpinang pulang pergi mempunyai jadwal 4 kali penerbangan. Sementara maskapai yang lain, rata-rata mempunyai jadwal penerbangan 2 kali dalam sehari.

Sementara itu di hari tertentu dua maskapai lain datang dan pergi dari Palembang-Pangkalpinang. Inilah yang unik, mereka yang datang dari Riau, Lampung, Padang, yang datang dengan pesawat terbang, terpaksa harus lewat Jakarta baru terbang kembali ke Babel. ”Kalau lewat laut, bisa sampai 8 jam perjalanan,” cerita Tarmizi sastrawan Batam, Kepulauan Riau.

Temu Sastrawan Indonesia II diawali hari Jumat (31/7), membahas tiga tema besar. Antara lain ”Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas”, ”Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial”, dan ”Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subjek Pascakolonial”.

Dalam diskusi hari pertama kemarin, memang tidak terusmuskan kembali sastra Indonesia baik dalam definisi, sejarah, maupun identitasnya. Dalam kesempatan itu muncul pertanyaan sekaligus gugatan terhadap kanonisasi sastra yang dihembuskan oleh kelompok tertentu.

Kanonisasi sastra merupakan bentuk ’koloni’ baru bagi sastra Indonesia. Menurut Saut Situmorang, kanonisasi sastra Indonesia memiliki agenda politik terselubung, yaitu eklusivitas sastra. ”Politik ini menaifkan karya yang berada di luar kanon,” kata Saut.

Agus R Sarjono juga ragu-ragu merumuskan sastra Indonesia pascakolonial seperti apa. Persoalannya pembacaan sastra pascakolonial begitu rumit. Para ahli pun, menurut Agus, banyak berbeda pendapat mengenai istilah pasca, kolonial, dan pascakolonial.

Agus malah menggambarkan sastra Indonesia didominasi gambaran rumah yang hilang, retak, hancur, atau tak tergapai. Artinya, kata Agus, selepas kolonialisme para sastrawan Indonesia sebagaian besar tak berumah.

Kajian atas lahirnya bangsa sebagaimana direpresentasikan dalam novel Keluarga Gerilya (Paramudya Ananta Toer) dan Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), menurut Agus, berakhir pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah sebuah negeri tanpa rumah.

Keragu-raguan Agus berakhir pada harapan, ”Selepas pertemuan ini, ada baiknya para akademisi mulai bersungguh-sungguh mengkaji masalah ini agar kita mendapat gambaran memadai atas status pascakolonial sastra kita.”

Monginsidi, Chairil, Kartini

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Shot? so quick, so clean an ending?
Oh that was right, lad, that was brave
Yours was not an ill for mending,
’Twas best to take it to the grave
— A.E. Housman (1859-1936).

Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar, tanggal 5 September 1949.

Ada yang mencatat bahwa beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu memberikan maaf kepada regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Mungkin saat itu ia menukil Injil Lukas yang merekam apa yang dikatakan Yesus pada saat-saat penyaliban. Tapi mungkin juga ia—yang tak mau meminta grasi kepada pemerintah kolonial—sudah lama menerima apa yang datang bersama zamannya.

Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi—sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya—ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya ”sebagai bunga yang sedang hendak mekar… digugurkan oleh angin yang keras”.

Tentu ia berbicara tentang generasinya. Umur Robert Wolter Monginsidi baru 24 tahun. Seorang bekas gurunya, Sugardo, menuliskan kenangannya tentang Si ”Woce” di majalah Mimbar Indonesia 17 September 1949, dan dari sana kita tahu ia terakhir bersekolah di Sekolah Pertama Nasional di Jalan Goa 56—sekolah yang ditinggalkannya sejak Juli 1946. Sejak itu ia menghilang. Sejak itu orang tahu, dan berbisik-bisik, ia ikut memimpin pasukan gerilya di daerah Polombangkeng, pusat yang dipilih para pejuang kemerdekaan untuk melawan pendudukan Belanda di Sulawesi Selatan.

Pada suatu hari ia luka. Pada suatu hari ia ditangkap. Ia melarikan diri. Ketika ia ditangkap lagi, hukuman mati pun dijatuhkan oleh ”Raad van Justitie”. Empat bulan sebelum Kerajaan Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia yang telah dimaklumkan empat tahun sebelumnya, anak muda itu mati untuk Republik yang muda—untuk sebuah harapan yang belum punya kebimbangan.

Ia memang bagian dari apa yang digambarkan sebagai ”Revolusi Pemuda” oleh Benedict Anderson: babakan sejarah Indonesia ketika pemuda mengambil peran utama dan jadi mitos tersendiri. Ia termasuk sepucuk ”bunga yang sedang hendak mekar, [yang] digugurkan oleh angin yang keras”. Tapi ”angin yang keras itu” membuat yang dilakukannya dikenang, sebab pahlawan lebih cepat mati ketimbang tindakannya. Sejarah selalu menyimpan sesuatu yang menakjubkan pada laku manusia.

l l l

Penyair A.E. Housman pernah menulis sebuah sajak lain. Kali ini bukan untuk seorang anak muda yang tewas oleh senjata api, melainkan untuk seorang atlet yang mati muda: Dua baris yang selalu saya ingat dari To an Athlete Dying Young adalah kalimat ini:

Smart lad, to slip betimes away
From fields where glory does not stay

Sajak ini adalah sebuah tribut bagi sang atlet: ia anak pintar, smart lad, ia mati muda. Ia telah memenangi sebuah pertandingan, ia telah menerima tepuk tangan yang gemuruh, namanya telah jadi harum, dan pada saat itu ia pergi, meluputkan diri ”dari medan di mana kejayaan tak bertahan”, from fields where glory does not last. Seandainya ia hidup terus, akan ada atlet baru yang akan mengalahkannya dan mencopot kehormatannya sebagai sang johan. Kini dalam kematian ia selamat. Ia tak lagi tergabung ke dalam mereka yang pernah jaya tapi ”namanya mati sebelum orangnya”, ”the name died before the man”.

