Minggu, 26 Juni 2011

REVOLUSI SUNYI SANG PENYAIR; IQBAL

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/2009/09/quiet-revolution-of-the-poet-muhammad-iqbal/


Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku (Iqbal, Rahasia Pribadi).

Di sana, saya melihat betapa malang seorang penyair yang seolah gagal menyuarakan hati nuraninya, dalam kancah usianya mereguk masa melahirkan karya-karya. Sejenis keputusasaan yang menyimpan harapan, entah mihttp://www.blogger.com/img/blank.gifmpi bolong atau bergelayutnya awan yang enggan menurunkan hujan. Kala kehidupan membutuhkan seteguk tirta pengusir dahaga di tengah kembaranya.

Tampak jelas penyair itu takkan bisa merangkai kata-kata, memuntahkan isi jiwanya ke dalam lelembaran karya, selain setelah menyetubuhi pengalaman hayatnya. Kesendirianya bukan kedahagaan tanpa guna, serupa pengharapan yang ngambang. Namun sungguh perjuangan itu melahirkannya, meski nampak tidak seberapa, ketika dirinya masih menghirup udara -nyawa.

Sang penyair menuangkan kata-kata, melewati pertimbangan daya simpan, demi masa-masa mendatang –terpenting, sebab takkan sampai hatam waktu memaknai hasratnya. Karena itulah kegagalan masa hidup, kesunyian di saat menjalani kesehariannya, bukanlah tanpa alasan tidak bermakna paripurna. Tetapi ini jalan yang harus ditempuh, kalau menginginkan keabadian kisah hayatnya dikenang sepanjang masa, sejauh kalimah-kalimahnya menyungguhi keyakinan juang.

Sedang yang datang hendak mengenyamnya, mengunyah usianya demi deretan kalimah nilai-nilai kelestarian yang dibangunnya. Seakan embun selalu menghiasi mata fajar, begitu dalam kalbu insan, saat-saat meneguk nuansa nilai yang dihadirkan penyair di setiap malam-malamnya, yang penuh permenungan.

Pada jamannya, melihat sosok penyair laiknya gelandangan tanpa kerjaan, selintas tiada manfaat dirinya, apalagi bagi umat. Namun tidakkah makna jatuh di akhir kalimah, pucuk peristiwa. Dan perasaan itu menghidupkan kalimatnya, hadir lebih nyata, manakala sudah tidak terbebani jasad fana.

Seorang penyair laksana prajurit yang selalu melatih ketangkasan bathin, ketika waktu memanggilnya, ia hadir dengan penuh kesiapaan, mengejawantah jiwanya serupa kalimah tunggal, yang menggerahkan dirinya demi selalu dibahas dikemudian. Ini manfaat, lebih dari sebuah realitas kerja, sebab sudah menjelma energi pergerakan. Ketika kalimah-kalimah yang diutarakan penyair berlesatan, datanglah ruh penunggu kalimah itu seperti bara menyimpan api, sekali tiup menyalakan percik perjuangan.

Siapa yang mampu memahami maksudnya? Sang penyair itu mengutarakan yang terpendam di kala masih bernafas dalam usia ruang-waktu yang sedang dikenyam. Hasratnya sungguh bertubi-tubi melesat tanpa bayangan. Tidakkah kita sadar, mata panah tidak memiliki telinga, tetapi yang mendesing di teling. Matanya melesat ke masa depan, yakni sasaran yang dituju. Dan jarak tempuh yang terlaksana itu dari himpunan nafas-nafas yang disetiai, dirawat melewati nalar merasai. Sehingga dalam lipatan gerak merupakan kesadaran murni, ini lebih jauh dari parade kesadaran, laksana lecutan kilat menghujam, secepat cahaya menembus rambatan udara penciptaan.

Hanya dalam dada penyair
Keindahan dan selubung tabir akan terbuka
(Iqbal, Pesan Bagi Para sastrawan Islam).

Sentakan hebat dari keindahan, berasal dari kelembutan perasaan yang membuka tabir, menyembulkan segala rahasia hayat ke permukaan yang mengagumkan. Kekaguman terbagi dua; yang membawa mati sebuah hasrat sebab tersedot atas apa yang dikagumi. Dan kedua; kekaguman yang semakin meningkatkan suatu kerja, memaknai dengan perasaan wah, yang hadir dengan sendiri sebagaimana kebenaran tanpa suara. Dan saya menempatkan keindahan itu hadir dari sebuah kesunyian pribadi, seperti sapaan dari seorang yang belum kita kenal akrab, dimana tenggang-rasa menempati posisinya sebagi kerahasiaan rasa.

Lewat kelembutan perasaan inilah tabir mulai terbuka, menerobor melewati sela-sela jeruji penjara kesunyian penyair. Iqbal pun berkata dalam lembaran lain, “Gairah penciptaan dia curi dari ruhmu.” Di sini, ia menempati nilai-nilai kehidupannya, semisal makna mendatang. Wajah yang disapa kali ini menemui raut yang sama di lain tempat-waktu perjamuan.

Namun tidakkah perwakilan dari karakter itu lahan di mana penyair mengambil gairah. Bebuah penelitian dari kedekatan yang mengundang ribuan tanya kesunyian. Dan kecurigaan yang tampak itu suatu waktu berbalik menjadi keyakinan, ketika masa-masa ditinggalkan. Sebab manusia takkan mampu berdiam diri tanpa angin sapaan. Maka meski kecurigaan hadir, rindu tetap timbul, kala benar-benar dalam kedamaian, yakni berkah waktu melewati periodenya. Ini kehawatiran yang menghadirkan rindu sebab perasaan ingin diperturutkan. Padahal makna rindu dan hawatir masih remang akan cahaya kepastian, letak masa meminta jatah dimaknai sebagai tempat bekerja.

Kendati selalu terinjak, rumput tak pernah punah
Dan berkali diusapnya kantuk maut dari mata
(Iqbal, Pengingkaran Terhadap Pribadi).

Meskipun bagaimana, ketidakpedulian mereka terhadap kesunyian, rumput tetap hidup dan mereka tak bisa membedakan makna rumput yang berdiri tegak dengan yang ambruk sebab langkah sepatu. Yang jelas kita dapat memetiknya, ia terus hidup takkan punah meski banjir ketidak percayaan atau kemarau penguasa menghabiskan, di suatu waktu tentu berbalik penuh dengan kesegaran jiwa merdeka. Sungguh rerumputan menyungguhi hidupnya, telah siap tidak berdaya mengayomi manusia, namun hewan-gembawa sangat membutuhkannya.

Inilah kekayaan jiwa terambil lewat membungkukkan dirinya, demi mengunyah kesunyian dan makhluk penjaga kantuk atau rerumputan sunyi itu senantiasa tegak di malam segar. Dan angin membisikkan kidungan permai pada telinga wengi, sedangkan manusia takkan mendengarkan nyanyian itu, selain yang mampu membuka tabir seperti merunduknya rerumputan menghadiahkan embun. Embun yang hadir di mata kantuk adalah penjaga kalbu yang tiada wasangka lepas dari kesadaran daun-daun, sampai lidah mentari menghisapnya kembali.

*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karenggeneng, Lamongan, JaTim.

Jumat, 24 Juni 2011

Nurel Javissyarqi: Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat

–Muhammad Iqbal, Nyanyian Waktu

Pada suatu hari seorang Pendeta Agung singgah di sebuah majelis pumpun sambil mengajukan teka-teki kepada hadirin: “Apakah di antara yang ada di dunia ini yang paling panjang namun sekaligus juga paling pendek, paling cepat namun paling lambat, paling terbagi-bagi tapi paling luas, paling disepelekan tapi paling disesalkan. Tanpa hal tersebut, tak satu pun bisa dilakukan. Dia melahap segala sesuatu yang kecil, tapi mengabadikan yang besar”.

Hadirin tampak berpikir untuk menemukan jawaban. Lalu seorang berdiri, dan dengan amat meyakinkan ia menjawab: Kekayaan. Si pendeta menggelengkan kepala. Lalu seorang lagi mengacungkan telunjuk sambil menyebut cahaya. Seorang lagi menjawab kabut. Ada juga yang menyebut asa. Tapi semua jawaban itu salah. Yang betul adalah jawaban Zadig: Waktu.

Dengan waktu, kata Zadig yang sedikit berfilsafat, maka tak ada yang dirasakan lebih panjang, sebab waktu adalah ukuran keabadian. Dengan waktu, tak ada yang lebih pendek karena selalu kurang untuk melaksanakan rencana-rencana kita; tak ada yang lebih lambat bagi mereka yang sedang menunggu; tak ada yang cepat berlalu untuk mereka yang sedang menikmati hidup. Waktu terbentang luas tak terkirakan, juga terbagi-bagi dalam satu ukuran sekecil-kecilnya. Semua orang menyepelekannya, namun menyesali kehilangannya. Tak ada yang dapat dilakukan tanpa waktu. Waktu membuat semua yang tak patut dikenang terlupakan, dan yang pantas dikenang menjadi abadi.

***

Teka-teki dan jawaban dengan sedikit retorika itu, saya kutip dari satu bab roman Voltaire dalam versi Indonesia: Suratan Takdir (judul aslinya Zadig). Apa sesungguhnya waktu? Zadig mungkin akan tetap menjawab: panjang. Kita hidup dalam waktu, dan sejak lama melahirkan persekutuan dan angkatan. Tapi apakah sebenarnya waktu di situ?

Kita tak tahu persis jawaban apa yang akan diberikan. Namun hampir tak ada penyair yang tak pernah menulis puisi tentang waktu. Minimal pernah sekali dalam hidupnya ia memikirkan waktu dan menuliskannya ke dalam bentuk sajak.

Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu. Kalau Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, maka saya ingin menandaskan bahwa waktu dapat dijadikan bahan tes bagi otentisitas seseorang. Kalau dia penyair, maka keontentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Otentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu.

Salah satu penyair yang tak begitu dikenal, namun telah menghasilkan satu buku kumpulan sajak yang unik dan bentuk yang menyempal, adalah saudara Nurel Javissyarqi. Lewat analekta sajak bertajuk Kitab Para Malaikat (2007) Nurel menghadirkan tafsiran waktu dalam bingkai filsafat dan ajaran kebatinan Jawa yang tak mudah dicerna, namun dari segi tema, terasa otentik.

perihal bentuk, sajak-sajak Nurel cukup unik tapi sekaligus janggal. Setiap ujung larik sajaknya ditandai dengan huruf atau angka romawi. Tentu saja kita bisa berdebat tentang fungsi angka-angka romawi dalam baris larik sajaknya. Bisa jadi hal itu hanya sekadar tempelan, seni dekorasi, dan tak memiliki maksud dan makna apa-apa. Atau bisa juga sebuah kelatahan, sekadar pemenuh garis kalimat, sebagaimana kita bisa juga memperdebatkan tanda baca yang tumpangtindih dan sepintas mubajir dan menyalahi aturan seperti yang dimaui para penggiat bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kalau saya boleh berbaik sangka, tentu saja semua keanehan itu dikerjakan dengan perhitungan yang mengandung misi tertentu. Angka-angka itu mungkin tak lagi sekadar kenenesan atau keisengan serta sekadar pemenuh garis kalimat. Bisa jadi ia memiliki hubungan yang terencana dengan sesuatu yang kita sebut sebagai penanda waktu.

Secara tematik, selain persoalan waktu, Kitab Para Malaikat banyak menampilkan tema seputar eksistensi. Namun menyelam tema saja tak cukup untuk menegaskan hakikat keindahan sebuah puisi. Kita mesti juga berenang menyusuri arus bentuk dan wawasan estetik sang penyair. Dan sajak-sajak Nurel tampak memberikan kesan “menyempal” dilihat dari segi bentuk. Di dalamnya kita temukan campur-baur berbagai gaya dan pengucapan. Beberapa bagian tampak si penyair begitu asyik dengan aforisme, dengan saran dengan petuah, dengan perbalahan, dengan doa dan mantra.

Karena telisik ini lebih memfokuskan pada penyelaman karakter tema, dengan fokus pada persoalan waktu, maka jadilah telisik ini amat sempit dan picik. Keputusan menjadikan waktu sebagai lahan garapan di sini karena cukup banyak dijumpai isyarat tentang waktu. Ketika si aku sedang asyik melakukan tamasya bahasa ke berbagai lumbung, si aku merasakan kekaguman terhadap waktu. Ada waktu di mana ia mengagumi setiap mil yang pernah dijelajahinya, setiap makanan yang pernah dicicipinya, setiap pribadi yang pernah dikenalnya, atau “ditidurinya”. Semua itu menggodanya, lalu dicatatnya, kemudian menjelma sebuah sajak.

Sebagai (salah satu) bahan tes bagi otentisitas, waktu karena itu bukan hal sepele dan main-main dalam sajak-sajak Nurel. Bahkan banyak sekali urusan di muka bumi yang terpaut dengan waktu muncul di situ. Banyak hal yang bahkan begitu tergantung dengan detik, menit, hari atau tahun. Kita bisa saja tak memahami ucapan seorang tokoh dalam sajaknya ketika menyebut “waktu di sayap malaikat”, atau ketika ia menulis “waktu terselip di jemari, menyibak ilalang memeluk senjakala ”, namun karena kita merasakan penghayatan sang penyair terhadap waktu begitu intens dan syarat makna, maka layaklah kita memberi predikat otentik terhadap larik sajak tersebut.

Atau kita ambil contoh satu larik lagi, ketika Nurel bicara tentang perempuan dan waktu. Seorang perempuan dibayangkan sebagai gerbang menuju ke ketinggian, mendaki ke puncak pohon lotus terjauh. “Ia pembuka gerbang langit, ketika kitab waktu belum dipelajari”, tulis Nurel.

Apa yang dimaui sang penyair dengan larik semacam itu? Adakah ia hendak menegaskan bahwa puisinya memiliki hubungan tersembunyi dengan proses penciptaan makhluk perempuan?

Waktu di sana dibayangkan sebagai timbangan, mizan. Sebuah tinanda sekaligus isyarat tentang kejadian sesuatu. Waktu juga diandaikan sebagai ukuran terhadap hal-ikhwal. Ia bisa dinyatakan lewat bilangan, lewat angka, atau waktu kuantitas. Tapi ada juga waktu kualitas yang tak terkait dengan angka atau bilangan. Waktu psikologis atau waktu eksistensialis, atau waktu filosofis, adalah penanda waktu di luar urusan kuantitas, tapi bisa terpaut dengan sifat atau karakter.

Seorang filsuf pernah menulis begini: “Ada renungan yang panjang terutama ketika waktu diukur dan dibekukan dalam satuan-satuan menit. Seakan-akan ada rentetan statis yang lantas dianggap sebagai waktu”. Ini kata-kata Bambang Sugiharto ketika memahami waktu dari konteks filsafat. Di sini waktu bisa bermakna penantian, ibarat waktu di ruang tunggu. Waktu dibayangkan sebagai seutas tali kebisuan.

Sementara Nurel merasakan kesuntukan dan kegersangan yang nyaris tak terkatakan ketika hendak berenang terus-menerus dalam arus waktu kehidupan. Dalam sebuah halaman ia menulis:

“Wajah haru biru menerima pautan waktu, rintik menerobos gersang,
sesapu debu juga daun-daun bersegaran setelah muka kemarau memanggang,
inilah hangat asmara mencerna ufuk timur raya (XIII:LXXXIV)
Anak-anak sungai menggelinjak ke bebatuan,
Terpotong tanggul kakikaki mungilmu (XIII:LXXXV)
Selembut tanya harapan tersengal keputusasaan
Terlempar arus kesadaran berasal hempasan (XIII:LXXXVI)

Dalam larik itu, ada pautan waktu, juga tentang harapan atau obsesi. Apa harapan dan obsesi yang dimaui sang penyair? Mari dengarkan senandung jawaban dalam lembar berikutnya: ”Waktu tertinggal mengekalkan kebaikan, tertulis hasrat suci mendekatkan diri/Sebelum sayap-sayap kaku, ujung-ujung tenggorokan hampa, izinkan mengucap kalimah sakti, teguh menguliti nasib mengisi, demi membuka kilauan tabir penciptaan”.

Penyair sepenuh-penuhnya berpaling kepada waktu ketika kata mulai dirasakan kian tak berdaya menyalurkan hasrat dan rasa haus estetis yang telah menyembul di kerongkongan. ”Kata-kata tidaklagi memuaskan mereka, kau tahu ruang kejujuran, keheningan suci tiada bercak keangkuhan”, tulisnya.

Dengan waktu, si aku merasakan pedihnya kesendirian, kesepian, hingga ia menandaskan kepada lawan bicaranya. “rasakan diamnya di dalam dirimu tersebab pribadi tidak menentu, maka mustahil pecahkan guratan batu di kening sejarah waktu”. Memang, seperti sering dikatakan orang, kita hidup dalam pergulatan terus-menerus dengan sejarah waktu. Atau mungkin lebih tepatnya: dalam arus waktu yang kian tak menentu.

Nurel seakan hendak menggenapkan waktu dengan menghubungkannya dengan sejarah dan kata serta membayangkan waktu masih berupa potongan-potongan tahun cahaya. “di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?/mewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,/siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya?”

Di sana dimensi waktu terasa jauh lebih relevan ketimbang dimensi ruang. Sebab, seperti juga pernah dikatakan seorang penyair lirik terkemuka di negeri ini, puisi tak terikat oleh waktu, dan tidak dapat pula dibelenggu oleh waktu. Ia bisa melintasi waktu, melampaui dimensi waktu. Dan Malaikat, kita tahu, bukan makhluk sejenis manusia yang kasatmata yang terikat oleh ruang dan waktu manusiawi. Dan kita juga tahu peran Malaikat dalam penyebaran wahyu dan misi kenabian dalam agama-agama dunia.

Malaikat adalah makhluk yang sejajar dengan setan atau iblis. Dan kita tahu, seandainya tak ada malaikat di surga, apa arti wahyu bagi manusia dan kemanusiaan. Seandainya tak ada iblis di surga yang menggoda Adam, mungkin kita takkan mengenal kitab suci di dunia, dan mungkin juga dunia takkan pernah dihuni manusia.

Waktu menjadi bagian tak tepisahkan dari manusia, alam, dan Tuhan. Hampir semua kebudayaan yang ada di muka bumi memiliki pemahaman tentang waktu: baik waktu sebagai angka hari, bulan, dan tahun, maupun waktu sebagai sejarah atau waktu dalam arti makna dan pemahaman. “Aku sengaja melempar dadu“ untuk “mencari padanan waktu”, tegas Nurel.

Sanga penyair agaknya mulai merasakan kejengahan terhadap waktu. Maka ia pun mulai sedikit bermain-main dengan waktu untuk menuju dan menemu waktu di luar sejarah dan pemahaman. Atau barangkali itu hanya strategi untuk menaklukkan waktu. Sebab dalam sajak-sajaknya terdapat isyarat tentang waktu geometris, waktu kalenderis, waktu antropologis, waktu mistis, waktu abstrak, waktu simbolis, dan sebagainya.

Ketika terpaut dengan sejarah, makna waktu menjadi serangkaian kejadian atau peristiwa yang dalam pandangan tradisionalisme, waktu tak dapat berulang. Waktu lampau membeku dalam sejarah dan tak dapat kembali. Musim durian tahun 2010 hanya sekali walau tahun berikutnya berkali-kali terjadi musim, namun berbeda hari, bulan atau tahun. Dan waktu tak mungkin berputar mengikuti lingkaran siklus yang sama.

Makna waktu menjadi kian rumit ketika dilihat dari konteks makna dan pemahaman. Dengan kata lain, waktu kualiatif. Alexis Carrel pernah mengingatkan akan pentingnya waktu kualitatif, karena menurutnya: banyak sekali persoalan manusia dan alam raya yang tak terkait secara kuantitatif. Martin Heidegger lain lagi: ia memahami waktu sebagai yang sambung-menyambung antara masalalu, masakini, masadepan dan berputar-putar tanpa awal dan akhir.

Waktu ibarat komidi putar di taman ria yang mengelilingi lingkaran. Ratusan tahun lampau al-Hallaj sudah menyebut tofik waktu sebagai lingkaran titik-titik primordial yang berputar terus-menerus dalam kesatuan antara masalampau, masakini, dan masadepan. Manusia memahami luncuran waktu sebagai proses yang tak cuma mengenai masa lalu, melainkan masakini dan juga masa depan.

Kalangan fisika kuantum konon mampu kembali ke waktu 1 miliar tahun lampau. Seorang kritikus pernah menelusuri persoalan waktu dalam konteks ini melalui pertemuan dengan sajak Padamu Jua dari pujangga Amir Hamzah. puisi itu menurutnya memiliki hubungan dengan skala waktu geologi yang kini mencakup masa jutaan, bahkan miliaran tahun, karena Bumi sendiri, katanya, telah berumur sekitar 4,5 miliar tahun. “Bicara waktu untuk kosmos atau alam semesta malah lebih menggetarkan karena menjangkau sedikitnya 13 miliar tahun”.

Dalam kurun yang jauh melampaui rentang waktu hidup pujangga Amir Hamzah—demikian ia sering disebut—manusia yang cerdas dan terus mendedikasikan tenaga, waktu, dan pikiran untuk memahami rahasia alam, kini bisa kembali ke masa miliaran tahun silam. Bahkan, kalau umur kosmos disebut 13 miliar tahun, katanya yang tampak sangat matematis, maka dengan berbekal ilmu fisika kuantum, manusia dapat mereka ulang kejadian-kejadian di dekat masa 13 miliar tahun silam itu, bukan saja satu detik setelah alam semesta lahir, tetapi bahkan seperjuta-triliun-triliun-triliun detik.

Sementara pujangga Nurel Javissyarqi mencoba menafsirkan riwayat sang kala dengan imaji sepersekianjuta tetes cahaya kepak sayap Mailaikat. Di bagian akhir kitabnya ia mengutip satu pernyataan Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi dalam ”Daqooiqul Akbar”: ”Malaikat Jibril as mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu dari zafaron. Matahari seakan berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gemintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah Subhanahu Wataallah menjadikan dari setiap tetes tersebut wujud Jibril as., mereka sama bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka Malaikat Ruhaniyyuun”.

Selanjutnya Nurel mengingatkan pembaca sambil meyakinkan lewat seruan: ”Saudara tentu tidak menyangka ketika kelepakan sayap malaikat menyentuh lapisan langit pertama, terciptalah kata, kata-kata itu dipungutinya sendiri bagi saudara-saudaranya, para Malaikat Ruhaniyyuun yang ditugaskan tuhan mengatur segala urusan dunia. Kata-kata tersebut bukan wahyu hendak disampaikan kepada para nabi, tapi murni pengalaman perjalanan bolak-balik. Hasil lawatannya itu diidentifikasi sendiri, bagaimana watak insan penghuni bumi. Ini catatan memahami sifat insan demi permudah malaikat menjalani perintah-Nya, menjaga ruh hayat lestari, juga demi insan mengerti cahaya malaikat berkreasi”.

Itulah kesaksian-kesaksian Nurel, atau goresan-goresan pengalaman kreatif yang melatari lahirnya antologi puisi yang penuh imaji kesufian yang liar ini. Ia tak puas jika tak menjelaskan apa dan bagaimana serta dimana sajak-sajak ini mengendap dan kemudian lahir sebagai sebuah kitab sajak yang jalin-menjalin antar berbagai tema dan pengalaman. Baik pengalaman luka maupun bahagia, baik pengalaman sakit maupun sehat, kekosongan maupun kepenuhan.

Kita, pembaca, diajaknya ikut merasakan, mengarungi, mengidentifikasi untuk kemudian mencoba mendekati seintim mungkin pengalaman-pengalaman puncak yang nyaris tak terkatakan itu. Bukan sekadar membaca, tentu saja, tapi membaca untuk bergulat ikut merasakan getar-getar pengalaman batin yang menggelora, juga mempesona. Sebagai penyair, tugasnya telah selesai, dan kini sajaknya berada di tangan pembaca, diambil-alih oleh pembaca melalui apa yang disebut kewenangan tafsir.

Sebagai penyair, Nurel tak seradikal Sutardji yang mengajak pembaca untuk memeras keringat hati dan otak dalam memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam sajak-sajaknya. Sebab soal paham dan tidakpaham, soal makna dan ketanpamaknaan sebuah sajak, bagi Nurel, adalah perkara lain lagi. Dengan bijak ia bersaran kepada pembaca untuk menemu tafsir yang bisa ditafsirkan lagi, memahami yang bisa terpahami saja lagi, atau—mengutip kata-katanya sendiri—”ambil yang saudara mengerti & selidiki yang belum terketahui”, lagi.

Tapi, sebagai pembaca, tak mudah lagi untuk mengambil bagian mana dari larik sajak yang dimengerti dan mana yang takdimengerti. Lagi pula kalau sudah dimengerti tak perlu lagi diselediki, atau masih ada gunanyakah menyelidiki sesuatu yang sudah telanjang kasatmata, atau yang sudah terang-benderang? Justru karena sifat sajak-sajak yang balam-balam itu, maka pembaca ditantang untuk berenang-renang ke tengah mengarungi tepi-tepi terakhir sebelum karam digulung ombak suak ujung sajak.

***

Walhasil, Kitab Para Malaikat adalah buku puisi yang mengambil bentuk prosa kefanaan: kehidupan dan kematian. Juga tentang doa dan waktu, serta waktu dan keabadian. Kitab ini tak mudah ditangkap hanya lewat pandangan saja, apalagi pandangan mata seorang kritikus yang tak siap untuk paham.

Bagi saya, hakikat waktu dalam sajak-sajak Nurel tak lengkap jika tak dilacak hingga ke akar-akar ”kebudayaan tradisional”. Sebab dalam ”masyarakat tradisi”, waktu tak terpisahkan dengan keseluruhan aktivitas sosial dan fenomena ekologis dan metereologis. Pencarian religius orang Hindu lama, misalnya, mengikuti jejak waktu spiritual. Mereka keluar dari siklus dan keterikatan waktu dari eksistensi untuk mencapai keadaan eksistensi yang abadi, imortal dan bahagia. Sementara ajaran Budha mirip dengan Hindu yang menggambarkan keadaan nirvana sebagai arus waktu melalui gagasan kelahiran kembali. Hanya saja, dalam kosmologi Budha, alam semesta adalah siklis, dan arus waktu kelahiran kembali itu ternyata melahirkan parinirwana—fase ketika tak ada lagi reinkarnasi atau terhentinya kelahiran kembali.

Dalam astronomi Babilonia yang digerakkan oleh ras Sumaeria dan Akkadia, misalnya, ruang dan waktu adalah bingkai kehidupan yang non-rasional yang berulang. Pemikiran astronomi dan matematis pada awalnya masih diliputi oleh suasana pemikiran magis-mistis. Ruang dan waktu dalam sistem astronomi awal tidak berupa ruang dan waktu teoritis yang terdiri dari titik-titik dan garis-garis yang bisa diukur. Astronomi lebih dikenal sebagai astrologi. Karena astronomi tak mungkin lahir tanpa sosoknya yang mitis dan magis, yaitu sosok astrologi.

Selama berabad-abad sifat ini bertahan, bahkan menurut Ernest Cassirer dalam An Essay on Man, masih terdapat dalam kurun pertama abad ke-20. Namun, kesulitan-kesulitan mendasar untuk mengekspresikan ruang dan waktu abstrak dan simbolis akhirnya dialami juga oleh para filsuf. Fakta bahwa ada ruang abstrak merupakan penemuan terpenting dari pemikiran Yunani.

Namun para pemikir Yunani masih juga kesulitan menjelaskan corak pemikiran logisnya. Sama seperti aljabar simbolis Babilonia masih teramat elementer dan sederhana. Maka larilah para filsuf Yunani ke dalam pernyataan-pernyataan paradoksal. Demokritos menganggap ruang ”bukan hal ada”. Newton mengingatkan agar tak mencampur-adukkan ruang matematika murni dengan ruang pengalaman inderawi. Tugas filsafat justru mengabstraksikan data-data dari pengalaman inderawi ini.

Para pemikir Berkeley menampik gagasan Newton tentang ruang matematika murni sebagai yang tak lebih dari ruang imajiner juga; suatu khayalan dalam pikiran manusia. Weinz Werner menganalisa gagasan ruang dan waktu masyarakat primitif dan secara angkuh menganggap ruang dan waktu manusia primitif kurang objektif, kurang terukur, kurang abstrak, sifatnya yang egosentris atau antromorfis, yang fisiognomis-dinamis yang tak sesuai dengan teori ruang dan waktu ilmiah. Dengan ruang geometris, katanya, maka manusia mendiami ruang universal.

Sementara Descartes berangkat dari penemuan besar di bidang matematika yang melahirkan cita-cita ideal mathesis universalis yang bermetamorfosis menjadi cogito ergo sum. Kant memisahkan pengertian antara ruang dan waktu, di mana ruang adalah bentuk pengalaman luar manusiawi, sementara waktu adalah bentuk pengalaman dalam. Demikian pula Leibniz.

Pemikiran astronomi dan matematika yang semula masih berbau metaforis dan mistis, akhirnya berubah menjadi sangat rasionalis dan khaostis. Astronomi mengugusur astrologi. Kuantitatif dalam matematika telah menggusur kualitatif. Maka agama sedemikian jauh terpisah dari ilmu. Sebab itu, tak heran jika ’Alija ’Ali Izetbegovic—mantan presiden Bosnia—pernah tertarik untuk mengamati hubungan seni dan ilmu atau ilmu dan agama. Jika kita menyimak fenomena alam, katanya, maka di sana ada susunan yang terdapat dalam sebuah mesin, atau sebuah melodi. Keduanya, bukan dalam analisis terakhir, tak bisa direduksi menjadi satu sumber yang sama. Yang pertama adalah kombinasi hubungan dan bagian spasial atau kuantitatif yang sesuai dengan alam, logika dan matematika. Yang kedua mempertahankan kombinasi nada atau kata-kata dalam sebuah melodi atau puisi. Kedua susunan ini memiliki dua kategori yang beda—ilmu dan agama, atau dari sudut pandang ini, ilmu dan seni…Maka jika hanya ada satu dunia, maka seni tidak akan mungkin. Setiap karya seni merupakan kesan dunia yang bukan tempat tinggal atau asal kita, dan yang di dalamnya kita ’kehilangan tempat kita’.

Padahal para penemu pertama astronomi dan geometri tak bermaksud meretas selubung mistik dengan teori ilmiah. Baru kemudian ketika astronomi dan pemikiran matematis Babilonia yang mistis telah beralih ke Yunani dan Arab-muslim, maka ruang dan waktu yang mistis digusur oleh yang serba-rasionalis.

Pandangan Nurel tentang waktu dalam Kitab Para Malaikat mengikuti pandangan kosmologi Jawa klasik yang dikawinkan dengan pandangan Islam. Dalam pemikiran tradisional Jawa, memang terdapat keselarasan alamiah antara gerakan kehidupan manusia dan gerakan kosmos. Roda yang berputar adalah suatu gambaran gerak dan ketenangan, berangkat dan pulang kembali. Bentuk dari waktu universal adalah satu dari ciptaan dan destruksi, dan berulang lagi ciptaan dan destruksi lagi. Dan manusia dilahirkan dalam zaman yang fana, hidup seumur-umurnya dan kemudian kembali kepada zaman yang baka lagi. Perputaran berhenti dan generasi yang lain memulai putaran baru lagi.

