Senin, 12 Maret 2012

Mencatat Ibu

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Membincang ibu sebagai seorang sosok, bak mengurai satu-satu sulur dunia. Nyaris tak ada titik henti, sekaligus karena sosok ibu ibarat titik asal mula kemunculan nama-nama. Sehingga, mencatat sesosok ibu dalam sebuah tulisan serasa hampir mustahil selesai karena ibu adalah puspa indah taman hati, sumber cinta sepanjang masa.

Kehendak untuk “mencatat ibu” dalam ingatan saya kemudian kerap menjebak saya untuk berkubang dengan perihal romantisme. Ya, karena bagi saya sosok ibu adalah romantisme itu sendiri. Seperti ingatan saya yang melayang ke sosok Ibu Kartini yang pernah merajuk kepada ibundanya dengan sangat romantis; “Ibu, kulo nyuwun sekar melati ingkang mekar ing panjering ati…” [Ibu, kupinta setangkai melati yang mekar di pusat hati…]

Bukan berarti romantisme yang saya maksud itu minor, melainkan jika kebablasan, bisa melenakan diri dengan memandang cukup berhenti di aras itu, tanpa sikap kritis membaca realitas sesungguhnya. Bagaimana entitas ibu, khususnya di negeri ini bergelut dengan realitas hidup sehari-hari yang konyol sekali. [atau jangan-jangan apa pun realitas yang mereka alami, justru telah dianggap menjadi bagian dari romantisme itu sendiri? Na’udzubillah…]

Mustahil membincang ibu tanpa melekatkannya pada sosok perempuan. Ya, sosok ibu di tulisan saya ini sengaja saya batasi pada sosok perempuan [meskipun saya memandang bahwa “ibu” pun bisa muncul pula pada sesosok laki-laki biseksual misalnya, atau laki-laki single parent yang mengasuh sendiri anak-anaknya]. Dan, membincang tentang perempuan di negeri yang gerusan patriarkinya masih hebat ini, menjadi pembuka untuk melihat realitas yang masih memprihatinkan hingga detik ketika saya menuliskan ini.

“Jika ingin melihat kemiskinan dan kebodohan, lihatlah pada wajah perempuan…”, begitu ujaran jurnalis harian Kompas, Maria Hartiningsih, yang masih menancap kuat di ingatan saya. Penisbatan itu tak berlebihan, mengingat kemiskinan dan kebodohan secara massif masih melekat di diri perempuan negeri ini. Berbagai unsur boleh dituduh sebagai biangnya; sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan wacana keagamaan yang bias gender, mendaulat perempuan menjadi kaum mustadh’afin [yang lemah dan dilemahkan] dalam makna sesungguhnya. Dalam prosentase yang banyak, perempuan juga masih menempati posisi subordinat, bahkan subaltern.

Realitas ini seakan berbanding terjungkir balik dengan romantisme seperti yang saya singgung di atas. Perempuan tanpa reserve seolah telah dinobatkan menjadi penanggung jawab utama sebagai juru rawat kehidupan; sendirian. Sebuah gelar yang lagi-lagi romantis, namun tak jarang menjerembabkan. Seperti juga salah satu hasil rekomendasi Kongres Perempuan Indonesia tahun 1938 di Bandung yang akhirnya menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, bahwa “Perempuan Indonesia berkewajiban berusaha supaya generasi baru sadar akan kewajiban kebangsaan: ia berkewajiban menjadi “Ibu Bangsa”. Wow, hebat sekali… “Ibu Bangsa” gitu loh?

Duh, Ibu Bangsa. Bagaimana itu bisa terwujud jika setiap waktu masih saja ada kekerasan demi kekerasan yang dialami perempuan? [kekerasan, apa pun bentuknya, adalah hal yang kontraproduktif dari upaya menjadi “Ibu Bangsa”]. Bahkan, anehnya, dari tahun ke tahun kian meningkat. Tengok saja media-media yang menyuguhkan laporan-laporan itu. Saya juga kerap niteni, nyaris di setiap waktu mendekati atau menyambut hari-hari yang berhubungan dengan perayaan perempuan [8 Maret; Hari Perempuan Internasional, 21 April; Hari Kartini, 22 Desember; Hari Ibu, Hari Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan, Hari Lahir Fatayat, Hari Lahir Muslimat, dll.], media massa kerap menurunkan laporan mutakhir tentang tingkat kekerasan dus penderitaan perempuan yang meningkat. Sungguh, terasa membosankan berputar di arus lingkaran setan, dengan membaca suguhan berita macam itu. Saya tidak menafikan bahwa ada juga capaian menggembirakan seperti laporan media massa tentang daerah-daerah di Indonesia yang dalam geliat pembangunannya menjadi “juara” dalam hal PUG [Pengarusutamaan Gender]. Akan tetapi, realitas ternyata lebih canggih dan jujur dalam mewartakan hal sesungguhnya.

