Sabtu, 09 September 2017

Tragedi Barok dan Pergulatan Manusia Sado

Edeng Syamsul Ma’arif
radarcirebon.com

BAROK adalah momok. Pimpinan para rampok, bromocorah, jambret, pencoleng, pemalak, penodong. Berdiam di sebuah kampung kumuh, terbelakang, padat penduduk, dan (pastilah) tak terjangkau kemakmuran. Tidak ada listrik, sampah berserak di sembarang tempat, orang-orang biasa mandi dan berak di sungai pekat aroma bacin.
Kata-kata kasar dan kotor berseliweran di setiap percakapan. Tapi Barok bahagia. Memangsa siapa saja yang melintas di kampung itu. Semua takut kepadanya. Semua melindunginya dari kejaran pihak berwajib. Hanya kepada Aki pemancing tua, Barok menaruh hormat. Dan kepada Aki jugalah ia belajar tentang hidup yang lain termasuk mengadukan gebalau perasaan.

Atas saran Aki, Barok yang sangar mengganti nama jadi Karnadi (diambil dari cerita Sunda Karnadi Bandar Bangkong) sebab tersihir kecantikan Yani, anak camat penggila hormat. Pejabat baru dengan setumpuk gelar akademik yang dibelinya dari kampus abal-abal. Jadilah Barok yang hanya kelas empat sekolah dasar, mengakali keluarga Camat Kosim dengan berpura-pura kaya dan sekolah di Amerika. Menjadi Karnadi agar terpandang dan memiliki harga diri. Barok yang kampung, berusaha keras tidak jadi kampungan. Mencari tahu harga mobil termahal, pakaian dan parfum mewah, kampus luar negeri terkemuka, gaya hidup jetset. Anak-anak buahnya dibuat kalangkabut karena Barok buta teknologi dan tak bisa membaca. Maka, tak usah heran mendengar Barok menyuruh anak buahnya merampok siapa saja yang lewat membawa internet.

Usaha kerasnya tidak percuma. Meski prosesnya dibuat ribet oleh kemarahan dan kekonyolan-kekonyolan, Barok berubah jadi miliuner. Bergelar PhD dari Harvard University, ahli teknologi informasi, menunggang Lamborghini, kapal pesiar, dan jet pribadi. Direktur kilang minyak dan sejumlah perusahaan multinasional di negeri ini. Camat Kosim terperangah, Yani termehek-mehek. Meski di akhir cerita—sebagaimana kisah Karnadi Bandar Bangkong yang tragis­­—penyamaran Barok terbongkar dan harus menerima akibat. Dirajam kakitangan Kosim dan didor timah panas polisi.

Lakon Barok (Tidak Bodoh, Tapi Tidak Tahu, Sebab Tidak Pernah) karya dan disutradarai Aan Sugianto Mas dimainkan oleh Teater Sado di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan (19 Maret sampai 9 April 2017), mengabarkan kepada penonton bahwa mustahil antara tidak punya dan punya bisa terjalin kemesraan. Sejak zaman sebelum nabi hingga hari ini. Tapi, di luar itu semua, menjadi manusia pencoba dan berkeras untuk menjadi tahu adalah hak siapa saja.

Sebagaimana petikan dialog Barok: Aku Karnadi/Manusia tidak bodoh/Yang telah jadi tahu tentang apapun kekayaan manusia/Meski aku tetap tidak pernah punya//Aku Barok/Manusia yang terpaksa jadi Karnadi/Karena nasib tidak mendadak mengubah keadaan manusia/Sementara rasa menuntut aku harus bergerak segera//Aku Barok sekaligus Karnadi/Manusia yang mencoba melawan/Pendapat kalian yang mengatakan dalam pikiranmu/Bahwa mustahil antara tidak punya dan punya bisa mesra//Aku manusia pencoba!///

Barok adalah cermin tragedi kemanusiaan sepanjang zaman. Ia akan selalu menjadi penanda dan petanda ruang-ruang sosial di segala penjuru. Terus melingkar mengisi siklus kehidupan tanpa batas tanpa aturan. Kalaupun ada sedikit perbedaan, itu lebih disebabkan oleh sosio-geografi dan kekhasan karakteristik manusianya di masing-masing tempat. Kaya dan miskin laksana takdir yang saling mengisi dan seolah harus selalu bertentangan. Dan lewat naskahnya ini, Aan Sugianto Mas terlihat hendak mengkritisi penyakit mental masyarakat kita yang gemar membedakan derajat manusia berdasarkan kepemilikan benda-benda. Kemiskinan dituding sebagai biang segala dosa dan kesalahan. Sementara pangkat, gelar, harta benda, dan jabatan, seperti lisensi dan kewenangan untuk melemparkan orang-orang miskin ke dalam neraka.