Simak bunyi larik akhir buku Kitab Para Malaikat: sekalipun ”ada saatnya perjalanan musti dihentikan kala menemui pantai doa ibunda”, namun ”ini babak peleburan mengulum bibir rindumu, serupa kematian berulang/nikmatnya terus terberi, sedang energinya tak pernah habis selesai”.

Tak habis-selesai? Ya, sebab waktu adalah masa silam yang serempak mengada dengan masa depan dalam masa kini. Dalam gerak-diam waktu, kejadian tak pernah habis-selesai. Tak ada lagi pengulangan yang persis sama dalam arus gerak waktu. Nurel mengingatkan kita akan ketidakmungkinan manusia untuk berenang dua kali dalam sungai yang sama. Dengan menempatkan ”waktu di sayap malaikat”, Nurel tampak ingin menyarankan agar manusia membebaskan diri dari waham bernama politik lokasi tunggal. Waktu adalah kondisi umum kehidupan organis yang terdiri dari tiga modus yang telah disebutkan, dan ingin saya sebutkan lagi, yakni: waktu lampau, kini, dan nanti.

Nurel meletakkan waktu yang statis, beku, dan menunjukkan apresiasi terhadap tradisi Jawa sewaktu ia dituntut untuk tidak lagi hidup dengan tradisi kuna yang panjang umur itu. Berbeda misalnya dengan para penganut kemajuan, sebuah pemuja semangat progres, waktu ditempatkan sebagai gerak-maju yang dinamis dan lurus-liner. Spiritualitas waktu sebagai pertarungan hidup mati umat manusia. Masalah sastra—puisi khususnya—menyangkut masalah paling eksistensial tentang bagaimana mengolah ladang waktu, menguasai ladang waktu, dan manusia bisa jaya terhadap waktu.

Dalam kalender Jawa yang dipengaruhi Hindu, ada istilah Mahakala (waktu tanpa akhir), yang mengatasi waktu dan siklus perputaran kelahiran kembali. Dalam kerangka reinkarnasi ini, waktu dalam pemahaman Nurel merupakan roda perputaran yang menyedihkan dari eksistensi di dunia yang fenomenal, yang bukan dunia nyata, melainkan maya. Karena itu ia mencoba mengatasi apa yang imortal dan yang abadi dengan yang berubah dan tak selesai.

Dalam ajaran panca maha butha, semua makhluk hidup pada akhirnya akan terurai dan terberai atas unsur alam pembentuk kehidupan: air, api, logam dan eter. Kematian adalah siklus yang terputus. Satu hidup saja memang tidak abadi, karena hidup masih sering ditata dalam prasangka kefanaan, tetapi rangkaian siklus kehidupan dan reinkarnasi, itulah makna keabadian sejati, seperti yang pernah disinggung Voltaire dalam kitabnya yang saya kutip di awal telisik ini.

Tapi pemaknaan waktu semacam itu perlahan-lahan bergeser. Dan ini mulai dirasakan sebagai kecemasan oleh Nurel. Sebagai seorang ”titisan kebatinan Jawa”, Nurel merasakan kegelisahan tatkala waktu spiritual mulai bergeser menjadi ”waktu rasional”, atau antara ”metafora dan matematika”. Akar pergeseran ini bisa dilacak sejak kekuasaan raja-raja Jawa dihapus dan Islam menjadi patokan di segala bidang. Akibatnya, gejala-gejala sinkretisme dan mistisisme yang jadi falsafah hidup sebagian besar orang Jawa mulai tergusur. Penanggalan Jawa kuna yang memiliki pertalian dengan India, akhirnya berubah, terutama sejak Sultan Mataram berkuasa dan masuknya Islam ke bumi nusantara. Berbagai corak mistis dan magis serta misteri-misteri yang terkait dengan tradisi, ruang dan waktu, mengalami kodifikasi.

Lantaran itu, Kitab Para Malaikat sebetulnya tak hanya bicara soal waktu dalam konteks kebudayaan Jawa, tapi dunia. Di sana kita disuguhkan pula perbincangan filosofis tentang waktu dalam konteks kosmologi. Waktu dari alam bukan waktu arloji atau waktu kalender, melainkan hadirat atau waktu yang menyekarang. Dalam waktu arloji tidak ada perbedaan jam satu siang dengan jam satu malam, jarum arloji menunjuk pada angka yang sama. Waktu alam ialah mengalir. Karena itu, waktu bisa mandek, bisu, beku. Sementara ruang bisa tembus pandang dan menjelah bidang liputan.

Kalau pandangan ini dilanjutkan, maka corak alam tak lain adalah keseluruhan prinsip-prinsip dan pengaturan relasi sesuai dengan dorongan vital dari manusia yang mengkonstitusikan alam. Tendensi mengasimilasikan benda-benda dalam hampir semua sajak di buku ini, bukan menampilkan ekspansi difusi sebagaimana sering disinggung para kritis postmodernis, melainkan aliran vital yang berjalan teratur.

Tendensi puisi yang kembali ke alam tradisionil, dalam hal ini, berarti kembali menunjukkan persoalan ketidaksadaran. Semakin berkurang kesadaran seseorang, semakin ia kembali kepada tradisionalisme. (Sebagai contoh, buku Kitab Para Malaikat banyak menggunakan kata pujangga, bukan penyair, dan kitab ini dibuka dengan kalimat yang mengingatkan kita pada kitab-kitab lama yang berisi doa purba: ”Allahhumma shalli ’ala sayyidina Muhammad; ruh bersaksi sederaian gerimis mengantarkan rasa atmosfer semesta terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga (I)”.

Dan itu diulangi secara ritmis. Semua titik peralihan menentukan batas relasi. Sampai batas itu, alam seakan membuka diri baginya. Seakan menjelma doa-doa. Sementara di luar dirinya, ia mencoba memilih posisi yang lain. Pengalaman berdasarkan relasi antara kita dan benda-benda, tetapi relasi itu tak bisa ditempel atas benda-benda itu. Dengan pengalaman saja, pengaruh dari benda-benda sudah selesai sehingga pengaruh dialami secara absolut.

Namun, sebagaimana terbaca dalam beberapa sajak, doa dan waktu dari alam itu kini mengalami perubahan seiring ditemukannya pengolahan yang serba-mesin. Di zaman sekularisasi yang menciptakan demistifikasi terhadap manusia dan desakralisasi terhadap hal-ikhwal yang disucikan ini, sebuah puisi memang tak sepenuhnya bisa diharapkan menjadi remedi bagi luka besar kemanusiaan. Sekalipun Nurel bertekad untuk “memindahkan rasa sakitmu dari tangan alam ke titian waktu”, toh, sajak-sajaknya memiliki keterbatasannya sendiri. Dan, sebagai pembaca, saya hanya bisa berdoa: semoga kau berhasil dan berbahagia terbang bersama para malaikat ruhaniyyuunmu.

Bandarlampung-Kota Agung, Maret 2011
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala

A. Zakky Zulhazmi
Ponorogo Pos, 24 Juli 2011

Pada awal Mei 2011 Han Gagas meluncurkan sebuah novel bertajuk Tembang Tolak Bala (LKiS, Jogja). Sebuah novel yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Kehadiran novel ini merupakan sebuah angin sejuk di tengah musim kamarau. Mengatakan perkembangan novel Indonesia akhir-akhir ini sebagai sebuah musim kemarau rasanya tidak berlebihan. Pasalnya sudah beberapa tahun ini kita senantiasa disuguhi novel dengan tema-tema yang itu-itu saja. Bahkan Han Gagas menulis di awal Pengantar Penulis, sebagai berikut: saya menulis pengantar ini ketika dunia kita sedang mengalami yang namanya mabuk novel ‘Ingin Maju Harus ke Luar Negeri”.

Han Gagas sendiri adalah seorang lelaki kelahiran Ponorogo, 21 Oktober 1977. Setelah menamatkan studi di SMAN 2 Ponorogo Han Gagas melanjutkan ke Geodesi UGM. Karyanya, terutama cerpen telah banyak dimuat di koran lokal maupun nasional. Sebelumnya ia juga pernah menerbitkan buku Sang Penjelajah Dunia (Republika, 2010).

Diceritakan dalam novel Tembang Tolak Bala, tokoh utama bernama Hargo. Cerita dimulai ketika Hargo dan adik kembarnya berenang di sungai. Namun, tiba-tiba adik kembarnya terhisap arus sungai. Nahas, adik kembarnya itu tidak tertolong dan tidak ditemukan.

Semenjak peristiwa itu, Hargo seperti mengalami semacam lompatan waktu. Sekonyong-konyong ia telah tiba di sebuah zaman yang asing. Hargo mendapati dirinya berada di tengah keluarga Ki Ageng Mirah. Seorang kharismatik dan pemurah. Lantas Hargo terhisap kembali dalam sebuah pusaran hingga akhirnya ia sampai pada keluarga Tejowulan (di sini Hargo mulai berkenalan dengan dunia gemblak, bahkan sebagai pelaku). Semua terasa ganjil bagi Hargo. Sampai sini sudah sangat kentara jika Han Gagas menulis novel perdanya ini dalam semangat realisme magis.

Pembaca kemudian diberi kejutan bahwa apa yang dialami Hargo itu adalah hanya semacam tamasya fantasi belaka. Tamasya yang berlangsung ketika dia koma di rumah sakit selama 35 hari yang membuat khawatir semua anggota keluarganya. Akan tetapi satu hal yang menarik, dalam tamasya fantasi itu Hargo mendapat sebuah kitab dari Eyang Tejowulan yang berisi tembang tolak bala. Anehnya kitab itu terbawa ke dunia nyata ketika Hargo sudah sadarkan diri.

Novel ini juga tak luput dari kisah percintaan. Ada misalnya kasih tak sampai antara Hargo dan Juni ketika dalam tamasya fantasi. Lantas kisah cinta antara Hargo dengan Juli yang meski berlatar dendam namun berakhir di pernikahan (dengan Juli, Hargo banyak berdiskusi perihal reog, warok dan gemblak, babad tanah Ponorogo dan Serat Darmoghandul). Ada pula hubungan beda etnis dan agama antara Hargo dengan Mei Ling yang Tionghoa. Meski berbeda mereka sangat dekat dan bahkan ketika pada akhirnya Mei diusir, Hargo dan Mei saling berkirim surat. Surat-surat mereka sangat menggetarkan.

Kejutan lain muncul manakala Hargo medapati salah seorang guru laki-lakinya, Pak Marodirojo (yang juga warok), hendak menyetubuhinya. Hargo terbebas dari malapetaka itu diselamatkan tembang tolak bala yang tiba-tiba ia rapal. Ternyata, ia tahu guru itu tak lain adalah masih keturunan Wulunggeni, musuh bebuyutan nenek moyang Hargo, Honggodermo.

Selain itu, yang menjadi kekuatan lain novel ini yakni adanya beberapa adegan pertarungan antar warok atau antar padepokan Reog yang berlangsung seru dan mendebarkan. Intrik politik juga menambah hidup cerita. Legenda dan dongen seputar sejarah Ponorogo memperkaya novel ini. Misal tentang berdirinya Ponorogo yang bermula dari keruntuhan Majapahit, sejarah Reog, dongeng terbentuknya Telaga Ngebel dan sebagainya.

Tak pelak, novel Tembang Tolak Bala menyajikan informasi yang memadai perihal Ponorogo serta kekayaan khazanah budayanya. Harapan kita bersama, akan lebih banyak novelis yang menulis tentang Ponorogo. Karena sejatinya Ponorogo adalah sebuah kearifan yang tak akan pernah selesai digali. Semoga.

Kamis, 23 Juni 2011

Mencintai Maritim Lewat Sastra

Nurani Soyomukti
http://www.suarakarya-online.com/

tak seorangpun menulis laut
tapi ada penulis laut
dengan sekali sintuh
segalanya jadi gemuruh

kapan memantul kecemasan
dari rahang-rahang batu karang
ketika lenyap jeritan
takdirpun tidak telanjang

Puisi berjudul “Laut” karya Zamawi Imron di atas ditulis pada tahun 1977. Penyair asal Madura ini seakan mengingatkan pada kita bahwa “tak seorangpun menulis laut”, artinya bahwa laut dan potensinya masih jarang ditulis oleh para sastrawan kita. Laut memiliki pesona yang tidak pernah lekang dari manusia yang, sayangnya, masih belum dapat dimanfaaatkan untuk membangun negeri ini, untuk membangun kemanusiaan bangsa.

Menggali potensi laut sebagai bahan mentah estetika puisi, cerpen, atau novel masih belum banyak dilakukan. Seakan seiring dengan ketidakmampuan pemerintah untuk mengolah sumberdaya maritim kita. Kebanyakan sastrawan kita masih terpesona oleh nuansa kehidupan urban dalam menginspirasikan karya-karyanya. Kehidupan perkotaan yang hedonis dengan suka-dukanya yang estetis dan seksualis seakan mendominasi wajah kesusastraan negeri ini. Para sastrawan lupa bahwa bagian terluas dari wilayah kita adalah laut.

Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki sekitar 17.500 pulau, tetapi hanya sekitar 5.700 saja yang bernama. Luas perairan kita sekitar 3,1 juta kilometer persegi. Terdiri atas 2,8 juta kilometer persegi perairan Nusantara dan 0,3 juta kilometer persegi laut teritorial, serta 2,7 juta kilometer persegi perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE). Panjang garis pantainya 80.791 kilometer atau 43.670 mil. Wilayah laut tersebut menyimpan kekayaan alam yang melimpah.

Ketidakmampuan dalam memanfaatkan alam telah membuat bangsa ini terbelakang. Mereka yang masih banyak tinggal di daerah pinggiran, di daerah pantai yang dekat dengan tempat meruahnya kekayaan tersebut, justru mengalami kehidupan yang paling parah, miskin, dan tertinggal. Hal ini disebabkan oleh minimnya teknologi dan ilmu pengetahuan untuk membantu mengolah potensi alam tersebut.

Keterbelakangan budaya dan pola pikir juga menyebabkan mereka tidak dapat memanfaatkan alamnya secara maksimal. Bahkan cara berpikir dan menjalani kehidupan juga mewarnai pola hidup yang tidak demokratis, bahkan terjadi ketidakadilan dan penindasan yang dilanggengkan oleh budayanya yang feudal.

Pramoedya Ananta Toer barangkali dalam bukunya Gadis Pantai, menceritakan gambaran feudalisme daerah pinggiran tersebut. Ketimpangan gender hendak diangkat dalam karya tersebut. Digambarkan bahwa di daerah pantai perempuan tidak lebih menjadi media pelatihan pria menuju kesejatiannya untuk menikahi perempuan lainnya yang lebih berderajat atau bangsawan, akan tetapi tetap dijadikan perhiasan dalam sangkar emas, tetap menjadi alat untuk memproduksi keturunan, tidak lebih dari itu.

Meskipun tragis, melalui karya ini Pram menampilkan perempuan yang memberontak. Tokoh Srintil adalah gadis yang melawan kesewenangan-wenangan terhadap dirinya justru dengan kesadaran untuk melakoni hidup sebagai seorang ronggeng yang dianggapnya adalah pilihan untuk memberontak.

Kisah kehidupan maritim nusantara secara komprehensif dan apik juga diangkat Pram dalam roman sejarah yang panjang dengan judul “Arus Balik” (1995). Plot cerita roman ini adalah sekitar paruh waktu abad ke-16, tepatnya masa-masa kejatuhan kerajaan Nusantara Majapahit. Dalam karya ini Pram mencoba merasionalisasi data-data sejarah Jawa yang dikenal lebih sebagai setumpuk mitos (misalnya Pararaton dan Negarakertagama). Arus Balik secara sederhana menggambarkan situasi arus laut. Pada kejayaan Majapahit, arus kekuasaan datang dari selatan menuju utara, yakni bagaimana Majapahit menguasai kedaulatan negara-negara sampai utara.

Pada kejatuhan Majapahit arus itu berubah dari utara ke selatan, atau dengan kata lain arus telah berbalik. Majapahit yang disibukkan oleh masalah “daratan” (perang saudara), mulai kehilangan kontrol atas lautnya yang luas itu, sehingga memungkinkan terjadinya arus balik. Inilah awal dari kejatuhan Nusantara dan masuknya kolonialisme Eropa melalui utara.

Arus Balik bisa menjadi jawaban mengapa Indonesia masih juga tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialis-imperialis dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya, meski telah bertahun-tahun menganggap dirinya telah merdeka.

Kenyataannya arus laut memang masih bergerak dari utara ke selatan, yang artinya belum juga berubah sejak kejatuhan Majapahit. Ini menandakan bahwa apa yang dilakukan Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Majapahit saat kejatuhannya: Angkatan Darat lebih kuat dari Angkatan Laut.

Dalam wawancara dengan Kompas, Pram antara lain mengatakan: “Zaman Belanda yang berkuasa di pertahanan AD. Ketika diserbu AL Inggris tahun 1812, hanya dua hari, angkat tangan. Tahun 1942 diserbu AL Jepang, dua hari Belanda angkat tangan. Padahal AD Belanda itu menghasilkan banyak jenderal, seperti sekarang. Ini bukti historis, lho, sebab pertahanan laut Belanda tak punya.”

Nusantara yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas laut, memang sudah sepantasnyalah mendapatkan perlindungan atas lautnya. Laut Indonesia adalah sumber kekayaan yang melimpah. Darinya kesejahteraan rakyat sangat ditopang. Laut pula yang melindungi rakyat dari ancaman negara asing.

Jika laut telah diduduki bangsa asing (misalnya pencurian-pencurian sumberdaya laut oleh kapal-kapal asing), itu sudah merupakan penjajahan terhadap kedaulatan Indonesia sebagai negara, dan berarti ancaman terhadap rakyat di dalamnya.

Pram nampaknya ingin memberikan suatu penyadaran akan hal itu, dan hal itu dilakukan melalui sebuah roman Arus Balik yang ditulis dengan fakta dan data-data sejarah yang meyakinkan. Arus Balik menunjukkan kekuatan sejarah dalam arus penyadaran rakyat yang seolah-olah, karena tak mengenal sejarah, juga tidak mengenal dirinya sendiri.

Pram dan Zamawi Imron barangkali adalah dua sastrawan yang menginginkan kita untuk segera mencintai maritim melalui karya sastra. Maritim adalah predikat bagi negara kita.

Sejak masa lampau, Nusantara diwarnai dengan berbagai pergumulan kehidupan laut. Dalam catatan sejarah terdapat bukti-bukti bahwa nenek moyang bangsa kita menguasai lautan Nusantara.

Dan dengan warisan itulah seharusnya negeri ini bangkit sebagai negara yang maju secara ekonomi, mandiri, berbudaya, dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan kesejahteraan.***

Catatan Redaksi:
Nurani Soyomukti, esais dan penyair tinggal di Jawa Timur; pendiri Yayasan KOTEKA (Komunitas TEMAN KATAKATA), sebuah kelompok pemberdayaan masyarakat literer. Kini berdomisili di Merapi G-14A Jember, Jawa Timur, Telepon 081 559 947 664

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Banyak waktu untuk masalah kecil. Banyak waktu untuk masalah besar.
Sedikit waktu untuk masalah kecil. Sedikit waktu untuk masalah besar.”

Puisi adalah hasil sadapan peristiwa alam semesta, di mana permasalahan yang amat gigantik dirangkum dan diperas sedemikian rupa menjadi santan, hingga sedemikian ringkas, padat, kental dalam satu rasa dan makna. Dari seribu permasalahan misalnya, puisi bisa merekam efektif mendekati target nominal yang sulit dicerpenkan, apalagi dinovelkan. Itu sebab, puisi kerap sebagai jalur paling ramai dilintasi sastrawan pemula sebelum merambah ke wilayah yang lebih lebar cakupannya: cerpen, novel.

Sastra (puisi) seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaimana perjalanan sejarah, sastra tak luput dari pertarungan ‘trik-intrik’pengibaran bendera: sebutlah yang paling dikenal dengan aliran realis dan surealis, keduanya gigih menyiapkan jala untuk menjaring alasan mengenai siapa yang paling mendekati (limite) fungsi sastra ketika dihadapkan pada disiplin ilmu lain. Namun, terlepas dari pengibaran bendera dimaksut, sastra tetap lahir laksana gaung pertapa dari dalam goa, ia nyaring dari gesekan ‘sreekk’ tapak kaki perantau di bebatuan cadas, ‘nyess’ lesapan air di padang gersang, atau ‘creass’ dari clorotan jatuhnya meteor di angkasaraya.

Usahlah sastra dituntut berdisiplin dengan ilmu lain, sebab ia merupakan unsur kelembutan, serupa ‘sel lentik’ dalam berbagai keilmuan. Hanya saja, sejauh mana pengudalan sastra dilakukan secara singkronik dalam ilmu lain.

Kehilangan sastra dalam berbagai lini keilmuan, samahalnya melempar segumpal kerinduan jauh ke lorong hal paling sunyi. Keadaan demikain, disadari atau tidak, pada kadar dan kurun waktu tertentu akan terserap oleh daya gravitasi pertemuan atas berlangsungnya kelayakan sebuah ekstase. Kenyataannya, tidak ada yang terputus dalam sastra, seumpama snapsot, berdiri di tepian tebing dan beberapa detik kemudian terjungkal bersama lengkingan selamat tinggal dan terjerembab ke jurang kematian sejarah. Di mana pun, tidak ada pedang bersilang linier yang memenggal urat nadi sastra secara tragis dan menggelepar, yang terjadi adalah tangis siklikal jabang bayi sebagai pananda kelahiran sastra garda depan dari rahim senja artistik silam (Esai Nostalgia Pengantin Sastra).

Membaca buku Antologi Puisi ‘Mobilisasi Warung Kopi’ karya Aditya Ardi Nugroho (Genjus), mengingatkan saya ketika nyeruput segelas kopi di beberapa warung. Ada kata kunci di sana: namanya tetap sama, yaitu kopi, tetapi berbeda rasa. Di kawasan panas pantai Kuta (Bali), tidak senyamleng pegunungan Trunyan-Kintamani dan Bedugul. Atau di perbukitan Asta Tinggi (Sumenep), berbeda dengan sekitaran industri Krakatau Still (Merak). Bahkan di tanah kelahiran sendiri (Jombang), antara warkop Yudar (Nglele), Mak Siti (Ringin Contong), Mak Muhsini (Gebangmalang), berbeda dengan warkop P. Tris (depan kampus SKIP Jombang), warkop Assalamu’alaikaum (gerbang UNMUH Malang). Ada banyak faktor pembeda yang berkaitan dengan seduhan, kemurnian, campuran serta suasana. Di sini Genjus berperan dalam 96 tuangan puisinya yang dikemas hingga 106 halaman.

Sebagaimana Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum selaku pengantar buku ini, saya tersentak. Apa yang misterius dari sosok Genjus, mahasiswa jebolan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang, hingga kumpulan puisinya tidak bisa dibilang pemula. Genjus meyeduh kerja puitika sedemikian tulus dan ulet untuk di persembahkan ke pembaca. Kerja puitika dimaksut ialah bagaimana Genjus mencari atau mewadahi intuisi, menentukan stilistika, tema, pencitraan, serta meramu berbagai genre puisinya.

Ada sekitar 20 jenis lirik puisi Genjus jika ditinjau dari 35 jenis lirik yang dikategorikan oleh Sutejo dan Sugianto dosen STKIP Ponorogo (Apreseasi Puisi, Pustaka Felicha, 2010). Banyaknya jenis lirik dalam buku ini, penulis sengaja menjebol sekat-sekat aliran dari gawang perpuisian yang kian rusuh dengan pertentangan. Bagi Genjus, pertengkaran kubu yang terus menerus, tak ubahnya orang yang bersikukuh berebut ‘benar’ dan ‘tua’ hingga eyel-eyelan sampai mengeluarkan KTP. Lucu.

Mantabnya, semua jenis puisi Genjus berdisiplin dengan A. Teeuw yang mengikat puisi tidak lepas dari kode bahasa, kode sastra dan kode budaya.

Puisi berjenis Hukla yang enak dipanggungkan, dapat kita temukan pada Surat Kaleng (hal.85), Sri Nangis Lagi (hal.86), Orang-Orang Panggung (hal.105). Puisi ini setara dengan Kembalikan Indonesia Padaku (MAJO, Taufik Ismail). Ratapan batin Genjus, terekam dalam warna elegis / karena aku hanya tembakau murahan / digulung dalam papir lusuh, beringsut, baunya kecut (Bersetubuh Siksa). Sedang yang paling privacy disembunyikan dalam puisi kamar / hening cipta / mati rasa (Yang Maha Sepi,hal.24) persis dengan puisi M. Fauzi Madura /di Sinai, ayat ayat itu mentasbih perjumpaan kita / rindu yang lahir berabad, berbetahbetah di ujung batumu (Horison, April 2006). Ada pun jenis lirik yang lain tersebar dan larat di sepanjang lanskap buku ini, semisal: Prismatis (Titik Habis, hal. 81), Diafan (Sri Nangis Lagi), Dramatis (Global Warning, hal. 91), Didaktis (Jagal Raya), Humoris (Gegar Otak), Romantis (Dia Wanita Militan), Metafisikal (Reaktor), Ode (Ibu, Ode Buat Aku), Kontemporer (Sepenggal Gerimis Untukmu), Naratif (Karnaval), Parodi (Kremasi Puisi).

Kejanggalan beberapa puisi dalam buku ini, seperti cerminan usia penulis yang masih dituntut sublimitasi karya, di mana hal yang adonis sekali pun tidak harus diungkap secara vulgar. Dalam Ode Buat Aku, penulis bertingkah narsis dengan mempahlawankan dirinya, tidak seperti Ode Buat Gus Durnya D. Zawawi Imron. Pengaruh usia juga terlihat dari lemahnya puisi bernada Parnasian yang menggarap puisi atas pertimbangan ilmu dan peningkatan ekonomi. Demikian juga tanda Platonik yang memasuki wilayah Tuhan dengan sangat mesra seperti Hamid Jabbar dalam judul puisinya Ke Puncak Diam / setiap langkah adalah darah / mengucap kejadian pasrah / yang bersipongah ngngngnggg / dari lengang ke lengang ngngg / ke dalam jeram / alirkan salam ke puncak diam.

Kepedulian buku ‘Mobilisasi Warung Kopi’ terhadap ketimpangan sosial, dapat dianalisa dari perbandingan puisi Satire yang mendominasi keseluruhan tema hingga 62 % dibanding puisi lainnya yang berjenis romantis, elegis, epigram, liris dll. Satire bukan puisi bisu yang tak andil merubah rezim Suharto hingga pergolakan Nazaruddin di tubuh Partai Demokrat. Di sini Genjus menempatkan barisan bersama Rendra dan Wiji Tukul yang menyorong puisinya ke mobilisasi pemberontakan dengan pamflet (Peniup Peluit, Harakiri, Haru Biru Air Matamu, Kesaksian Cacing, Surat Kaleng, Sebatang Paradoks). Meski pun masih mengekor, akan berbeda suguhannya jika Genjus menggeser bentuk budaya puisinya dari puisi Rendra. Sebab kebudayaan sebagaimana kekekalan energi tidak akan hilang dari naluri manusia, tetapi bisa berubah bentuk (Setya Yuwana Sudikan, makalah seminar di STKIP Ngawi 18 Januari 2011).

Buku ini penting bagi pembelajar sastra. Pembaca dapat mengutip bagaimana cara penulisnya merefleksi kejadian sesaat menjadi rekaman abadi secara baik dan benar. Sikap brilian penyair ialah ketepatan menguasai situasi dalam perubahan dadakan: Sesaat yang mempertaruhkan nilai. Itulah Genjus dengan karyanya.

*). Sabrank Suparno. Esais Jombang. Bergiat di Lincak Sastra Dowong. Tim pengelola media web: www.Sastra Indonesia.com.
*) Makalah bedah buku Antologi Puisi Mobilisasi Warung Kopi, karya Genjus, di HMP Bahtra Indonesia STKIP PGRI Jombang, pada 18 Juni 2011.

PUISI: Melayat Kemanusiaan Kita

Muhammad Rain *
http://sastra-indonesia.com/

Puisi dapat dinikmati dengan beragam cara. Ada dua cara di antara ragam penikmatan dan pemahaman puisi sebagai benar satu (kita tak mau salah) karya sastra sebagaimana yang disampaikan oleh M. Saleh Saad dalam Prasaran Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan miliknya yang dimuat dalam buku Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Ali, ed., 1967: 111 – 27; 128 – 51). Pertama, bersatu dan menenggelamkan diri ke dalam karya sastra itu, sehingga persoalan yang ada ialah merasakan; dan cara kedua ialah menikmatinya secara sadar dengan memanfaatkan kaidah atau kriteria tertentu untuk menganalisis karya sastra, sehingga persoalannya ialah menilai secara obyektif.

Memasuki cara pertama yang disampaikan M. Saleh Saad ini yakni bersatu, tenggelam ke dalam karya yang kita baca, maka kita selaku pembaca dihadapkan kepada penyerahan kesadaran kita secara ikhlas untuk memperoleh hasil pembacaan puisi. Keyakinan dan kepercayaan kita kepada penyair yang puisinya kita baca tak boleh sedikitpun goyah, justru karena kita sedang belajar darinya, dalam memahami kehidupan yang dikisahkan dan difikirkan oleh pemuisi. Sedangkan cara kedua, lebih menekankan pada konsentrasi mencari nilai, bahkan menilai karya sastra yang kita baca sesuai kemampuan menilai masing-masing kita. Sebab pada dasarnya pemaknaan seni puisi yang mengambil “kehidupan” sebagai tema universal tetap menjadi hak umum segala manusia. Meski pembaca awam dan minim pengalaman terhadap seni berpuisi, catatan penting di sini bahwa sesungguhnya seorang penyair atau ribuan penyair jikapun mereka dikumpulkan ternyata tak juga mampu menunjukkan kita apa sesungguhnya nilai, tujuan, hakikat adanya kehidupan itu.

Masing-masing mereka (para penyair) punya pandangan originalnya, begitu juga pembaca. Sebab itulah penilaian terhadap sebuah karya adalah hak paten setiap orang, setiap pembaca. Seperti memberikan nilai kepada dirinya. Nilai dalam suatu karya sastra sesungguhnya sangat beragam rupa. Keberagaman ini muncul akibat banyaknya kepala, isi dan pemikiran yang berlintasan di setiap penyair. Teeuw (dalam Yudiyono KS., 1990: 33) menyinggung tentang masalah nilai sastra, ia dalam buku Telaah Kritiik Sastra Indonesia ini secara singkat menyatakan bahwa kriteria utama untuk nilai sastra ialah relevansinya sebagai karya seni bagi eksistensi manusia. Robson menimpali pula dalam menilai sastra harus dapat dikembalikan kepada satu prinsip, yaitu kemanusiaan. Sebab, tidak ada seni untuk seni saja, atau tidak ada ilmu untuk ilmu saja.

Meskipun dengan dua pertimbangan nilai sastra yang ditawarkan dua ahli ini seolah saling sokong, namun untuk menafsirkan makna “kemanusiaan”, kita perlu berhati-hati, justru karena maknanya tidak menunjuk suatu konsep yang tunggal. Kemanusiaan bagi kaum Marxis boleh jadi tidak sama dengan maknanya dengan kemanusiaan di mata penganut ajaran yang lain. Hal ini selanjutnya menimbulkan beragam persepsi yang bermuara pula terhadap beragam pemaknaan nilai karya sastra (puisi). Akan tetapi sebagai pembaca, pencipta sastra, pengkritik dan peneliti luasnya dunia sastra, ternyata penafsiran nilai kemanusiaan ini tetap memiliki muara sebagai tujuan sama, yakni memanusiakan manusia. Puisi sebagai sebuah proyek raksasa kemanusiaan yang dilakukan sejak berabad-abad silam bahkan hingga berabad-abad ke depan berfungsi abadi dalam memunculkan nilai kebermaknaan kehidupan yang dijalani oleh manusia, manusia yang tak bermakna, tak memiliki arah nilai juga tak berpedoman hanya akan menyia-nyiakan fungsi akal budi yang dimilikinya.

Puisi sebagai produk demi melayat kemanusiaan kita yang seakan selalu mati oleh kondisi, oleh perombakan-perombakan yang dilakukan seiring jalannya waktu. Puisi menjadi ranah kondusif yang banyak diminati seluruh kalangan suku bangsa manusia sehingga sebagai salah satu seni yang kompleks yang selanjutnya menjadi salah satu kesusastraan penting dunia selanjutnya dijunjung tinggi lewat penghargaan Nobel segala, pencitraan tingginya nilai kemanusiaan yang berhasil dilayat oleh penyairnya, jika hari ini ada yang mengatakan puisi sebagai barang mati, nyata sekali bagi kita bahwa pengkata ini sedang mengubur nilai kemanusiaan dirinya. Bahasa puisi adalah bahasa jiwa, kendaraan yang mengantarkan pembaca kembali mengenali dirinya dan semesta, bolak-balik dari kosmos ke mikrokosmos yang melingkupi dunia replika, dunia yang menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian denyut kehidupan jiwa itu.

Lalu bagaimana jika suatu kenyataan berbeda lahir dari sebuah karya puisi yang tidak menjalankan fungsinya sebagai tenaga hidup dalam menkhidmati kehidupan ini? Bagaimana sebenarnya sikap bijak kita ketika membaca suatu karya puisi yang nonsens yang tidak memiliki daya dorong untuk membangun fungsi refleksifitas, revisioner, re-re- lainnya yang menghendaki pencerahan dalam tugas manusia sastra untuk mampu membaca jalan dan tumbuhnya kehidupan di dalam kesusastraan. Bagaimana ketika dunia puisi dipenuhi oleh orang-orang yang mati, mati rasa mati estetika? Kita lalu menjawabnya dengan perasaan jenuh dan sia-sia. Puisi yang gelamor belum tentu merdeka dari kebobrokan syahwat yang membelenggu dunia nafsu. Puisi tenar belum tentu bebas dari uji materil kekonyolan demi sekedar membesarkan satu dua nama.

Keterjebakan kita terhadap sastra nonsens, sastra yang fulgar, atau sastra yang malah lembek menetek kepada keindahan tanpa nilai refleksi. Seperti halnya manusia memilih makanannya, tentu cita rasa menjadi penting. Jiwa pembaca memiliki beragam cita rasa memang, tetapi ketika kita misalkan menanyakan satu demi satu pembaca itu, apa tujuan Anda membaca puisi? Nyaris secara umum mereka para pembaca itu menunjukkan suatu jawaban yang mengarah untuk memperoleh nilai kehidupan, nilai kemanusiaan yang didialokkan oleh penyair lewat puisinya.

Saudara tidak akan tertawa terpingkal khan jika ada yang begitu menggilai puisi sampai ada yang lupa makan? itu adalah suatu daya cinta pembaca terhadap cinta dirinya kepada kemanusiaan. Penyair bahkan menulis tanpa rasa lapar jika ia sejenis manusia yang tidak manja, yang tidak hanya akan menulis ketika perutnya kenyang, entah itu setelah diundang makan-makan di suatu acara sastra terkemuka lalu mulai berguyon tentang kesusatraan yang merdeka tanpa tujuan mengisi perut. Jiwa yang kita memiliki tentu membutuhkan nutrisi yang bergizi, puisi salah satu gizi yang doyan dinikmati. Gizi berfungsi memendam nilai di dalamnya, jika pada makanan bisa berupa nilai nutrisi, nilai protein dan sebagainya.

Kalau Anda menelan pil untuk mengobati sakit kepala misalnya maka dorongan perhatian dokter lewat kata-kata sugestifnya (meski tak terlalu nyastra) toch sedikit banyak membantu Anda semangat untuk sembuh. Kasih sayang suatu bahasa dapat meredakan emosi yang meluap, kekecewaan dan kepedihan selama menjalani kehidupan dapat sedikit kendur jika ketika si pesakitan mau membuka corong mata dan jiwanya demi mengenali ada ribuan dan bahkan jutaan peristiwa lebih mengerikan yang di alami banyak orang di luar sana.

Anda mungkin pernah membaca Sarajevo-nya Goenawan Mohammad, atau Anda lebih suka puisi yang ditulis penyair yang turut berperang, atau bahkan Anda tidak suka perang sehingga tidak mengenali perang sesungguhnya selalu dengan gencar terjadi di dalam diri Anda. Dalam kehidupan yang tanpa sadar kita jalani ini, kita bangga-banggakan ini, perang terus berlangsung. Perang melawan hawa nafsu, perang yang lebih besar dari perang Badar masa Rasullullah sebagaimana yang diriwayatkan kitab-kitab agama Islam, atau perang modern di film-film Star Trex misalnya, perang dunia robot.

Replika perang yang sesungguhnya sedang mengajak kita dalam memaknai kehidupan, melayat nilai-nilai kemanusiaan kita yang kerap terkubur oleh nafsu keduniaan.Penyair mengetuk lewat puisi-puisinya, kaum agamawan mengetuk dengan khutbah-khutbah dan ceramahnya, para pemimpin mengetuk dengan peraturan-peraturannya untuk seluruh rakyat yang jika ia mencintainya, para ibu mengetuk si anak yang sakit dengan dongengan tentang binatang yang kelewat licik agar si anak melupakan rasa sakit yang diderita. Seorang penyanyi justru bertanya pada rumput yang bergoyang, jika dirasa olehnya manusia sudah bukan tempatnya lagi untuk bertanya apa sesungguhnya nyanyian-nyanyian kehidupan. Sastra sangat luas, sampai begitu luasnya namun masih ada di antara jutaan ribu pembaca yang masih sesat, seperti membaca puisi yang tak bertenaga seperti berangkat naik bus di jalan mulus menembus waktu namun tak ada yang turun satupun tak ada yang sampai kemanapun, sebab puisi semacam ini nyaris lembek tanpa alamat.

Melayat kemanusiaan kita adalah ibadah hablum minnannash, banyak pahala di sana bahkan langsung terasa di dunia nyata. Orang-orang sesama pencinta sastra memiliki ketentraman yang sama sebab tak saling melanggar dan memperkosa keindahan masing-masing mereka. Keindahan yang sejatinya tidak bisa dimiliki sendiri-sendiri. Keindahan kesusastraan puisi itu. Maka menulislah agar semua selamat, tidak penyairnya saja, tidak para penerbit buku saja, pencetak majalah dan koran saja. Semua orang ingin selamat dari kematian kemanusiaan yang masih bisa ia hidupkan. Hidupkanlah kesusastraan di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Salam sastra.

*) Penulis adalah pencinta seni sastra puisi, pemerhati manusia dan pengajar kesusastraan pula di lembaga pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas, juga perguruan tinggi di daerah, Langsa dan sekitarnya.

AKU MENGINGATMU SEPERTI DULU

Pablo Neruda
Diterjemahkan: Ridha al Qadri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku mengingatmu seperti dulu di musim gugur terakhir.
Kau adalah baret abu-abu dan keheningan hati.
Di dalam matamu nyala senja bertahan.
Dan daun-daun jatuh di air jiwamu.

Rangkulan lenganku seperti rambatan tumbuhan
daun-daun menyimpan suaramu, yang lamban dan dalam damai.
Api unggun rasa kagum di mana dahagaku membakar.
Bunga bakung biru manis membelit di atas jiwaku.

Aku merasa matamu melintas, dan musim gugus jauh sekali:
baret abu-abu, suara seekor burung, hati seperti sebuah rumah
menjelang di mana keinginanku yang dalam berpindah tempat
dan ciumanku rubuh, bahagia seperti bara api.

Langit dari sebuah kapal. Bidang dari bukit:
Ingatanmu terbuat dari cahaya, dari asap, dari kolam keheningan!
Di balik matamu, lebih jauh terpasang, malam yang berkobar.
Daun-daun kering musim gugur berpusar dalam jiwamu.

======
Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari I Remember You as You Were dalam Pablo Neruda: Twenty Love Poems and a Song of Despair, translated from Spanish by W. S. Mervin, Penguin Books, 1993.

SEBUAH DOA DI MUSIM SEMI

Robert Frost
Diterjemahkan: Ridha al Qadri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Oh, beri kami kesenangan dalam kembang hari ini;
dan beri kami tidak untuk berpikir sejauh ini
seperti panenan yang tak pasti; pelihara kami di sini
semua sederhana di tahun bersemi.

Oh, beri kami kesenangan dalam putih kebun,
seperti tiada yang lain per hari, seperti hantu di waktu malam;
dan buat kami bahagia dalam lebah yang bahagia,
berkerumun meluas mengitari pohon yang sempurna.

Dan buat kami bahagia dalam loncatan burung
yang tiba-tiba terdengar di atas lebah,
bintang berekor yang menusuk dengan paruh,
dan lagi bunga-bunga di tengah udara berdiri diam.

Karena ini cinta dan tiada selain cinta,
yang disediakan agar Tuhan di atas sana
menyucikan akhir terjauh yang Dia kehendaki,
tetapi yang cuma butuh bahwa kita memenuhi.

=======
Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari A Prayer in Spring dalam The Bocket Book of Robert Frost’s Poems, Henry Holt and Company, Inc., 1946.

1927, Tagore dan Pablo Neruda bertemu di Jawa

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=328


Puisi bertitel Kepada Tanah Jawa, bukti Rabindranath Tagore (7 Mei 1861 – 7 Agus 1941) pada tahun 1927, di usianya ke 66, selepas jauh mendapatkan Nobel Sastra 1913, dirinya berada di bencah tanah Jawa.

Halaman 357, tepatnya sub judul, Hubungan Kita dengan Rabindranath Tagore. Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya, bagian II A: Kebudayaan (terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1967), berkata, bahwa pada tahun 1927, Sang Pujangga Rabindranath Tagore berkunjung ke perguruan Mataram Jogjakarya.

Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pablo_Neruda. Menyebutkan Neruda di tahun 1927 dalam usianya ke 23, putus asa oleh kemiskinan, menerima jabatan konsul kehormatan di Rangoon, kolonial Burma, tempat yang belum pernah didengarnya.

Lalu bekerja serabutan di Kolombo (Sri Lanka), Batavia serta Singapura. Di tanah Jawa, bertemu dan menikahi istri pertama, seorang Belanda pegawai bank, yang bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang.

Sementara menjalani tugas diplomatik, Neruda banyak membaca puisi, bereksperimen berbagai bentuk puisi. Menulis jilid pertama, dari kumpulan puisinya dua jilid, Residencia en la tierra (Menetap di Negeri), mencakup banyak puisi surealis yang belakangan terkenal. Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904, meninggal 23 September 1973, dalam umurnya 69 tahun. Yang mendapatkan Nobel di bidang sastra tahun 1971.
***

Sejarah waktu bergerak, bersama kematangan jiwa menyepakati soal mengolah misteri tubuh, merebut ingatan lama, membetot alam purba dari kesilapan ditumpuk padatan kerja.

Lupa mengeja bathin mengejawantah, luasnya kesadaran ladang-ladang kemungkinan patut digali, penuh suntuk berkeringat, terbakarnya lemak terlena.

Alasan logika mudah dibenarkan, dengan serentetan perolehan akal, meski belum tentu, ketika adanya penalaran baru, lebih runtut dari sebelumnya.

Dan persoalan hati kerap tak masuk akal, tapi mudah diterima, pun ditolak dengan kebencian, di sinilah pijakan keliaran menerka, meyakini keraguan.

Atau keraguan sekaligus memberikan gambaran realis, titik-titik seimbang setaburan gemintang, dipetik demi pengetahaun di tempat lain.

Gitanyali mengantarkan Tagore mendapatkan Nobel, serta menyorong nasibnya bertemu Ramona Victoria Epifanía Ocampo (7 April 1890 – 27 Januari 1979) di Argentina.

Detik-detik penuh kelembutan kasih sayang, yang dikenang sepanjang jaman, meski keduanya jauh berselisih usia, Tagore 63 dan Victoria 34 tahun.

Atas dorongan ketidakmungkinan itu, kupertemukan Tagore-Neruda di tlatah Jawa, dalam masa-masa tak terjamah.

Kala itu, Tagore telah jadi pujangga besar dunia dan sudah berkeliling Eropa, namun dirasa belum genap takdirnya, kalau tidak injakkan telapak kaki di tanah Dwipa, yang dianggapnya tanah kedua India.

Di mana kisah besar seperti Ramayana, meresap ke tulang sum-sum bumi Jawa, sementara Pablo Neruda, dihempaskan nasib pahit kemiskinan sampai Batavia.

Menetap beberapa lama sebab menikahi orang belanda, dan kandas berceraian, sebelum menikah lagi dan lagi.

Waktu tidak dapat diatur lewat ketetapan pasti, kadang hanyut searus sungai menderas, pun pelan gemerincing di kaki-kaki batu, pula mandek datangnya el-maut.

Juga rahasia di balik penciptaan karya, seakan tiba-tiba atau keberuntungan, padahal sudah dipersiapkan atas jiwa kematangan.

Usaha keras membathin laksanakan perintah hati menyeberangi kemungkinan lahiriah, lantas melancong melampaui tubuh gagasan sebelumnya.

Ada keserupaan mimpi, lagi seakan terjadi, padahal tengah berjalin, begitulah kelahiran berulang, memasuki pepintu alam, penuh warna hakikat kedalamannya.

Pertemuan Tagore-Neruda tidak dibuktikan lewat kata-kata, namun dengan memenangkan hadiah yang sama, Nobel di bidang sastra, jiwa besar keduanya berjumpa lebih berwibawa.

Ada kesungguhan ampuh, tatkaka kaki-kaki Neruda di atas tanah serupa, kemendadakan jatuh takut sesuatu, secepat kilat kelopak mata terkatup, keterpejaman menyongsong ketakjuban, menghantar ke ruang kalbu saling terpaut rindu.

Atau dataran berbeda sama masanya, keterpisahan tidak suka, seperti di sisi jalan lain saling menuju satu arah, pun berpapasan sekadar kerling tidak mengenal.

Namun ada suara keganjilan, gema yang suatu waktu hadir dengan wujud tidak serupa, tetapi dari simpanan saling merindu sama-sama terluka.

Para insan berjiwa tangguh, memiliki daya tarik mendekat pula menjauh, dinaya terpantul atas niatan menyunggi beban hasrat kesunyian masing-masing, sedang jiwa yang tanggung hanya selintas lenyap.

Neruda sudah kenal sepak terjang Tagore, kebetulan itu kuasa tuhan pertemukan bahagia, Neruda tengah bulan madu di sekitar candi Borobudur, menikmati kesempatan menghirup alam tropis, di ketinggian gunung peradaban.

Setiap pagi-pagi bersama istri menaiki ondak-ondakan candi, sambil membawa catatan kembara, merevisi di samping relief-relief, yang masih sunyi pengunjung.

Ada semangat mengabadikan karya, kala menatap arca bergelimpangan hilang kepalanya, jiwanya terbang membumbung, bagai burung mengitari percandian.

Siang teduh dipayungi mendung, menggiring lamunan jauh, sambil memadukan irama puisinya dengan alam sekitar, yang sejuk permai.

Kadang sang istri bermanja-manjaan, ingin dikedup hangat sayang, ada kilauan cahaya, tatkala pengantin muda berpaut pagut ke dalam kuluman bibir tak habis manis, kian hari menggemuruh.

Merontokkan perasaan malu menjadi akrab bersahabat, sedegupan jantung selaguan alam Dwipa, dan apa yang digurat, kelak bernyanyian syahdu senantiasa dirindu.

Kedua insan hendak turun pulang menuju pondokan, tiba-tiba pandangan Neruda, disentakkan bayangan dikenalnya lewat majalah.

Dirinya merinding bergetar memasuki alam serupa mimpi, ketaksangkaan mengharu bathin sukmanya, menatap berkeyakinan dalam jiwa berselidik.

Benarkah yang duduk Rabindranath Tagore, pelan-lahan didekatinya sosok alim nan rupawan. Neruda perkenalkan diri disertai istrinya, lalu menanyakan kebenaran pertemuannya dengan pujangga Bengali.

Bibir Tagore terkatub bergetar bukan apa, usinya sudah lanjut, disamping habis menaiki tangga percandian, tapak-tapak melelahkan, hingga mengatur nafas sebelum berucap, pelan berkata, membenarkan pertemuan.

Dilihatnya Neruda membawa berkas-berkas kertas, namun tidak ditanya isinya, cepat-cepat jiwa muda Neruda mengulurkan tangan memberikannya, demi diselidik meminta pengertian.

Dengan lembut, Tagore menatap tulisan, membacanya dalam hati, meresapi betul tiap kata. Lalu dipandangnya hamparan percandian, didongakkan kepala ke langit tersenyum. Sedang Neruda sudah dari tadi merinding, seakan di hadapan maha guru spiritual.

Pertemuan singkat itu membekas di benak Neruda, seolah dapati karcis memasuki dunia sastra dengan jiwa besarnya, di ubun-ubunnya seakan mendapati restu pujangga India.

Tanah Jawa jadi saksi sejarah, bertemunya jiwa-jiwa mengemban hikayat hayat, demi mata air kesusastraan dunia, bathin purna sekepal batu mutiara memantulkan percaya diri demikian indah.

Lagu keraguan langgam surut, pula kadang berpasang segelombang laut selatan, suara-suara alam menguak tabir pertemuan dengan keluguan rupawan.

Pesona kejujuran bumi menghantar setiap cerita pada derajat ketinggian sah, seperti bayangan warna surga, meski belum memasuki nikmatnya.

Demikian tafsiranku, yang sejatinya alam menafaskan pertemuan mereka. Diriku sekadar tangkai pepaya, dimainkan anak-anak nasib di sungai kehidupan.

Maka haturkan maaf kepada bunda pertiwi, kalau sampai kini, belum ada anak-anaknya menyembul keluar gelanggang dunia sastra, seperti keduanya.

Semoga kelak tumbuh jiwa-jiwa seluas cakrawala, mengharumkan bangsa, tidak sekadar mewangi di telatah tanah airnya semata.

Menjaga Hening

Pablo Neruda
Terjemahan bebas: Alit S. Rini
http://www.balipost.co.id/

Kini kita akan menghitung waktu
ke puncak malam
dan berhenti sejenak di sana
untuk sekali memandang wajah bumi
tanpa suara dalam bahasa apa pun
berhenti sejenak saja
membiarkan tubuh
tak banyak bergerak

akan tiba saat yang menakjubkan
tanpa riuh, tanpa deru mesin-mesin
kita berada dalam kebersamaan
dalam keterasingan yang tiba-tiba

Para nelayan di lautan dingin
takkan melukai ikan-ikan paus
dan lelaki pencari garam
memandangi tangannya
yang terluka

Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
peperangan dengan gas,
peperangan dengan api,
kemenangan tanpa pemenang,

akan meletakkan baju-baju bersih
dan akan melangkah bersama para saudara
di dalam bayang-bayang,
tak melakukan apa pun

Apa yang kuinginkan
tak seharusnya membingkungkan
Kehidupan seperti ini:
Aku ingin tidak ada truk dengan kematian.

Jika kita tidak tulus ikhlas
untuk menjaga kehidupan kita
yang terus bergerak,
dan sekali saja tak melakukan apa pun,
mungkin keheningan yang maha besar
mungkin akan menyela kesedihan ini
yang tak pernah memahami diri sendiri
dan mengancam diri kita
dengan kematian.
Barangkali bumi bisa mengajarkan kita
seperti ketika segalanya seakan mati
dan kemudian terbukti hidup.

Kini kuakan menghitung waktu
ke puncak malam,
dan kau tertinggal menjauh
danaku melangkah pergi

Catatan:
Pablo Neruda ‘Exttravagario’-1958 (Extravagaria by Alstair Reid-1972)
Pablo Neruda (1904-1973) adalah penyair Chile Amerika Latin, pemenang Nobel Sastra 1971
sumber: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=49604

Selasa, 14 Juni 2011

Puisi, Sejarah, Santet *

Sebentuk ‘Surat Kreatif’ kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi
Mashuri **
http://sastra-indonesia.com/

Sejarah adalah mimpi buruk (James Joyce)

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Mungkin kita belum pernah bersua, namun dalam kesempatan ini aku berikhtiar bersua denganmu lewat puisi-puisimu. Siapa tahu aku dan dirimu bertemu atau berpapasan di teks-teks puisimu, dan pertemuan itu bisa aku untai menjadi buah pikiranku. Jika aku tak bisa menemuimu di sana, aku akan merangkum kealpaan itu dalam praduga yang berlatar pada sosio-kultur yang melahirkan teks-teks puisimu, juga sosiokultur yang mematri nilai-nilai dan kearifan ke jiwamu.

Oleh karena itu, aku akan bertumpu pada ingatan-ingatan kolektif, kearifan dan kenaifan tradisi, juga mungkin sebentuk hasrat yang tergurat di bait-baitmu, yang kadang lancar. Kadang patah-patah. Dan, seringkali membuat aku harus menakik alur pikir dan perasaanku untuk membalik teks-teks puisimu, agar aku bisa mengintip rahasia dan misteri yang tersimpan di sana. Mengingat topografi dan historiografi tradisi dan budaya Banyuwangi, aku melihat beberapa puisi patah-patahmu adalah niscaya. Aku teringat saat A. Solzeynistin, mengakui tulisan tentang pulau penjara pada masa-masa rezim komunis berkuasa di Rusia: ‘Gulag’, yang tak senada, dan mungkin patah-patah, karena kondisi saat menulisnya sambil berlari dan itu adalah keniscayaan dari kesusastraannya. Mungkin aku terlalu gegabah, tetapi ini adalah salah satu caraku untuk bersua denganmu.

Ah, lupakan soal itu. Yang jelas, apapun alasannya puisi tetaplah penting, apalagi untuk zaman kini, ketika suara-suara begitu banyak yang mendesak ingin menguasai ruang kita dan menuntut untuk didengar. Dan, itu yang aku tangkap dari spiritmu: adanya keyakinan yang begitu penting pada puisi. Tak peduli kata orang, ihwal akhir romantik peran penyair. Aku menangkap begitu banyak kesungguhan dalam puisimu yang menegaskan bahwa puisi itu juga masih sangat penting dalam lingkar sengkarut realitas yang demikian hiperreal, dan kondisi kekinian kita yang rapuh.

Mungkin ini adalah problem akut kita bersama yang masih meraba-raba arah gerak dunia dan menjadi pengekor yang teguh. Aku menangkap puisimu bermain dalam wilayah itu. Spirit puisimu ingin ‘mendamaikan’ masa lalu dan masa kini. Apalagi realitas sejarah ‘lokal’-mu begitu luka. Jika dalam konteks sosio-kulturmu, itu sebagai cara terapi dalam merakit trauma-trauma sejarah, karena kita memang tak cerdas untuk ihwal itu dan selalu mengulang hal-hal yang sama, meski di masa lalu hal itu sering berperistiwa.

Sebagaimana yang dianggit Octavio Paz, bahwa puisi adalah penyembuh bagi sebuah ‘luka sejarah’. Hal itu karena sejarah Brang Wetan/ Blambangan, selalu saja menempati wilayah periferi dalam sejarah mapan Jawa. Pada masa Majapahit, ia juga berada di ruang-ruang subordinat, terutama dalam kisah perseteruan Damarwulan-Menakjinggo. Pada lanskap kultur Jawa, Damarwulan adalah pahlawan. Tetapi aku yakin dalam kultur Brang Wetan/Blambangan, terdapat anggapan yang berbeda, dan hero itu Menak Jinggo. Kondisi ‘muram’ itu berlangsung hingga kondisi mutakhir, ketika isu dukun santet merebak. Padahal, selama ini, telah terjadi pemaknaan yang salah kaprah dalam dunia santet. Santet bagi orang Osing berbeda dengan santet bagi masyarakat awam dan dipahami oleh khalayak riuh. Bahkan, lagu ‘Genjer-Genjer’ yang netral itu tiba-tiba begitu subversif pada masa Orde Baru dan disangkutpautkan dengan Gerakan 30 September, dan dianggap sebagai lagu wajib Gerwani dalam berpesta.

Dengan sedikit latar itu, tak heran, dari baris-baris puisimu, aku melihat begitu banyak warisan yang berusaha kau baca dalam kekinian, dengan tak segan kau berkata: sejarah adalah luka, sebagaimana yang dikatakan James Joyce, bahwa sejarah adalah mimpi buruk. Namun bukan berarti kau abai pada sejarah dan menganggapnya tidak penting. Aku masih meyakini bahwa kau sebagaimana Ortega Y. Gaset, yang tetap ‘gamang’ melihat masa depan, dan menganggap bahwa sejarah itu adalah ‘harta’ yang berharga. Dengan tegas Gaset mengatakan bahwa manusia tak punya kodrat dan yang dipunyai hanya sejarah. Aku melihat kau berada di persimpangan antara kodrat dan sejarah.

Sejarahmu demikian luka dan kau masih bimbang dalam kekinian. Meski demikian, keyakinan begitu besar dalam kekinianmu yang masih carut-marut itu. Ketika membuka bukumu Rajegwesi, aku bersua dengan gelisah dan optimismu itu. Dalam “Elegi Perjalanan Hidup”, yang kautulis pada 1991, aku melihat adanya kegamangan itu. Sebagaimana manusia modern Indonesia, yang masih terombang-ambing antara tradisi lokalnya dengan tradisi dari Barat yang sering disebut modern. Memang sering kali kita mendengar jangan tangisi kematian tradisi, tetapi mengingat zaman kini, sepertinya kita masih begitu butuh pada tradisi. Tentu yang patut ditimba adalah spirit tradisi sebagai progres kreatif. Karena sungguh, seringkali kita asing dengan tradisi kita sendiri. Aku dalam puisimu “Rajegwesi” (hal 50) yang kautulis pada 2007, adalah kita.

…di saat gending itu menggerakkan angin
maka di sanalah aku tahu bagaimana wajahmu
sekian lama menempati peta asing

Hal itu tidak hanya dalam “Rajegwesi” saja. Bahkan, dari sajak-sajak yang kautulis dan bertahun 1991, sebanyak 13, aku melihat adanya rasa gelisah pada ingatan, kenangan, dan kekinian. Dan, aku merasa, inilah ruh yang hidup dan menghidupi sajakmu. Dalam “Laut” (hal 22), kesadaran sejarahmu demikian tinggi: sejarah luka, juga berbagai pendikreditan arketipe budaya sekaligus ‘salah baca’-nya.

Laut yang terhampar di hadapanku
Senantiasa menyentuh luka yang tiada pernah sembuh
Telah terkubur berabad
Abad, sehingga aku tak tahu di mana
Akan kubuang masa laluku. Laut telah
Sesak oleh sejarah

Kau terus ‘Membaca. Mengaji lautan sejarah” (“Manusia Sehari”, hal 18). Kau seakan-akan menunjuk ada sesuatu yang tidak ‘alami’ terjadi di lingkungan budayamu, dan merasa “Di sini waktu berhenti. Jam-jam kehilangan jarum” (“Cerita”, hal 19). Kau begitu menolak kebekuan waktu. Kesadaran yang menguasaimu adalah kesadaran ‘modern’ dengan progres. Tetapi realitas-kekinian seakan membekukan dan waktu seakan berhenti seperti yang kau lontarkan. “Sehari waktu telah berhenti mengenal manusia. Melebur diri. Hanyut oleh kesementaraan waktu yang berhenti. (“Cerita”, hal 19). “O ini abad sudah enggan disapa”. (“Untuk Jari-jari”, 20)

Ingatan, kenangan, sejarah dan panggilan dari ‘Ibu’ menjadi ruh hidup puisi-puisimu yang lainnya. Seperti dalam “Perimbangan” (hal. 17)./Telah kulihat ibu/Memanggil namaku/Agar segera berangkat/Melupakan catatan harian/ Yang hanya menyimpan sunyi/ Telah melukai tubuh sendiri/ Tiap hari.

Dalam “Jalan Alam” (hal. 59) ditulis 2008. /Aku meletakkan telapak tanganku di dadamu/ Juga perlahan-lahan seperti ingin menghapus kenangan/. Begitu pula dalam “Kerinduan” (hal. 66), ditulis 2009: /Aku berupaya menemuimu,/ Karena begitu lama aku mengembara/ Di labirin kesia-siaan./ Engkau adalah rumah yang lama kutinggalkan/.

Dalam sajak lain yang ditulis pada 2009, juga menyangkut ihwal kenangan dan usia. “Dahan Kelapa dalam Dadamu” (hal. 70):/ Ingin segera sampai ke rumahmu./ Meletakkan gerimis./ Atas nama pikiran kosong./ Juga ingatan yang terkotak hijau. Dalam “Dan Waktu” (hal. 78): /usia empat puluh tujuh,/… sejarah puisi yang terlupakan/. Dan, pada “Sampiran Setan” (hal. 80) mengerucut pada hal-hal sublim sekaligus kontradiktif: sebuah perjalanan telah sampai, sekaligus mempertanyakan tentang sesuatu yang dianggap ‘terberi’.

Memang, meski secara umum, bait-bait puisimu tak menyimpan bentuk metrum ‘Sabuk Mangir’, ‘Jaran Goyang’, tradisi ‘Warung Bathokan”, dan lainnya yang memasang atribut identitas kulturmu, tetapi aku menangkap adanya sinyal itu. Bahkan, ada usaha untuk mengembalikan makna santet yang sesungguhnya sebagai sebentuk usaha meraih mahabbah/cinta dan demi cinta. Tentu saja, kau juga merajutnya dengan sajak-sajak cinta yang ciamik, sajak persembahan yang mantap, juga sajak-sajak yang kau sebut ‘puisi-puisi tak terduga’ yang lain.

Sungguh, berpuluh sajak-sajak berbinar ihwal cinta. Tentu cinta di sini, bukan cinta sejoli, birahi, tetapi cinta yang menguniversal dalam kemanusiaamu. Sajak-sajak cintamu demikian banyak. Aku terpaku pada sajak cintamu, yang berjudul “Yashinta Nur Safitri” (hal 82), yang kautulis pada 2009. Aku lalu teringat bahwa kumpulan sajak ini juga kau persembahkan pada nama itu. Aku menduga ia adalah buah hatimu.

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Aku termasuk orang yang kagum pada sub kultur Osing, yang tradisi lisan dan tulisannya terus terpelihara. Sastranya terus tumbuh secara mandiri dan kompleks. Bisa jadi karena begitu banyak ‘agen kebudayaan’ di sana, yang membacanya dalam kekinian, sebagaimana engkau membacanya. Mungkin banyak orang yang merasa gelisah ketika sebuah laju budaya berhenti pada ornamen, arketif pasif dan kebudayaan menjadi kata benda. Aku menangkap beberapa puisimu meruju ke situ. Kau ingin membaca warisan bukan dalam kapasitas masa lalu, tetapi dalam kekiniannya. Sehingga terkesan ada nada miris ketika kau bicara warisan masa lalu.

