Langsung ke konten utama

Politik Haji Ebod

Wira Apri Pratiwi
http://www.lampungpost.com/

TAK satu pun warga Pulau Panggung, tidak mengenal nama Haji Ebod. Juragan sawah, juragan tanah, dan juragan kawin menjadi gelar yang melekat untuk Haji Ebod. Tiga perempat sawah di kampung kami dimiliki Haji Ebod. Begitu juga dengan tanah di kampung ini, hampir seluruhnya dikuasainya. Dan untuk perkara kawin, tak ada yang bisa menandingi Haji Ebod. Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, Haji Ebod sudah sebelas kali kawin. Tapi Ngah Dati, istri pertama Haji Ebod, masih menjadi perempuan yang paling disayang Haji Ebod.

Meskipun sudah sebelas kali kawin, Haji Ebod tak pernah hidup dengan lebih dua kali istri. Tiap kali Haji Ebod mau kawin, satu istrinya pasti dicerai duluan. Tapi itu tak pernah terjadi pada Ngah Dati.

Tiap kali Haji Ebod kawin lagi, hati kecil Ngah Dati menangis. Namun, didikan agama yang kental di dadanya, pada akhirnya bisa melapangkannya.

Suatu hari ada seorang warga di Pasar Baru yang iseng bertanya tentang seringnya Haji Ebod kawin, Ngah Dati hanya menjawab, "biar saja poligami, itu kan sunah Rasul." Sehabis itu, tak ada lagi yang berani bertanya padanya.

Kemasyhuran Haji Ebod, sebenarnya bukan hanya karena kekayaan dan seringnya beliau kawin. Namun, Haji Ebod jauh termasyhur sebagai pedagang minuman keras di kampung kami. Warga tidak berani menegur Haji Ebod, begitu juga kepala desa kami yang sama-sama takut melarang Haji Ebod untuk tidak menjual minuman keras itu. Maklum, dengan kekayaannya yang melimpah, Haji Ebod jadi banyak pengikutnya. Pengikutnya ini dijadikan Haji Ebod sebagai centengnya.

Satu kali memang pernah ada satu warga yang mengingatkan Haji Ebod. Dia adalah Ustaz Endang, satu-satunya guru ngaji yang ada di kampung kami. Tapi malang, sehari setelah mengingatkan Haji Ebod, malamnya Ustaz Endang didatangi orang-orang bertopeng. Dia dipukuli habis-habisan, rumahnya yang juga dipakai tempat ngaji anak-anak di kampung kami ludes dibakar. Meskipun mereka memakai topeng, warga sudah tahu orang-orang itu adalah centeng Haji Ebod.

Setelah kejadian itu, tak ada lagi warga yang berani melarang Haji Ebod, bahkan hingga bulan Ramadan tiba pun masih belum ada warga yang berani lagi melarangnya. Karenanya tak heran, meskipun di bulan suci, masih banyak pemuda di kampung kami yang mabuk-mabukan. Hampir tiap malam kami jumpai para pemuda mabuk-mabukan.

Dan sebaliknya, di masjid-masjid menjadi sepi dari pemuda yang tarawihan. Hingga pada suatu hari di bulan suci, datanglah Adin Nana ke kampung kami. Ia adalah anak angkat Haji Ebod. Konon, 23 tahun yang lalu, dia ditemukan Haji Ebod dalam keranjang di kebun pisangnya. Saat itu, Nana kecil terlihat diendus anjingnya Haji Ebod yang telah mati beberapa tahun lalu. Bayi itu lantas dijadikan anak angkat Haji Ebod karena memang Haji Ebod mandul. Anak itu lalu diberi nama Adin Nana. Di usianya yang ke-sepuluh, Adin Nana ikut pesantren di Banten sekaligus kuliah di sana, dan kini setelah 13 tahun menempa ilmu, ia kembali ke pangkuan orang tuanya.

Betapa gembira keluarga Haji Ebod dengan kedatangan Adin Nana, begitupun sebaliknya, Adin Nana begitu senang bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.

Haji Ebod mengadakan syukuran, seluruh warga diundang. Syukuran itu diisi pengajian dan makan-makan. Pada kesempatan itu ternyata juga hadir keluarga Pak Lurah yang diwakili anaknya, Udo Jafar. Sebuah kehormatan yang luar biasa dikunjungi Udo Jafar. Konon, kata orang Udo Jafar adalah dosen, ia juga dekat dengan jajaran pemerintahan serta anggota Dewan. Ia dihormati warga sekampung, dan atas kedatangannya di acara syukuran, haji Ebod sangat tersanjung.

Di sesi terakhir, pas acara makan-makan, Udo Jafar diberi kesempatan bicara. Kesempatan itu tidak ditolak, dan segera Udo Jafar berdiri, lalu berpidato yang garis besarnya begini:

"Perlu bapak-ibu ketahui, bahwa sebentar lagi Lampung akan mengadakan pesta demokrasi pemilihan gubernur baru. Kita sebagai warga Lampung tentunya harus ikut andil untuk menentukan siapa pemimpin yang pantas untuk Ruwa Jurai. Nah, sekarang partisipasi bapak ibu sekalian bisa langsung disalurkan dengan memilih calon kita di pilkada nanti. Kaya pemilu kemarin, tentunya bapak ibu sekalian sudah tahu kan?"

Begitu kira-kira isi pidatonya. Warga bertepuk tangan. Suasana syukuran menjadi riuh. Haji Ebod tersenyum. Baginya, itu adalah bentuk pengakuan dari pejabat akan eksistensinya di kampung Bojong. Haji Ebod tidak tahu, kalau acaranya digunakan kendaraan politik oleh Udo Jafar. Warga pun tersenyum karena tidak lama lagi mereka akan dapat kaus, beras serta uang. Maka setelah malam itu. Rumah Haji Ebod sering dikunjungi warga, pasalnya warga mendengar kalau Udo Jafar memberi banyak beras dan uang pada Haji Ebod.

Benar saja, tak lama kemudian. Seluruh kampung penuh dengan poster, berisi gambar dua orang berpeci lengkap dengan nama, nomor dan partainya. Terutama di rumah Haji Ebod, ada baliho dan poster besar juga stiker. Rupanya, rumah Haji Ebod dijadikan posko cagub-cawagub majikan Udo Jafar.

Apa yang dilakukan Udo Jafar sangat cerdik. Ada banyak alasan untuk melibatkan Haji Ebod. Pertama, Haji Ebod dianggap orang kampung yang udik, yang pasti akan merasa bangga didekati politikus macam Udo Jafar. Dosen pula. Kedua, adalah kekayaannya.. Setidak-tidaknya Haji Ebod juga akan membantu mendanai kampanye di kampung. Untuk yang satu itu, Udo Jafar menjanjikan perlindungan terhadap bisnis Haji Ebod. Terakhir, adalah para centeng dan pengikutnya yang banyak dan dikenal sebagai preman. Kekuatan mereka akan dijadikan sebagai kekuatan eksternal untuk menakut-nakuti warga yang akan memilih calon lain. Begitu skema yang tergambar di otak Udo Jafar.

***

Ngah Dati sekarang sangat sibuk, ia mendadak rajin ke desa, sama Bu Lurah, ia kembali menghidupkan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita. Mengadakan latihan paduan suara, memasak, merangkai bunga dan acara lainnya. Haji Ebod sendiri kini banyak tinggal di rumah, bersama Udo Jafar ia sering kedatangan tamu. Ada dari kecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Bahkan orang-orang sudah mendengar kabar tentang cagub dan cawagub yang tak lama lagi akan datang ke kampung mereka. Haji Ebod tentu akan semakin berbunga-bunga. Karena sudah barang pasti rumahnya yang dipilih sebagai tempat kunjungan. Halaman rumahnya yang luas akan disulap jadi tempat yang nyaman untuk tamu kehormatan.

Kabar itu memang benar adanya, seminggu lagi cagub dan cawagub akan hadir di kampung Pulau Panggung, seluruh warga turun ke jalan, membersihkan jalan dan selokan. Spanduk ucapan selamat datang sudah dipasang di gapura, umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan. Suasana kampung menjadi meriah layaknya agustusan. Apalagi rumah Haji Ebod, selain ditempeli poster berukuran besar, Haji Ebod memasang lampu-lampu kerlap-kerlip berwarna-warni. Agar indah dan mewah, katanya.

Panggung kecil dibuat di halaman rumah. Karpet dan tikar digelar, ada sound system, dan dekorasi lain yang unik dan kreatif karya anak-anak karang taruna. Semuanya dibikin sesuai instruksi Udo Jafar. Padahal tadinya Haji Ebod hendak membeli sofa baru, juga menyewa kursi. Namun, kata Udo Jafar lebih baik lesehan saja, biar terlihat merakyat.

***

Menjelang magrib, warga sudah bersiap-siap. Jam tujuh rombongan datang. Tim penjemput yang sudah disiapkan segera bergerak menuju gapura. Malam itu adalah malam yang bersejarah bagi warga Pulau Panggung. Selain ceramah dari calon, acara itu juga akan diisi jaipong, teater, dan kasidahan sebagai jamuan untuk tamu.

Di rumah Yu Entin, suasana sangat heboh. Pasalnya kedua anak Yu Entin, Sari dan Suminten akan menari jaipong malam itu. Di depan pejabat, juga di depan keluarga Haji Ebod. Sungguh membuat mereka semakin bersemangat. Dua bersaudara itu teman Adin Nana sewaktu kecil. Mereka dari kecil sudah bersaing menarik hati Adin Nana, maka malam itu mereka akan tampil sebagus mungkin di depan Adin Nana. Dalam benak mereka, mungkin malam itu juga Adin Nana akan memilih satu dari keduanya.

"Kalo milih dua-duanya pun, kita mau ko!" celetuk mereka sambil tertawa.

Langit sangat cerah, bulan terang tepat di atas halaman rumah Haji Ebod. Orang-orang berduyun-duyun memadati halaman rumah haji Ebod. Bapak-bapak, Ibu-ibu, sampai anak-anak malam itu tumpah di satu tempat. Para centeng dengan mengenakan jaket kulit dan kaca mata hitam siap sedia berjaga-jaga, ditambah beberapa polisi dan tentara yang biasa mangkal di arena judi sintir di sawah bersama para penjudi di desa.

Iring-iringan rombongan telah tiba, lima mobil mewah memasuki lokasi. Warga berdesak-desakkan ingin menyalami para pejabat yang baru turun dari mobil. Para centeng dan aparat keamanan sibuk bukan main menghalau warga. Para tamu kehormatan itu segera duduk di barisan terdepan bersama keluarga pak Lurah dan Haji Ebod. Acara pun digelar. Layaknya hajatan pernikahan anak presiden, malam itu Kampung Pulau Panggung diselimuti pesta akbar. Namun, ada juga beberapa warga yang memilih diam di rumah, mereka yang sama sekali tak tertarik urusan politik atau mereka para pendukung calon lain. Apalagi mantan isteri dan gundik Haji Ebod. Mereka malah berkumpul di sebuah tempat untuk menggunjingkan kelakuan Haji Ebod. Bagi mereka, Haji Ebod adalah sosok jahat yang tak tahu malu. Mereka para korban poligami, malah bermaksud merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Haji Ebod.

***

Termasuk di antara mereka yang tak menyukai perilaku Haji Ebod adalah anak angkatnya, Adin Nana. Malam itu ia bergeming di kamarnya. Dari awal memang ia tak suka keluarganya dimanfaatkan Udo Jafar untuk alat politik. "Ini pembodohan," pikirnya.

Haji Ebod celingukan mencari anaknya, ia ingin sekali mengenalkan anaknya pada pak cagub, ia berharap anaknya kelak bisa diangkat jadi PNS di pemda. Namun, orang yang dicari tidak kunjung muncul. Ngah Dati pun bolak-balik ke kamar memanggil Adin Nana. Akhirnya dengan langkah berat Adin Nana keluar, namun ia tetap tak mau duduk di depan.

Pembawa acara memberikan kesempatan terlebih dahulu pada Pak cawagub. Dalam pidatonya pak cawagub mengingatkan kalau Lampung saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang saleh, jujur, dan amanah. Dan itu ada pada mereka. Di akhir pidato pak cawagub juga mengingatkan pada warga untuk mencoblos foto mereka.

"Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Biar gampang, carilah foto yang berkumis, itu adalah pilihan bapak ibu sekalian. Itulah wajah kami."

Selanjutnya, giliran Pak calon gubernur yang pidato. Pak cagub bicara panjang lebar soal kondisi Lampung yang penduduknya masih mengalami kemiskinan dan kesengsaraan. Untuk itu ia memberikan beberapa solusi yang dijanjikan akan ia lakukan jika terpilih.

"Kenapa kita miskin? Itu karena kita bodoh. Masih banyak masyarakat Lampung yang buta huruf, itu disebabkan sulitnya masyarakat mengenyam pendidikan. Sekolah kita terlalu mahal, maka jika saya terpilih nanti, saya akan menggratiskan pendidikan!" Ucap Pak cagub berapi-api.

Tepuk tangan warga bergemuruh diiringi teriakan-teriakan. "Hidup, hidup, hidup!"

Malam semakin larut, seisi kampung hanyut dalam kegembiraan. Acara dilanjutkan dengan makan-makan.. Sebelum bubar, Udo Jafar sibuk membagi-bagikan amplop pada warga.

***

Menjelang pilkada, suasana kampung Pulau Panggung semakin ramai dan panas. Pasalnya calon lain pun berdatangan, tawuran antarcenteng terjadi. Tiap malam, motor para preman meraung-raung berkeliling kampung. Warga bingung harus memilih siapa, semua calon memberi mereka barang yang setara jumlahnya.. Adin Nana semakin tak betah di kampung. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi kembali ke pesantren. Ia disuruh mengajar oleh Pak Kiai.

Haji Ebod sedih bukan kepalang ditinggal anaknya. Ia sakit-sakitan dan kemudian penduduk Pulau Panggung gempar, telah ditemukan sesosok mayat yang tak lain adalah Haji Ebod terdampar di tepi waduk bersama puluhan dus minuman keras yang biasa ia jajakan di warung. Warga menduga-duga kalau Haji Ebod jatuh terpeleset ketika hendak membuang semua miras sebagai tanda tobat.

Tanggamus, 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]