Aan juga ingin menegaskan, proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan tidak melulu harus bergantung kepada uang. Justru cara Kosim mendapatkan gelar dan tidakboleh salah dalam setiap penyebutan, adalah ironi yang terpapar di depan mata telanjang dan teramat berurat akar. Dalam konteks ini, Barok yang buta huruf menjadi sosok jujur ketika ingin menjadi tahu. Dan Barok tidak mundur meski sejengkal ketika dipukuli beramai-ramai. Darahnya memuncak karena Kosim berulang-ulang meyebutnya bodoh.

PERGULATAN MANUSIA SADO

Spirit perlawanan Barok terhadap kosakata dan sebutan bodoh, lebih mirip presentasi semangat dan identitas Teater Sado. Kelompok yang lahir pada 1997 dan awalnya murni sebagai teater kampus STKIP Kuningan ini, kemudian melebarkan sayapnya dan berdiri sebagai kelompok teater di luar kampus dengan dasar pikiran agar Kabupaten Kuningan memiliki tempat berkumpul yang lebih terbuka. Dan sebagai penggagas, Aan Sugianto Mas menyebut Sado sebagai teater latihan. Sebagaimana lazimnya teater latihan, Sado lebih merupakan tempat penjelajahan beragam karakter manusia untuk kemudian diterjemahkan dalam seni peran.

Proses pemikiran, penghayatan, reaksi, dialog, persetubuhan mesra manusia dengan kemanusiaannya itu sendiri, jauh lebih penting ketimbang menjadikan pementasan sebagai tujuan akhir. Harapannya, dalam segala kehidupan manusia Sado harus memiliki sikap. Pada perkembangan berikutnya, Sado mengalir ke wilayah yang lebih majemuk. Kelompok ini menyesuaikan minat yang beragam dari penghuninya. Manusia Sado tidak berhenti di pementasan sebagai arena asah kreatifnya, tetapi beranjak ke pergulatan seni hidup lainnya seperti lukis, pahat, musik, handycraft, dekorasi, desain interior, taman, patung, jurnalistik, dongeng, fotografi dan videografi, konveksi, dan lain-lain, bahkan dengan sadar masuk ke wilayah industri kreatif apapun wujudnya.

Tentu saja, semua itu tidak lepas dari napas artistik, kerjasama, disiplin, dan manajemen teater sebagai dasar pijaknya. Penyadaran ini harus dilakukan sebab manusia Sado pantang terpuruk saat berada di panggung kehidupan sesungguhnya. Awal 2016, Teater Sado mementaskan lakon berjudul Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita—yang dipersembahkan secara khusus untuk almarhum penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy—yang dipentaskan secara marathon 21 kali, dengan jumlah penonton sembilan ribu orang. Sementara, lakon Barok sampai akhir jadwal pertunjukan mencatat kehadiran 14 ribu penonton.

Fakta ini, bagaimana pun, tercatat sebagai capaian spektakuler yang sulit ditandingi oleh kelompok-kelompok teater lain di Wilayah III Cirebon bahkan mungkin di Jawa Barat, yang mengisyaratkan rapinya manajemen pengelolaan penonton. Sebentuk ikhtiar yang sabar dan telaten sebagai manifestasi penegakkan konsep bahwa penonton adalah manusia. Tangan dingin Aan Sugianto Mas-lah penyebabnya. Sampai-sampai, dalam kondisi kesehatan yang memburuk yang mengharuskannya istirahat total di pembaringan, Aan masih sanggup menulis dan menggarap naskah Barok dengan kalimat persembahan di akhir naskahnya: Buat tubuhku yang tak sepaham dengan inginku..!

Teater Sado dan manusianya adalah fenomena. Magma yang bergolak dan menderas dari kota kecil di kaki Gunung Ciremai yang tetap bersikap rendah hati dan tak pernah melupakan muasalnya, tanah Sunda sebagai tempat diam dan berpijak. Karena itu, dalam setiap naskah dan pementasannya, Aan selalu menyertakan idiom-idiom dan kosakata lokal sebagai bagian penting dalam dialog tokoh-tokohnya. Dialog khas manusia Sunda yang lugas, ekspresif, meski kadang banal dan nakal.

*) Penulis adalah aktor, pegiat sastra di Lingkar Jenar
http://www.radarcirebon.com/tragedi-barok-dan-pergulatan-manusia-sado.html

Tidak ada komentar:

Label

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sajak Joki Tobing Untuk Widuri Sajak Widuri Untuk Joki Tobing Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tan Malaka Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir