Sastra Gerilyawan

Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)

Rabu, 16 September 2009

Puisi-Puisi Sosiawan Leak

http://www.surabayapost.co.id/
BUKAN BINATANG PEMBANGUN SARANG

aku bukan binatang pembangun sarang
hingga selalu menemu kebebasan yang merdeka
kala istirah atau mengembara
tanpa tergantung kepada rumah dan kandang

aku bukan binatang pembangun sarang
maka biarkan orang-orang terusir dari mukimnya
di desa, di kota bahkan di gaza
yang kau perlu cuma, lihatlah diriku
menitip keturunan di berbagai sarang
membuang sejarah dan masa depan
sebagaimana mendepak kecengengan
bercerai dari ketergantungan
sambil mengusir kebersamaan
dan meyakini diri sebagai pusat pemujaan

aku bukan binatang pembangun sarang
berbeda dengan kamu
yang mengaung-agungkan kemapanan
kehidupan yang sempurna dengan papan hunian
simbol kemewahan berkeluarga, bernegara
yang kadang mengkhianati
kebebasan diri yang mandiri
menggerogoti keliaran
yang kadang lebih menemu makna
dalam hidup sejati!

pelangi-mojosongo, solo 2009



HIDUP KAMI MILIK SIAPA

hidup kami, milik siapa?
sebagai petani, kami tlah lama
dihabisi hama dan pupuk kimia
juga hujan yang bertamu di sawah ladang
enggan pulang, bermalam hingga berbulan-bulan
sementara real esteat dan jalan layang
memamah para tanah.
sebagai nelayan, kami serupa gelepar ikan
yang dilempar ke daratan
sebab limbah dan undang-undang tlah menjajah lautan
bersama badai dan gelombang pasang
mereka merampok nafkah anak istri
mengabutkan pandangan ke masa depan
mengaburkan jejak di belakang.

hidup kami, milik siapa?
kenapa sulit sekali untuk mandiri dan merdeka
di negri yang rimbun lautan dan sawah ladang?

pelangi mojosong, solo maret 2008



SAJAK BUSUK

sajakku,
sajak yang kau bilang busuk dan usang
tak kan pernah mau telanjang memamerkan kemaluan
seperti dirimu yang kadang pulang
sesekali ingat rumah dan jalan, namun lupa dimana
celana dalam dan kaus kutang kau tanggalkan
usai begadang semalaman
mengeja hidup baru yang gagal kau temu
hakekat makna kesejatian

sajakku,
sajak yang kau bilang gampang dibilang
lantaran busuk dan usang
meski jauh kemana berlayar
mengembang ilmu mengasah akal pikiran
tak kan pernah menyerah
pasrah kepada gelombang kehidupan yang bagai bah
dialiri barang produksi
dari yang usang, busuk hingga keluaran terkini.

sajakku,
sajak yang tak pernah kau hitung dalam bilangan
tak kau sadari luput dari pengamatan
ia bergerilya di mana-mana
desa, hutan dan pegunungan
menyembul dari palung, selat dan lautan
menjelma pedagang yang menguasai pasar di kota
petani dan nelayan yang memasok kebutuhan hidupmu sehari-hari
menjadi napas buruh dan kuli
malih rupa smangat kala berhadapan dengan kedholiman rejim industri
yang mengadopsi hukum busuk dan usang
; penjajahan!

sajakku,
sajak yang gampang kau bilang
tak kan pernah busuk dan usang
meski kau hadang dari jaman ke jaman!

pelangi-mojosongo, solo 2008



TENTANG KITA

luka di muka dan sekujur tubuh
akankah berkurang di masa datang
atawa njelma daging dan anggota badan
tak bisa beda dari kaki dan tangan,
merupa aliran darah, nadi dan syaraf otak
yang enggan pisah dari sukma?