Perempuan, dalam keseluruhan hidupnya tak bisa mengelak dari tak terbilangnya persoalan yang maha luas, seluas hidup ini; sebagai konsekuensi logis menjadi manusia yang terlahir di dunia. Tetapi, hidup dalam kehidupan yang tidak ramah, bukanlah konsekuensi logis. Karena sesungguhnya kehidupan yang tak ramah itu adalah hasil create manusia, hasil rekayasa entah disengaja entah tidak. Di titik inilah yang membuat saya gusar. Jan-jane piye to?

Sejenak saya teringat dengan Hari Raya Idul Adha yang belum lama kita lewati ini. Nyaris di setiap khutbah sembahyang massal itu, sosok Nabi Ibrahim AS dan puteranya Ismail yang disebut-sebut sebagai contoh filosofi pengorbanan atau berkurban. Meskipun realitas sejarah yang “sangat laki-laki” itu tentunya saya imani sebagai bagian dari kemusliman saya, rasanya saya juga sangat menyayangkan mengapa khutbah itu sepi dari memaknai atau berfilosofi tentang perempuan Islam dalam sejarah yang nilainya sebanding dengan pengorbanan dua Nabi AS itu. Apakah karena pengkhutbah itu laki-laki hingga “alergi” berkisah tentang kehebatan perempuan dalam berkurban?

Sebut saja Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail, yang mbabat alas, mengais hidup sekaligus meniupkan kehidupan di Makkah nan gersang [senajan Makkah ora ono alas, Dab!], demi sang buah hati dengan mengesampingkan perasaan pribadinya sebagai “yang disingkirkan” bersebab ia istri yang dipoligami. Sebut juga perempuan Maryam yang sebagai manusia biasa ia pun bisa “shock” ketika memiliki pengalaman “supra” dari ranah teologisnya yang sangat pribadi itu, hingga caci maki nyaris membuatnya putus asa menuntun hidup. Catat pula Siti Masyitoh, Si Tukang Sisir keluarga Raja Fir’aun, yang karena keteguhannya mengantarkan mata, kepala, dan hatinya musti menyaksikan satu per satu belahan jiwanya dimasukkan ke dalam tungku yang mendidih, demi sebuah keimanan! Lihat pula perempuan Asiyah, bagaimana ia pun musti bergulat sebagai permaisuri Fir’aun, suaminya yang adalah “rival” Tuhannya. Belum lagi jika kita menyimak sosok Khadijah yang aduhai cintanya yang elok untuk Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Semuanya bermuara pada satu filosofi pengorbanan yang hebat.

Boleh lah jika ada yang mengatakan bahwa contoh sejarah itu “jauh sekali” dari Indonesia. Baiklah, kita memiliki jutaan ibu dan perempuan Aceh, Maluku, Papua, Poso, Sambas, Kedungombo, Porong Sidoarjo, Alas Tlogo Pasuruan, dll. yang seluruh usia hidupnya nyaris adalah usia derita dan pengorbanan. Kita memiliki Marsinah, Suciwati, Marsiyem, ibu-ibu korban ’65, juga ribuan perempuan pekerja migran yang tewas sia-sia. Kita juga memiliki Prita juga Nenek Minah yang tersaruk-saruk menghadapi pengadilan yang asing dari keadilan yang didambanya. Ah, kelewat banyak untuk dikisahkan. Kelewat hebat pula untuk segera menjadi amnesia sosial.

Lalu? Yang tersisa adalah perempuan-perempuan dalam perangkap hiburan dan budaya instan. Sebagai pemilik mata yang melotot jika sedang marah dan menjadi pelaku tindak kekerasan itu sendiri di sinetron-sinetron murahan. Sebagai yang kurang kerjaan karena hanya termehek-mehek sibuk mengintai [dengan bantuan kamera televisi lagi], lalu adu jotos urusan pacar dan pasangan yang direbut orang, tanpa malu sama sekali di lihat orang se-Indonesia. Mungkin perempuan-perempuan itu acapkali lupa, bahwa di dalam tubuhnya terdapat anugerah tak ternilai, yakni rahim! Rahim itu tanpa disadari ia bawa ke mana-mana sepanjang napas dikandung badan. Namun rasanya sepi dari makna, sepi dari penghayatan. Betapa rahim adalah filosofi dari rumah kasih sayang maha sempurna yang hanya dimiliki perempuan. Ruah kasih yang mustinya dimiliki dan senantiasa ditebarkan ke alam semesta. Menjadikan perempuan wajah teduh bagi kehidupan. Ah, embuh lah, taring jahat itu ada di mana-mana dan meringkus mereka…

Ya. Itulah realitas kita. Realitas Indonesia di tanggal 22 Desember yang dirayakan ini. Saya kemudian tak bisa berkata-kata untuk merayakan Hari Ibu yang jatuh hari ini, apalagi tahu musti berbuat apa. Kecuali mungkin saya diam-diam berharap, akan ada pembacaan segar lagi, bahwa Tuhan itu menciptakan makhluk bukan bernama laki-laki dan perempuan, tetapi menciptakan makhluk bernama MANUSIA.

Hmm, lalu saya hanya bisa mencoba kembali ke hal sederhana yang membuat saya bahagia sebagai perempuan [juga sebagai calon ibu, kelak]. Membaca kembali buku-buku yang ada di kamar saya atau menulis-nulis apa pun dengan segelas kopi panas menyanding, sembari menikmati lagu “IBU” dari Iwan Fals. Atau mendengarkan ibu saya mendaras Al-Qur’an usai sembahyang dengan kepala saya rebahkan di pangkuannya. Atau seperti kemarin, sepulang perjalanan jauh yang membuat saya terpisah beberapa hari dari rumah, saya berkisah kepada ibu saya tentang apa yang saya temui dan terjadi di perjalanan itu. Tanpa saya duga, mendengar cerita saya itu, ibu saya spontan tertawa terkekeh-kekeh, selanjutnya beliau malah berkisah tentang romantisme masa mudanya dulu ketika bertemu dengan bapak saya. Ceileeeeee..ceilatun..ceilaani..ceiluuunaa..!

[Duh, saya bahagia sekali…]

SELAMAT BERHARI IBU….. Salam hangat buat semua perempuan!

Ngestiharjo, 22 Desember ’09, 04:01’
[terima kasih buat Mbak Entis, yang telah menginspirasi saya untuk menulis ini. Meski sekadar kata-kata yang terlepas-lepas]

Tidak ada komentar:

A Musthafa A Rodhi Murtadho A Wahyu Kristianto A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Wachid BS Abdullah al-Mustofa Abdullah Khusairi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimanyu Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Maulani Adek Alwi Adhi Pandoyo Adrian Ramdani Ady Amar Afrizal Malna Agnes Rita Sulistyawati Aguk Irawan Mn Agus R. Sarjono Agus Riadi Agus Subiyakto Agus Sulton Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahm Soleh Ahmad Farid Tuasikal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Luthfi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadie Thaha Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rasyid AJ Susmana Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander Aur Alexander G.B. Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Rif’an Aliela Alimuddin Alit S. Rini Alunk Estohank Ami Herman Amich Alhumami Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminudin TH Siregar Ammilya Rostika Sari An. Ismanto Anaz Andaru Ratnasari Andhi Setyo Wibowo Andhika Prayoga Andong Buku #3 Andrenaline Katarsis Andri Cahyadi Angela Anies Baswedan Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Sudibyo Anton Wahyudi Anwar Holid Anwar Siswadi Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Zulkifli Arti Bumi Intaran Asarpin Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayu Utami Azyumardi Azra Babe Derwan Bagja Hidayat Balada Bandung Mawardi Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Bernadette Lilia Nova Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Bhakti Hariani Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budi Winarto Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Bustan Basir Maras Camelia Mafaza Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cecep Syamsul Hari Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Choirul Rikzqa D. Dudu A.R D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Darmanto Jatman Dedy Tri Riyadi Delvi Yandra Denny JA Denny Mizhar Dewi Anggraeni Dian Basuki Dian Hartati Dian Sukarno Dian Yanuardy Diana AV Sasa Dinar Rahayu Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi Warsidi Edy Firmansyah EH Kartanegara Eka Alam Sari Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyn Novellin Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil Amir Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F. Budi Hardiman Fadly Rahman Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fani Ayudea Fariz al-Nizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fatkhul Aziz Felix K. Nesi Film Fitri Yani Franditya Utomo Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Garna Raditya Gde Artawan Geger Riyanto Gendhotwukir George Soedarsono Esthu Gerakan Surah Buku (GSB) Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunawan Tri Atmojo H. Supriono Muslich H.B. Jassin Hadi Napster Halim H.D. Hamberan Syahbana Hamidah Abdurrachman Han Gagas Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Priyatna Hasan Aspahani Hasan Gauk Hasan Junus Hasnan Bachtiar Helvy Tiana Rosa Helwatin Najwa Hendra Junaedi Hendra Makmur Hendriyo Widi Ismanto Hepi Andi Bastoni Heri Latief Heri Listianto Herry Firyansyah Heru Untung Leksono Hikmat Darmawan Hilal Ahmad Hilyatul Auliya Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur Husnun N Djuraid I Nyoman Suaka Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IGK Tribana Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilenk Rembulan Ilham khoiri Imam Jazuli Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santosa Imelda Imron Arlado Imron Tohari Indiar Manggara Indira Margareta Indra Darmawan Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ingki Rinaldi Insaf Albert Tarigan Intan Hs Isbedy Stiawan ZS Ismail Amin Ismi Wahid Ivan Haris Iwan Gunadi Jacob Sumardjo Jafar Fakhrurozi Jajang R Kawentar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean-Marie Gustave Le Clezio JJ. Kusni Joko Pinurbo Joko Sandur Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Julika Hasanah Julizar Kasiri Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kadir Ruslan Kartika Candra Kasnadi Katrin Bandel Kenedi Nurhan Ketut Yuliarsa KH. Ma'ruf Amin Khaerudin Khalil Zuhdy Lawna Kholilul Rohman Ahmad Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Krisandi Dewi Kritik Sastra Kucing Oren Kuswinarto Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lenah Susianty Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto M Shoim Anwar M. Arman A.Z. M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Harya Ramdhoni M. Kasim M. Latief M. Wildan Habibi M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria hartiningsih Maria Serenada Sinurat Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Marsus Banjarbarat Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masriadi Mawar Kusuma Wulan Max Arifin Melani Budianta Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Mezra E. Pellondou Micky Hidayat Mihar Harahap Misbahus Surur Moh Samsul Arifin Moh. Syafari Firdaus Mohamad Asrori Mulky Mohammad Afifuddin Mohammad Fadlul Rahman Muh Kholid A.S. Muh. Muhlisin Muhajir Arifin Muhamad Sulhanudin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Azka Fahriza Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Nafi’ah Al-Ma’rab Naskah Teater Nezar Patria Nina Setyawati Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noor H. Dee Noval Maliki Nunuy Nurhayati Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurudin Octavio Paz Oliviaks Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pamusuk Eneste Panda MT Siallagan Pandu Jakasurya PDS H.B. Jassin Philipus Parera Pradewi Tri Chatami Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R Sutandya Yudha Khaidar R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmadi Usman Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rahmat Sutandya Yudhanto Raihul Fadjri Rainer Maria Rilke Raja Ali Haji Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridha al Qadri Ridwan Munawwar Rikobidik Riri Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rizky Andriati Pohan Robert Frost Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Romi Febriyanto Saputro Rosihan Anwar RR Miranda Rudy Policarpus Rukardi S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Gerilyawan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra SelaSastra ke #24 Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Subhan SD Suci Ayu Latifah Sulaiman Djaya Sulistiyo Suparno Sunaryo Broto Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunudyantoro Suriali Andi Kustomo Suryadi Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susi Ivvaty Susianna Susilowati Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Bahri Syam Sdp Syarif Hidayatullah Tajuddin Noor Ganie Tammalele Tan Malaka Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Tengsoe Tjahjono Th Pudjo Widijanto Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Joko Susilo Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Umar Kayam Undri Uniawati Universitas Indonesia UU Hamidy Vyan Tashwirul Afkar W Haryanto W.S. Rendra Wahyudin Wannofri Samry Warung Boenga Ketjil Waskiti G Sasongko Wawan Eko Yulianto Wawancara Web Warouw Wijang Wharek Wiko Antoni Wina Bojonegoro Wira Apri Pratiwi Wiratmo Soekito Wishnubroto Widarso Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Wing King WS Rendra Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yani Arifin Sholikin Yesi Devisa Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosi M. Giri Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuval Noah Harari Yuyu AN Krisna Zaki Zubaidi Zalfeni Wimra Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhaenal Fanani Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar Zulhasril Nasir