Tapi Housman tak seluruhnya benar. Nama tak selamanya mati sebelum yang empunya. Kejayaan tak selamanya gampang hilang. Harum nama Jesse Owens, pemenang empat medali emas di Olimpiade Berlin, tetap tak pudar meskipun Michael Johnson tercatat lebih unggul dalam Olimpiade Atlanta pada 1996 sebagai orang pertama dalam sejarah yang memenangi lomba lari 400 dan 200 meter sekaligus.

Memang, seperti tulis Housman dalam sajaknya, silence sounds no worse than cheers—diam yang menyertai mereka yang mati, sehabis ”bumi menutup kuping”—tak lebih buruk ketimbang tempik-sorak yang mengelu-elukan seorang juara yang hidup. Tapi itu karena di situ diam tak sendirian. Dalam kematian mereka yang telah melakukan sesuatu yang berarti, diam adalah sebuah sikap hormat. Tepuk tangan diberikan kepada sang hero—yang berubah, fana dan berdosa—tapi sikap hormat ditujukan buat tindakan yang heroik, dari mana inspirasi lahir dan tumbuh selama-lamanya.

Pahlawan adalah sesuatu yang berlebih. Sebuah komunitas tak dikukuhkan orang-orang hebat seperti dia, tapi oleh tindakan-tindakan hebat. Dengan kata lain: perbuatan baik. Monginsidi kekal bukan sebagai tokoh luar biasa, melain-kan sebagai kesediaan untuk berkorban bagi sebuah harapan bersama.

”Monginsidi”, dengan kata lain, jadi penanda sesuatu yang mengagumkan. The name does not die with the man.

l l l

Juga Chairil Anwar. Mungkin kebetulan, mungkin tidak, bahwa dialah yang menuliskan kalimatnya yang terkenal: ”sekali berarti, sudah itu mati”.

Ia menuliskan kata-kata itu dalam sajak Diponegoro, tapi tentu ia tak bermaksud merekam sebuah kejadian sejarah. Kita tahu Diponegoro, yang lahir pada tahun 1785, memimpin perang perlawanan ketika ia telah berusia 40 hingga ia dikalahkan Belanda lima tahun kemudian.

Kita memang bisa membayangkan maut hadir begitu rapat di sekitar sang pangeran di kancah perang abad ke-19 yang mengguncang kekuasaan Kompeni dan membawa korban 200 ribu manusia itu. Namun kata-kata ”sekali berarti (se)sudah itu mati”—kalimat dramatik yang menunjukkan dekatnya jarak antara perbuatan yang berarti dan hidup yang berakhir—agaknya tak berlaku buat riwayat hidup Diponegoro. Pemimpin perlawanan itu ditangkap dan dibuang ke Sulawesi dan baru wafat 25 tahun setelah itu. Ia sempat merampungkan otobiografinya dalam bentuk tembang. Usianya 70.

Mungkin ”sekali berarti, (se)-sudah itu mati” lebih tepat buat Chairil Anwar sendiri.

Ia meninggal pada usia 27 tahun. Ia tak memimpin gerilya dan ditembak mati regu eksekusi penguasa kolonial seperti Monginsidi. Tapi seperti anak muda yang aktif dalam perjuangan bersenjata di Polobangkeng itu, Chairil menimbulkan pertanyaan yang penting buat zaman ini: kenapa anak semuda itu bisa membuat sesuatu yang begitu berarti dan dikenang terus? Karena ”angin yang keras” tahun 1940-an?

Hanya dengan beberapa belas sajak, Chairil telah mengubah seluruh paradigma puisi Indonesia. Sejak karya-karyanya terbit, tak ada lagi penyair yang menulis seperti para sastrawan Pujanggga Baru pada tahun 1930-an menulis. Bagi saya sumbangannya untuk perombakan pandangan sastra dan dunia jauh lebih mendalam ketimbang sumbangan S. Takdir Alisjahbana, yang pernah mencemooh puisi Chairil sebagai ”rujak” belaka: segar tapi tanpa gizi.

Persoalan yang hendak dibawakan pandangan Chairil justru: apa salahnya ”segar”? Kenapa sesuatu harus dinilai dari segi ada atau tak ada ”gizi”? Tidakkah dalam ”segar” ada sesuatu yang lebih berarti—yakni hasrat untuk membuat hidup tak hanya dibebani Sabda dan Guna? Tidakkah dunia seharusnya selalu bagai ditemukan buat pertama kalinya, penuh kejutan yang menarik, seperti digambarkan Chairil dalam sajak pendek Malam di Pegunungan: sementara aku berpikir mencari jawab tentang sebab dan akibat, seorang ”bocah cilik” menemui hidup dengan ”main kejaran dengan bayangan”.