sedang hingga musim terakhir
kita tak jua paham
apa yang bisa dibaca dari lapar dahaga
ramalan cuaca dan bencana
yang selalu bertamu tanpa terduga
kapan datang, kapan kembara

padahal semua ada saatnya
burung-burung ke sarang atau mengembara
angin bertiup ke barat atau berbelok ke utara
pohonan menyecap hara atau berhenti bicara
semua ada saatnya,
menjadi tanda, menjelma makna!
(juga kanak-kanak yang lalu berbenah
usai lelap istirah)

akan tetapi,
luka di muka dan sekujur tubuh kita
tak pernah mau bicara
sebagai kekalahan yang luruh
atau sekedar alur peluh
juga tak pernah cerita
tentang kelemahan kita
manusia yang fana

pelangi-mojosongo, solo 2009

Read More......

Puisi-Puisi Taufiq Ismail

http://oase.kompas.com/
INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN

Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.

Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.

Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,

“Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah.”

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.

” Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo … ”

Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.

2000 , 2002



PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI

Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

2005

Read More......

Puisi Terakhir WS Rendra…

http://detikyogyakarta.net/

Sungguh besar jiwa seni dalam tubuh WS Rendra,ia pun tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

“Tuhan, aku cinta padamu…” demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

Read More......

DOA KEMERDEKAAN

A. Mustofa Bisri
http://www.jawapos.com/

Ya Allah ya Tuhan kami

Di hari kemerdekaan

negeri kami

Kami memohon kepadaMu,

ya Allah

Ilhamilah kami untuk dapat menyadari dan mensyukuri

Dengan benar rahmat agung anugerahMu,

Nikmat kemerdekaan kami

Berilah kepada kami dan pemimpin-pemimpin kami

Kecerdasan memahami arti kemerdekaan yang benar

Berpuluh tahun kami dijajah oleh kebodohan kami

Berpuluh tahun kami dijajah oleh bangsa asing dan

bangsa sendiri

Dan kini setelah merasa merdeka kami mulai dijajah

Oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri

Ya Allah ya Tuhan kami,

Jajahlah kami, jajahlah kami olehMu sendiri

Merdekakanlah kami

Jangan biarkan selainMu, termasuk diri-diri kami,

Ikut menjajah kami.

Jangan biarkan kami terus menjadi hamba-hambaMu

Yang tidak menyadari

kehambaan

Jangan biarkan kami terus menjadi bangsa budak

Yang tidak menyadari kebudakan

Kuatkanlah kami untuk hanya menghamba kepadaMu

Dan menjadi tuan atas

diri-diri kami.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahabijaksana

Karuniailah pemimpin-pemimpin kami kearifan dan kebijaksanaan

Bukakanlah hati mereka bagi menjunjung tinggi kejujuran dan menegakkan keadilan

Bagi mementingkan kepentingan bersama melebihi kepentingan sendiri

Karuniailah bangsa kami pemahaman terhadap makna kemerdekaan yang

sesungguhnya

Agar dapat membedakan antara demokrasi dan anarki.

Karuniailah kaum beragama kami pemahaman terhadap makna agama yang sebenarnya

Agar dapat membedakan antara jihad di jalan Tuhan dan jihad di jalan setan.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengampun

Ampunilah dosa-dosa kami dan para pemimpin kami

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengasih dan

Mahapenyayang

Kasihi dan sayangilah kami seperti Engkau mengasihi dan menyayangi para kekasihMu

Amin.

*) Budayawan, pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibien, Rembang, Jateng.

Read More......

