Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

REVOLUSI SUNYI SANG PENYAIR; IQBAL

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/2009/09/quiet-revolution-of-the-poet-muhammad-iqbal/

Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku (Iqbal, Rahasia Pribadi).

Di sana, saya melihat betapa malang seorang penyair yang seolah gagal menyuarakan hati nuraninya, dalam kancah usianya mereguk masa melahirkan karya-karya. Sejenis keputusasaan yang menyimpan harapan, entah mihttp://www.blogger.com/img/blank.gifmpi bolong atau bergelayutnya awan yang enggan menurunkan hujan. Kala kehidupan membutuhkan seteguk tirta pengusir dahaga di tengah kembaranya.

Tampak jelas penyair itu takkan bisa merangkai kata-kata, memuntahkan isi jiwanya ke dalam lelembaran karya, selain setelah menyetubuhi pengalaman hayatnya. Kesendirianya bukan kedahagaan tanpa guna, serupa pengharapan yang ngambang. Namun sungguh perjuangan itu melahirkannya, meski nampak tidak seberapa…

Nurel Javissyarqi: Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat

–Muhammad Iqbal, Nyanyian Waktu

Pada suatu hari seorang Pendeta Agung singgah di sebuah majelis pumpun sambil mengajukan teka-teki kepada hadirin: “Apakah di antara yang ada di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus juga paling pendek, paling cepat namun paling lambat, paling terbagi-bagi tapi paling luas, paling disepelekan tapi paling disesalkan. Tanpa hal tersebut, tak satu pun bisa dilakukan. Dia melahap segala sesuatu yang kecil, tapi mengabadikan yang besar”.

Hadirin tampak berpikir untuk menemukan jawaban. Lalu seorang berdiri, dan dengan amat meyakinkan ia menjawab: Kekayaan. Si pendeta menggelengkan kepala. Lalu seorang lagi mengacungkan telunjuk sambil menyebut cahaya. Seorang lagi menjawab kabut. Ada juga yang menyebut asa. Tapi semua jawaban itu salah. Yang betul adalah jawaban Zadig: Waktu.

Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala

A. Zakky Zulhazmi
Ponorogo Pos, 24 Juli 2011

Pada awal Mei 2011 Han Gagas meluncurkan sebuah novel bertajuk Tembang Tolak Bala (LKiS, Jogja). Sebuah novel yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Kehadiran novel ini merupakan sebuah angin sejuk di tengah musim kamarau. Mengatakan perkembangan novel Indonesia akhir-akhir ini sebagai sebuah musim kemarau rasanya tidak berlebihan. Pasalnya sudah beberapa tahun ini kita senantiasa disuguhi novel dengan tema-tema yang itu-itu saja. Bahkan Han Gagas menulis di awal Pengantar Penulis, sebagai berikut: saya menulis pengantar ini ketika dunia kita sedang mengalami yang namanya mabuk novel ‘Ingin Maju Harus ke Luar Negeri”.

Han Gagas sendiri adalah seorang lelaki kelahiran Ponorogo, 21 Oktober 1977. Setelah menamatkan studi di SMAN 2 Ponorogo Han Gagas melanjutkan ke Geodesi UGM. Karyanya, terutama cerpen telah banyak dimuat di koran lokal maupun nasional. Sebelumnya ia juga pernah menerbitkan buku Sang Penjelajah Dunia (Republi…

Mencintai Maritim Lewat Sastra

Nurani Soyomukti
http://www.suarakarya-online.com/

tak seorangpun menulis laut
tapi ada penulis laut
dengan sekali sintuh
segalanya jadi gemuruh

kapan memantul kecemasan
dari rahang-rahang batu karang
ketika lenyap jeritan
takdirpun tidak telanjang

Puisi berjudul “Laut” karya Zamawi Imron di atas ditulis pada tahun 1977. Penyair asal Madura ini seakan mengingatkan pada kita bahwa “tak seorangpun menulis laut”, artinya bahwa laut dan potensinya masih jarang ditulis oleh para sastrawan kita. Laut memiliki pesona yang tidak pernah lekang dari manusia yang, sayangnya, masih belum dapat dimanfaaatkan untuk membangun negeri ini, untuk membangun kemanusiaan bangsa.

Menggali potensi laut sebagai bahan mentah estetika puisi, cerpen, atau novel masih belum banyak dilakukan. Seakan seiring dengan ketidakmampuan pemerintah untuk mengolah sumberdaya maritim kita. Kebanyakan sastrawan kita masih terpesona oleh nuansa kehidupan urban dalam menginspirasikan karya-karyanya. Kehidupan perkotaan yang hedonis denga…

Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Banyak waktu untuk masalah kecil. Banyak waktu untuk masalah besar.
Sedikit waktu untuk masalah kecil. Sedikit waktu untuk masalah besar.”

Puisi adalah hasil sadapan peristiwa alam semesta, di mana permasalahan yang amat gigantik dirangkum dan diperas sedemikian rupa menjadi santan, hingga sedemikian ringkas, padat, kental dalam satu rasa dan makna. Dari seribu permasalahan misalnya, puisi bisa merekam efektif mendekati target nominal yang sulit dicerpenkan, apalagi dinovelkan. Itu sebab, puisi kerap sebagai jalur paling ramai dilintasi sastrawan pemula sebelum merambah ke wilayah yang lebih lebar cakupannya: cerpen, novel.

Sastra (puisi) seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaim…

PUISI: Melayat Kemanusiaan Kita

Muhammad Rain *
http://sastra-indonesia.com/

Puisi dapat dinikmati dengan beragam cara. Ada dua cara di antara ragam penikmatan dan pemahaman puisi sebagai benar satu (kita tak mau salah) karya sastra sebagaimana yang disampaikan oleh M. Saleh Saad dalam Prasaran Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan miliknya yang dimuat dalam buku Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Ali, ed., 1967: 111 – 27; 128 – 51). Pertama, bersatu dan menenggelamkan diri ke dalam karya sastra itu, sehingga persoalan yang ada ialah merasakan; dan cara kedua ialah menikmatinya secara sadar dengan memanfaatkan kaidah atau kriteria tertentu untuk menganalisis karya sastra, sehingga persoalannya ialah menilai secara obyektif.

Memasuki cara pertama yang disampaikan M. Saleh Saad ini yakni bersatu, tenggelam ke dalam karya yang kita baca, maka kita selaku pembaca dihadapkan kepada penyerahan kesadaran kita secara ikhlas untuk memperoleh hasil pembacaan puisi. Keyakinan dan kepe…

AKU MENGINGATMU SEPERTI DULU

Pablo Neruda
Diterjemahkan: Ridha al Qadri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku mengingatmu seperti dulu di musim gugur terakhir.
Kau adalah baret abu-abu dan keheningan hati.
Di dalam matamu nyala senja bertahan.
Dan daun-daun jatuh di air jiwamu.

Rangkulan lenganku seperti rambatan tumbuhan
daun-daun menyimpan suaramu, yang lamban dan dalam damai.
Api unggun rasa kagum di mana dahagaku membakar.
Bunga bakung biru manis membelit di atas jiwaku.

Aku merasa matamu melintas, dan musim gugus jauh sekali:
baret abu-abu, suara seekor burung, hati seperti sebuah rumah
menjelang di mana keinginanku yang dalam berpindah tempat
dan ciumanku rubuh, bahagia seperti bara api.

Langit dari sebuah kapal. Bidang dari bukit:
Ingatanmu terbuat dari cahaya, dari asap, dari kolam keheningan!
Di balik matamu, lebih jauh terpasang, malam yang berkobar.
Daun-daun kering musim gugur berpusar dalam jiwamu.

======
Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari I Remember You as You Were dalam Pablo Neruda: Twenty Love Poems and a Song of…

SEBUAH DOA DI MUSIM SEMI

Robert Frost
Diterjemahkan: Ridha al Qadri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Oh, beri kami kesenangan dalam kembang hari ini;
dan beri kami tidak untuk berpikir sejauh ini
seperti panenan yang tak pasti; pelihara kami di sini
semua sederhana di tahun bersemi.

Oh, beri kami kesenangan dalam putih kebun,
seperti tiada yang lain per hari, seperti hantu di waktu malam;
dan buat kami bahagia dalam lebah yang bahagia,
berkerumun meluas mengitari pohon yang sempurna.

Dan buat kami bahagia dalam loncatan burung
yang tiba-tiba terdengar di atas lebah,
bintang berekor yang menusuk dengan paruh,
dan lagi bunga-bunga di tengah udara berdiri diam.

Karena ini cinta dan tiada selain cinta,
yang disediakan agar Tuhan di atas sana
menyucikan akhir terjauh yang Dia kehendaki,
tetapi yang cuma butuh bahwa kita memenuhi.

=======
Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari A Prayer in Spring dalam The Bocket Book of Robert Frost’s Poems, Henry Holt and Company, Inc., 1946.

1927, Tagore dan Pablo Neruda bertemu di Jawa

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=328

Puisi bertitel Kepada Tanah Jawa, bukti Rabindranath Tagore (7 Mei 1861 – 7 Agus 1941) pada tahun 1927, di usianya ke 66, selepas jauh mendapatkan Nobel Sastra 1913, dirinya berada di bencah tanah Jawa.

Halaman 357, tepatnya sub judul, Hubungan Kita dengan Rabindranath Tagore. Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya, bagian II A: Kebudayaan (terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1967), berkata, bahwa pada tahun 1927, Sang Pujangga Rabindranath Tagore berkunjung ke perguruan Mataram Jogjakarya.

Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pablo_Neruda. Menyebutkan Neruda di tahun 1927 dalam usianya ke 23, putus asa oleh kemiskinan, menerima jabatan konsul kehormatan di Rangoon, kolonial Burma, tempat yang belum pernah didengarnya.

Lalu bekerja serabutan di Kolombo (Sri Lanka), Batavia serta Singapura. Di tanah Jawa, bertemu dan menikahi istri pertama, seorang Belanda pegawai bank, yang bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang.

Sementara menjalan…

Menjaga Hening

Pablo Neruda
Terjemahan bebas: Alit S. Rini
http://www.balipost.co.id/

Kini kita akan menghitung waktu
ke puncak malam
dan berhenti sejenak di sana
untuk sekali memandang wajah bumi
tanpa suara dalam bahasa apa pun
berhenti sejenak saja
membiarkan tubuh
tak banyak bergerak

akan tiba saat yang menakjubkan
tanpa riuh, tanpa deru mesin-mesin
kita berada dalam kebersamaan
dalam keterasingan yang tiba-tiba

Para nelayan di lautan dingin
takkan melukai ikan-ikan paus
dan lelaki pencari garam
memandangi tangannya
yang terluka

Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
peperangan dengan gas,
peperangan dengan api,
kemenangan tanpa pemenang,

akan meletakkan baju-baju bersih
dan akan melangkah bersama para saudara
di dalam bayang-bayang,
tak melakukan apa pun

Apa yang kuinginkan
tak seharusnya membingkungkan
Kehidupan seperti ini:
Aku ingin tidak ada truk dengan kematian.

Jika kita tidak tulus ikhlas
untuk menjaga kehidupan kita
yang terus bergerak,
dan sekali saja tak melakukan apa pun,
mungkin keheningan yang maha besar
mungkin akan…

Puisi, Sejarah, Santet *

Sebentuk ‘Surat Kreatif’ kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi
Mashuri **
http://sastra-indonesia.com/

Sejarah adalah mimpi buruk (James Joyce)

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Mungkin kita belum pernah bersua, namun dalam kesempatan ini aku berikhtiar bersua denganmu lewat puisi-puisimu. Siapa tahu aku dan dirimu bertemu atau berpapasan di teks-teks puisimu, dan pertemuan itu bisa aku untai menjadi buah pikiranku. Jika aku tak bisa menemuimu di sana, aku akan merangkum kealpaan itu dalam praduga yang berlatar pada sosio-kultur yang melahirkan teks-teks puisimu, juga sosiokultur yang mematri nilai-nilai dan kearifan ke jiwamu.

Oleh karena itu, aku akan bertumpu pada ingatan-ingatan kolektif, kearifan dan kenaifan tradisi, juga mungkin sebentuk hasrat yang tergurat di bait-baitmu, yang kadang lancar. Kadang patah-patah. Dan, seringkali membuat aku harus menakik alur pikir dan perasaanku untuk membalik teks-teks puisimu, agar aku bisa mengintip rahasia dan misteri yan…

“Teori Kritis” komunikasi kontemporer Jurgen Habermas

Janual Aidi
http://janualaidi01.blogspot.com/

”Teori kritis merupakan pembaharuan dari tradisi Markxis yang menghendaki emansipasi mereka yang tertindas dan ternista di dalam masyarakat yang timpang”.

Istilah ini merujuk pada tesa bangunan teori yang diandaikan oleh Habermas dalam rangka untuk meneruskan kebuntuan Mazhab Frankfrut. Atau dalam istilah bahasa; pandangan komunikasi. Pendekatan teori kritis menjelaskan dengan cukup bijak bahwa teori ini memberi penekanan kuat kepada hubungan dan sarana komunikasi dalam masyarakat. Praktek-praktek komunikasi merupakan suatu hasil dari ketegangan-ketegangan antara kretifitas indifidu dan batasan-batasan fosial terhadap kreatifitas tersebut. Hanya bila indifidu benar-benar bebas untuk mengespresikan diri dengan jelas dan tegas maka pembebasan bisa terjadi dan kondisi itu tidak bisa dicapai dalam masyarakat yang berdasarkan kelas.

Penulis belajar menganalisis bahwa teori kritis pada umumnya memiliki 4 (empat) karakter ; (1) bahwa teori kritis ber…

P E N G A R A N G

S. Jai
Tabloid Memo, Minggu III Juni 2010

SETIAP hari Jauhar mencari penjual ginjal, setelah dokter memvonis kedua buah ginjalnya tak berguna. Dia telah dibuat mengerti, bahwa itu satu-satunya jalan untuk mengakhiri rutinitas cuci darah di laboratorium Rumah Sakit di Gresik dua kali saban seminggu. Meski ia tahu hal itu juga salah satu jalan kemungkinan untuk mengakhiri hidupnya. Pada saat demikian, dia benar-benar ada di garis batas berjuang memberi arti antara gairah untuk hidup dan gairah untuk mati.

Saya menjadi lebih sedikit mengerti bahtera di rumah majikan saya itu. Hanya karena saya sering diserahi pekerjaan beres-beres rumah Jauhar, mengecat kusen, menambal tembok, memasang kran, mengantar istrinya belanja, menjemput anaknya dari sekolah atau apa saja.

Di rumah itu saya hanyalah orang lain. Dia majikan dan saya pekerja serabutan.

Memang pada selanjutnya, saya mengerti banyak keadaan rumah tangga Jauhar sekeluarga. Semula ini saya nilai kejadian biasa, sebagaimana banyak terjadi ba…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]