Kiranya memang hanya si ”bocah”—dan mereka yang masih punya ke-bocah-an dalam dirinya—yang tak takut untuk melakukan hal-hal yang ganjil: “main kejaran dengan bayangan”. Merekalah yang tahu akan sia-sia untuk berkejaran dengan hal-hal yang mustahil dikejar, tapi asyik. Mereka di luar batas.

Tak ada yang baru sebenarnya dalam soal ini—juga kece-masan orang tua dan para pendukung Sabda, Guna, dan Batas. Kita sering mendengar orang menyebut Sturm und Drang—yang berasal dari gerakan sastra Jerman abad ke-18, yang mengutamakan cetusan subyektif dan spontan dalam kreativitas untuk melawan kekuasaan nalar dan pengagungan sikap beradab pada masa itu—sebagai sebuah periode remaja. Dengan kata lain, sesuatu yang sementara dan tak serius.

Tapi kepada yang meremehkan yang muda itulah Werther, tokoh karya Goethe yang terkenal, Die Leiden des jungen Werthers (Kesedihan hati Werther Muda), membela diri: ia mengakui gairah dirinya selalu mendekati taraf tanpa nalar dan berlebihan, tapi ia tak malu. Ia percaya, banyak prestasi besar dihasilkan mereka yang dianggap mabuk dan edan (Wahnsinnige) oleh dunia.

Kreativitas memang memerlukan gairah dan satu dosis keedanan—itu sebabnya prosesnya bisa tampak tak tetap, melimpah ruah, penuh Sturm und Drang, deru dan desak, yang menyebabkan puisi Chairil—yang ditulis pada tahun 1940 ketika kekuasaan kolonial runtuh dan tentara pendudukan Jepang berakhir dan Indonesia baru berteriak sebagai bayi baru lahir—adalah bagian yang terkena ”angin yang keras”. Ia melampaui tata yang mati, meninggalkan apa yang disebut Rendra sebagai ”kebudayaan kasur tua”, mencetuskan imaji-imaji yang tak terkendali oleh adab, dan merupakan elan yang menjulang dan mengempas.

Memang hanya yang muda yang tak gentar hidup dalam gelombang.

l l l

Yang menarik dalam surat-surat Kartini bukanlah cuma isinya, melainkan juga gayanya. ”Gelombang” adalah kiasan yang tepat untuk gaya itu. Bahasanya tak datar, seperti ombak dengan badai yang terkadang tak segera kelihatan. Kita mendapatkan ekspresi hiperbolik di pelbagai sudut, terutama ketika ia dengan antusias melukiskan sesuatu atau menyanjung seseorang yang dicintai. Pelbagai kalimat seakan-akan harus berhenti dengan tanda seru.

Beberapa tahun setelah ia menuliskan surat-suratnya yang kemudian termasyhur itu—cerminan rasa gelisah dan protes perempuan yang hidup dalam masyarakat aristokrat Jawa pada akhir abad ke-19, observasi dan komentarnya tentang lingkungan kolonial yang timpang dan menekan, cita-cita pribadinya yang tak sampai—Kartini meninggal pada tahun 1904.

Umurnya baru 25.

Ia meninggal sebagai seorang ibu. Pada akhir hidupnya yang pendek ia istri kedua seorang bupati yang, betapapun terpelajar dan penuh kasih sayang kepadanya, tetap bagian yang jinak dari tata yang tertib.

Maka kisah Kartini jadi penting bukan karena heroismenya, melainkan karena kegagalannya: dialah perempuan yang mencoba menunggang gelombang—khas suara generasi muda—tapi terjebak dalam palung ke-tua-an. Dalam masyarakatnya, panutan adalah ingatan. Yang membentuk adalah pengulangan khazanah yang disusun generasi tua. Tradisi menentukan hampir segalanya.

Pandangan bahwa ”tua itu baik” itu bahkan berlanjut sampai hari ini. Dalam nyanyian nasional yang memujanya, Kartini dipanggil ”Ibu kita”, bukan ”sang pelopor”. Citranya tak lagi sebagai bagian dari sebuah pergerakan progresif, tapi sebagai pengayom struktur yang konservatif. Tak mengherankan bila Hari Kartini adalah hari ketika para perempuan berpakaian adat, bukan berpakaian pilot atau atlet angkat besi.

Dalam hal itu, nasibnya lebih buruk ketimbang Monginsidi. Pemimpin perjuangan bersenjata itu berakhir dalam mati, Kartini dalam ”tua”. Betapa menyedihkan: ia tak tampak sebagai seorang atlet yang mati muda. Simone de Beauvoir pernah mengatakan, lawan dari hidup bukanlah kematian, melainkan ketuaan. Jika kita ingin mengenang Kartini dengan baik, kita harus mengenang tragedinya.

22 Desember 2006

Aktivis Kamar yang Kreatif

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Sangatlah sulit mencari manusia kreatif. Tak segampang sekadar pengakuan diri: sayalah yang kreatif. Kreatifitas adalah praktik atau amal yang sangat menyehari.

Menjadi manusia kreatif niscaya dibutuhkan dalam hal penyelesaian masalah. Tiap sesuatu bila selesai secara kreatif akan tampak beda dibanding dengan penyelesaian masalah sebelumnya.