Untuk Kepulanganmu, W.S. Rendra

http://www.sastra-indonesia.com/
jikalau sang penyair benar-benar meninggal
tak sia-sialah segala perjuangannya
maka damailah di sisi-Nya, amin…
(Nurel Javissyarqi)

Meski pun tidak pernah bertemu
tapi kurasakan degup jantungmu

dari balada orang-orang tercinta
kau kenalkan tari-tarian jiwamu

aku merambah masuki nalurimu
yang senantiasa girang perkasa
tampan penuh dinaya pesona

sedari bulir-bulir air matamu
membanjirlah cahaya rasa

oh…
aku merinding menulis ini
diserang demam menggigil
entah dari mana datangnya

kau seakan menghampiriku
datang berwajah tegar
lantas membuyar, tapi
masih menungguiku dari dekat
saat aku menuliskan catatan ini

(ya Allah
aku menemukan daya terpikat
terperdaya oleh kata-katanya
seakan tak mampu membalasnya)

aku melihat kau tersenyum
lalu mengelus-elus rambutku
atau ini hanya perasaanku saja

atau semua para penulis sajak
di tanah air ini merasakan pula

aku digetarkan sentuhan aneh
lebih ganjil dari sebelumnya
lebih gaib dari yang terbayangkan
aku merasa, dan turut merasakan

sebab jikalau suatu negara
tanpa seorang pun penyair
yang mampu bersuara lantang
bukanlah negeri yang adiluhung

kau tidak sekadar penyair, pujangga
yang dikarunai daya dinaya melimpah

dari kata-katamu mengalir deras
menerjang lahar halilintar tumpah
seolah kutak mampu berkata-kata
tanpa kehadiranmu, Rendra…

rasa kehilangan itu luar biasa
tanda-tandanya telah hadir
ikut di seluruh getaran jiwa
memasuki rerongga sukma

dan seperti terbayangkan
kau selalu tersenyum ramah

kaulah tonggak perjuangan
lambang tiada menyepadani

dan nafasmu, oh…
bau kembang itu kau hantarkan kepadaku
kau kabarkan serindang daun ditiup bayu

malam ini kau begitu khusyuk
membuatku tiada sanggup
mengatur jalannya kalimah

oh Rendra
sayap-sayapmu
terus mengepak ke segenap cakrawala
membuyarkan awan gemawan bimbang
bulan malam ini ialah saksi kepurnaanmu

Rendra
bulan malam ini hadir hanya bagimu
oh… tubuhku teresapi daya entah

aku tak tahu lagi apakah ini sugesti
kau benar-benar mengendap kemari

damailah di sisi-Nya
seperti embun berpeluk daun-daun
cahaya di bayangan pohon-pohon

cukuplah bulan saksimu malam ini
sedari sekiankali perjuanganmu

dan apa yang kau torehkan
lebih nyata dikemudian hari
lebih segar dari bebauan perawan
lebih harum dari bunga ketinggian
lebih santun dari tubuh rerumputan

dan maafkanlah
selama usiaku tak sempat kepadamu
namun kuyakin kau lebih tahu hal itu

aku bukanlah siapa-siapa
hanya kelana semata

oh Rendra
semakin jauh kau tinggalkan bumi ini
semoga wasiatmu senantiasa hidup
berdegup jadi pusaka dan warisan
bagi generasi-generasi selanjutnya

kaulah sang pemangku itu
entah siapa lagi setelah kau…

jiwamu besar tapi kau tutupi
dengan kerendahan kalbu

aku menjadi malu…
seperti kau tampar mukaku
serupa tidak sudi melihatku

tapi sungguh tamparanmu sangat terasa
bekasnya mengenai mengembaraanku

aku kembali digetarkan kesaksian
lebih merinding sedari berdenyut
ada sejenis puncak yang entah

bukan ketinggian karang
bukan tajamnya tombak
bukan pula kilatan petir

sesuatu yang sulit dikatakan
entah dari mana datangnya

aku tertunduk di saat itu
bersimpuh di hadapanmu

lalu kau angkat tubuh ini
bersatu nafas kembali

kau bilang
marilah kita kembara
marilah bersentuhan mesra

dan enegimu semakin tinggi
ketika kau berkata, marilah…
marilah…

oh Rendra
aku turuti kehendak Syah
aku tak berdaya digetarkan
gemeretak tak ingin limbung