Hal ini kau tegaskan dalam sajak “Kelahiran” (hal. 31). Berikut ini kutipan beberapa bait:

Mataku terpejam diam-diam mengusung
Kemiren dalam tubuhku menjadi fosil
Serupa penari Gandrung yang tengah bermimpi
Tentang bulan dan suara using ditalu-talu

Tapi, di kota aku sempat mengelus patung-patung itu
Jejak masa lalu yang semakin mengabur
Hanya kukenali kembali rintihan-rintihan lembut
Yang nyaris tak terdengar dalam dadaku

O Tradisi pesisir: perahumu dihimpit gunung

Hal itu juga juga tampak pada dua sajak yang kau tulis pada tahun 2006, judulnya “Banyuwangi” (hal. 27) dan “Sebentuk Kisah” (hal. 32). Dalam “Banyuwangi”. /Banyuwangi,/ Terasa merdu suaramu di telingaku/ Lantaran jauh aku meninggalkanmu/. Banyuwangi,/ Kesempitan melapangkan jalanku ke duna/ Lantaran dialek Using yang begitu-begitu saja. /Kini sayup-sayup kudengar lagi suaramu/ Mengusung carut-marut penampakanmu/. Adapun dalam “Sebentuk Kisah”, aku lirik ‘hanya’ bersua ‘sebutir pasir’ dalam ‘kamar’ pertaruhan realitasnya, dan selalu dijejali dengan menemukan ‘tv yang selalu menyala.

Dari dua sajak tersebut tersebut, terdapat nada masqul menghadapi ‘yang begitu-begitu saja’ dan ‘carut marut’, dan dirimu berkehendak untuk memberi nilai lebih dari yang sudah ada. Jika Adonis alias Ali Ahmad Said meminjam ‘ruh’ puitik Mutanabbi untuk mendobrak kebuntuan kreativitas bangsa Arab pasca kalah Perang dengan Israil, aku melihat ada hasrat demikian besar dalam puisi-puisimu. Kau begitu luka memahami masa lalumu, dan dengan puisi kau menyurat sebuah kesaksian, bahwa mesti ada yang tetap dan berubah. Tentu warisan masa lalu yang kau angankan itu adalah dinamika Osing, Kemiren, juga Banyuwangi dengan tradisi dan kultur yang begitu kaya dan mandiri. Dan, kau ingin warisan itu tidak hanya ‘begitu-begitu saja’ tapi ‘hidup’.

Kau menegaskan dalam “Elegi Perjalanan Hidup” (hal. 14), puisi pertama dalam kumpulan Rajegwesi.

Ah hidup!
Masih mengais-ngais juga di bumi
Segala hulu yang mengalirkan sejarah
Kini meretas di jari-jariku

Optimisme masih kau pegang meski kau alirkan lewat suara sajakmu yang ironi. /Dan kini secupang cinta telah menodai tujuan yang/ Telah kubangun lewat keping waktu (“Ia Mendengar Suaraku”, hal. 15). Sajak-sajakmu yang lain juga menyebut beberapa tempat, tokoh, mitos, alih kode dan campur kode dan lainnya terkait dengan Osing dan Banyuwangi. Kau juga meruyak wilayah spiritualisme Islam, dengan mengunggah puisi yang yang sunyi dan mengungkai kaidah-kaidah sufisme.

Adapun pada tahun-tahun 2007, sajakmu cukup banyak yang berbicara tentang Kemiren. Di antaranya “Hantu di Kemiren” (hal 41), “Dosa Kemiren” (hal. 43), “Magma Kemiren” (hal. 44), dan “Geriap Kemiren” (45). Nada dan suasana yang terbangun ‘muram’, sebuah introspeksi pada ruang dan waktu yang tak tepat, menyoal perspektif umum/mapan yang riil, tapi ganjil. Ihwal ragam kulturmu juga membukit di ‘Sebukit Rinjani”, yang kau tulis 2009 (hal. 75), meski nadanya berbeda dengan sajak tahun 2007.

Dalam sajak tahun 2007 “Desa-desa di Kemiren” ( hal.47), kau menegaskan gejolak itu dalam di antara dua tanda kutip.

“Di sini tak ada apa-apa, saudara
Pergilah di kota-kota
telah tersimpan riwayatku yang basi”

Dalam “Sebukit Rinjani” (2009), yang bentuknya mirip prosa, sepertinya ada usaha untuk berdamai. “Sudahlah, hanya secangkir kopi. Engkau hanya mencari orang yang terkesima. Menggenggam peninggalan Majapahit erat-erat. Yang dekat dari sini hanya Gunung Ijen.” Suasana yang berbeda dari tahun sebelumnya juga kau tabalkan dengan mengambil ikon Gandrung dalam sajak yang kautulis pada 2009, judulnya “Belerang di Tubuhmu” (hal 77)

Tak ada bau bangkai di sini.
Hanya jejak-jejak Gandrung yang menempel
di beranda rumahmu
Selendang merah yang kusam

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Meski berbeda, aku melihat kau tetap memandang ‘jejak-jejak’ itu sebagai hal yang ‘kusam’. Artinya, kau tetap istiqomah dalam memandang masa lalu dan warisan tradisi itu sebagai hal yang harus ditafsir ulang dan diberi notasi dalam kekiniannya yang tidak terjebak pada masa lalu…

Demikianlah, pada akhirnya, beribu maaf aku gelar di sini, karena harus menyudahi pembicaraan yang mungkin terlalu melenceng jauh dari perkiraan dan bertele-tele. Namun bagiku ini adalah sebentuk ‘kenikmatan’ dan ‘rekreasi’ yang menyenangkan. Aku sudah berikhtiar ‘membaca’ 70 puisimu, yang ditulis mulai 1991—2009, dengan jumlah dan jeda yang berbeda. Tak ada sajak dari tahun 1992—1995 dan 2000—2005. Rinciannya: tahun 1991 (13 sajak), 1996 (6 sajak), 1997 (1 sajak), 1998 (2 sajak), 1999 (1 sajak), 2006 (1 sajak), 2007 (14 sajak), 2008 (8 sajak), dan 2009 (25 sajak). Paparan singkat ini adalah hasil perjumpaanku dengan beberapa puisimu.

Aku memang hanya fokus pada hal ihwal yang berbau sejarah, tradisi dan ingatan-ingatan kolektif saja, karena sajak-sajakmu mendedah banyak hal, yang tentu saja tidak kuasa kubaca semua. Bahkan, bisa jadi, banyak hal dari sajak-sajakmu yang luput dan itu karena keterbatasanku yang tak mungkin bisa mendedah seluruhnya dan sempurna. Semoga bermanfaat. Wallahu muwafiq ila aqwamit thariq. (*)

*) Disampaikan sebagai prasaran dalam acara “Geladak Sastra” di Mojokerto, pada Minggu, 26 September 2010. Belum diedit.
**) Penulis puisi, prosa dan esai.

“Teori Kritis” komunikasi kontemporer Jurgen Habermas

Janual Aidi
http://janualaidi01.blogspot.com/

”Teori kritis merupakan pembaharuan dari tradisi Markxis yang menghendaki emansipasi mereka yang tertindas dan ternista di dalam masyarakat yang timpang”.

Istilah ini merujuk pada tesa bangunan teori yang diandaikan oleh Habermas dalam rangka untuk meneruskan kebuntuan Mazhab Frankfrut. Atau dalam istilah bahasa; pandangan komunikasi. Pendekatan teori kritis menjelaskan dengan cukup bijak bahwa teori ini memberi penekanan kuat kepada hubungan dan sarana komunikasi dalam masyarakat. Praktek-praktek komunikasi merupakan suatu hasil dari ketegangan-ketegangan antara kretifitas indifidu dan batasan-batasan fosial terhadap kreatifitas tersebut. Hanya bila indifidu benar-benar bebas untuk mengespresikan diri dengan jelas dan tegas maka pembebasan bisa terjadi dan kondisi itu tidak bisa dicapai dalam masyarakat yang berdasarkan kelas.

Penulis belajar menganalisis bahwa teori kritis pada umumnya memiliki 4 (empat) karakter ; (1) bahwa teori kritis bersifat historis, (2) Teori kritis dikembangkan berdasarkan kesadaran dan keterlibatan historis pemikirnya, berisfat kritis terhadap dirinya, (3) teori ini mengembangkan dealektisnya termasuk memiliki kecurigaan pada masyarakat aktual, manipulasi dan kontradisi, (4) Bahwa teori kritis bersifat praxis. Pada point keempat menjelaskan bahwa sikap kritis dibangun justru untuk mendorong transformasi masyarakat, dan tranformasi tersebut bisa dicapai jika bernilai praxis ke arah perubahan sosial (Budi Hardiman, 1993). Jika dilihat secara utuh pendekatan ini, pemikiran kritisnya menghubungkan ilmu pengetahuan tentang masyarakat dan sejarah bukan hanya dipahami sebuah kontepelasi, melainkan mengarah tindakan dasar tingkah laku sebagai mahluk sosial yang mendorong perubahan sosial. Habermas melihat bahwa masyarakat yang moderen sejauh diarahkan atau dikendalikan sistem kapitalisme akan mengalami hambatan atau “patologi sosial” serta “cacat”. Dengan mengutamakan segi-segi fundamental dan manipulatif yang terwujud dalam sistem ekonomi dan administrasi birokratis, modernitas yang kapitalistis menindas wilayah hakiki masyarakat yang dasarnya bersifat komunikatif. Pun Habermas tak lupa menilai rasionalisasi masyarakat, teknokratisme, depolitisasi massa, dan demoktisasi termasuk krisis legitimasi adalah sesuatu dipertanyakan. Patologi sosial dan cacat yang bawah oleh modernitas akan masuk dan meggorogoti masyarakat. Prasyarat ke arah itu memerlukan sebuah kondisi keseimbangan yang stabil yang relevan dengan masalah ilmu, politik, ekonomi, budaya, masyarakat, media, termasuk filsafat. Cacat-cacat modernitas itu, menurutnya, harus diatasi dengan pencerahan lebih lanjut dalam arti ” rasio komunikatif” yang kritis terhadap rasionalitas yang menyembunyikan kekuasaan. (Jurnal Mediator, Safarudin.I, 2004).

Melengkapi argumentasinya, Habermas menegaskan kembali bahwa tujuan ilmu-ilmu kritis dengan kepentingan emansipatorisnya, adalah membantu masyarakat untuk mencapai otonomi dan kedewasaan. Otonomi ini bersifat individu dan kolektif berhubungan dengan pencapaian kosensusus bebas dominasi kekuasaan, ekonomi, termasuk juga idiologi. Menurutnya, sungguh suatu hal yang mustahil ilmu pengetahuan hanya memiliki tugas teoritis tanpa bersifat praktis terhadap faktor-faktor obyektif ”realitas” di dalam dunia kehidupan. Demikian halnya, faktor-faktor produksi tidak semestinya berpihak pada sistim kapitalisme pasar yakni kepada golongan (kelas) tertentu, atau negara / kekuasaan semata. Melainkan, ilmu pengetahuan harus bisa diaplikasi secara utuh dalan sistim dunia kehidupan, dan penguasaan terhadap sektor ekonomi, politik, budaya, termasuk media komunikasi harus memihak kepada masyarakat (publik) secara seimbang. Sebuah masyarakat yang modern dan demokratis adalah masyarakat yang didasarkan cita-cita luhurnya tanpa kendalikan dan dikontrol oleh sebuah kekuatan serta dominasi idiologi tertentu. Masyarakat yang maju menghendaki idiologinya masing-masing berkembang serta interaksi diantara mereka yang memungkinkan terbukanya ruang dialog secara bebas. Sementara hal yang dipandang krusial menyangkut sisi kekuasaan (negara). Apa yang dimaksudkan Habermas, bahwa kekuasaan semestinya tidak hanya dilegitimasikan melainkan juga dirasionalisasikan. Disini, kekuasaan juga harus dicerahi dengan diskusi rasional, wacana publik, agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politik dan mengarahkan kemajuan masyarakat. Masyarakat sudah saatnya dipandang tidak saja sebagai sistem administrasi dan ekonomi, melainkan juga solidaritas budaya atau komunitas yang saling berhubungan dan berkembang. Pada tataran ini interaksi dan rasionalisasi diwujudkan dalam bentuk dan paradigma komunikasi.

Masyarakat yang dicita-citakan dalam teori ini, adalah masyarakat komunikatif yang maju dan demokratis, terlepas dari penindasan, diskriminasi, marginal, dari kekuasaan, kepentingan, dominasi idiologi, ekonomi, kelas dan gender. Kelas-kelas yang dominan di masyarakat sendiri terbentuk melalui perjuangan dari beberapa idiologi. Di lain pihak banyak teoritis mengakui bahwa kontradiksi ketegangan dan konflik merupakan aspek-aspek yang tidak dapat dihindari dari tatanan sosial dan tidak pernah bisa dihapuskan. Keadaan idealnya adalah sebuah lingkungan sosial dimana semua suara dapat didengar sehingga tidak ada satu kekuatan yang mendominasi kekuatan yang lain. Akhirnya, secara luas harus diakui bahwa teori kritis mengekspresikan perjuangan bersama, dan menekankan relasi antara kekuasaan, media, dan pemeliharaan tatanan sosial yang setara. Jika diantara relasi-relasi tersebut dilepaskan justru akan berdampak pada krisis legitimasi yang membawa masyarakat tercabut dari akarnya, dari lingkungan sosialnya. Jadi, dalam perkembangannya, konsep pemikiran kritis selalu melekat ide demokrasi melalui kebebasan dan tanggung jawab, serta memberi konstribusi kepada upaya intelektual yang bisa dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat. Penggambaran ini oleh Hanno Hardt secara sekilas telah dikemukaan dalam esainya bahwa;

Aspek komunikasi menduduki posisi sentral dalam gerakan ini, dan studi komunikasi massa adalah suatu yang amat penting yang banyak mendapat perhatian. Pada pendekatan teori kritis, pesan-pesan komunikasi tidak dapat dipisahkan dari komunitas komunikasi yang menjadi sumber legitimasi dan autensitasnya. Sebuah masyarakat akan bertahan atau eksis jika keutuhan integrasi kelas dan struktur sosial dapat dipertahankan perannya masing-masing. Bahwa modernitas kapitalistik adalah modernitas yang terdistorsi, sebuah pencerahan dan cacat dapat diatasi dengan tindakan komunikatif. Mengambil hikmah dan manfaat dari pemikiran kritis ini, bahwa bahaya-bahaya serius yang akan menimpa masyarakat yang strategi pembangunannya diarahkan semata-mata demi akumulasi modal, birokratisasi, dan teknokrasi akan menyingkirkan atau memanipulasi unsur hakiki masyarakat yakni solidaritas sosial. Meskipun oleh Habermas sendiri dalam pendekatan teori kritisnya, tidak secara tegas menyatakan bentuk masyarakat yang dicita-citakan, masih bersifat ’abstrak dan ambigu’. Namun yang pasti, sejauh konstruksi (pembangunan) masyarakat termasuk masyarakat Indonesia, untuk menuju masyarakat maju, modern dan demokratis secara universal, tidak bisa mengabaikan analisis-analisis ini yang dianjurkan oleh Habermas.

Senin, 13 Juni 2011

P E N G A R A N G

S. Jai
Tabloid Memo, Minggu III Juni 2010

SETIAP hari Jauhar mencari penjual ginjal, setelah dokter memvonis kedua buah ginjalnya tak berguna. Dia telah dibuat mengerti, bahwa itu satu-satunya jalan untuk mengakhiri rutinitas cuci darah di laboratorium Rumah Sakit di Gresik dua kali saban seminggu. Meski ia tahu hal itu juga salah satu jalan kemungkinan untuk mengakhiri hidupnya. Pada saat demikian, dia benar-benar ada di garis batas berjuang memberi arti antara gairah untuk hidup dan gairah untuk mati.

Saya menjadi lebih sedikit mengerti bahtera di rumah majikan saya itu. Hanya karena saya sering diserahi pekerjaan beres-beres rumah Jauhar, mengecat kusen, menambal tembok, memasang kran, mengantar istrinya belanja, menjemput anaknya dari sekolah atau apa saja.