Mula-mula membaca rubrik Humaniora-Dedaktika, Susah Menjadi Guru Kreatif (Kompas, 20/04), saya tersadar sehabis membacanya. Kreatifitas tak melulu berguna bagi insan pers, artistik, iklan, entertain, dll, yang semua ini tergolong pekerja kreatif. Tapi kreatifitas pula menyelusup di tiap-tiap aras edukasi. Misalnya, agar siswa kreatif, maka itu tak luput dari sejauh mana kreatifitas gurunya.

Mencapai derajat kreatif, guru dituntut menanggalkan otoritas linearnya di kelas dalam mendidik siswa. Guru tak lagi bersikap laiknya instruktur kepada murid hingga ia leluasa dan memiliki kuasa memerintah. Jika guru memaksa melakukan tindakan itu, maka jelas akan menumpulkan daya kreatifitas murid/siswa.

Jika zaman dulu guru ditempatkan sebagai penceramah tunggal di kelas, kini sudah berbeda. Di kelas guru tak hanya tunggal dalam proses belajar-mengajar. Demi dalih kreatifitas, guru turut mengapresiasi siswa yang aktif-kreatif dalam proses belajar-mengajar. Sehingga, ada masa di mana sumber inspirasi pengetahuan tak selalu hadir dari guru, tapi juga bersumber dari siswanya.

Nyala kreatifitas haruslah dianggit atau diimajinasikan. Imajinasi dan kreatifitas bak uang yang memiliki dua mata sisi. Mata air kreatifitas bisa mengalir bila didekati dengan imajinasi. Kekuatan dasar kreatif tergantung seberapa kuat berimajinasi.

Di jagad penelitian pun, imajinasi memiliki andil penting. Menurut pengakuan peneliti Biologi-Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, agar penelitian itu dinamis maka peneliti niscaya berimajinasi. Hal itu, Hera buktikan dalam karya penelitiannya yang berjudul Keanekaragaman Genetik Manusia Nusantara. Pra-riset asal-usul nenek moyang Nusantara berbasis penelusuran DNA itu, Hera mengimajinasikan bagaimana mereka bermigrasi. “Saya membayangkan mereka berjalan dari Afrika, lalu ke Eropa, terus ke Asia Timur, India, dan masuk ke Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang ketika masih bersatu. Setelah itu meraka menyeberang ke Papua dan Australia. Sebagian ke Nusa Tenggara.”

Dirasa penting berimajinasi demi tampilnya daya kreatifitas. Sehingga, pekerjaan apapun yang dikerjakan itu seakan butuh sentuhan tangan-tangan kreatif. Tak hanya seorang guru dan peneliti melulu. Tak hanya pengecer jasa iklan, artististik, dan audio-visual saja. Tapi bagi seluruh lini-lini pekerjaan butuh kreatifitas. Di mana, pemantik kreatifitas tersebut bermula muncul dari kamar kerja yang imajinatif.

Imajinasi dan Kamar

Kencangnya arus informasi di dunia ketiga membuat siapa saja gampang mengakses apapun. Sekali klik berjibun-jibun data mudah teraup. Hal ini tak dapat ditampik, sebab kelaziman perubahan zaman (perubahan tekhnologi mengubah perubahan sosial) menghantarkan kemajuan manusia. Mc Luhan menuturkan runtuhnya sekat-sekat negara yang disebabkan gencarnya arus informasi. Semuanya mengklimaks menjadi warga global. Lebih rinci Mc Luhan menyebut zaman ini dengan global village.

Temuan Mc Luhan itu memicu asumsi bahwa apapun kini bisa dikerjakan dalam kamar. Jika saat Sekolah Dasar (SD), saya sering dipetuahi guru bahwa membaca membuka jendela dunia. Dengan membaca maka kita bakal tahu pengetahuan dunia. Ini mirip amal tesis Mc Luhan. Dunia dapat dipandang dengan sekadar melongok dari jendela dalam kamar. Kita bakal serba tahu seluruh informasi dunia dengan hanya berada dalam kamar. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar imajinatif. Sebuah kamar yang dianggit sebagai peranti dasar mewujudkan nyala kreatif.

Kamar imajinatif tak lepas dari pelaku atau penghuni kamar yang imajinatif pula. Dan, penghuni kamar tersebut juga harus memangku perilaku prolifik, yaitu gemar menyimpan dirinya dalam kamar. Ia mau berlarat sepi, tekun di suasana hening, tak getir dirajam kesenyapan.

Naguib Mahfouz, pesastra adib Mesir ditengarai gemar mengamalkan lelaku prolifik. Ia kerap menangkis serangan keramaian kerumunan masyarakat sekitarnya. Saat berangkat bekerja ia mesti mampir di sebuah kafe langganannya sekadar menghisap rokok dan menyeruput kopi. Lalu ia tak menyengaja dirinya ngobrol atau ngerumpi dengan orang lain, tapi ia memilih membaca koran. Aktivitas seperti itu telah menyehari dilakukannya.

Kendati Mahfouz prolifik ia tak bakal jenuh dengan aktivitasnya yang tampak linear itu. Sebab, ia mampu menafsir kreatifitas dalam kamar kerjanya. Ia menempatkan secara mapan kamar kerja imajinatifnya. Kamar kerja kreatif-imajinatif, lebih tepat Mahfouz menganggap tempat itu laiknya ladang tunggal yang bisa berganti-ganti ditanami tumbuh-tumbuhan. Dan di ruang itulah, pesastra tersohor Mesir itu membesut karya agung literer demi pencerahan masyarakat Mesir. Dengan sastra, Mahfouz hendak mengungkap ketabuan yang meliliti pemafhuman masyarakat Mesir. Hingga pada masanya, karya Mahfouz dilarang beredar.

Kendati demikian, manusia kreatif yang lahir dari embrio kamar kerja kreatif tak mudah dilumpuhkan dan dibungkam suaranya. Sebab, ia terbiasa dalam kamar yang didera kesepian berlarat. Kamar sejatinya ruang ibadah mengabdi pada hidup dengan berkarya. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar yang disesaki serakan buku-buku, jurnal, majalah, dan kliping koran.

Mari jadi aktivis kamar, memulai gerak-gerilya dalam kamar. Mengusung dan melakukan perubahan besar dari kamar. Menyusun strategi pergerakan dalam kamar. Memimpikan idealisme mahasiswa dalam kamar. Al-hasil, kamar pun rupa-rapanya menjadi rekayasa sosial baru. Semoga!

Patriot Sastra dan Nilai Estetika

Binhad Nurrohmat
http://www.pikiran-rakyat.com/

Para pemburu pesan kadang pula cenderung alergi tema tertentu, seksualitas misalnya, lantaran tema ini dianggap kotor, tak senonoh, atau berselera rendah.

KARYA kesusastraan memang telah sejak lama dipandang sebagai tradisi kesenian luhur yang gigih menyuarakan ambruknya martabat kemanusiaan, memijarkan cahaya agung pencerahan di tengah kebangkrutan moral masyarakat, dan membela rakyat yang tertindas kezaliman, sehingga lantaran kuatnya pandangan ini, karya kesusastraan kerap terlupakan hakikatnya: nilai estetika, yaitu capaian pengucapan atau ekspresi bahasanya dan perspektifnya memandang kenyataan dunia.

Salah seorang tokoh awal kesusastraan modern Indonesia terkemuka Sutan Takdir Alisyahbana hingga akhir hayatnya teguh kukuh menggelorakan gerakan kesusastraan yang berjuang dan bertanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat. Paham kesenian untuk kesenian dianggap apatisme artistik yang memunggungi keluhuran, pesimistis, dan dekaden. Bahkan, realisme sosial terang-terangan mempersembahkan karya kesusastraan demi mendukung agenda politik kekuasaan yang mengabdi kepada rakyat. Maka, muncullah slogan terkenal di masa Demokrasi Terpimpin Orde Lama, “politik adalah panglima”.

H.B. Jassin di pagina terawal buku yang disusunnya Angkatan 66 menulis semacam kredo pendek, “Sastra Demi Keadilan dan Kebenaran”. Di buku ini pula kritikus legendaris ini mendefinisikan sastrawan angkatan 66 sebagai pendobrak “kebobrokan yang disebabkan oleh penyelewengan negara besar-besaran, penyelewengan yang membawa negara ke jurang kehancuran total”. Karya-karya sastra yang dipilih dalam buku ini kerap keras menyuarakan patriotisme, bahkan ditulis oleh sastrawan yang kemudian hari “meredakan pena” dari gelora kesusastraan patriotis dan “kontekstual”.

Dalam buku itu termuat sajak Sapardi Djoko Damono “Doa di Tengah-tengah Massa”: “Wahai, lindungilah kami dari kemusnahan yang sia-sia./berjuta rakyat-MU yang sedang gemuruh bergerak,/dalam teriakan-teriakan, dengan tangan-tangan terkepal,/di bawah matahari yang leleh; ya, lindungilah kami,/dari dusta dan tipudaya,/dari hasutan-hasutan bergula (dan seterusnya), sajak Subagio Sastrowardoyo “Peluru Pertama”: …Tak ada lagi waktu buat cinta/dan bersenang. Kita simpan kesenian dan/budaya di hari tua. Kita mengangkat senjata/selagi muda/dan mati atau menang, dan sajak Slamet Soekirnanto “Catatan Harian Seorang Demonstran”: “Jaket kuning berlumur darah/Dengan sedih kutatap kawan-kawan rebah/Di bumi, di terik matahari kota Jakarta/O kita tahu apa arti ini semua.

Para patriot sastra kadang terlampau besar luapan hasratnya membangun karya kesusastraannya yang didominasi gebalau kesadaran solidaritas tertentu dan kerap membuat estetika terbengkalai. Kondisi sosial atau pilihan ideologi politik tertentu kerap membuat sastrawan terlampau menggebu “membebani” karya kesusastraannya dengan misi yang kadang terlampau telanjang dan dipaksakan sembari melalaikan nilai estetika.

Sitor Situmorang di era Soekarno menulis kumpulan puisi Zaman Baru yang sarat dengan pandangan ideologisnya sepulang dari lawatannya ke negeri sosialis Republik Rakyat Tiongkok. Corak puisi Sitor dalam kumpulan ini sangat berbeda dengan puisinya yang sebelumnya dalam kumpulan Surat Kertas Hijau dan Dinding Waktu. Juga Acep Zamzam Noor dalam buku kumpulan Dongeng Negeri Sembako yang memotret karut-marut sosial-politik menjelang dan sesudah keruntuhan rezim Soeharto dengan gaya parodi-sloganistik. Dalam kumpulan ini, Acep menanggalkan estetika liriknya yang terkenal kental kesadaran imajis, metaforis, dan simbolisnya. Dan Rendra adalah sosok terdepan dalam kesusastraan Indonesia sebagai patriot sastra melalui pamflet-pamfletnya di masa rezim Orde Baru masih berkuasa.