lantas angin itu mengupas halus
bagai sentuhan para malaikat maut
sampai kemari, sampailah padaku…

namun kau yakinkan diriku
tangan ini harus terkepal
padat dan semakin kuat

Rendra, aku tak tahu
siapa yang menyelami

apakah kau atau aku
antara jiwa dan raga
sukma segenap aura

aku tak sanggup membedakan
getaran rasa gemeretak logika

aku diserang kau, ataukah jiwaku
sedang berduyun-duyun padamu

dan terlihatlah kau tersenyum
persilakan semuanya datang
menghadirimu terakhirkalinya

setiap kali kuhadirkan titik
nadi menggemakan suara
huruf-huruf kau lalui pun
jadi saksimu juga mereka

Rendra
apakah sebelumnya kita berjumpa?
sampai aku merasakan keganjilan ini
tidakakah kita tak pernah bertemu?

kau selalu hadir bagiku
begitu murni dan diriku
dbuyarkan teka-teki…

Rendra
hanyutlah segala detak nadimu
atas muaramu yang lantang itu

kepada segenap kepala-kepala
mereka lebih tahu kau segalanya

sebab kata-kata tanpa suara
seperti penjara
kata-kata tanpa logika
seperti perawan tua

dirimu
memasuki segala ranah kesatria

Rendra
malam ini kita berdua
meski banyak yang datang menghampiri
bagai awan lembut meneteskan gerimis
tubuh kita sama-sama terbuka
bercakap seperti teman akrab

kita lebih jauh lagi
dalam dan dingin

kau hantarkan sajak-sajakmu
kapuk-kapuk randu beterbangan
disusul angin pilu sedari seorang
yang ditinggal ke negri sebrang

di sini
kepulan asap rokokku benar-benar lain
seperti para penyair, namun negeri ini
tak butuhkan kata-kata tidak bersuara
itu katamu

aku kembali menundukkan muka
menyelam jauh sajak-sajakmu
disamping balada-baladaku

dan kau terkekeh
diriku tersenyum lebar
lantas kita saling merangkul
lenyap dari pusaran taupan

bukan awan yang kita kenal
lebih halus memupus semua

kita meresapi maknawi kesungguhan
hidup lebih berarti dari sebuah hidup
yakni perjuangan

jika kutulis ini di lembar-lembar kertas
tentu mewangi atas tinta penuh cinta

lantas kucium kau dalam akhir kalimah:
selamat jalan Rendra
kelak kita berjumpa
amin…

Read More......

Lastri Di Abad Pertengahan

Krisandi Dewi
http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

/I/
Tapi Lastri telah mati.
Badan rampingnya remuk diamuk tronton tadi pagi.
Sebelah tangannya yang nakal, entah kiri atau kanan,ditemukan tersangkut pada gerobak sapi, di roda belakang. Ususnya melilit di tiang listrik
Kaki-kaki jenjangnya yang baru bergelinjang di depan pelanggan semalam , terseret ke selokan.
Paha mulus yang tak absen diendus para anjing hidung belang, terbengkalai di depan kakus.jadi bangkai.
Dan sisanya, hanya kepala dengan kantung mata tak berbiji.
itupun sudah terlempar ke ujung kali.tadi pagi.
Dua biji matanya sudah habis dijilat.dicongkel.dan kini ditenteng keliling kampung untuk diperebutkan anjing-anjing tengil.



/II/
Lastri sudah mati,
sejak malam pertama ia mengenal anyir mani yang disodorkan sang mucikari.
Bahkan pada malam-malam sebelumnya, saat suatu malam
pria yang dulu menyeru adzan ditelinganya ketika lahir
tiba-tiba berubah jadi anjing.
Pinggir mulutnya mengalir liur bau anyir.
Jangat berkeringat, otot berkawat tumplek tindih di tubuh Lastri.
Saat itu, awal Lastri telah mati. Dan pada setiap lelakilah, Lastri berteriak dalam hati : anjing!
Tapi sebab itu, Lastri kemudian tampil bak penyayang binatang.
Meladeni anjing-anjing tengil yang berjakun sebesar kemiri.menyuapi.menyusui.