Di rumah itu saya hanyalah orang lain. Dia majikan dan saya pekerja serabutan.

Memang pada selanjutnya, saya mengerti banyak keadaan rumah tangga Jauhar sekeluarga. Semula ini saya nilai kejadian biasa, sebagaimana banyak terjadi bahwa seorang pembantu tentu lebih tahu ketimbang tuan rumahnya. Boleh dikata, pembantulah sebetulnya penguasa dalam sebuah rumah tangga kaya. Sementara majikan hanya anak-anak manja yang bergantung banyak padanya.

Ternyata, pengertian saya ini malah berkembang luar biasa. Saya malah merasa sedikit saja tahu tentang diri saya, selanjutnya tersedot oleh apa yang dimiliki majikan saya—penderitaan Jauhar sekeluarga. Saya memahaminya pada Jauhar ada gairah hidupnya yang sungguh tak pernah padam. Yaitu gairah untuk menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah karangan entah fiksi, biografi ataukah sekadar catatan perjalanan.

“Dia tak pernah takut menghadapi hidup atau mati tetapi ia bakal kehabisan nyali bila suatu saat tak punya materi untuk dia karang dalam kertas-kertas kerjanya,” isi pikiran saya ini masih saya simpan untuk saya sendiri.

Lagipula, Jauhar telah sanggup melunasi jalan kehidupannya—kebutuhan hidupnya, kenikmatan dari itu semua ia peroleh dari jerih payah setiap alenia hasil tulisannya. Dia masih muda. Rumah ia punya, istri punya, anak ada, mobil tersedia. Apalagi hanya kulkas, kompor gas, piring, semuanya telah dia punya.
Ia hanya merasa tidak punya dua buah ginjal.

Sama halnya dengan saya, Jauhar terlihat getir melihat begitu marak orang bunuh diri dari kabar koran-koran dan layar televisi. Tidak satupun diantara mereka diduga oleh sebab memiliki cacat fisik, apalagi karena tak berfungsinya bagian dalam tubuhnya. Tidak pernah ada. Hampir pasti, semua terjadi karena kelainan jiwa. Mereka mencari jiwa di plasa-plasa, mal, tiang listrik, tower pencakar langit. Baru kemudian mereka meyakini bakal menemukan diri sesudah meremukan tubuhnya.

Jauhar hanya mencari sebutir saja ginjal sebelum menjemput ajal.

Kegetiran boleh jadi rasanya sama, tetapi apa yang dipikirkan seorang majikan dengan babunya, sudah barang tentu berbeda. Saya berpikir, satu hal lagi yang belakangan dipunyai majikan saya, yaitu penderitaannya. Selain kesusahannya sendiri oleh karena tubuhnya yang tiba-tiba saja beringsut seperti timun kisut, ibundanya, Nyonya Mening, sekarang pun betul-betul nelangsa melihat puteranya sedang berduka.

Kembali saya teringat pada kisah hidup Jauhar. Saya bayangkan bila ia menuliskannya dalam sebuah karangan, tentu jadinya serupa parade para penyandang cacat jiwa oleh karena derita. Toh, hal itu tetap ia lakukan karena ia seorang penulis meskipun bukan berarti ia seroang pemuja penderitaan. Ia tidak mengundang penderitaan itu, melainkan memang musibah datang beruntun berulang seperti gempa menghajar tanah ini. Lebih misterius dari datang tak diundang, pergi tak diantar. Lebih ngeri dari datang tanpa pesan, pergi tak permisi.

Mula mula, Lukman—kakak tertua Jauhar yang masih pengantin baru karena telat menikah—terpelanting jatuh dari ranting pohon mangga. Ketika itu Lukman bermaksud memetik buah mangga muda untuk kekasihnya yang konon sedang hamil muda. Naas, ia terjatuh setelah rantingnya pepes dan tengkuknya menghantam persis moncong sebutir batu bata. Ia pun seketika tak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya, meskipun ia lancar bicara.

Semula kami sekeluarga menduga ia mengalami kelumpuhan saja. Oleh karena itu segera Lukman dilarikan ke Rumah Sakit Orthopedi Dr Soeharso di Solo. Setelah menjalani pemeriksaan, pihak rumah sakit angkat tangan dan dirujuk untuk cepat dibawa ke Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya.

Di Surabaya, pria pengantin baru itu langsung dibawa ke bagian bedah syarat. Di sana, Lukman dirawat selama beberapa hari dan yang paling sabar mendampingi di pintu kamar rumah sakit adalah ibunda Mening dan istrinya, Rukmini. Sementara saudaranya yang lain mencari dana dan beberapa saudara jauh diantaranya meminta jampi-jampi dari kiai untuk diminumka demi pemulihan pria naas itu. Lukman saudara tertua dari empat bersaudara Jauhar. Seorang lagi menjadi tentara dan satunya lagi kerja di perusahaan Semen Gresik di Tuban.

Ya, memang pada akhirnya Lukman meninggal dunia dalam hitungan yang sama persis dari pengakuan seorang dokter waktu masih dirawat di Solo. Bahwa paling lama ia akan bertahan hidup selama empat hari. Pengakuan yang terbungkus rapat baru terungkap beberapa saat sesudah kematiannya. Ah, tetapi barangkali ini tidak penting untuk diceritakan. Teka-teki bukan. Rahasia pun juga bukan lagi. Sekarang suara itu sekadar kembang di taman yang layu lupa tersiram.

Ibunda Mening sangat terpukul saat melihat salah seorang putranya mati di dekatnya. Terlebih, ia menghembuskan nafas terakhir tatkala ibunda Mening sejenak pergi ke kamar mandi guna menggosok gigi sehabis sarapan pagi.

Terus terang saya tidak bisa menggambarkan duka Ibunda Mening karena saya juga tak sampai hati mengisahkannya. Sempat saat itu, saya menikmati Ibunda Mening justru terlihat seperti anak kecil merengek berada di samping jenazah puteranya. Selanjutnya, dibutuhkan beberapa orang untuk menjauhkannya dari tubuh jenazah Lukman yang masih panas tubuhnya terasa di jari saya yang sengaja menyentuhnya. Saya hanya bisa menuliskan mahadukanya tatkala mencermati gurat-gurat keriput raut paras Ibunda Mening, mata sembab merahnya, lemah tubuhnya seolah luluh lantak karena kelelahan fisik dan digempur tangis jiwanya.

Pada sosok Ibunda Lukman tampak segalanya meredup seperti lampu senter yang kehabisan tenaga. Terlebih lagi, saya suntuk menyaksikan panorama itu semua saat beberapa saat keluarga mengurus jenazah Lukman di kamar mayat. Birokrasinya berbelit-belit dan entah mengapa sepotong mayat pun pantas untuk dikasihani, rupanya. Apalagi bagi yang hidup. Namun itu semua tidak terjadi.

Ditambah lagi ulah para calo sopir ambulan yang bersimaharajalela, benar-benar menjadi raja tega melempar-lempar keluarga jenazah Lukman dengan seenak udel memasang harga selangit. Sungguh, saya melihat kekejaman dari sorot mata mereka. Saat yang bersama-sama, saya bisa menangkap penderitaan dan kekejaman orang lain. Entah dari yang hidup atau yang mati. Ingatan saya pun terbang ke arah beberapa tahun silam di tempat ini, saat koran-koran memberitakan penjaga kamar mayat rajin menyetubuhi jenazah-jenazah perempuan manis berbetis kilau cahaya birahi.1)

“Wahai, kamar mayat di bawah atapmu saya tersekap riwayat kebiadabanmu!”

Semenjak Jauhar divonis gagal ginjal dan perlu donor ginjal, rasa sesal Ibunda Mening makin berlipat. Ibunda Mening menyayangkan mengapa kerusakan ginjal puteranya tidak terdeteksi sejak lama. Setidaknya semenjak beberapa bulan sebelum Lukman terjatuh dari pohon mangga. Tentu bila takdir Tuhan menghendaki sesuai kemauan pikiran Ibunda Mening, sekarang putranya tak perlu mencari penjual ginjal. Bukankah tinggal mengangkat dua buah ginjal saudaranya sebelum meninggal?

Kenyataannya, Tuhan berkehendak lain dan manusia hanya bisa mengarang cerita.2)

Lagi-lagi pikiran saya tidak jatuh pada rasa sesal Ibunda Mening, melainkan justru pada kekuatannya menghadapi sekian banyak gempuran petaka. Ia rajin merawat putranya, tanpa perlu tunjukkan pada orang lain apakah itu pertanda bakal kehilangan lagi anaknya, ataukah bukan. Yang ia pertontonkan hanya keterkejutannya melihat putranya digerogoti penyakit yang demikian mendadak sontak. Atau lebih tepatnya berjuang menghadapi kekurangpercayaannya atas garis hidup Jauhar yang baru belakangan hari diketahui ada cacat yang tersimpan di tubuhnya.

Suatu petang, sepulang dari peluncuran buku kumpulan cerita pendeknya di Jogjakarta, tanpa sebab yang jelas Jauhar muntah-muntah dan suhu badannya panas sekali. Setelah direkomendasi dokter untuk diperiksa di laboratorium, terdeteksi ada butiran darah pada air seninya meskipun hal itu tak tertangkap dalam pandangan mata biasa.

Setelah sekian kali pemeriksaan berulang, di hari yang berbeda, didapat keterangan kandungan protein dalam darahnya memuncak. Meski demikian, badannya tetap kekar, perawakannya tampak segar. Begitu seterusnya ia pun tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa—juga sudah barangtentu menulis cerita dan membuat catatan perjalanannya. Sampai suatu ketika dalam perbincangan dengan Rukmini, istrinya, karena dari diagnosa dokter penyakitnya tak kunjung reda, ia gemar pergi keluar kota mencari pengobatan alternatif: dukun, kiai dan sebagainya.

Setiap informasi yang dia terima, Jauhar dan Rukmini dengan membawa serta putrinya, Aini, cepat membuktikan ke tempat tujuan. Ke pelosok pun mereka kunjungi, ke bukit pun mereka cari. Ke pesisir pun mereka datangi. Tulungagung, Banyuwangi, Surabaya, Solo, Sampang, Sumenep dan kota-kota lainnya. Semua tertuang dalam catatan perjalanannya yang bagi saya lebih mirip pakansi ketimbang berburu keajaiban. Anehnya, keseluruhan dari “orang-orang pintar” itu menyatakan seragam bahwa Jauhar diguna-gunai semenjak lama. “Sudah lebih lima tahun, Mas Jauhar,” sebuah catatannya. “Karena itu agak berat untuk mencari obat. Tapi harus dicoba. Yang enteng-enteng sudah saya bereskan,” dalam sebuah catatannya yang lain. “Saya bantu doa dari jauh, Mas. Insyaallah,” tulis lainnya lagi. Selebihnya Jauhar diberi minuman air mineral yang sudah dimantrai, selain juga kadang-kadang disuruh buat jamu Jawa terbuat dari rempah-rempah tanaman obat. Terakhir kali Jauhar dipersilakan menggelar selamatan dengan ingkung dua ekor ayam jago berbulu putih, serta minum air laut yang mengalir masuk kapal laut atau sampan nelayan. Ia pun pergi ke pantai Tuban.

Semua itu dilakukannya tidak gratis alias keluar uang. Namun Jauhar tak pernah keberatan untuk itu semua. Baru belakangan hari saya tangkap itu semua sebagai apa yang saya sebut “gairah untuk hidup” dan “bukan gairah untuk mati.” Itu berlangsung beberapa bulan bahkan bertahun-tahun. Sampai suatu ketika Jauhar yang belum genap berkepala empat itu, kembali muntah-muntah dan suhu badanya naik dengan cepat. Tidak ada alasan lain kecuali segera dilarikan ke Rumah Sakit. Saat itulah, untuk kali pertama, diketahui dokter bahwa Jauhar mengindikasi penyakit ginjal dan telah dalam stadium lima alias kronis.

“Dua buah ginjalnya sudah tidak berguna. Pilihannya hanya dua cuci darah atau operasi cangkok ginjal,” kata dokter pada Rukmini, istrinya.

“Berapa biayanya, dokter?” Rukmini tanpa berpikir panjang.

Dokter menyebut angka bila operasi cangkok ginjal biayanya mencapai Rp. 500 juta. Sementara jika cuci darah berlangsung dua kali dalam seminggu. Sekali cuci darah menghabiskan dana Rp 800 ribu dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum di Gresik.

Saya sudah lupa hingga hari ini, cuci darahnya telah berlangsung berapa lama. Yang saya ingat, semenjak seminggu lalu Jauhar menyatakan pada saya sudah tak bisa konsentrasi untuk menulis cerita karena waktunya telah lebih banyak ia habiskan mencari penjual ginjal di situs-situs internet. Waktu itu ia memanggil saya untuk menuliskan cerita buatnya, demi menumbuhkan semangatnya, menggelorakan gairah hidupnya; mencatat peristiwa demi peristiwa, apa yang dia pikirkan, rasakan dan lakukan. Saya pun diizinkan untuk mengembangkannya sepanjang tidak mengubah muatan kisahnya.

Semula saya ragu karena saya bukan penulis cerita apalagi yang mahir berbahasa. Sebab itu, sungguh tidak bisa saya mengerti permintaan majikan saya itu. Hanya saja saya tidak bisa melakukan hal lain kecuali itu. Saya pikir, di bawah keraguan saya, mana mungkin saya bisa menggantikan gairah hidupnya dengan menggantikannya sebagai pencerita dunia batinnya. Setelah semula saya menipu diri saya sendiri, baru kemudian setelah lancar bercerita, saya mulai sedikit mengerti.

Cerita ini juga saya tulis atas permintaannya, karena Jauhar sudah benar-benar tak sanggup melakukannya. Sampai suatu ketika saya betul-betul menemukan kejujuran saya kembali. Perihal kejujuran saya yang kembali ini tidak saya tulis dalam cerita permintaannya, karena memang bukanlah bagian dari permintaannya. Jadi sejujurnya cerita ini belum selesai dan mungkin tak akan pernah selesai, meski juga bisa berarti telah tamat dengan sendirinya.

Saya kemudian dibuat mengerti, bahkan sampai suatu saat tidak sampai hati saya untuk memahami lebih dalam. Sesuatu tumbuh dalam diri saya. Saya sampai hati untuk bermaksud mendonorkan sebelah ginjal saya kepadanya. Mungkin juga hal ini saya tempuh usai merasakan kembali kegetiran atas orang-orang yang meremukkan tubuhnya di lantai atau aspal di bawah plasa-plasa.

Tapi apa lacur? Sayang, segalanya terlambat baginya. Beberapa jam lalu Jauhar telah dipanggil yang kuasa. Sementara bagi saya, saya kian mengerti mengapa semenjak kini saya memilih hidup baru menjadi pengarang.

Alenia paling buncit ini, saya tulis tanpa sepengetahuan dia dan memang bukan atas permintaan dia.

“Sejujurnya sulit saya menuliskan gairah untuk hidup dan gairah untuk matimu, Juragan.”

Surabaya, 17 Desember 2009

Catatan:

1). Tampaknya peristiwa inilah yang mengilhami Sony Karsono, menulis cerita pendek “Sentimentalisme Calon Mayat” lebih sepuluh tahun lalu dan di muat harian Kompas. Sony Karsono sekarang menempuh program doctor di Universitas Michigan Amerika Serikat.

2). Hasrat tokoh saya yang dipaksa menulis cerita, dan karena itu ia mau belajar karenanya, kurang lebih serupa dengan tokoh Julian Barnes dalam Tiga Cerita Sederhana pada novel Sejarah Dunia Dalam 10 ½ Bab, terj Arif B Prasetyo dan diterbitkan KPG Maret 2009. “Jika kita tidak membahas Tuhan sebagai Protagonis dan preman moral, tapi sebagai pengarang cerita, kita harus meneropongnya lewat plot, motivasi, kejutan dan penokohan,” tulis Barnes.

Pengikut