Kaum estetikus banyak merasa terganggu dengan pamflet-pamflet Rendra dalam kumpulan Potret Pembangunan Dalam Puisi yang menerabas kaidah puitika secara blak-blakan dan meninggalkan estetika lirik puisinya dalam Sajak-sajak Sepatu Tua dan Empat Kumpulan Sajak. Dan, Sapardi Djoko Damono pun terasa menurun kekuatan puitikanya ketika menulis sajak bertendensi sosial misalnya kumpulan Ayat-ayat Api dan Arloji yang tak sekuat sajak-sajak personalnya misalnya dalam kumpulan Mata Pisau dan Perahu Kertas.

Kenapa karya kesusastraan patriotis cenderung abai estetika? Kenapa sastra patriotis cenderung hadir dalam corak sloganistik? Kenapa masalah sosial cenderung tak hadir sebagaimana masalah personal yang terungkapkan dengan kesadaran nilai estetika yang terjaga dan penuh kelembutan ekspresi, tanpa teriakan, tudingan, atau pekikan bergelora?

Tradisi lirik yang begitu kukuh dalam perpuisian Indonesia tampaknya kadung cenderung bersifat personal, serupa solilikui atau gumam seorang diri. Tradisi ini dikembangkan oleh semangat pencerahan yang ingin mengucapkan suara sang “aku” dan bukan suara “mereka”. Dalam perpuisian Indonesia, suara “mereka” kerap hadir dengan kadar estetika yang lebih mengesankan dalam corak balada atau epik misalnya puisi Chairil Anwar (”Diponegoro”), Rendra (”Gerilya”), Goenawan Mohamad (”Misalkan Kita di Sarajevo”), Taufiq Ismail (”Karangan Bunga”), Sutardji Calzoum Bachri (”Tanah Air Mata”), Afrizal Malna (”Asia Membaca”), dan Joko Pinurbo (”Pembredelan Senja”).

Atau jangan-jangan, suasana psikologi sosial-politik ketika perpuisian modern Indonesia bertumbuh yang tertekan oleh pembatasan dan pelarangan menyuarakan kenyataan sosial telah mengerdilkan dan membungkam pengucapan sosial perpuisian modern Indonesia. Kesusastraan modern Indonesia mulai berkembang di masa penjajahan Hindia Belanda di awal abad 20 dengan Balai Pustaka yang di bawah kontrol ketat pemerintah kolonial. Kemudian di masa kemerdekaan para penguasa di era Orde Lama dan Orde Baru cenderung membatasi dan bahkan memberangus kebebasan menyuarakan kenyataan sosial yang riil sehingga kondisi ini melahirkan kecenderungan kesusastraan yang membisu terhadap kenyataan sosial.

Bagi kaum cultural studies (kajian budaya), karya-karya kesusastraan patriotis menjadi menarik lantaran informasi sejarah atau kebudayaan yang tersemat di dalamnya. Muatan karya sastra bagi kaum cultural studies dilihat sebagai cermin suatu kenyataan masyarakat atau kondisi tertentu yang kadang lebih berbicara ketimbang risalah sosial atau lembaran catatan kaum sejarawan. Roman-roman Pramoedya Ananta Toer dan pamflet-pamflet Rendra misalnya. Karya-karya mereka ini dinilai memuat atau memotret kenyataan lahir dan batin kenyataan sosial di suatu masa ketika teks-teks yang lain tak cukup nyali mewartakannya.

Namun, bagi kaum estetikus, nilai karya kesusastraan tak semata dibangun oleh muatannya, tapi oleh nilai estetikanya. Kesusastraan merupakan seni berekspresi melalui bahasa. Sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah, “Derai-derai Cemara” Chairil Anwar, “Di Beranda Ini Angin tak Kedengaran Lagi” Goenawan Mohamad, kumpulan sajak “DukaMu Abadi” Sapardi Djoko Damono, sajak-sajak mantra Sutardji, maupun sajak-sajak hiperealis Afrizal Malna bernilai bukan lantaran unsur muatannya, melainkan capaian nilai estetika yang ditawarkannya. Visi kebahasaan merupakan pijakan penilaian kaum estetikus terhadap karya kesusastraan, meski demikian bukannya mereka tak peduli terhadap muatan, makna, dan perspektif yang ada di dalam karya.

Tampaknya mengada-ada berupaya menemukan muatan patriotis dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri “Belajar Membaca”: “Lukakakikulukakakikaukah” (dan seterusnya) maupun sajak “Sepi”: “sepisaupsepisaupisepisapakanyasepikulsepi”dan seterusnya itu. Demikian juga dalam sajak-sajak Afrizal Malna yang membincang dunia antarberantah dan dengan logika puisi yang tak konvensional itu misalnya sajak “Antropologi Kaleng Coca Cola” atau “100 Tahun dari Ibu Kathi”. Dan, mutu puisi bukan ditentukan oleh unsur kepatriotannya.