/III/
Lastri benar-benar mati
Otaknya muncrat! Tergilas sedan dari selatan..
Sedang bagian lain tubuh Lastri, yang sekalipun belum sempat digauli, sekarang masih tercecer di sisi trotoar.Kasihan, hati dan jantung Lastri bersenggama tak aturan dengan aspal
Padahal di tepi jalan, tempat Lastri tewas terlindas pagi tadi
Ada yang mencintainya sejak kecil, seorang kucing
Bukan anjing!

Read More......

LEBIH BAIK MENULIS DARI PADA TIDAK

Hasan Aspahani
http://www.facebook.com/osanjaya?_fb_noscript=1

Jangan Ditanya Kenapa Aku Bertanya, I

KENAPA harus ada kalimat tanya dalam bahasa?

Betulkah ucapan pertama di dunia adalah pertanyaan?

Siapa yang pertama kali bertanya di dunia ini?

Apakah pertanyaan yang pertama kali diajukan?

Kepada siapakah pertanyaan pertama itu ditujukan?

Seberapa banyak pertanyaan di dunia ini yang
terjawab dan seberapa yang tak punya jawaban?

Apakah pertanyaan tak terjawab itu mati penasaran
atau tetap hidup menunggu datang jawaban?



Jangan Ditanya Kenapa Aku Bertanya, III

KENAPA cinta itu simbolnya hati merah muda? Kenapa
tidak lingkaran atau segienam, hitam atau putih saja?

Kenapa banyak sekali abjad di dunia ini? Kenapa Tuhan
tidak menetapkan satu abjad saja untuk semua manusia?

Apa jadinya kalau setiap hari orang boleh mengganti
namanya? Atau bolehkah memilih tidak bernama saja?

Kenapa kalau berpisah orang melambaikan tangan?
Tidak adakah isyarat perpisahan lain yang lebih baik?

Kenapa kalau kita menangis keluar air di mata kita?
Kenapa tak keluar cahaya saja? Cahaya mata namanya?



Jangan Ditanya Kenapa Aku Bertanya, VI

KENAPA ayam betina berkotek
setelah bertelur? Apakah itu
tanda dia gembira atau sedih?

Kokok ayam jantan di waktu subuh,
apakah matahari di sana menyimaknya?

Kalau matahari bicara, apa yang
akan dikatakannya pada ayam yang
berkokok itu?

Kenapa ayam jantan tidak berkokok
juga di tengah hari? Atau petang?

Apakah ayam betina marah karena
terganggu dengan kokok ayam jantan?

Apakah ayam jantan punya kokok yang
khusus di hari-hari yang istimewa?

Apakah ayam jantan berkokok juga
pada hari dia akan disembelih atau
mati terlindas roda kendaraan?

Apakah anak ayam yang masih belum
menetas di dalam telur mendengar
juga suara kokok ayam jantan?



Jangan Ditanya Kenapa Aku Bertanya, VIII

KENAPA tak ada satu hari saja, semua
peristiwa terjadi sama, sehingga
suratkabar pun terbit dengan isi
yang persis serupa?

Kenapa di zaman nabi-nabi diutus
belum ada suratkabar yang memberitakan
setiap langkah kenabian mereka?

Jika saat kitab-kitab diwahyukan ada
suratkabar apakah setiap ayat yang
turun akan jadi berita utama?

Seandainya para nabi itu adalah pemilik
dan pemimpin redaksi surat kabar,
apa nama suratkabar mereka?

Seandainya nabi-nabi itu berdakwah lewat
suratkabar, apakah suratkabar itu lebih
banyak diedarkan eceran atau langganan?

Apakah di suratkabar para nabi itu juga
ada rubrik tanya jawab surat pembaca?

Read More......