Bagi kaum estetikus, puisi memiliki hakikat yang tak sama dengan risalah sejarah atau sosiologi, meski tak jarang puisi bisa turut pula menyelenggarakan ini dalam laku estetikanya. Tapi jasa puisi yang paling mendasar dalam khazanah seni adalah kadar puitikanya, nilai estetika dalam ekspresi bahasanya. Namun demikian, makna atau perspektif dunia yang dikandung oleh puisi tak bisa dihindari begitu saja. Menulis puisi tentang tuhan tak bisa mengabaikan capaian sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah atau sajak “Doa” Chairil Anwar, bukan hanya perkara capaian pengucapan bahasanya, melainkan juga jangkauan imajinasi dan jamahan perspektifnya tentang Tuhan yang mencengangkan itu.

Kaum “pemburu pesan” kerap menuntut karya kesusastraan serupa risalah sejarah, traktat sosiologi, atau petuah religius dan mereka sering kehilangan apresiasi terhadap nilai estetika karya kesusastraan. Hakikat puisi bukan pengusung pesan seperti selembar dekrit presiden atau naskah khotbah keagamaaan. Marwah puisi ditegakkan oleh kemampuannya menawarkan atau mengembangkan pengucapan sehingga membuat bahasa dan cara memandang dunia menjadi lebih kaya atau setidaknya tak semakin termiskinkan. Melalui daya bahasa kemungkinan-kemungkinan meraih makna bisa dijangkau lebih jauh lagi.

Para pemburu pesan kadang pula cenderung alergi tema tertentu, seksualitas misalnya, lantaran tema ini dianggap kotor, tak senonoh, atau berselera rendah. Diskriminasi tematik ini sebenarnya merupakan ironi bagi penjelajah bahasa dan makna yang mestinya penuh keterbukaan dan kegairahan menggali kemungkinan-kemungkinan bahasa dan makna dari kenyataan-kenyataan dunia.

Sementara kaum estetikus, “pemburu puitika” itu, kerap fanatik terhadap faktor bahasa sehingga menjadikan puisi kadang terjatuh sebagai permainan bahasa yang artifisial belaka, misalnya permainan bunyi atau musikalitas yang berlebih-lebihan, dan tak mampu merambah kemungkinan-kemungkinan atau menggapai makna yang lebih jauh. Padahal bahasa di dalam puisi bukanlah semata bunyi (sound) melainkan juga suara (voice).

Lebih repotnya lagi, para penyair kerap tak mampu keluar dari kerangkeng pengucapan, diksi, idiom yang sudah usang sehingga mereka melulu berputar-putar atau mengulangi dengan kadar mutu yang lebih rendah ketimbang para pendahulunya. ***

Yang Silam, Yang Tersembunyi, Yang Menjelang

Wahyudin*
http://www.jawapos.com/

YOGYAKARTA Biennale X-2009 bertajuk Jogja Jamming: Art Archives Movement akan dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 11 Desember di gedung Pameran Taman Budaya Jogjakarta.

Di luar dan dalam gedung yang dibangun pada 1996 itu, khalayak bisa menyaksikan puspa ragam karya seni rupa mutakhir milik 32 perupa kiwari Jogjakarta. Di antaranya, Budi Kustarto, Dadang Christanto, Eddie Hara, Eko Nugroho, Heri Dono, Ivan Sagita, Nyoman Masriadi, Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya, Wedhar Riyadi, dan Yunizar.

Dari situlah Yogyakarta Biennale X bakal memulai pertemuan kreatif dan komunikasi intrapersonal lintas generasi perupa Jogjakarta sebagai ikhtiar untuk menyurat yang silam, menyingkap yang tersembunyi, dan menggurat yang menjelang dalam sejarah, tradisi, dan kehidupan berseni rupa di Jogjakarta.

Seperti kita tahu, seni rupa modern di Jogjakarta lahir bersamaan dengan hijrahnya pemerintah Republik Indonesia dari Jakarta ke Jogjakarta pada permulaan 1946. Dalam situasi yang penuh gelora revolusi itu, ikut serta sejumlah besar perupa, seperti Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono, juga generasi pemula seni rupa modern Indonesia di Jogjakarta lainnya, antara lain Basuki Resobowo, Doellah, Oesman Effendi, Rusli, Zaini, Nashar, Daoed Joesoef, dan Nasjah Djamin. Mereka lantas berhimpun dalam Seniman Indonesia Muda -bermarkas di Madiun pada 1946, kemudian pindah ke Solo, dan seterusnya di Jogjakarta hingga menemui ajalnya dalam kisruh politik pada pertengahan 1960-an.

Seniman Indonesia Muda adalah gerakan seni rupa yang berkehendak menjemput kemodernan -yang pada masa itu lebih dikenal dengan istilah “baru” atau “kebaruan” karena istilah “modern” masih berkonotasi negatif, seperti terdapat dalam banyak tulisan Soekarno- dan meninggalkan kemasalaluan, terutama yang berkenaan dengan estetika antik dalam seni Hindu-Jawa, batik, dan wayang.

Sebutlah lukisan Affandi Laskar Rakjat Sedang Mengatur Siasat, lukisan Pengantin Revolusi Hendra Gunawan, dan lukisan Sudjojono Seko Pemuda Gerilya -yang mengandung muatan sejarah-kebangsaan dan kini telah menjadi masterpiece dalam khazanah seni lukis Indonesia.

Dengan begitu, menjadi bisa dimengerti Seniman Indonesia Muda dianggap sebagai “satu generasi yang unik” -memakai istilah Umar Kayam (2005). Pada lukisan-lukisan mereka itulah terpantul juga perjalanan kita membangsa, memenangi revolusi, dan membangun suatu negara merdeka.

Berdasar pertimbangan historis itu, Yogyakarta Biennale X memandang perlu mempresentasikan arsip dan dokumentasi visual yang berkenaan dengan Seniman Indonesia Muda di gedung pameran Bank Indonesia yang berjarak 500 meter ke arah selatan dari Taman Budaya Jogjakarta. Selain Seniman Indonesia Muda, di gedung bekas De Javasche Bank -bank swasta zaman Hindia-Belanda yang beroperasi pada 1879- itu bakal digelar arsip dan dokumentasi visual Pelukis Rakjat dan Pelukis Indonesia Muda.

Pelukis Rakjat adalah gerakan seni rupa yang didirikan oleh Affandi dan Hendra pada 1947 setelah mereka bercerai dari Seniman Indonesia Muda karena tak sepemahaman lagi dengan Sudjojono soal ideologi gerakan yang berkecenderungan ke golongan kiri.

Pada perkembangannya, Pelukis Rakjat justru dekat dengan gerakan seni dan politik kiri pada dasawarsa 1950-an dan periode 1960-an. Meskipun, mereka tak pernah secara resmi memproklamasikan diri sebagai gerakan seni rupa kiri. Bagaimanapun, Pelukis Rakjat telanjur dikenal sebagai gerakan seni rupa yang memiliki obsesi besar pada tema-tema kerakyatan di masa pergolakan ideologi tersebut.

Sementara itu, Pelukis Indonesia Muda yang didirikan oleh Widayat dan Sajogo pada 1952 memang tak seterkenal Seniman Indonesia Muda dan Pelukis Rakjat. Meski demikian, Pelukis Indonesia Muda perlu diketengahkan dalam perhelatan yang berlangsung sampai 10 Januari 2010 itu. Pertimbangannya adalah peran mereka sebagai pengusung ideologi humanisme universal di dunia seni rupa Jogjakarta.

Dalam mempresentasikan arsip dan dokumen visual Seniman Indonesia Muda, Pelukis Rakjat, dan Pelukis Indonesia Muda, panitia bekerja sama dengan Indonesian Visual Art Archives, lembaga nirlaba yang mengemban misi sebagai pusat data, riset, dan dokumentasi seni rupa Indonesia.

Berdasar riset ekstensif, lembaga itu pula yang akan memamerkan arsip dan dokumentasi Yogyakarta Biennale I-IX -dengan pusat perhatian pada Biennale Eksperimental yang muncul pada 1992 sebagai reaksi perupa-perupa muda terhadap pengelola Yogyakarta Biennale yang mengabaikan eksistensi mereka waktu itu.

Beranjak dari situ, 1,5 kilometer ke arah barat, para pemirsa dapat menjumpai Jogja National Museum, bekas kampus STSRI ASRI-ISI Jogjakarta yang berdiri pada 1950. Di situ akan dipamerkan dokumentasi visual dan karya-karya gerakan seni rupa seperti Bumi Tarung, Sanggar Bambu, Kepribadian Apa, Rumah Seni Cemeti, Taring Padi, dan Indieguerillas.

Rasanya tidaklah berlebihan untuk membayangkan sebuah perjumpaan eksistensial yang membahagiakan di antara Bumi Tarung dan Taring Padi, gerakan seni rupa periode 1960-an dan dasawarsa 1990-an, yang memeluk teguh politik praktik seni rupa radikal di Indonesia.

Sementara itu, kehadiran Kepribadian Apa dapat ditandai sebagai upaya yang membangkitkan batang terendam di antara eksponen-eksponen gerakan seni rupa yang -dimotori Gendut Riyanto, Haris Purnama, dan Ronald Manulang- pernah menghebohkan jagat seni rupa Jogjakarta karena keberanian mereka memamerkan puspa ragam karya seni rupa bermuatan kritik sosial politik sehingga diberangus militer pada September 1977.

Selain gerakan-gerakan tersebut, di museum itu akan digelar karya-karya kontemporer, antara lain, ciptaan Entang Wiharso, Bambang “Toko” Witjaksono, Dipo Andi, Farhan Siki, Ismail “Sukribo”, Jompet, Terra Bajraghosa, Venzha, Yudi Sulistya, dan Yusra Martunus.

Tak berhenti sampai sana, sekitar 2 kilometer ke arah selatan terdapat Sangkring Art Space, tempat khalayak dapat menikmati karya-karya perupa kiwari -antara lain, Abdi Setiawan, Arie Dyanto, Bunga Jeruk, Muhamad Irfan, Agustina Theresia Sitompul, Ade Darmawan, Agapetus Kristiandana, Bayu Yuliansyah, Edo Pop, F. Sigit Santosa, Handiwirman, Hendra “Hehe” Harsono, I Ngurah Udiantara, Jumaldi Alfi, Putu Adi Gunawan, Rudi Mantofani, Samsul Arifin, Suraji, dan Tommy Wondra.

Pertemuan dan perlintasan daya cipta di empat venue yang berbeda itu telah meyakinkan saya bahwa kata terakhir harus diberikan kepada para perupa yang ikut serta meyangga tradisi dua tahunan tersebut dalam kesunyian yang tak tepermanai untuk menyurat yang silam, menyingkap yang tersembunyi, dan menggurat yang menjelang melalui rupa, bentuk, dan warna. (*)

*) Salah seorang kurator Yogyakarta Biennale X-2009.

Pengikut